M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kisah Gadis Pemulung Jadi Juara Lomba Foto Internasional Dibukukan

Kisah Gadis Pemulung Jadi Juara Lomba Foto Internasional Dibukukan

Karangasem,  Kisah perjalanan hidup seorang gadis pemulung asal Bali bernama Ni Wayan Mertayani (16) yang menjuarai lomba foto internasional dari Museum Anne Frank, Belanda, dibukukan.
Pande Komang Suryanita, penulis buku berjudul “Potret Terindah dari Bali” itu saat dihubungi di Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu, mengatakan buku itu diterbitkan Kaifa (grup Penerbit Mizan) pada awal Februari ini.
Materi buku mengungkapkan sisi kehidupan gadis yang biasa dipanggil dengan Ni Wayan atau Sepi itu.
Penulis menguraikan secara detil bagaimana alur kehidupan Sepi yang begitu memilukan. Bermula dari kehilangan ayah dan rumah tinggal, Sepi bersama ibu dan adiknya, pindah ke sebuah gubuk di tepi Pantai Amed, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur.
Di gubuk itu, Sepi menjalani hidup sebagai penjual makanan dan sesekali memulung barang bekas setelah pulang sekolah untuk dapat membantu ekonomi keluarga, terlebih ibunya dalam kondisi sakit-sakitan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan turis asal Belanda bernama Dolly yang meminjami kamera untuk belajar memotret.
Hasil “jepretan” Sepi kemudian didaftarkan oleh Dolly pada lomba foto internasional yang diadakan Yayasan Anne Frank di Belanda, dengan tema “Apa Harapan Terbesarmu”.
Tak disangka, foto Sepi yang berobjek ayam yang sedang bertengger di pohon singkong karet berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan 200 peserta lain dari berbagai negara.
Menurut Pande Komang Suryanita, objek foto Sepi berupa ayam, merupakan representasi diri Sepi.
Bila hujan ia kehujanan begitu juga kala panas menyengat karena kondisi gubuk yang ditempatinya begitu memprihatinkan.
“Namun, cerita hidup Sepi bukan bermaksud mencari simpati dari pembaca tentang nasib kurang beruntung yang dialaminya. Justru, kisah itu kami angkat menjadi buku, dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia agar tidak pernah menyerah dalam menjalani hidup,” ujar Suryanita.
Kisah hidup Sepi, lanjut Suryanita, terbukti amat inspiratif karena dalam kondisi hidup serba kekurangan, Sepi tak pernah berhenti berupaya agar roda hidupnya bergulir menjadi lebih baik.
Tak berbeda dengan kisah hidup Anne Frank, yakni seorang gadis Yahudi yang bertahun-tahun hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan diri dari tentara Nazi, yang menjadi tokoh idola bagi Sepi.
Dalam persembunyian, Anne menulis dalam buku harian tentang cita-cita yang ingin diraihnya kalau keadaan sudah aman.
Buku “Potret Terindah dari Bali” sekaligus ingin mengungkapkan bahwa mimpi atau cita-cita dapat menjadi kekuatan seorang anak agar dapat menjalani hidup, sesulit apapun, kata Suryanita.
“Seperti halnya yang dialami Sepi. Mimpi dan cita-citanya menjadi jurnalis, membuatnya tak pernah putus asa. Hidupnya yang sulit,bukan membuatnya tak bisa berkelit,” ujar penulis yang menetap di Denpasar itu.
Sumber: Antaranews.com

Seberangi Lautan “Ngayah”  Di Nusa Penida

Seberangi Lautan “Ngayah” Di Nusa Penida

Rombongan dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)  serta mahasiswa asing ISI Denpasar  yang dikomandoi langsung oleh Dekan FSP, I Ketut Garwa,S.Sn.,M.Sn.”ngaturang ayah” di Pura Dalem Setra Banjar Mentigi,Batu Nunggul Nusa Penida, 16-17 Februari yang lalu. Rombongan seni ini  mempersembahkan tari Baris Gede, Satya Brasta, Selat Segara, Margapati, Tari Wali, Wiranjaya, Jauk Manis, dan Bondres, di wantilan Pura Dalem.

