M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Puluhan orang gadis Rusia tampak begitu antusias belajar tari Bali. Akhir Agustus lalu, para penari ballet itu mengikuti pelatihan tari Bali yang diarahkan oleh dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.  Bertempat di Tartarstan State Choreography Theater, beberapa sikap pokok tari Bali seperti agem dan gerakan mata seledet, tampak sangat mengesan para peserta workshop itu. Sepenggal tari Pendet itu, rupanya mereka selami lekuk-lekuk keunikan dan keindahannya. Sensasi dari karakter estetik bahasa tubuh tari Bali tersebut agaknya mereka nikmati dengan suka cita. Tari Pendet tak hanya populer di Malaysia namun juga disukai gadis-gadis Rusia.

Adalah sekelompok seniman dari Pulau Dewata, pada pertengahan Agustus hingga awal September lalu melawat ke salah satu negeri pecahan Uni Soviet itu. Workshop tari Bali adalah salah satu program memperkenalkan kesenian Indonesia di belahan Eropa Timur itu. Kota Kazan, ibu kota Tartarstan—sekitar 18 jam perjalanan darat arah selatan Moscow–adalah tempat yang sempat disinggahi oleh tim kesenian ISI Denpasar tersebut. Selain memperkenalkan tari Pendet, dalam workshop yang bergulir sekitar satu jam itu, para peballet pria Kazan juga diberikan gerak-gerak tajam dan lugas tari Baris.

Kesenian Bali memang telah tampil di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, Rusia  mungkin salah satu negeri yang belum begitu banyak disambangi oleh para seniman Pulau Dewata. Tahun ini, untuk memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, seperti sudah disinggung tadi, sekelompok penari dan penabuh gamelan Bali melanglang Rusia pada 24 Agustus-3 September lalu, “Melalui kesenian, kita berharap dapat membuka jalan untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia,“ ujar Duta Besar Republik Indonesia, Hamid Awaludin, saat menyambut kedatangan 22 orang seniman Bali di KBRI Moscow.

Kesenian sebagai pembuka jalan memang banyak dipergunakan sebagai alat diplomasi budaya. Soft diplomacy yakni diplomasi dengan cara damai kini banyak dilancarkan dalam pergaulan antar bangsa dan diplomasi antar negara. Untuk kepentingan itulah, Pemerintah Indonesia, sejak Juni lalu mengutus para seniman Indonesia, salah satunya, ke Rusia. Para seniman Bali yang terdiri dari para mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ditampilkan sebagai puncak penampilan kesenian Indonesia. Para insan seni dari Pulau Dewata bukan hanya menyajikan tari dan gamelan Bali saja namun sajian seni pentas yang merepresentasikan keindahan kesenian Nusantara.

Penampilan tari Nusantara sebagai ekspresi estetik dari keberagam budaya Indonesia itu ditutup dengan pementasan Kecak atau Cak. Seluruh penari dan penabuh bergabung menyajikan Cak Ramayana berdurasi 25-30 menit. Keunikan suara dan jalinan vokal dari 22 orang seniman Bali ini mengundang decak penonton. Seusai pementasan di kota tua Tula–sekitar 4 jam perjalanan darat dari Moscow–misalnya, penonton seakan histeris dan secara kompak memekikkan ocen ichorosho (bagus sekali) berkali-kali sembari mencoba mengocehkan cak cak cak dengan amat girang. Rangkain bunga dibawa penonton ke atas panggung sebagai ungkapan suka cita mereka. “Syukur, mereka kagum dengan penampilan kita,“ ujar Ida Bagus Nyoman Mas, SSKar dengan wajah berseri-seri sumeringah yang bertugas mengkomandoi Cak.

Bukan Hanya Malaysia, Rusia Juga Suka Pendet selengkapnya

Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali

Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali

Kiriman Drs. I Wayan Mudra, M.Sn.

Permasalahan dari penelitian ini adalah beberapa sentra kerajinan gerabah di Bali dari waktu kewaktu semakin berkurang. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang perlu dicari penyebabnya untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Kami  sebagai peneliti dan sekaligus memiliki disiplin ilmu yang terkait dengan bidang ini merasa khawatir suatu saat kerajinan gerabah hanya tinggal kenangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriftif kualitatif, bertujuan menjelaskan eksistensi gerabah tradisional sebagai warisan budaya di Bali. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi melalui pemotretan. Sumber data penelitian adalah perajin gerabah dan produk gerbah Bali. Penentuan sumber data perajin sebagai informan kunci dan produk dari masing-masing sentra dilakukan dengan metode sampel dengan mempertimbangkan tingkat kompetensinya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa pembuatan kerajinan gerabah tradisional Bali masih tetap eksis dan beberapa sentra tetap eksis namun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sentra-sentra kerajinan gerabah yang masih eksis saat ini di Bali antara lain :

