by admin | Mar 14, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, dosen PS Seni Karawitan
Ketika matahari telah condong ke barat, adu ayam pun dimulai di sudut Desa Singapadu, Gianyar. Para babotoh berkerumun mengitari sisi-sisi kalangan 4X 4 meter itu. Dua ayam, bertaji segera akan ditarungkan oleh dua pakembar. Suasana riuh membumbung bersautan, cok, gasal, telude dan sebagainya–menyebut nama sistem taruhan dalam sabung ayam di Bali. Mong, mong, mong–kemong dipukul oleh saya (juri)–pertarungan ayam putih versus ayam merah pun dimulai. Suasana terasa tegang. Teriakan-teriakan bergemuruh menyertai perkelahian hidup mati dua ayam jantan itu. Ayam putih mengerang bersimbah darah terjerembab sekarat dan dinyatakan kalah. Ekspresi girang tampak pada wajah babotoh yang menang dan sebaliknya rona kuyu terbersit pada babotoh yang kalah.
Mamasuki pertarungan berikutnya suasana kembali gegap. Namun sesaat setelah dua ayam petarung dilepas, tiba-tiba terdengar suara sirine yang meraung-raung. Ada yang beteriak: polisi, polisi! Para babotoh itu bubar dan lari tunggang langgang. Banyak yang ambil langkah seribu menyuruk ke persawahan dan semak-semak. Senyap sejenak, seorang yang mengaku bendesa setempat, memanggil beberapa para babotoh yang bersembunyi ketakutan. Jero Bendesa menasehati orang-orang yang masih diliputi rasa was-was itu untuk tidak memanfaatkan ritual tabuh rah sebagai ajang judi. “Tabuh rah itu korban suci untuk menjaga harmoni alam dan kehidupan,” ujar bendesa berambut panjang memakai udeng putih tersebut.
Adalah sabungan ayam dalam ritual tabuh rah menjadi sumber inspirasi seorang seniman Bali, I Wayan Sutirtha, dalam sebuah karya seninya bertajuk “Tabuh Rah, Antara Ritual dan Judi”. Kendatipun ditampilkan secara sesungguhnya, sabungan ayam yang membaurkan penari terlatih, babotoh, polisi dan masyarakat umum itu adalah sebuah simulakra dari sebuah penciptaan karya seni pertunjukan. Beberapa turis asing yang menyaksikan “pertunjukan” sabungan ayam di jaba Pura Baban, Singapadu, itu pun secara tak sengaja ikut menjadi pemain. Sepasang turis asing tampak kebingungan ketika adu ayam itu bubar berantakan.
Pengejawantahan estetik dari tabuh rah yang disertai taruhan uang itu terajut di Bale Banjar Seseh, Singapadu, tak jauh dari arena sabungan ayam. Dibawakan oleh 40 orang penari pria bertelanjang dada memakai selembar kain dan udeng yang diikatkan sekenanya. Sebuah komposisi seni pentas yang memadukan elemen-elemen gerak dan musik mengalir dinamik sepanjang 15 menit. Eksplorasi gerak-gerak bebas improvisatoris tampak dicuatkan. Derak musikal dari hentakan tubuh para penari penimpali dengan ritmis. Pekik cok, gasal, dapang, apit, buik, bihing, serawah, sangkur dijalin bak simponi. Kumandang dendang lagu-lagu rakyat Bali yang bertema ayam aduan dan sabung ayam, menggarisbawahi keseluruhan karya seni pentas ini.
Kendati disaksikan begitu antusias oleh masyarakat setempat, sejatinya, garapan seni tari Wayan Sutirtha itu digarap dan disajikan sebagai karya tugas akhir untuk menyelesaikan jenjang akademik S2 Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Siang itu, sebuah tim penguji dari ISI Surakarta secara khusus didatangkan berbaur dengan masyarakat penonton bersama-bersama menyimak karya salah seorang dosen tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar tersebut. Atas garapannya yang memikat itu, sore itu juga, Sutirtha dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar magister seni (M.Sn).
Sabungan Ayam, Pentas Pertarungan Orang Bali selengkapnya
by admin | Mar 13, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Menurut beberapa sumber, nama Blanjong berasal dari kata blahjung. Blah atau belah berarti pecah, dan jung berarti perahu. Jung yang bocor, kemudian terdampar dan akhirnya pecah berantakan dekat Sawang. Kata sawang berarti palung laut yang dalam, dan sekarang menjadi Semawang. Pengertiang Blanjong adalah suatu tempat dimana perahu yang bocor kemudian pecah terdampar di dekat Semawang.