”Kami atas nama pimpinan, sangat bangga dan berterima kasih kepada seluruh mahasiswa dan dosen ISI Denpasar, yang selalu semangat dalam kegiatan”ngayah”. Terima kasih yang sangat dalam juga kami haturkan kepada masyarakat Nusa Penida  yang telah memberi kesempatan kepada ISI Denpasar untuk ”ngayah”, serta sambutan yang begitu baik dari masyarakat,”ujar Garwa, didampingi PD I FSP, I Dewa Ketut Wicaksana, serta Sekjur Tari Rinto Widiarto.

Kegiatan “ngayah” yang merupakan kegiatan pengabdian masyarakat dan bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi ini selalu mengundang decak kagum masyarakat. Menurut Ida Ayu Wimba Ruspawati dan Ni Ketut Yuliasih yang manangani ajang gelar, kegiatan “ngayah” yang rutin dilaksanakan, merupakan bukti nyata ISI Denpasar adalah milik masyarakat, bukan sebagai menara gading. Kelian Banjar,  Wayan Supartawan serta Jero Bendesa, I Dewa Gede Rai Sudiarta, mengucapkan terima kasih dan selamat atas penampilan ISI Denpasar di Pura Dalem Batu Nunggul, dan masyarakat sangat terhibur, ujarnya.

Hari ini, ISI Denpasar juga akan “ngayah” di Pura Desa Sukawati. Selain melibatkan Fakultas Seni Pertunjukan yang akan mempersembahkan tari-tariannya, ISI Denpasar juga membawa serta Penabuh Asti Pertiwi serta Asti Kumara. “Dengan anugrah Tuhan berupa talenta seni, maka dengan seni pula kita memberi persembahan kepadaNya, untuk memohon keselamatan bagi kita semua, agar dapat melaksanakan darma bakti kita”ujar Prof Rai saat hadir di acara latihan Asti Pertiwi sore kemarin.

Rombongan ISI Denpasar juga melaksanakan kegiatan persembahyangan ke Pura Giri Putri dan Pura Dalem Ped, guna memohon keselamatan dan kelancaran khususnya bagi mahasiswa FSP semester VIII yang akan mengikuti ujian TA.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Membaca Jejak “Paus” Teknologi Indonesia

Membaca Jejak “Paus” Teknologi Indonesia

Era globalisasi telah menciptakan gelombang persaingan yang ketat dan berdampak luar biasa. Dampak paling hebat bisa dirasakan pada aspek ekonomi dan teknologi. Bagi negara berkembang yang ingin mengikuti pentas persaingan, penguasaan terhadap teknologi merupakan prasyarat agar mampu tampil ke depan, berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Manusia dan teknologi tidak dapat dipisahkan. Teknologi terkandung dalam diri dan cara-cara hidup manusia dalam masyarakat. Sebaliknya teknologi tidak dapat terlepas dari manusia karena teknologi itu ada karena ciptaan manusia. Kemampuan berpikir manusia yang sistematis, analitis, dan mendalam mampu menghasilkan ilmu pengetahuan. Dari ilmu pengetahuan lahir teknologi, yang mendorong nilai tambah terhadap hasil budi daya manusia.

Sejak BJ Habibie dilantik sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (1978), banyak terjadi perubahan fundamental pada kegiatan-kegiatan penelitian di Indonesia. Dia mengarahkan penelitian agar lebih terfokus untuk menghasilkan teknologi yang diterapkan bagi pembangunan. Awal tahun 1983, lahir gagasan Habibie tentang konsep transformasi industri nasional. Gagasan ini muncul pertama pada ceramah umum di Bandung, yang kemudian resmi dipublikasikan pada 14 juni 1983 di Bonn, Jerman, dengan judul “Beberapa Pemikiran Tentang Strategi Transformasi Industri Suatu Negara Sedang Berkembang”.

