M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Pelarasan Pencon Dan Bilah Di ISI Denpasar

Pelarasan Pencon Dan Bilah Di ISI Denpasar

Kiriman I Gede Suwidnya, Mahasiswa Semester III, PS Seni Karawitan

Mengacu kepada kebijakan kampus ISI Denpasar tentang workshop pelarasan pencon dan bilah yang bertempat di kampus ISI Denpasar, yang dimana kegiatannya dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2010 s/d tanggal 31 oktober 2010 dengan dengan instruktur I Made Sutama dari Desa Tiingan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Kegiatan workshop ini bersifat obyektif, dimana yang dijadikan obyek yaitu hanya barungan Gong Kebyar yang berbentuk bilah dan pencon.

Dengan dilaksanakannya kegiatan workshop pelarasan pencon dan bilah di kampus ISI Denpasar , Mahasiswa khususnya semester III diarahkan untuk mengembangkan nalar dan kreativitasnya sehingga pada akhirnya bisa menambah wawasan budaya yang berorientasi pada matakuliah yang didapat pada jurusan Seni Karawitan.

Adapun materi-materi yang diterapkan dalam kegiatan workshop ini yaitu :

Tehnik membedakan Frekuensi nada pengumbang dan pengisep.

Tehnik memanggur instrumen berbentuk bilah dan pencon.

Tehnik mengasah panggur.

Tehnik menyesuaikan frekuensi antara bilah dengan bumbung.

Instumen barungan gambelan yang berbentuk bilah adalah giying, pemade, kantil, penyacah, jublag dan jegogan.Instrumen barungan gambelan yang berbentuk pencon adalah terompong, reong, kajar, bebende, kempur dan gong.

Tehnik-tehnik yang diterapkan dalm kegiatan workshop ini adalah :

Tehnik Melaras

Yaitu sebuah tehnik dimana dilakukan untuk membedakan antara pengumbang dengan pengisep, pengumbang yaitu suatu nada pada instrumen gamelan yang memiliki getaran nada panjang atau bergelombang, sedangkan pengisep yaitu suatu nada pada instrumen gamelan yang memiliki getaran nada pendek. Tehnik untuk membedakan antara pengumbang dengan pengisep didalam memanggur gambelan berbentuk bilah yaitu membenturkan bilah gambelan tersebut dengan memegang pada lubang atau tempat tali, dari hal ini akan dapat dirasakan jika pada saat dibenturkan salah satu bilah bergetar lembut,perlahan dan lebih lama maka itulah yang disebut pengumbang dan jika sebaliknya itulah yang disebut dengan pengisep. Agar nantinya tidak keliru didalam mengambil bilah pengumbang dengan pengisep maka salah satu harus diberi tanda. Tanda yang sudah lazim digunakan oleh pande gambelan di Bali adalah tampak dara atau tanda X yang di goreskan pada bilah gambelan sekaligus menjadi tanda bahwa itulah pengumbang.

Pelarasan Pencon Dan Bilah Di ISI Denpasar Tahun Ajaran 2010/2011

Kumandang Sumpah Palapa Di Tanah Puputan

Kumandang Sumpah Palapa Di Tanah Puputan

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Di hadapan Ratu Majapahit, Tribuana Wijaya Tunggadewi, Gajah Mada mengumandangkan ikrar: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa“. Mahapatih Mangku Bumi Gajah Mada bersumpah, baru akan beristirahat dengan tenang jika berhasil menyatukan Nusantara. Sumpah sakral Gajah Mada yang dikenal dengan Sumpah Palapa itu menggelegar pada Selasa (5/10) siang lalu di Lapangan Puputan Badung.