Rusaknya tulisan prasasti membuat para ahli hanya dapat mengira-ngira terjemahannya yaitu: Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Singadwala, bernama Sri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.
Prasasti Blanjong berbentuk pilar, tingginya 177 centi meter dengan garis tengah 62 cm, di atasnya (bagian kepala) ada mahkota yang berwujud bunga teratai, sama dengan yang ada di Malaya serta di Sriwijaya. Dalam prasasti itu terdapat kata satru dan bheri yang mana melukiskan keadaan perang serta kata-kata yang berarti mengalahkan musuh. Prasasti ini ditulis dalam dua bahasa, bagian pertama terdiri dari 6 baris, tiga baris berbahasa Sangsekerta dengan tulisan Pranegari dan tiga baris kemudian berbahasa Bali kuno dengan huruf Pranegari. Kemudian bagian kedua terdiri dari 13 baris dengan huruf Bali kuno dan bahasa sangsekerta terletak dibawahnya. Sedangkan angka tahunya ditulis dalam bentuk candrasangkala berbunyi Khecara – Wahni – Murti, rajanya disebut Sri Kesari Warmadewa, tahun Candrasangkala itu melukiskan tahun Icaka 835 atau 913 M. Kalau kita lihat secara seksama, prasasti tersebut sulit untuk diartikan kata demi kata karena sebagian besar tulisannya telah rusak. Walaupun demikian, kita masih dapat dilihat dengan jelas pada akhir tulisan, bahwa gelar Sri Kesari ditulis dengan lengkap yaitu …samasta samantadhipatih Cri Kesari warma…
Dalam kawasan prasati berjarak sekitar 7 meter terletak sebuah pura yang dinamakan dengan Pura Blanjong. Di dalam pura ini banyak ditemukan berbagai barang peninggalan seperti: 1) Arca Ganesa, Arca perwujudan, diperkirakan berasal dari abad XIII–XIV (Majapahit), dan arca teracota berwujud binatang dan sandaran arca, berdasarkan atributnya, kemungkinan besar berasal dari jaman Majapahit. 2) Lingga ditempatkan di sebuah pelinggih bersama-sama dengan stela arca dan fragmen arca. Terbuat dari batu padas dengan ukuran tinggi 36 Cm, panjang 40,5 Cm, dan lebar 38,5 Cm. 3) kereweng Cina dari beberapa dinasti yaitu zaman dinasti Sung (960-1280 M), dinasti Yuan (1280-1368 M), dan dinasti Ching (1644-1912 M), kereweng lokal yang persebarannya dipermukaan tanah dan populasinya cukup banyak, kereweng Annam yang berasal dari abad XIV-XVI, dan Kereweng Eropa yang berasal dari abad XVII-XIX.
Prasasti Blanjong dan Gamelan Gong Beri selengkapnya
by admin | Mar 12, 2011 | Artikel, Berita
Sajian Komposisi Karawitan Sebuah Kategori Contoh Dalam Wacana Estetika Postmodern.
Kiriman Saptono, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
1.Latar Belakang
Pengertian estetika sebagai filsafat, hakekatnya telah menempatkan pada satu titik dikotomis antara realitas dan abstraksi, dan juga antara keindahan dan makana. Estetika tidak lagi menyimak keindahan dalam pengertian konfensional, melainkan telah bergeser kesebuah wacana dan fenomena. Estetika karya seni modern jika dipahami melalui pemahaman filsafat seni yang merujuk pada konsep-konsep keindahan jaman Yunani (abad pertengahan), akan mengalami penciutan atau pembunuhan preseptual, karena estetika bukan hanya simbolisai dan makna, melainkan juga daya. Setiap ungkapan atau ekspresi kesenian apapun bentuk dan media pengungkapannya pada dasarnya adalah ungkapan estetik seniman. Dalam dimensi estetis Noel Carroll (1999), pengalaman seni mencakup kepuasan rasa yang muncul tatkala menyaksikan suatu sajian karya atau obyek seni (merasa senang, dan puas menyaksikan sebuah ply) (Khanisar, 2004:65-78).