1.     Kerajinan gerabah di Banjar Basangtamiang.Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.

Kerajinan gerabah di Banjar Basangtamiang masih tetap eksis dengan produk yang dibuat beragam antara lain untuk kebutuhan upakara Agama Hindu, kebutuhan rumah tangga, maupun untuk benda-benda hias. Produk-produk tersebut dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat umum dan kebutuhan hotel. Teknik pembentukan yang diterapkan perajin adalah teknik putar “ngenyun” dengan alat yang disebut “pengenyunan/lilidan” dan teknik cetak menggunakan bahan kayu. Pembakaran gerabah dilakukan dengan tungku bak pada ruang tertutup. Di banjar ini sebagian besar penduduknya hidup sebagai perajin gerabah. Eksisnya kerajinan gerabah di tempat ini terkait dengan mitos yang dipercaya masyarakat setempat.

2.     Kerajinan gerabah di Desa Pejaten Kabupaten Tabanan.

Kerajinan gerabah ini justru berkurang membuat produk-produk untuk kepentingan upacara keagamaan. Perajin saat ini lebih fokus membuat produk-produk untuk kebutuhan hotel dan konsumen luar negeri. Perajin berproduksi dengan menggunakan teknik cetak dengan bahan gift. Hasilnya produk dapat dibuat sama dan ukurannya dapat dibuat lebih besar dibandingkan menggunakan teknik putar. Perajin menggunakan tungku keramik api berbalik untuk proses pembakaran. Di desa ini hanya ada satu keluarga yang menekuni kerajinan gerabah sejak  lama, memliki sifat lebih terbuka menerima masukan dari berbagai pihak.  Wujud karya lebih banyak berwujud patung, salah satu patung inovasi yang menjadi ikon perajin ini disebut dengan “Patung Kuturan”. Patung ini menjadi ciri khas produk patung gerabah di Desa Pejaten.

3.     Kerajinan gerabah Banjar Binoh Kelurahan Ubung Kecamatan Denpasar Barat.

Kerajinan gerabah di Banjar Binoh ditekuni oleh para wanita yang rata-rata sudah berusia lanjut. Perajin ini bergabung dalam satu kelompok usaha gerabah disebut Kriya Amerta. Mereka bekerja dan menjual hasil produknya dalam kelompok tersebut. Perajin Binoh lebih banyak mengerjakan benda-benda benbentuk gentong berbagai ukuran dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Perajin memasarkan produknya untuk kebutuhan untuk masyarakat umum dan kebutuhan hotel.

4.     Kerajinan gerabah Desa Banyuning Kabupaten Buleleng.

Kerajinan gerabah di desa ini lebih berkembang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perajin yang menekuni kegiatan pembuatan gerabah ini semakin bertambah. Pada awal perkembangannya kerajinan gerabah di desa ini ditekuni oleh satu keluarga.  Produk-produk yang dibuat adalah untuk kepentingan upacara keagamaan, perlengkapan rumah tangga dan benda-benda hias. Padagang memasarkan produk-produk gerabah di wilayah Buleleng, Badung dan Denpasar. Produk gerabah Buleleng tidak memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan produk perajin lain di Bali. Perajin menggunakan mesin untuk membantu mengolah bahan baku, sehingga proses produksi bahan lebih cepat. Teknik pembentukan dilakukan dengan teknik putar. Perajin menggunakan tungku dengan bahan plat baja dan besi dalam pembakaran gerabah dengan bahan bakar jerami dan kayu bakar.

5.     Kerajinan gerabah Desa Tojan Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung.

Saat ini kerajinan gerabah di Desa Tojan masih eksis, namun kedepan dikhawatirkan tidak generasi yang meneruskan, sehingga kemungkinan akan hilang. Perajin yang masih menekuni kerajinan di desa ini hanya satu keluarga yang terdiri dari tiga orang perempuan tua. Perajin menekuni usaha kerajinan ini merupakan warisan para orang tua mereka. Perajin menghasilkan produk-produk ukuran kecil untuk kepentingan upacara keagamaan seperti pulu, caratan, senden, dan lain-lain. Menurut perajin tidak banyak hasl yang didapat dari usahanya ini. Pada bulan-bulan terakhir ini, perajin membuat alat peleburan perak pesanan perajin perak. Teknik pembentukan barang dilakukan dengan teknik putar. Pembakaran menggunakan tungku ladang pada halaman terbuka dengan bahan bakar jerami, kayu dan bahan sejenis lainnya. Pedagang memasarkan produknya di pasar Klungkung.

