by admin | Mar 14, 2011 | Berita, pengumuman
Pengumuman dan persyaratan : Klik disini
Form beasiswa Supersemar : Klik disini
PENGUMUMAN
Nomor : 635/I5.12.1/KM/2011
TENTANG
PENERIMAAN BEASISWA SUPERSEMAR
TAHUN AKADEMIK 2011
Diumumkan kepada Mahasiswa ISI Denpasar, bahwa pada tahun akademik 2011 ISI Denpasar mendapatkan alokasi beasiswa Supersemar sebanyak 60 orang mahasiswa.
Bagi mahasiswa yang berminat memperoleh beasiswa Supesemar agar mengajukan lamaran permohonan baeasiswa ke masing-masing Fakultas, lamaran paling lambat telah diterima akhir bulan Maret 2011, dengan persyaratan terlampir.
Demikian untuk diperhatikan.
Denpasar, 10 Maret 2011
a.n. Rektor
Pembantu Rektor III
ttd
Drs. I Made Subrata, M.Si.
NIP. 195202111980031002
Tembusan :
1. Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar sebagai laporan
2. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan untuk diketahui
3. Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain untuk diketahui
by admin | Mar 14, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, dosen PS Seni Karawitan
Ketika matahari telah condong ke barat, adu ayam pun dimulai di sudut Desa Singapadu, Gianyar. Para babotoh berkerumun mengitari sisi-sisi kalangan 4X 4 meter itu. Dua ayam, bertaji segera akan ditarungkan oleh dua pakembar. Suasana riuh membumbung bersautan, cok, gasal, telude dan sebagainya–menyebut nama sistem taruhan dalam sabung ayam di Bali. Mong, mong, mong–kemong dipukul oleh saya (juri)–pertarungan ayam putih versus ayam merah pun dimulai. Suasana terasa tegang. Teriakan-teriakan bergemuruh menyertai perkelahian hidup mati dua ayam jantan itu. Ayam putih mengerang bersimbah darah terjerembab sekarat dan dinyatakan kalah. Ekspresi girang tampak pada wajah babotoh yang menang dan sebaliknya rona kuyu terbersit pada babotoh yang kalah.
Mamasuki pertarungan berikutnya suasana kembali gegap. Namun sesaat setelah dua ayam petarung dilepas, tiba-tiba terdengar suara sirine yang meraung-raung. Ada yang beteriak: polisi, polisi! Para babotoh itu bubar dan lari tunggang langgang. Banyak yang ambil langkah seribu menyuruk ke persawahan dan semak-semak. Senyap sejenak, seorang yang mengaku bendesa setempat, memanggil beberapa para babotoh yang bersembunyi ketakutan. Jero Bendesa menasehati orang-orang yang masih diliputi rasa was-was itu untuk tidak memanfaatkan ritual tabuh rah sebagai ajang judi. “Tabuh rah itu korban suci untuk menjaga harmoni alam dan kehidupan,” ujar bendesa berambut panjang memakai udeng putih tersebut.
Adalah sabungan ayam dalam ritual tabuh rah menjadi sumber inspirasi seorang seniman Bali, I Wayan Sutirtha, dalam sebuah karya seninya bertajuk “Tabuh Rah, Antara Ritual dan Judi”. Kendatipun ditampilkan secara sesungguhnya, sabungan ayam yang membaurkan penari terlatih, babotoh, polisi dan masyarakat umum itu adalah sebuah simulakra dari sebuah penciptaan karya seni pertunjukan. Beberapa turis asing yang menyaksikan “pertunjukan” sabungan ayam di jaba Pura Baban, Singapadu, itu pun secara tak sengaja ikut menjadi pemain. Sepasang turis asing tampak kebingungan ketika adu ayam itu bubar berantakan.