Seni pertunjukan pada dasarnya adalah presentasi ide, gagasan, atau pesan pada penonton oleh pelakunya melalui peragaan. Sebagai sebuah karya seni, seni pertunjukan memadukan hampir semua unsur seni; seni rupa, seni sastra, seni gerak, seni suara, sehingga mampu memberikan kepuasan estetis yang sangat lengkap (Dibia, 2004:3). Untuk lebih rampingnya fokus dalam tulisan ini secara spesifik melihat karya seni sebagai kasus dalam beberapa komposisi (gending/lagu) karawitan Jawa dan Bali (tabuh), ditinjau dari kacamata estetika postmodern, dengan lima (5) idiom; pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia.
2. Komposisi dalam Karawitan
Dalam Ensiklopedi Musik Indonesia (1985:12), dewasa ini istilah karawitan adalah musik dengan sistem nada (laras) slendro maupun pelog, atau tangga nada non diatonis yang pernah berkembang atau masih hidup di Indonesia, sebagai musik tradisional di daerah-daerah.
Gendhing adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut komposisi musikal dalam karawitan Jawa. Secara konvensional, repertoar gending Jawa telah memiliki cara dan pola penyajian, bentuk dan struktur, serta karakterisik yang berbeda dengan lagu atau komposisi jenis musik lain. Secara musikal di dalam penyajian karawitan, saat para seniman memainkan instrumen yang memiliki fungsi dan teknik permainan yang berbeda, mereka tidak sekedar terpaku terhadap instrumen yang dimainkannya, melainkan mereka saling memperhatikan dengan sesama penyaji yang lain. Mereka saling melempar dan merespon ide musikal, sehingga terjadi dialog dan interaksi musikal yang hidup dan menarik. Sehingga bila dianalisis ketika masing-masing ricikan (instrumen) yang mereka sajikan memiliki cara permainan, warna suara, dan kaidah-kaidah (vokabuler) yang beragam, dan ketika seluruh permainan instrumen dimainkan secara terpadu tetap menjadikan satu kesatuan yang enak didengar (harmonis). Dalam sajiannya karawitan juga sangat memungkinkan adanya perbedaan penyajian pada saat yang berbeda. Perbedaan penyajian tersebut antara lain ditentukan oleh fungsi dan kegunaan karawitan.
Pada prinsipnya kesenian seperti di atas sudah berlangsung dan dipertahankan secara turun-temurun dan diikuti kaidah-kaidah secara tetap. Sebuah karya seni menjadi baku dalam pengertian tetap, stabil, dan tidak berubah-ubah lagi setelah mengalami proses koreksi, perbaikan dan penyempurnaan di sana-sini secara efolutif jangka panjang di dalam komunitas budayannya (Suka, 2003:77). Berlangsungnya pada suatu pertunjukan atau permainan seni tradisi dan kesenian rakyat sebenarnya adalah suatu proses rekonstrksi atau reinterpretasi dari komposisi karawitan yang dianggap baku.
Sajian Komposisi Karawitan Sebuah Kategori Contoh Dalam Wacana Estetika Postmodern selengkapnya
by admin | Mar 11, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Sariada, SST., MSi., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar
Bentuk
Penelitian berparadigma budaya yang dalam realitas pendekatannya menekankan konsep bentuk (Bagus, 1988 : 55) menyatakan bahwa konsep bentuk menyoroti dan membatasi (aspek ontologi) yang ingin diketahui. Dalam kaitan ini, keterwujudan atau bentuk menandai keberadaan sesuatu yang fenomenal dapat digapai dan dicapai secara indrawi sehingga dapat diperoleh fakta-fak–ta empirik. Fakta-fakta emprik seperti peristiwa dan gejala kealaman yang terlihat dengan manusia, masyarakat, dan kebudayaan itu dihubungkan dan diangkat saripatinya. Dengan demikian, maka pengetahuan kebenaran obyektif tentang sesuatu apa yang terbentuk itu menjadi lebih menyeluruh dan tuntas.
Sesuai dengan pendapat di atas tari kreasi baru Siwa Nataraja adalah sebuah bentuk seni pertunjukan yang merupakan hasil karya cipta I Gusti Agung Ngurah Supartha yang secara empirik dapat diwariskan sampai sekarang, serta dilestarikan di sanggar tari Wrhatnala Abiantuwung, Kediri, Tabanan yang sangat bermakna bagi masyarakat pedukungnya, serta dapat menambah khasanah seni pertunjukan Bali.
