M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Permohonan Artikel

Permohonan Artikel

UPT Puskom ISI Denpasar menerima berbagai naskah artikel seni budaya untuk di muat di web ISI Denpasar.  Adapun persyaratan naskah artikel terdapat dalam lampiran.

Demikianlah surat permohonan ini dimuat, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Persyaratan dapat diunduh di sini

Kajian Tekstual Gending Leluangan Kekebyaran

Kajian Tekstual Gending Leluangan Kekebyaran

Kajian Tekstual Gending Leluangan Kekebyaran Dalam Upacara Piodalan Di Pura Kayangan Tiga Desa Adat Tembawu.

Kiriman I Ketut Ardana, S.Sn., Dosen Jurusan Seni Karawitan ISI Yogyakarta.

Gending-gending leluangan merupakan sebuah motif lagu atau gending yang biasa dimainkan dengan menggunakan gamelan luang atau gong luang. Ciri khas dari lagu ini adalah menggunakan 1 buah kendang yaitu kendang cedugan, sebuah kendang yang menggunakan panggul (Jawa : tabuh)  kendang sebagai alat pukul. Mayoritas pola garap gending-gending leluangan sangat sederhana baik secara olahan melodi maupun tafsir garap ornamentasinya. Reportoar-reportoar gong luang termasuk gending-gending klasik yang notabenanya digunakan untuk kepentingan upacara ritual keagamaan.

Kekebyaran berasal dari kata kebyar yang mengandung banyak pengertian. Kebyar  atau byar dapat berarti sinar yang muncul secara tiba-tiba, cepat, keras, dan lain sejenisnya. Kebyar dapat pula berarti bunyi yang timbul akibat dari pukulan instrumen gamelan secara keseluruhan, sedangkan Colin McPhee menyebutnya sebagai suara yang memecah secara tiba-tiba bagaikan pecah atau mekarnya sekuntum bunga. Oleh karena itu sudah sepantasnya gamelan yang mengandung karakter kebyar ini disebut gamelan kebyar, gong kebyar, atau gamelan gong kebyar.  Dengan demikian kekebyaran memiliki arti sebuah lagu yang menggunakan gong kebyar sebagai media ungkap. Sajian  gending yang menggunakan gong kebyar memiliki karakterisasi keras, lincah agresif, dan sejenisnya. Popularitas dan fleksibilitas gamelan gong kebyar menyebabkan refortoar dari barungan gamelan gong luang juga bisa disajikan melalui gong kebyar. Tentu saja karakter gending yang disajikan akan berbeda dengan gending yang disajikan melalui gong luang. Gending-gending leluangan yang menggunakan gong kebyar sebagai media ungkap memiliki nuansa gembira. Namun demikian, nuansa-nuansa ritual yang terkandung dalam gending-gending leluangan tidak hilang.

Ada suatu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Tembawu yaitu melaksanakan upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga. Upacara tersebut jatuh setiap 6 bulan sekali dalam hitungan Wuku Bali. Ditengah-tengah melakukan upacara piodalan, masyarakat Desa Adat Tembawu menggunakan media gamelan sebagai iringan upacara. Transformasi gending leluangan ke dalam gong kebyar menjadi ciri khas gending. Upacara piodalan yang dilakukan setiap 6 bulan sekali merupakan persembahan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ide Sang Hyang Widi Wasa) dalam bentuk upacara dewa yadnya.

Setiap prosesi upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Tembawu selalu diiringi gamelan baik itu gamelan balaganjur maupun gamelan gong kebyar. Pada gamelan gong kebyar, gending-gending terbagi dalam berapa jenis gending antara lain : gending-gending lelambatan klasik pegongan Bali  untuk mengiringi rentetan upacara ritual  ngatur piodalan dan persembahyangan, sedangankan gending leluangan kekebyaran untuk mengiringi  prosesi ritual pangilan-ngilen. Dari uraian di atas bagaimanakah pola tekstual gending leluangan kekebyaran ?

Desa Adat Tembawu adalah salah satu organisasi masyarakat desa yang yang menangani secara admistratif tentang pelaksanaan upacara keagamaan di wilayah Tembawu. Tanggung jawab keagamaan yang paling besar adalah melaksanakan upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga dan melaksanakan upacara prosesi melasti dalam rangka hari raya Nyepi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali.