Adalah peringatan hari jadi TNI ke-65 yang seusai upacara resmi disertai dengan pementasan tari kolosal bertajuk “Merah Putih Zambrut Khatulistiwa“ yang dibawakan lebih dari 300 pelaku seni. Disaksikan oleh para petinggi Bali, pucuk pimpinan TNI,  anggota TNI dari ketiga angkatan, dan para penonton yang mengitari lapangan, pentas seni garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu hadir menggugah. Tak kurang dari 20 menit penonton digugah jiwa dan hati sanubarinya dengan pesan-pesan kebangsaan dan cinta tanah air lewat ungkapan ramuan seni tari, teater, dan musik.

Pijakan kontekstualisasi dari garapan seni ini diangkat dari era kejayaan kerajaan Majapahit. Zaman keemasan Kraton Majapahit selalu dikenang dari masa ke masa dengan penuh rasa kebanggaan. Kerajaan agung yang didirikan oleh Raden Wijaya ini mewariskan semangat kebangsaan dan kenegaraan yang kemudian mewarnai lintasan sejarah Indonesia. Sumpah Palapa Patih Gajah Mada di hadapan Ratu Tribuana Tunggadewi  yang bertekad bulat merajut Nusantara, menjadi cikal bakal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Falsafah bhineka tunggal ika dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada pemerintahan Hayam Wuruk, membingkai toleransi keberagaman dalam  rekatan keindonesian bangsa kita. Panji-panji merah putih yang diarak semarak pada masa kejayaan Majapahit, menjadi inspirasi dan mengobarkan perjuangan jiwa raga tulus suci para pejuang bangsa saat mengusir penjajah, merengkuh kemerdekaan dan mepertahankan tegaknya Indonesia.

Digarisbawahi oleh narasi yang deklamatis, penonton dibuat takjub dari tata garap artistik pentas seni ini dan terbawa secara emosional oleh kontekstualisasi yang dilontarkan. Diawali dengan penggambaran bayang-bayang kemegahan kerajaan Sriwijaya dan keagungan Majapahit. Dari dua arah berlawanan berarak semarak umbul-umbul, pajeng, lelontek, gebogan berderet melenggang membuat bingkai latar. Masa keemasan kerajaam maritim Sriwijaya dilukiskan dengan tarian perahu. Sepasukan prajurit Wilwatikta dengan tombak, melangkah gagah dan unjuk ketangkasan. Di tengah-tengah arena, berayun puluhan dayang melenggok gemulai dengan senyum tersungging.

Kumandang Sumpah Palapa Di Tanah Puputan Selengkapnya

Pesona Kebyar Legong Seniman Paman Obama

Pesona Kebyar Legong Seniman Paman Obama

Oleh Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Parade Gong Kebyar adalah pagelaran unggulan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang sangat digandrungi masyarakat penonton. Seni pentas yang selalu mengundang heboh di arena PKB itu menampilkan tim kesenian duta masing-masing kabupaten/kota. Tapi kali ini, dalam PKB ke-32 yang baru saja usai, sekelompok penabuh dan penari warga Amerika Serikat, dihadirkan sebagai pendamping  utusan Gong Kebyar Kabupaten Jembrana. Grup gamelan Dharma Swara yang bermarkas di New York  mengundang decak kagum penonton dengan sajian tabuh  Bangun Anyar, tari Kebyar Legong, tabuh kreasi Sikut Sanga, dan pragmen Pewayangan Sudamala.

Kamis (8/7) malam itu, panggung terbuka Ardha Candra yang berkapasitas 5000 orang penuh sesak. Para penabuh Gong Kebyar Kabupaten Jembrana yang diwakili oleh insan-insan seni Desa Dauh Waru  bersiap unjuk kebolehan berhadapan dengan para penabuh kulit putih dari Negeri Paman Sam. Hanya, jika para penabuh Kabupaten Jembrana semuanya laki-laki (karena memang merupakan parade Gong Kebyar katagori pria dewasa), sedangkan para penabuh New York terdiri dari campuran pria dan wanita. Para penabuh Dauh Waru tampil kenes dengan kostum warna merah kombinasi kuning dan para penabuh Dharma Swara tampil dengan baju biru dan udeng songket merah hati.