Umumnya perajin gerabah Bali tidak menerapkan finishing warna pada produknya. Perajin menggunakan lapisan pere pada permukaan gerabah sebelum dibakar, untuk menghasilkan warna merah bata yang lebih cerah. Pere bias berupa tanah dan batuan  batuan yang dihaluskan. Bahan ini juga dimanfaatkan dalam pewarnaan lukisan tradisi sepert wayang Kamasan.

Tetap eksis dan berkembangnya kerajinan gerabah di Bali, dapat disebabkan oleh tiga faktor antara lain faktor mitos yang berkembang pada perajin tersebut, faktor umat Hindu di Bali masih tatap menggunakan benda-benda gerabah sebagai perlengkapan upakara agama dan berkembangnya kepariwisataan di Bali.

Kata Kunci : eksistensi, gerabah tradisional Bali.

Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali, selengkapnya

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali

Kiriman I Gde Made Indra Sadguna

Pendahuluan

Kulkul atau kentongan (Jawa) merupakan instrumen musik yang bisa dibuat dari kayu ataupun bambu. Secara spesifik, kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah: kayu ketewel (nangka), kayu teges (jati), kayu camplung, dan kayu intaran gading (batang pohon pandan yang sudah tua). Untuk mendapatkan kulkul yang baik, maka dipilihlah kayu atau bahan yang baik pula, karena dengan bahan yang baik dapat memberikan kualitas suara yang baik pula. Kayu terbaik untuk dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah kayu nangka (artocarpus heterophyllus). Hal ini disebabkan karena serat kayu nangka lebih padat dibandingkan dengan kayu yang lainnya, sehingga dapat menghasilkan suara yang lebih padat dan bagus.

Kulkul berbentuk bulat memanjang, di mana pada bagian tengah tubuhnya terdapat rongga suara yang berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dikelompokkan ke dalam golongan idiophone sebab sumber suaranya berasal dari getaran tubuhnya sendiri. Ukuranya bervariatif, ada yang panjangnya hanya ½ meter dengan lebar lingkaran 10 cm, tapi ada juga yang lebih dari 1 meter dengan lebar lingkaran 100 cm. Biasanya kulkul yang berukuran besar ditempatkan (digantung) di pos-pos siskamling, banjar-banjar atau pura-pura.

Sesungguhnya budaya kentongan terdapat di seluruh daerah  di Nusantara sebagai sarana komunikasi. Sebut saja di Pulau Jawa misalnya, instrumen kentongan biasa difungsikan untuk sarana siskamling atau dijadikan sarana membangunkan orang puasa ketika bulan Ramadhan. Namun hal ini kiranya tidak terjadi di Bali. Keberadaan kulkul di Pulau Dewata secara umum diposisikan sesuai kegunaannya di dalam kehidupan masyarakat.

Lalu pertanyaannya, berapakah jenis kulkul yang terdapat di Bali? Mengapa keberadaan instrumen kulkul begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali ? Apakah karena faktor sejarah, politik, sosial, agama atau faktor lain, sehingga kalau di daerah lain kulkul dipandang sebagai alat musik biasa, tapi di Bali kulkul sangat bermakna? Penjelasan mengenai permasalahan tersebut akan dibahas penulis sebagai berikut.

Kulkul Sakral

Di Bali terdapat tiga jenis kulkul. Pertama, ada kulkul sakral yang keberadaannya selalu ditempatkan di pura-pura dan disakralkan oleh masyarakat. Sebagai instrumen perkusi, keberadaan kulkul sakral tersebut tidak bisa dilepaskan dari odalan, karena selalu difungsikan sebagai sarana upacara. Dalam tata upacara di Bali disebutkan bahwa yang harus ada dalam suatu odalan adalah Panca Gita. Panca berarti lima sedangkan gita berarti suara atau nyanyian. Pembagian Panca Gita tersebut adalah suara kulkul, suara genta dari orang suci atau pendeta, suara kidung atau nyanyian berisi pujian kepada Tuhan, suara sunari dan suara gamelan. Jadi berdasarkan uraian tersebut, kehadiran kulkul sifatnya wajib dan harus ada pada saat upacara berlangsung.

