by admin | Dec 26, 2010 | Berita
Suguhan aktrasi tiga seniman akademisi yang menampilkan sebuah karya seni dalam konsep kolaborasi, berlangsung Rabu (22/12) malam di depan Pura Kampus ISI Denpasar. Ketiga seniman akademisi itu membawakan garapan yang bertajuk “ Tapak Telu” sebuah konsep yang dihasilkan dari perpadauan inspiratif sang seniman. Mereka adalah I Wayan Sujana Suklu, Ngurah Sudibya dan Ditha Gambiro.
Pargelaran yang diawali munculnya sosok tubuh bertopeng dan tubuh polos berselimut kain putih membawa api obor. Dengan langkah tegap satu demi satu dari sembilan tiang obor yang berdiri acak di sekitar karya seni instalasi itu dinyalakan. Lantas, suasana perlahan terang hingga terlihat sosok seorang perempuan berbusana kamben sedang mandi kembang.
Uraian atraksi sarat nuansa magis itu pun terus berngalir di iringi alunan musik genta, gentora, desahan vokal dan alunan bait kidung suci, serta di selingi letupan kembang api. Begitu pula suara gemuruh burung besi yang secara tiba-tiba melintas di langit. Selain itu, juga di lengkapi permainan sorotan lampu fijar listrik dan aneka warna sebagai penguat karakter tokoh yang sedang bergejolak dalam atraksi seni pertunjukan kolaborasi tersebut.
Sajian imajinasi kreatif yang dipadati para penonton dari kalangan budayawan, mahasiswa ISI ini, disambut dengan olah gerak teaterikal tubuh nan magis yang bercerita tentang siklus hidup. Dan, akhirnya atraksi itu mencapai titik klimaks dengan sebuah atraksi cukup mendebarkan, berupa prosesi prelina (ngaben) sebuah patung tubuh manusia meru.
Tubuh manusia meru itu lebur menjadi abu. Kemudian, secara simbolik abu itu di pungut dan dimasukkan ke dalam wadah berupa buah kelapa dan selanjutnya di larung (hanyut) ke laut. Sebuah klimaks yang cukup dramatik dan sarat makna.
Persembahan kolaborasi yang berlangsung sekitar 30 menit itu merupakan ajang kreatif beda jurusan yakni Wayan Suklu dari Fakultas Seni Rupa, Ngurah Sudibya dari Seni Pertunjukan dan Ditha Gambiro seni rupa patung Institut Teknologi Bandung. Dan ajang ini sekaligus menjadi persembahan seni akhir tahun..Tersirat konsep yang dipersembahkan tiga seniman ini adalah proses kelahiran, kehidpuan dan kematian.
Suklu menyatakan penampilan karya ini sekaligus menjawab kegundahan hatinya untuk menyajikan karya yang tahun ini mengambil tajuk “Tapak Telu”. Suklu sendiri mempersembahkan karya yang mengambil konsep bambu membentuk garis lurus yg dipatahkan membentuk segi yang berkaki, secara intuitif berbentuk segitiga.
Usai pagelaran kolaborasi itu, dilanjutkan dengan memamerkan karya yang diikuti oleh mahasiswa University Wetern Australia (UWA). Yaitu memamerkan fotografi kriya, patung, arsitek dan interior dengan total 50 karya lebih.
Rektor Isi Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai. S menyatakan atraksi dari kolaborasi pentas seni kontemporer Tapak Telu itu sejatinya hendak menyadarkan betapa hidup ini tidak akan pernah bisa lari dari sebuah kenyataan berupa hukum alam (Tuhan). Pasalnya, ketika kehidupan itu bermula dari sebuah kelahiran, kemudian berproses dalam kehidupan, akhirnya tiba saatnya menuju titik akhir berupa kematian. “Dan, siapa pun tak akan mampu melawan hukum tersebut,” tegasnya.