Habibie mambangun konsep transformasi industri dengan “mulai dari akhir dan berakhir di awal”. Artinya, bahwa akhir berarti tahap akhir dari suatu proses penahapan secara evolutif pengembangan produk teknologi yang secara klasik telah ditempuh oleh industri negara-negara maju. Proses mulai dari tahap awal berupa penelitian dasar sampai dengan tahap akhir berupa perakitan dan pemasaran produk. Jadi, konsep Habibie berupa proses transformasi teknologi nasional dimulai dari perakitan dan pemasaran produk untuk dan kembali untuk pengembangan dan inovasi produk industri.

Dalam transformasi ini, Habibie membuat tahapan yang disebut satuan mikro-evolutif yang dipercepat atau micro-accelerated evolution unit (MAEU). Ia sering menggelorakan pembaharuan terhadap teknologi dengan slogannya, “kita tidak bisa membuat sebuah penemuan ulang suatu teknologi yang sudah lama ditemukan bangsa lain sebab kita akan tertinggal”.

Pemikiran dasar Habibie untuk membangun teknologi Indonesia terwujud dalam empat tahap penting. Pertama, pemasaran produk dengan pemasaran jaringan produk pendukung atau “purnajual” sampai jumlah tertentu yang memungkinkan memproduksi produk tersebut. Kedua, produksi dengan lisensi, dimulai dengan mengembangkan jaringan “pengendalian dan pengamanan mutu” atau quality control and quality assurance dengan penekanan biaya dan peningkatan kualitas produk.

Ketiga, pengembangan teknologi dengan memanfaatkan disiplin Ilmu Pengetahuan Terapan yang tepat dan berguna untuk menciptakan produk baru. Keempat, melaksanakan riset dalam Ilmu Dasar dan Ilmu Terapan yang biasanya dilaksanakan di universitas atau lembaga penelitian atas beban pemerintah.

Karya nyata dari proses yang digambarkan Habibie tepat dan dapat dibuktikan dengan “Proyek Pembangunan Industri Dirgantara IPTN dan Prasarananya di Puspiptek, ITB, dan IPTN. Proses tahap pertama dan kedua termanifestasi dalam CASA 212, CN-235. Tahap kedua, untuk N-250 dan N-2130. Tahap ketiga dilaksanakan di IPTN untuk N-250 dan N-2130. Terakhir, dilaksanakan di IPTN, Puspiptek, BPPT, LIPI, ITB, dan sebagainya. Meski memakan waktu seperempat abad, karya nyata dapat diberikan bangsa Indonesia dengan terbang perdananya N-250 pada 10 Agustus 1995.

Di antara pemikiran Habibie, yang menonjol adalah gagasan link & match. Sebuah usaha menciptakan sinergi antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan praktis dunia industri. Dari ide itu, ia berhasil menciptakan sinergi IPTN dengan ITB Bandung dalam teknologi dirgantara, PT PAL Surabaya bersinergi dengan ITS Surabaya dalam bidang perkapalan dan kelautan. Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong bersinergi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek). Semua ini adalah upaya agar lembaga penelitian dan perguruan tinggi sebagai mitra usaha dapat mempercepat difusi kemajuan teknologi dan kemampuan inovasi.

Salah satu pasal dalam hidup Habibie bahwa iptek pada gilirannya dapat selalu berada pada posisi strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Habibie juga merealisasikan gagasan “kota berbasis ilmu pengetahuan atau science based city (SBC)” yang bertujuan untuk meningkatkan kemitraan antara Puspiptek dan lembaga iptek di luar Puspiptek. Begitu pula science based industrian park (SBIP), dirancang untuk meningkatkan kemitraan Puspiptek dengan sektor swasta (industri) guna mengatasi masalah industri dalam pengembangan inovasi.