Susan K. Langer (dalam Gie, 1996 : 18-20) menyebutkan, seni sebagai bentuk harus merupakan suatu kebulatan yang sifatnya organik. Kebulatan organis ciri berbagai sumber unsur ekspresif tersebut tertuang ke dalam bentuk tertentu. Langer membedakan bentuk fisik dan dinamik. Bentuk fisiknya tetap seperti bangunan arsitektur, sedangkan bentuk dinamik seperti tarian merupakan suatu yang dapat dimengerti (perceptible). Suatu bentuk yang merupakan kebulatan organis, yaitu setiap bagian atau unsurnya memainkan peranan tidak hanya dalam rangka dirinya sendiri tetapi juga dalam rangka semua bagian atau unsur lainnya. Tidak ada bagian yang berdiri sendiri melainkan harus bersama-sama dengan bagian lainnya untuk membentuk kesatuan organis.
Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan, isi pandangan dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera. Maka di dalam bentuk seni terdapat hubungan antara garapan medium dan garapan pengalaman jiwa yang diungkapkan, atau terdapat hubungan antara bentuk (wadah) dan isi yang dikandungnya. Bentuk merupakan sarana untuk menuangkan isi, dan isi sebagai bentuk ungkap merupakan pengalaman jiwa yang wiganti (significant). Dalam ungkapan karya seni, seniman mengajak penonton untuk menyelami pengalaman berbagai macam di luar wilayah pengalamannya sendiri. Seniman dapat mencari berbagai pengalaman, seperti: kebaikan yang berhasil menolong, hal-hal yang menakutkan, kejahatan, dan sebagainya (Humardani, 1982/1983: 11-12).
Ungkapan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk merupakan suatu kebulatan yang sifatnya organik, bersumber dari unsur ekspresif; tertuang dalam bentuk fisik maupun dinamik yang isinya dapat ditangkap melalui panca indra. Bentuk juga merupakan unsur abstraksi seperti misalnya garis, warna, gerak, nada, dan kata. Selain dari unsur abtraksi unsur dramatikpun tertuang didalamnya seperti penggambaran orang atau kejadian-kejadian lainnya.Bentuk (wujud) yang dimaksudkan adalah kenyataan yang nampak secara konkrit di depan kita (berarti dapat dipersepsikan dengan mata dan telinga) dan juga kenyataan yang tidak nampak secara konkrit dimuka kita. Tetapi secara abstrak wujud juga dapat dibayangkan, seperti sebuah cerita yang kita baca dalam buku. Di dalam seni tari juga ada yang berbentuk abstrak, yang mewujudkan suatu “ide”, “konsep” suatu pemikiran. Misalnya, Tari Nelayan ide atau konsepnya menirukan orang menangkap ikan (Djelantik, 1990: 17).
Dilihat dari koreografinya bentuk dan struktur garapan, tari-tarian Bali dapat dikelompokan menjadi: tari-tarian tunggal (solo), tari berpasangan (duet), tari kelompok (group) kecil dan besar, dan drama tari. Tari tunggal hanya dibawakan oleh seorang penari, tari berpasangan menampilkan dua orang penari saling medukung (bukan kembar), tari kelompok melibatkan sejumlah penari (dari tiga sampai puluhan orang), dan dramatari menampilkan sejumlah penari dengan membawakan lakon (Dibia, 1999: 8).
Bentuk Tari Kreasi Baru Siwa Nataraja Karya I Gusti Agung Ngurah Supartha selengkapnya
by admin | Mar 9, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Nurchatijah. Mahasiswa PS. Kriya Seni Minat Kriya Keramik.
Perkembangan gerabah di Bali dari dulu sampai sekarang mengalami kemajuan yang pesat. Kalau dahulu hanya sebagai bahan utama pembangunan rumah seperti batu bata dan genting serta tempat menyimpan bahan makanan dan wadah sesaji untuk sarana upacara agama mayoritas penduduk Bali (Hindu), pada saat ini keramik dalam perkembangannya juga bisa dipasarkan sebagai cenderamata dalam bentuk meja hias, tempat dupa dan lain sebagainya. Ada beberapa sentra-sentra keramik atau gerabah yang ada di Bali antara lain : Binoh, Pejaten, Kapal dan sebagainya. Sebagai daerah yang masih memproduksi hingga saat ini keramik Pejaten masih memiliki ciri dan keunggulannya.