Humas ISI Denpasar
by admin | Dec 25, 2010 | Berita
Mantan Dirjen Dikti, Prof. Dr. Ir. Satryo Sumantri Brojonegoro, M.Sc., Jumat(24/12) lalu berkunjung ke kampus ISI Denpasar. Prof. Satryo mengunjungi pameran kolaborasi ISI Denpasar dan UWA (University of Western Asutralia) yang bertajuk ”All Agree” yang dibuka secara resmi oleh Rektor ISI pada 22 Desember lalu bersamaan dengan pementasan karya kolaborasi tiga seniman : Wayan Sujana “Suklu” (Seni Rupa), Ngurah Sudibya (Seni pertunjukan ISI Denpasar), dan Dita Gambiro (ITB) dengan disiplin ilmu berbeda dalam konsep yang diusung bersama yaitu “Tapak Telu”.
Sebelum meninjau pameran ”All Agree” dan instalasi ”Tapak Telu”, Prof. Satryo didampingi Rektor ISI Denpasar beserta jajarannya memberikan ceramah kepada para pejabat struktural di Lingkungan ISI Denpasar. ” Berangkat dari kekurangan yang harus diperbaiki dan dibenahi, ISI Denpasar ingin terus meningkatkan diri melalui belajar dan bekerja keras, sehingga kami sangat berterima kasih dan bangga mendapat kunjungan dari Prof. Satryo, yang telah begitu banyak memberikan arahan dan masukan demi kemajuan ISI Denpasar,” ujar Rektor ISI, Prof. I Wayan Rai s.,M.A ditemui di Gedung Pameran ISI Denpasar.
Dalam ceramah dan diskusi yang berlangsung selama empat jam tersebut, Ketua LP2M ISI Denpasar memaparkan seluruh kegiatan penelitian dan pengabdia pada masyarakat yang telah dilaksanakan oleh dosen di lingkungan ISI Denpasar. Di samping itu, Ketua UPT Penerbitan dan Ketua Puskom juga mendapat kesempatan yang sama untuk memaparkan hasil kegiatannya. Salah satu kebanggaan ISI Denpasar adalah pengajuan akreditasi jurnal Mudra ISI Denpasar dengan nilai B per 1 November 2010, dan satu-satunya dari BKS PTSI (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia).
”Dalam satu kegiatan, seorang dosen harus menghasilkan tiga hasil, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarkat, sehingga mampu bersaing dalam guna peningkatan diri,” ujar Prof. Satryo. Dalam ceramah dan diskusi yang dihadiri seluruh pejabat struktural ISI Denpasar ini, Prof Satrio juga merekomen beberapa website sebagai referensi penelitian.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Dec 25, 2010 | Berita
BANDUNG – Alokasi dana bantuan penelitian dari Kementerian Riset dan Teknologi pada 2011 sama seperti tahun ini, sebesar Rp 95 miliar. Namun insentif dana bagi para pengaju proposal penelitian tahun depan diturunkan. Prioritas untuk riset yang berorientasi industri dan berpotensi komersial.
Asisten Deputi Relevansi Program Riset Dading Gunadi di Bandung mengatakan, insentif dana bagi para pengaju proposal penelitian hanya Rp 76 miliar, turun dibanding alokasi pada 2010 sebesar Rp 96 miliar. “Dialihkan untuk riset yang sifatnya semi top down, yaitu bagi peneliti di lembaga-lembaga pemerintah,” ujarnya di sela sosialisasi insentif riset di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Bandung.
Semi top down merupakan tema riset yang telah dirumuskan Dewan Riset Nasional untuk diteliti atau dikembangkan. Cara itu mulai diberlakukan Kementerian Ristek tahun depan. Sebelumnya, para peneliti dari lembaga pemerintah harus bersaing ketat dengan akademisi dari berbagai kampus untuk mendapat insentif penelitian.
Adapun kriteria riset tahun depan, kata Dading, ada 7 prioritas, yaitu pangan, energi, transportasi, telekomunikasi dan informatika, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan obat, serta material maju. Kriteria tambahan lainnya adalah sains dasar dan sosial kemanusiaan.