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali, selengkapnya

Gamelan Slonding Di Pura Puseh Desa Seraya, Karangasem

Gamelan Slonding Di Pura Puseh Desa Seraya, Karangasem

Kiriman I Gede Suwidnya, mahasiswa PS Seni Karawitan

Timbulnya barungan gambelan Slonding di Pura Puseh Desa Seraya Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem yaitu sebelum tahun 1995 sangat dikeramatkan oleh Prajuru Desa Seraya, Krama ngarep atau Penua dan termasuk Krama Desa Seraya.

Karena Gamelan Selonding ini ditaruh di Pura Pasimpenan yang disebut Pura Slonding (disimpan memakai wadah kropakan/kotak kayu). Tiga bilah Gangsa yang kecil hanya dikeluarkan/dipundut (ditempatkan pada sebuah tapakan) pada saat Usaba Balai Sanghyang. Sedangkan tapakan-tapakan Idha Betara yang lainnya di pundut pada saat Usaba Bubuh, Purnama Kedasa, Usaba Kaja dan tiap Purnama Kapat.

Sedangkan bilah-bilah ini bisa  juga berfungsi sebagai Gamelan atau alat tabuhan untuk mengiringi upacara-upacara Di Pura Desa Seraya. Awal Upacara di Pura Puseh Desa Seraya yaitu pada tahun 1996 setelah I Made Putu Suarsha Menjabat sebagai Kelihan Desa Adat yang diangkat pada tahun 1995.

Beliau menjelaskan bahwa, berwal dari rasa penasaran beliau yang ingin mengetahui isi dari Pelinggih Pasimpenan. Setelah beliau memeriksa ternyata di dalam kropakan tersebut ada bilah-bilah gangsa yang terbuat dari besi, yang terpanjang sampai mencapai 120 cm. Dan juga ditemukan satu pasang Relief dengan rantai dan jejuluknya disertai dengan beberapa cagak serta beberapa penyeleng gangsa yang terbuat dari perunggu yang berbentuk Naga.

Berawal dari penemuan tersebut I Made Putu Suarsha langsung berkordinasi dengan Bapak Wayan Tusan dari Desa Bebandem  untuk mohon bantuan memfasilitasi dalam upaya membangun kembali (merakit agar kembali berfungsi). Pad akhirnya diperiksalah oleh beliau dan ternyata jumblah bilahnya masih dikatakan utuh oleh beliau, hanya saja pelawahnya harus di perbaharui/diganti dengan kayu nangka/ketewel yang berukuran sangat besar. Yang oleh beliau dikatakan sebagai Gamelan Selonding pada waktu itu.

Mengetahui demikian adanya fakta yang didapat ahirnya I Made Putu Suarsha selaku Kelihan Desa Adat Seraya langsung membuat banten atau sesaji dan ngaturang piuning/memohon Kepada Idha Sanghyang Widhi Wasa Tuhan yang berstana di Pura Puseh Desa Seraya agar gamelan tersebut diijinkan untuk diperbaiki dan diijinkan untuk ditabuh sebagai mana layaknya gamelan selonding yang ada di daerah lain.

Selain hal tersebut I Made Putu Suarsha melaporkan hal tersebut ke Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang pada akhirnya menanggapi dan langsung melakukan survei ke Pura Puseh Desa Seraya. Yang kemudian memberikan dana bantuan untuk merenopasi Gamelan Selonding tersebut. Yang ahirnya sampai saat ini Gamelan Selonding tersebut sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Namun Gamelan Selonding ini hanya bisa ditabuh dan dibunyikan di Areal Pura Puseh Desa Seraya dan pada saat hari raya-hari raya tertentu.

Gamelan Slonding Di Pura Puseh Desa Seraya Karangasem, selengkapnya

Gamelan Angklung Di Desa Tanjung Benoa

Gamelan Angklung Di Desa Tanjung Benoa

Kiriman I Made Agus Dwipa Kartianta, mahasiswa PS Seni Karawitan

Gamelan angklung adalah gamelan tua di Bali, dan salah satu perangkat gamelan yang pada masa lalu mengalami popularitas dapat dilihat dari data perkembangannya yang tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Dalam perkembangannya gamelan ini mengalami perubahan-perubahan dalam fungsi,tata cara penyajian, yang mengikuti konsep desa kala patra sebagai sebuah media ritual yang fleksibel. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, secara fungsional angklung pun telah mengalami perubahan dimana secara ritual tetap berlangsung tetapi secara estetis gamelan ini menjadi sebuah iringan tari,iringan wayang, serta diolah dalam komposisi music modern.