Pengejawantahan estetik dari tabuh rah yang disertai taruhan uang itu terajut di Bale Banjar Seseh, Singapadu, tak jauh dari arena sabungan ayam. Dibawakan oleh 40 orang penari pria bertelanjang dada memakai selembar kain dan udeng yang diikatkan sekenanya. Sebuah komposisi seni pentas yang memadukan elemen-elemen gerak dan musik mengalir dinamik sepanjang 15 menit. Eksplorasi gerak-gerak bebas improvisatoris tampak dicuatkan. Derak musikal dari hentakan tubuh para penari penimpali dengan ritmis. Pekik cok, gasal, dapang, apit, buik, bihing, serawah, sangkur dijalin bak simponi. Kumandang dendang lagu-lagu rakyat Bali yang bertema ayam aduan dan sabung ayam, menggarisbawahi keseluruhan karya seni pentas ini.
Kendati disaksikan begitu antusias oleh masyarakat setempat, sejatinya, garapan seni tari Wayan Sutirtha itu digarap dan disajikan sebagai karya tugas akhir untuk menyelesaikan jenjang akademik S2 Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Siang itu, sebuah tim penguji dari ISI Surakarta secara khusus didatangkan berbaur dengan masyarakat penonton bersama-bersama menyimak karya salah seorang dosen tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar tersebut. Atas garapannya yang memikat itu, sore itu juga, Sutirtha dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar magister seni (M.Sn).
Sabungan Ayam, Pentas Pertarungan Orang Bali selengkapnya
by admin | Mar 14, 2011 | Berita

DENPASAR— Dosen jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, I Made Kartawan SSn, MSi, tetap berangkat ke Jepang sebagai pembicara dalam kegiatan Simposium seni bertaraf internasional di Negeri Sakura, 14-15 Maret 2011.
“Kartawan setelah berkoordinasi dengan pihak panitia penyelenggara memperoleh informasi bahwa kegiatan seni bertaraf internasional itu tetap berlangsung di Jepang bagian selatan. Sementara bencana alam itu terjadi di Jepang utara,” kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S, Minggu (13/3/2011).
Ia mengatakan, Made Kartawan bertolak ke Jepang sesuai jadwal, yakni Sabtu (12/3/2011) malam, sehingga tidak terpengaruh oleh bencana alam yang melanda negeri tersebut.
Menurut General Manager PT (Persero) Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai Bali Purwanto, aktivitas penerbangan dari dan ke Jepang kini kembali normal.
Meskipun demikian, Jumat siang, penerbangan dari Bandara Internasional Ngurah Rai ke Jepang sempat ditunda. Namun, pukul 21.00 Wita, penerbangan sudah kembali dibuka.
Pada Jumat malam, Garuda Indonesia melayani penerbangan ke Jepang menggunakan tiga pesawat.
“Maskapai PT Garuda Indonesia itu melayani tujuan Osaka, Nagoya, dan Narita, pergi-pulang. Pada Sabtu, aktivitas penerbangan itu telah normal,” katanya.
Prof Rai menambahkan, I Made Kartawan mendapat kepercayaan tampil menjadi pembicara dalam simposium internasional bertajuk “Audiovisual Ethnography of Gongs in Southeast Asia” yang berlangsung di Museum Nasional Ethology, Osaka.
Kartawan dalam kegiatan internasional itu akan memaparkan gong bali, mulai dari proses produksi, peranan, dan fungsinya hingga penyebaran ke berbagai negara.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah seniman dari beberapa negara yang memiliki perangkat gamelan gong, antara lain Kamboja, Malaysia, Filipina, dan tuan rumah Jepang.
Made Kartawan selama berada di negeri Matahari Terbit juga akan mengikuti lokakarya tentang teknik penyelarasan gong, bertempat di Okinawa Prefectural University of Arts.
Dalam kegiatan itu, ia tampil sebagai pembicara dengan kertas kerja tentang teknis penyelarasan gong, baik lewat rekaman kaset pandang dengar (video) maupun mempraktikkannya secara langsung.
Gamelan Bali naik gengsi, bahkan gong kebyar menjadi kehormatan dalam menyambut tamu-tamu penting pada acara wisuda perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Masyarakat setempat sangat menikmati konser gamelan Bali yang disajikan seniman dan mahasiswa setempat yang piawai memainkan aneka jenis alat musik Bali.