Desa Pejaten Kabupaten Tabanan terletak 4 km barat daya dari Kediri merupakan desa tradisional penghasil kerajinan dari tanah liat dan keramik. Desa ini diapit dua sungai dengan luar sekitar 1,5 km persegi. Masyarakat Pejaten telah menambang tanah liat merah (bahan dasar keramik) sejak awal berdirinya desa dan menggunakan cara pembakaran tradisional sampai akhirnya persediaan tanah merah tersebut menipis pada tahun 70-an dan ini menjadi sebuah kekhawatir saat itu dibarengi pula oleh produksi peralatan rumah tangga yang dibuat dengan bahan alumunium yang lebih praktis dan berkembang pesat.
Permasalah yang terjadi sekarang adalah kwalitas yang dihasilkan dari keramik gerabah dan keramik stonewere sangat berbeda jauh baik itu bahan baku dan hasil barang, akan tetapi keramik gerabah tidaklah kehilangan peminat ataupun pasar, justru keramik gerabah masih mendapatkan tempat dihati peminat-peminatnya karena masih mencirikan tradisional Indonesia asalkan para pengrajin mampu mengembangkan disain-disain yang lebih unik dan menarik yang ditungkan dengan media tanah merah ini.
Perajin Gerabah UD Amerta Sedana.
Dari sejarah keramik yang ada di desa Pejaten, salah satu perajin keramik yang tetap bertahan dan masih menciptakan bentuk-bentuk hasil ide dan kreatifitas sendiri adalah I Wayan Kuturan, yang memiliki usaha industri keramik (UD. Amerta Sedana) yang masih menggunakan tanah merah sebagai bahan baku keramik produksinya diantara rekan-rekan seperjuangannya yang merintis keramik di desa Pejaten yang sudah memproduksi keramik dengan bakaran tinggi (stonewere).. Lokasi kerja (bengkel/studio) I Wayan Kuturan dan keluarganya ditempatkan di bagian belakang kediamannya memiliki luas sekitar 6×10 meter, masih menggunakan bilik bambu dan beralas lantai tanah. Sebagian serta rak-rak gerabah berkerangka bambu juga. Tempat kerja yang beralamatkan di Banjar Pangkung, Pajaten, Kediri Tabanan Bali ini berdiri sejak tahun 1990 yang dirintisnya di tahun 1960-an dimulai dari produksi genting dan peralatan dapur. Pada awal 1980 merubah menjadi produksi karya/ benda pajang karena permasalahan bahan baku yang banyak terolah menjadi bahan bangunan (genting) serta peralatan dapur yang bersaing antara bahan baku gerabah dan alumunium yang berkembang pesaat saat itu. Jumlah karyawan perusahaan ini sekarang 15 orang, jumlah ini dapat bertambah dengan istilah “karyawan borongan” jika terjadi pemesanan produksi yang banyak.
Geliat Gerabah Pejaten selengkapnya
by admin | Mar 9, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Ketut Sariada, SST., MSi., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar
Salah seorang koreografer tari yang namanya cukup tenar di kalangan masyarakat Bali adalah I Gusti Agung Ngurah Supartha. I Gusti Agung Ngurah Supartha adalah seorang pria berperawakan sedang, kulit putih, rambut sosoh, selalu tampil rapi dan berwibawa. Ia tampak sangat energik dan ulet dalam berkarya. Ia lahir di Puri Agung Buluh Kenana Abiantuwung Kediri Tabanan pada tanggal 22 Januari 1943. Mas Roro Suhestiningtyas adalah istri dari Ngurah Supartha. Dari perkawinannya mempunyai empat orang anak dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan yaitu I Gusti Agung Ngurah Kihasta Kenana Jenggala, I Gusti Agung Ngurah Anom Utara Pratimawan, I Gusti Ayu Istri Utari Budayawati, dan I Gusti Ayu Mas Ari Kencanawati. Dalam menempuh pendidikan formal Ngurah Supartha sangat sukses dan tidak pernah ketinggalan. Pada tahun 1956 lulus Sekolah Dasar Abiantuwung, tahun 1960 lulus Sekolah Menengah Pertama Tabanan, tahun 1964 lulus Konservatori Karawitan Bali, lulus Sarjana Muda Akademi Seni tari Indonesia Yogyakarta tahun 1967, dan lulus Sarjana Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1975. Ngurah Supartha adalah seniman yang sangat kreatif dan produktif (lihat lampiran 2 gambar 2.9 dan 2.10).