Gamelan angklung adalah gamelan berlaras selendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrument berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bamboo kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relative kecil dan ringan (sehingga mudah untuk dimainkan sambil berprosesi). Jenis gamelan angklung ada tiga yaitu : angklung Kembang  Kiran, angklung Klentangan dan Angklung Don Nem. Perbedaan ketiga jenis angklung ini terletak pada jumlah penggunaan nada yang maupun bilah dalam tungguhan jenis gangsa maupun jegogannya

Berdasarkan konteks penggunaan gamelan ini hanya mempergunakan 4 nada sedangkan untuk daerah Bali Utara mempergunakan 5 nada. Berdasarkan konteks penggunaan gamelan ini, serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :

  1. Angklung klasik yang dimainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian);
  2. Angklung kebyar yang dimainkan untuk mengiringi pagelaran tari maupun drama

Gamelan Angklung Di Desa Tanjung Benoa, selengkapnya

Sejarah Gong Due Di Jero Kelodan Kerobokan

Sejarah Gong Due Di Jero Kelodan Kerobokan

Kiriman I Gede Bayu Suyasa, mahasiswa PS Seni Karawitan

Berawal dari Perang pada tahun ±1860 antara Jero Wayahan Lanang Celuk di Jero Kerobokan dengan Desa Kelibul yang dulunya adalah wilayah kekuasaan Raja Mengwi, sebelum terjadi perang sakral yang dianggap memiliki kekuatan magis yang ada di Desa Kelibul tersebut seperti :

–      Gong + Bande

–      Tapel Barong (dipura Maspait Kelibul)

–      Kul-kul (Kentungan)

–      Belong

–      Arca

Tujuan daripada dicarinya benda-benda tersebut agar desa Tibubeneng tidak memiliki kesaktian, untuk menghadapi Jero kerobokan. Perang terjadi karena Jero Wayahan Lang Celuk di Kerobokan ingin memperluas daerah kekuasannya itu.

Sarana-sarana yang merupakan kesaktian daripada tibubeneng tersebut diambil hanya untuk taktik atau cara orang dulu dalam berperang. Setelah sekian lama perang bergejolak selama puluhan tahun dan pada akhirnya pada Tahun 1926 perang usai.

Bersamaan pada waktu itu seiring berkembangnya Gamelan Gong Kebyar, timbullah keinginan dari keturunan beliau untuk melengkapi yang mulanya hanya ada 1 Gong dan 1 bande yang dianggap sakti itu menjadi satu bangunan Gong Kebyar lengkap, namun Gong DAN Bande yang dianggap sakral tersebut tetap disimpan, hanya dibuatkan duplikatnya saja.

Keturunan Beliau bersaudara empat orang, masing-masing mendiami, Jero Gede, Jero Kelod, Jero Kajanan, dan Jero Anyar-Anyar dan yang mewarisi Gong tersebut adalah Jero Br. Anyar yaitu “A.A Ratu Pemecutan” dengan putranya yang bernama A.A Putu Regeg.

Karena A. Ratu Pemecutan tidak suka dengan sanaknya yang suka berjudi  maka A. Ratu Mecut minggat dan kembali ke Jero Kelodan sampai akhir keturunan beliau maka dikembalikanlah lagi Gong Kebyar tersebut ke Jero Kelodan sampai sekarang. Dari dulu sampai sekarang sudah bermacam-macam sekaa yang menabuh Gong tersebut namun yang dapat diketahui sekarang adalah ‘Sekaa Eka Satya Budaya”.

Konon katanya jika sekaa gong yang pada saat menabuh gamelan terkena racun dan muntah darah disana di mintakan air (tirta) dari Gong sakti tersebut setelah diminum langsung sembuh. Dan jika ada orang yang sampai dewasa tidak bisa bicara dimintakan juga air tirta dari gong tersebut.

Konon juga katanya jika gong tersebut dibunyikan akan terjadi hujan yang sangat lebat (dulu katanya pernah dibuktikan). Nama dari Gong Due tersebut karena kata “Due” berarti kepemilikan raja. Dulunya Gong kebyar yang ada di Jero Kerobokan hanya satu-satunya yang ada di Kerobokan.

Dulunya Gong tersebut hanya difungsikan pada saat ada upacara (odalan) di Jero dan di Pura adapun tabuh-tabuhannya merupakan tabuh-tabuh lelambatan, adapun pelatihannya yang dapat diketahui yaitu :

Nyoman Redit Br. Campuan

Wayan Rideg Br. Gede

Gong Due tersebut juga katanya pernah dipinjam oleh Pak Berata ke Belawan dan dipinjam juga oleh tamatan Asti dulu untuk ujian Sarjananya.

Sejarah Gong Due Di Jero Kelodan Kerobokan selengkapnya

Loading...