Buku yang ditulis oleh seorang negarawan dan “paus” teknologi ini merupakan hasil refleksi, kajian dan gambaran mengenai potensi teknologi yang dapat digunakan bagi kemajuan, serta upaya kemandirian bangsa. Pembaca dapat lebih paham mengenai pemikiran dan kontribusi BJ Habibie terhadap peradaban teknologi di Indonesia. Sesungguhnya teknologi mempunyai posisi dan peran yang strategis bagi suatu bangsa apabila teknologi tersebut dimanfaatkan secara efektif dan efisien.

Poin penting yang ditekankan Habibie, ia ingin mengembangkan kekayaan Indonesia yang paling berharga, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang terbarukan. Untuk mengembangkan keterampilan SDM, mereka tidak cukup hanya disosialisasikan ke dalam proses-proses padat karya, tetapi juga harus diperkenalkan dengan proses-proses produksi yang berteknologi tinggi.

*Peresensi adalah Fuad Hasan; pecinta buku, tinggal di Semarang.

Sumber: kompas.com

ISI Denpasar –Pemda Sulteng Tandatangani Mou

ISI Denpasar –Pemda Sulteng Tandatangani Mou

Rabu, (16/2) yang lalu, Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A.berada di Palu, Sulawesi Tengah untuk menghadiri Rapat Koordinasi Teknis Bidang Perencanaan Program Kebudayaan dan Pariwisata se-Sulteng, serta Penandatanganan nota kesepahaman penyelenggaraan ISI Denpasar di Sulteng. Hadir dalam acara tersebut Gubernur Sulawesi Tengah, Pejabat Kementrian BUDPAR RI (Dirjen Pariwisata, Dirjen Destinasi, Dirjen Sejarah Purbakala, Dirjen NBSF dan Biro Perencanaan dan Hukum, ketua dan anggota Komisi IV DPRD   Propinsi Sulawesi Tengah, para Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten / Kota se Sulawesi Tengah, pengurus Asosiasi Industri Pariwisata Sulawesi Tengah, Seniman, Budayawan dan Pemerhati Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Sulawesi Tengah.

Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Sulteng,  Drs. H. Suaib Djafar, M.Si. dalam sambutannya mengatakan bahwa  dalam membangun SDM khususnya pada peningkatan pendidikan seni  Sulawesi Tengah, dilaksanakan penandatanganan nota kesepakatan bersama Gubernur Sulawesi Tengah dengan Rektor ISI Denpasar dalam penyelenggaraan program study Starta Satu (S1) di luar domisili ISI Denpasar di Palu.

”Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemda Sulteng yang telah ikut meningkatkan mutu pendidikan tinggi, SDM, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan lokal dan nusantara melalui penyelenggaraan PS S1 Seni Tari, Karawitan, serta Kriya, diluar domisili ISI Denpasar di Palu,”ujar Prof Rai seusai penandatanganan tersebut. Rektor yang didampingi PR I, PR II, Kepala Biro Akademik, serta Humas ISI Denpasar, juga meninjau Taman Budaya Palu, yang akan menjadi tempat pelaksanaan perkuliahan nantinya. Rombongan kemudian tangkil ke Pura Agung Jagatnatha, untuk sembahyang dan bertemu dengan masyarakat Bali yang sedang membuat persiapan upacara Hari Purnama.

Acara dialog antara ISI Denpasar dan Kadis Budpar Kabupaten/Kota se-Sulteng, budayawan, seniman, serta akademisi yang disaksikan oleh Pejabat Kementrian BUDPAR RI digelar pada 16/2 malam. Dialog tersebut berlangsung hangat dan peserta sangat antusias menyambut  kehadiran program study Starta Satu (S1) di luar domisili ISI Denpasar di Palu Sulawesi Tengah.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Loading...