Sepanjang pementasan secara mabarung tersebut, penonton terpana. Ternyata, sajian seni pentas tim kesenian New York itu tak kalah dahsyatnya dengan para seniman wakil Bali. Keterampilan menabuh yang ditunjukkan oleh Dharma Swara tampak sigap dan tangkas di semua lini instrumen. Pemain gangsa-nya yang kebanyakan kaum wanita bermain gesit, luwes dan

lincah menggoyang panggul. Secara tim, mereka juga mampu menyuguhkan komposisi gending yang rapi. Simaklah ketika mereka mengawali penampilannya dengan konser Tabuh Pisan Bangun Anyar. Tabuh lelambatan karya empu karawitan Bali, I Wayan Beratha, tahun 1978 ini dikumandangkan begitu anggun dan apik. Penonton melongo takjub.

Kebolehan yang patut diacungi jempol pada penekun gamelan dan tari dari daratan Amerika bagian timur ini adalah ketika mereka menampilkan tari Kebyar Legong, tari ciptaan tahun 1915. Tak kurang dari 40 menit penonton diayun oleh karakter maskulin dan feminin dari tari ciptaan Pan Wandres dari Bali Utara ini. Iringan gamelannya yang  sarat dinamika dan kaya ekspresi disajikan para penabuh berkulit putih itu dengan penuh gairah.

Pesona Kebyar Legong Seniman Paman Obama selengkapnya

Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni

Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Kompetisi seni merupakan arena pacu yang telah melecut gairah bercumbu dengan nilai-nilai keindahan dan mereguk esensi kasih jagat seni. Seperti tampak sejak pagi hingga sore hari pada tanggal 24-25 Juli lalu itu  di Bale Wantilan Puri Ubud. Ratusan remaja yang datang dari seantero Bali  hadir sarat gairah unjuk kebolehan membawakan tari Baris, Legong, Margapati, Tarunajaya, Kebyar Duduk, dan tari Topeng Keras. Gelora menjadi yang terbaik memompa semangat mereka untuk menunjukkan totalitasnya menari. Namun demikian, dalam persaingan lomba seni tersebut, riak-riak damainya kasih seni mengemuka sangat kental. Rona kegirangan menyembur pada para peserta lomba.

Kreativitas dan inovasi seni tabuh dan tari secara bersaing dan bersanding telah menunjukkan fenomena menggembirakan terhadap pewarisan nilai-nilai estetik bangsa, misalnya tampak dalam peristiwa seni yang bersifat kompetitif. Di kalangan anak-anak Bali, seperti yang mencuat dalam Festival/Parade  Gong Kebyar, menabuh atau menari dengan dorongan lomba menggedor motivasi mereka untuk berprestasi seni yang biasnya bukan hanya sebatas hasrat berprestasi dalam jagat seni semata namun bisa jadi pula dalam kehidupan yang lebih luas. Lewat kancah seni ini, anak-anak Bali yang sejak dini berasyik masyuk dengan nilai-nilai keindahan seni akan tumbuh menjadi generasi kontributif bagi masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan berbangsa.

Eksistensi kesenian Bali, seni pertunjukan khususnya, kiranya ikut disangga oleh penyelenggaraan kompetisi seni. Lomba-lomba tari Bali, gamelan Baleganjur, Gong Kebyar yang belakangan sering digelar memiliki kontribusi yang signifikan terhadap internalisasi nilai-nilai estetik bagi generasi muda. Melalui arena lomba ini, diantaranya, muncul generasi pewaris bangsa yang teruji dalam bidang seni pertunjukan. Globalisasi yang mencengkeram segala aspek kehidupan direspon dengan penuh respek oleh kalangan generasi seniman belia Bali terhadap nilai-nilai budaya lokalnya. Lomba adalah sebuah strategi menempatkan dan memberdayakan energi kesenian Bali dalam konteks kekinian.