Ke-17 jenis alat musik tradisional Bali yang berkembang di mancanegara antara lain gong kebyar, angklung, semarandanu, gambang suling, dan kebyar ding.
Suara suling, yang menjadi sumber inspirasi tabuh ciptaan tahun 1963, berkembang di berbagai kampus seni dan komoditas masyarakat di mancanegara.
Musik tradisional Bali kini telah mendunia. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan sejak komponis Perancis, Claude Debussy (1862-1918), menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Perancis.
Masyarakat Eropa, menurut Prof Rai, semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Perancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah kolonial Belanda.
Sumber: kompas.com
by admin | Mar 13, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Menurut beberapa sumber, nama Blanjong berasal dari kata blahjung. Blah atau belah berarti pecah, dan jung berarti perahu. Jung yang bocor, kemudian terdampar dan akhirnya pecah berantakan dekat Sawang. Kata sawang berarti palung laut yang dalam, dan sekarang menjadi Semawang. Pengertiang Blanjong adalah suatu tempat dimana perahu yang bocor kemudian pecah terdampar di dekat Semawang.
Rusaknya tulisan prasasti membuat para ahli hanya dapat mengira-ngira terjemahannya yaitu: Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Singadwala, bernama Sri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.
Prasasti Blanjong berbentuk pilar, tingginya 177 centi meter dengan garis tengah 62 cm, di atasnya (bagian kepala) ada mahkota yang berwujud bunga teratai, sama dengan yang ada di Malaya serta di Sriwijaya. Dalam prasasti itu terdapat kata satru dan bheri yang mana melukiskan keadaan perang serta kata-kata yang berarti mengalahkan musuh. Prasasti ini ditulis dalam dua bahasa, bagian pertama terdiri dari 6 baris, tiga baris berbahasa Sangsekerta dengan tulisan Pranegari dan tiga baris kemudian berbahasa Bali kuno dengan huruf Pranegari. Kemudian bagian kedua terdiri dari 13 baris dengan huruf Bali kuno dan bahasa sangsekerta terletak dibawahnya. Sedangkan angka tahunya ditulis dalam bentuk candrasangkala berbunyi Khecara – Wahni – Murti, rajanya disebut Sri Kesari Warmadewa, tahun Candrasangkala itu melukiskan tahun Icaka 835 atau 913 M. Kalau kita lihat secara seksama, prasasti tersebut sulit untuk diartikan kata demi kata karena sebagian besar tulisannya telah rusak. Walaupun demikian, kita masih dapat dilihat dengan jelas pada akhir tulisan, bahwa gelar Sri Kesari ditulis dengan lengkap yaitu …samasta samantadhipatih Cri Kesari warma…
Dalam kawasan prasati berjarak sekitar 7 meter terletak sebuah pura yang dinamakan dengan Pura Blanjong. Di dalam pura ini banyak ditemukan berbagai barang peninggalan seperti: 1) Arca Ganesa, Arca perwujudan, diperkirakan berasal dari abad XIII–XIV (Majapahit), dan arca teracota berwujud binatang dan sandaran arca, berdasarkan atributnya, kemungkinan besar berasal dari jaman Majapahit. 2) Lingga ditempatkan di sebuah pelinggih bersama-sama dengan stela arca dan fragmen arca. Terbuat dari batu padas dengan ukuran tinggi 36 Cm, panjang 40,5 Cm, dan lebar 38,5 Cm. 3) kereweng Cina dari beberapa dinasti yaitu zaman dinasti Sung (960-1280 M), dinasti Yuan (1280-1368 M), dan dinasti Ching (1644-1912 M), kereweng lokal yang persebarannya dipermukaan tanah dan populasinya cukup banyak, kereweng Annam yang berasal dari abad XIV-XVI, dan Kereweng Eropa yang berasal dari abad XVII-XIX.
Prasasti Blanjong dan Gamelan Gong Beri selengkapnya