Ia adalah seorang seniman yang sangat energik, disiplin, dan penuh dedikasi dalam membentuk karakter seorang seniman. Hal ini tampak dari sistem pelatihan yang diterapkan kepada anak didiknya ketika ia masih menjabat sebagai Kepala Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Denpasar periode tahun 1977 sampai dengan 1985, yang berlokasi di Jalan Ratna Denpasar. Ia sangat enerjik dan tidak pernah mengeluh. Pelatihan-pelatihan dilakukan pagi, siang dan bahkan sampai larut malam. Oleh karenanya aktivitas sekolah pada waktu itu (sekitar tahun 80-an) selalu hidup.
Berdasarkan keuletannya itu pada masa kepemimpinannya, SMKI yang sebelumnya bernama KOKAR Denpasar menjadi institusi yang diidolakan dan cukup dibanggakan di masyarakat. Hal ini juga tidak terlepas dari prestasi dan hasil karya yang dipublikasikan cukup bermutu sehingga mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Di bawah tangan dingin kepemimpinan Ngurah Supartha kejayaan KOKAR dapat diangkat kembali. Pada masa kepemimpinannya berperan selaku manager, ia juga berperan selaku koreografer yang cukup produktif. Hal ini terbukti dari sejumlah hasil karya yang dipasarkan baik institusi SMKI maupun Sanggar Tari Wrhatnala yang dipimpinannya, sebagian besar adalah hasil karyanya seperti, tari Kidang Kencana (1983), tari Baris Bandrang Manggala Yudha (1984), tari Srikandi Duta (1983), tari Bendega Duyung (1982), tari Capung Gantng (1982), produksi SMKI dan tari Ulat Sutra (1985), tari Kupu-kupu Emas (1985), tari Lelipi (1985), produksi Sanggar Tari Wrhatnala (Abian tuwung, Kediri, Tabanan). Hasil karyanya dari tahun 1960 sampai dengan tahun 2006 sebanyak 461 karya tari dan karawitan atau musik (lihat lampiran 3 hal 150). Karya tari sebayak 247 terdiri dari: tari Bali sebanyak 106 karya, tari Jawa sebanyak 9 karya, tari Sumatra sebanyak 4 karya, tari Sulawesi sebanyak 1 karya, tari Irian Jaya sebanyak 2 karya, Dramatari tanpa dialog sebanyak 36 karya, Dramatari dialog prosa sebanyak 30 karya, Dramatari dialog puisi sebanyak 29 karya, Dramatari Jawa tanpa dialog sebanyak 2 karya, Drama Bali sebanyak 8 karya, Drama Nasional sebanyak 4 karya, Tari Kontemporer sebanyak 5 karya, Interaxis Collaborasi – East Meets East sebanyak 5 karya, Interaxis Collaborasi- East Meets West sebanyak 6 karya.(Supartha, 2006). Karya karawitan (musik) sebanyak 214 karya terdiri dari : Instrumentalia Bali sebanyak 19 karya, Instrumentalia Jawa sebanyak 4 karya, Musik Vokal sebanyak 2 karya, Iringan tari Bali sebanyak 75 karya, Iringan tari jawa sebanyak 4 karya, Iringan tari Sumatra sebanyak 1 karya, Iringan Dramatari tanpa dialog sebanyak 18 karya, Iringan Dramatari Bali berdialog prosa sebanyak 20 karya, Iringan Dramatari Bali berdialog puisi sebanyak 10 karya, Iringan Dramatari jawa tanpa dialog sebanyak 1 karya, Iringan Drama Bali sebanyak 8 karya, Musik Drama Nasional sebanyak 3 karya, Iringan tari Kontemporer sebanyak 7 karya, Iringan Interaxis Collaborasi East Meets East/West sebanyak 8 karya (wawancara dengan Ngurah Supartha, 20 Pebruari 2006).
I Gusti Agung Ngurah Supartha dan Karya-karyanya, Selengkapnya