Bentuk penelitian itu diantaranya teknologi bagi petani untuk peningkatan produksi, varietas padi unggul, kualitas gizi dan pangan, obat malaria dan flu burung, serta obat herbal. Juga teknologi untuk efisiensi pemakaian bahan bakar minyak, konversi energi angin, pesawat udara tanpa awak, dan komponen pesawat serta radar.
Kementerian Ristek menjanjikan dana bantuan Rp 100-500 juta bagi setiap peneliti yang proposalnya disetujui. Tahun ini, ujar Dading, proposal penelitian yang masuk mencapai 3.734 buah. Adapun yang disetujui hanya 347 penelitian. Proposal terkait teknologi pangan masih yang terbanyak, adapun riset energi alternatif tergolong sedikit. “Mungkin karena harga BBM sekarang masih murah,nggak tahu nanti kalau mahal,” ujarnya.
Pemerintah tahun depan akan memberi porsi yang lebih banyak untuk pengembangan teknologi terapan yang bekerjasama dengan industri. Utamanya bagi peneliti yang teknologinya telah memiliki paten atau sedang mengurus paten dan telah dipakai oleh masyarakat, misalnya pengusaha industri kecil dan menengah. “Trend-nya lebih pada industri, jadi riset-riset dasar dikurangi,” katanya.
Pengurangan insentif riset dasar itu dipertanyakan Profesor Arifin dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadajaran. Menurut dia, bidang pertanian masih membutuhkan banyak riset dasar, misalnya untuk mengurangi resiko kegagalan panen. “Selama ini transfer teknologi ke negara-negara tropis tingkat keberhasilan panennya belum memuaskan,” ujarnya.
Anwar Siswadi
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/12/21/brk,20101221-300512,id.html
by admin | Dec 24, 2010 | Berita
Jakarta – Televisi sebagai media penyiaran memiliki peran penting dalam memberikan tayangan-tayangan yang mendidik. Namun tidak dapat dipungkiri televisi diibaratkan dua mata pisau yang jika tidak hati-hati dalam menampilkan ide-ide kreatifnya, bisa membuat penonton menjadi tak terdidik.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengemukakan hal tersebut ketika menjadi pembicara pada Media Gathering Komisi Penyiaran Indonesia di Jakarta, Rabu (22/12). “Kita harus mulai mencari cara bagaimana menyandingkan pendidikan dan penyiaran,” katanya.
Fasli melihat bahwa kondisi pertelevisian saat ini kurang menyajikan konten-konten yang mendidik. Dengan kondisi tersebut, dia menawarkan ada kerja sama antara pemerintah dan televisi swasta dalam mengolah konten yang layak tonton. “Dengan kerja sama TV Edukasi dengan media swasta, media literacy bisa dikembangkan agar akses untuk menganalisis dan membimbing anak-anak menjadi lebih besar,” kata Fasli.
Hadir dalam kesempatan tersebut anggota Komisi X DPR RI Dedi Gumelar. Dia menyoroti bagaimana tayangan televisi saat ini didominasi konten yang kurang mendidik. Sebagai seorang mantan pelawak, dia menilai konsumsi lawakan seseorang tidak lagi menghibur dengan baik, tapi malah menggunakan kelainan kepribadian yang efek sosialnya berlangsung lama. “Media memberi ruang kepada orang yang menyimpang kepribadiannya untuk melucu, dampak kelucuan cuma sesaat, dampak sosialnya panjang,” katanya.
Dedi mengatakan hal tersebut terjadi karena longgarnya kebijakan dan ketatnya persaingan di dunia entertainment. Tapi media sebagai kontrol sosial seharusnya jadi pemersatu, bukan malah penghancur. “Ada tiga cara yang bisa menghancurkan sebuah negara, melalui perekonomian, pertahanan militer, dan media,” katanya.
Dengan makin memprihatinkannya kondisi penyiaran yang ada saat ini, baik pemerintah maupun wakil rakyat menyadari lemahnya peraturan penyiaran. Maka dari itu, Dedi mengusulkan agar UU Nomor 32/2002 tentang Penyiaran segera direvisi. (aline).
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/12/penyiaran.aspx