Pura Kahyangan Tiga merupakan tempat suci untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa bagi umat Hindu. Yang termasuk pura Kahyangan Tiga di Desa Adat Tembawu antara lain: Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, dan Pura Kahyangan.  Pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan masyarakat Desa Adat Tembawu melaksanakan upacara piodalan di Pura Desa. Pada Selasa Kliwon wuku Medangsia dilaksanakan upacara piodalan di Pura Kahyangan.  Pada Rabu Umanis wuku  Medangsia masyarakat melaksanakan upacara piodalan di Pura Puseh.  Pada Tilem (Bulan mati) pertama setelah hari raya galungan maka masyarakat melaksanakan upacara piodalan di Pura Dalem.

Upacara piodalan bisanya berlangsung selama 2 hari. Hari pertama berlangsung upacara piodalan (hari H). Pada hari kedua berlangsung upacara penyimpenan.  Pada hari pertama yang merupakan upacara pokok terdiri dari 3 tahapan yaitu tahap melasti, tahap ngaturang piodalan dan tahap pangilen-ngilen. Upacara ini berbentuk pangilen-ngilen. Upacara pangilen-ngilen terdiri dari beberapa jenis ritual, yaitu: nyanjan, memendak, meatur-atur, pangider bhuwana, mererauhan,wayang-wayang,  meyab-yaban, nanda,  biasa, ngurek, mendak keluwur, kincang-kincung. Setiap prosesi ritual pangilen-ngilen selalu diiringi gending-gending leluangan kekebyaran. Di bawah ini akan diuraikan jenis upacara dan reportoar pengiringnya.

Kajian Tekstual Gending Leluangan Kekebyaran Selengkapnya

Workshop Festival Film Dokumenter 2011

Workshop Festival Film Dokumenter 2011

Dalam rangkaian pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIII Tahun 2011, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengadakan Workshop Film Dokumenter yang dilaksanakan di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar, Jumat 18 Maret 2011.

Workshop yang dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari Pemerintah Kabupaten se-Bali, Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan dan Komunikasi Provinsi Bali, Fak. Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra, SMKN I Denpasar  SMKN 1 Sukawati dan Institut Seni Indonesia Denpasar yang diwakili oleh UPT. PUSKOM di buka langsung oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Dalam acara tersebut juga dilakukan pemutaran Film Dokumenter ‘Ring Of Fire seri 4” karya Lawrence Blair yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab tentang penggarapan Filmnya tersebut. Lawrence Blair adalah Antropolog yang menggeluti Film Dokumenter sejak 1970-an. Lawrence Blair adalah salah satu orang yang banyak berjasa memperkenalkan Bali dan Indonesia ke seluruh Dunia dengan film-film dokumenternya mengenai Indonesia. Lawrence Blair bersama adiknya melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk membuat sebuah film dokumenter yang nantinya selain menjadi tontonan publik juga mempunyai nilai sejarah.

Selain Lawrence Blair hadir juga dalam workshop tersebut Bapak Hadiartomo yang menjabarkan beberapa panduan membuat film dokumenter. Dari penjabarannya tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa film dokumenter antara yang satu dengan lainnya itu terdapat perbedaan gaya penuturannya sehingga kita bisa menyimak dan mempelajari perbedaan gayanya tersebut. Selain itu, memilih topik dan objek penelitian, struktur film serta menganalisis kebutuhan membuat film. Yang tidak kalah penting dalam pembuatan film dokumenter ini adalah sumber pembiayaan disamping juga pasti dalam pengambilan gambar atau yang di sebut shooting yang sebaiknya untuk diikuti agar ketika shooting tidak mengalami kesalahpahaman, blocking, camera angle, tata cahaya, rehearsal, shoot.

Selain memberikan penjabaran, Pak Hadi langsung mengajak peserta workshop terjun ke lapangan untuk mempraktekkan cara pengambilan gambar sesuai dengan penjabaran materi yang diberikkan. Diharapkan dengan diberikannya praktek langsung kepada para peserta workshop, mereka dapat memahami materi yang telah diberikan. Karena hanya dengan langsung melakukan praktek kita dapat mengetahui kendala-kendala yang terjadi selama pembuatan film.

Dengan diadakannya workshop film dokumenter ini diharapkan para pembuat film dapat menghasilkan karya lebih baik lagi.

Loading...