Seni adalah nilai keindahan yang hidup dan berkembang seturut dengan peradaban kebudayaan manusia. Dipercaya, binar lahiriah keindahan seni menyemburkan kedamaian nurani dan aura terdalam dari jagat seni memiliki dimensi spiritual yang berkontribusi kuat pada moralitas  subjek kemanusiaan. Idealnya, seni malahan dianggap mampu memanusiakan manusia. Untuk mengawal moralitas setiap individu–dengan keyakinan seni sebagai penyejuk moral—jagat kesenian sangat fungsional dijadikan sebagai media pendidikan moralitas bangsa. Kebhinekaan Indonesia yang memiliki puspa warna ekspresi seni, dengan demikian, sangat memungkinkan menjadi bangsa yang menjunjung moral dengan penuh takzim. Mungkinkah?

Generasi Muda Bali, Berlomba Menyayangi Seni

Gerabah Pejaten

Gerabah Pejaten

Kiriman I Wayan Mudra, Dosen PS Kriya Seni

Gerabah Pejaten adalah sebuah sebutan terhadap produk gerabah hasil perajin di Desa Pejaten, Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan Bali. Menurut cerita Pak Mangku Kuturan hanya keluarganya sendiri yang mengembangkan kerajinan gerabah ini sejak lama hingga sekarang. Sedangkan penduduk lain menekuni kerajinan genteng dan keramik halus seperti Pak Tantri. Dengan pertimbangan biaya yang relatif lebih murah, lebih midah mengerjakan, dan berbagai pertimbangan lain, beliau tetap konsisten menekuni kerajinan gerabah ini. Perajin ini tetap mengambangkan usaha kecil bersama istri dan anak  walaupun di samping kiri dan kanan penduduk kebanyakan mengembangkan kerajinan genteng. Karena kecintaannya terhadap gerabah mereka selalu berusaha menemukan sesuatu yang baru. Akhirnya beliau menghasilkan sebuah produk patung gerabah yang telah menjadi image baik sebagai perajin, patung tersebut dikenal dengan nama patung Kuturan. Patung Kuturan telah menjadi model pengembangan gerabah dalam bentuk patung bagi perajin gerabah lain.  Perajin-perajin lain mencoba membuat model yang sama namun kualitasnya tidak bisa dibuat sama. Patung ini berbentuk manusia memvisualkan aktifitas budaya Bali seperti bermain musik tradisional lengkap dengan peralatannya. Menurut cerita perajin ini, patung tersebut adalah hasil kreatifitas panjang, diawali dengan kebosanan mereka melihat produk gerabah berupa jun, kemudian benda tersebut dibalik dengan kepala kebawah. Kemudian di atasnya ditambah bulatan / setengah lingkaran yang dipungsikan sebagai kepala. Kepala kemudian disempurnakan dengan penambahan tangan, kaki, alat musik serta dengan perlengkapan pakaian. Penampilannya sederhana namun memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dimiliki oleh patung gerabah hasil perajin lainnya di Bali. Wujud patung tersebut dapat dilihat pada halaman berikutnya.

Pak Kuturan adalah satu-satunya perajin gerabah di Desa Pejaten ini dan selalu berfikir mengikuti untuk maju namun tetap konsisten dalam bidang gerabah. Perajin ini telah mengembangkan teknik cetak dengan bahan gift untuk memproduksi barang yang sama dan lebih cepat. Sedangkan perajin gerabah lainnya di Bali belum menggunakan bahan tersebut. Desain-desain produk-produk Pak Kuturanpun modern, mereka tidak lagi mempokuskan membuat alat-alat untuk kepentingan upacara dan perlengkapan rumah tangga lainnya, namun memproduksi produk-produk yang dipesan pembeli dari luar negeri seperti Itali. Disamping itu melayani permintaan beberapa hotel di Bali. Perajin in telah mengembangkan areal usahanya untuk bisa melayani pesanan yang lebih banyak. Perajin ini selalu terbuka terhadap kritik dan menerima saran sesuai kemampuannya. Untuk kemajuan usahanya beliau selalu mengirm anaknya dalam setiap kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh departemen terkait. Mereka selalu belajar dan belajar untuk kemajuan usahanya. Dulu mereka bekerja sebagai usaha keluarga, namun saat  ini mereka telah mampu mempekerjakan orang walaupun dalam jumlah yang sedikit. Secara ekonomi perajin ini telah mengalami kemajuan hidup lebih baik dibanding sebelumnya, contohnya mereka mampu membangun rumah Bali model saat ini. Pak Kuturan bekerja hanya mengawasi karyawan, yang dulu mereka lakukan sendiri. Pekerjaan sebagai perajin telah menjadi tulang punggung keluarganya sehingga mereka saling bau membau membangun dan mengembangkan usaha ini. Walaupun mempukuskan untuk melayani kebutuhan hotel dan tamu asing, mereka masih tetap mengerjakan produk-produk unuk konsumen lokal sesuai kebutuhan.

Gerabah Pejaten selengkapnya

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Seorang nenek renta warga Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,  meninggal pada 24 Juli lalu. Berdasarkan adat setempat, wanita yang berhasil menapak usia 88 tahun itu kemudian dikebumikan. Dadong Cenik, demikian masyarakat setempat menyebutnya,  kembali bersatu dengan tanah tempat kelahirannya, menanti hari baik untuk diaben. Lahir, hidup, mati, adalah sebuah kodrati, peristiwa alamiah. Karenanya, prosesi upacara penguburan mayat Ni Ketut Cenik itu pun menjadi peristiwa biasa dan berlangsung biasa saja, seturut dengan kelaziman di desa itu.

Padahal, Ni Cenik bukan wanita biasa. Cenik adalah seniwati unik yang tak ada duanya di Bali. Wanita yang sepanjang hidupnya berserah diri untuk dunia seni tari ini telah mengharumkan nama Bali hingga ke manca negara. Terakhir, tahun 2008 lalu, seniwati kelahiran 1922 ini, memukau penonton Negeri Sakura. Bersama grup gamelan Joged Pingitan Banjar Pakuwudan, Sukawati, ia menari solo mengisahkan cerita Calonarang. Kendati sepuh, Cenik selalu bersemangat. Energinya membuncah bila sedang menari, baik saat ngayah di pura maupun bila diundang pentas di luar negeri.

Dalam jagat seni pertunjukan Bali, ibu penari kawakan I Made Jimat ini identik dengan Joged Pingitan. Seni pentas langka ini, masih mencoba bernafas, bisa disebut karena totalitas berkesenian yang ditunjukkan Cenik. Bila saja Ketut Cenik hingga akhir hayatnya tak mengenyimpungi seni pentas warisan zaman kerajaan Bali ini, kemungkinan besar Joged Pingitan telah punah. Kini, apakah dengan berpulangnyanya seniwati yang dimasa hidupnya selalu tampak ceria ini, Joged Pingitan akan terjengkang diterjang zaman? Gejala mengkhawatirkan itu telah menganga di depan mata.

Keberadaan sekaa Joged Pingitan, kini, dapat dihitung dengan satu jari tangan saja. Diantara sekaa itu adalah yang ada di Banjar Pakuwudan, Sukawati, di mana Ni Ketut Cenik menjadi pengawal satu-satunya.  Bersama Cenik, sekaa gamelan yang didukung sekitar 15 orang penabuh ini, sesekali masih tampil di lingkungan komunitasnya. Sekarang, tanpa Ni Cenik, besar kemungkinan sekaa ini akan teronggok. Ironisnya, regenerasi penari yang beberapa kali disemai Cenik tak berkecambah. Selain karena kurang diminati, umumnya para penari muda yang pernah dielus Ni Cenik tak mampu merajut komunikasi estetik dengan nilai-nilai keindahan seni tari yang diiringi dengan salah satu barungan gamelan Bali golongan tua ini.

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang selengkapnya

Loading...