M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali

Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali

Kiriman Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn., Dosen PS. Desain Interior ISI Denpasar.

Pada mulanya penghayatan orang Bali terhadap ruang, sama dengan masyarakat dunia yang lain di zaman dulu, yaitu terbatas pada ruang di bumi yang dipijaknya dan langit jagat raya yang ada di atasnya. Dalam bentuknya yang tradisional, konsep ruang tradisional di Bali kemudian  berkembang dari Orientasi ruang: langit – bumi pada masa Bali Mula; gunung – laut pada masa Bali Aga; terbit – terbenamnya matahari pada masa Bali Arya/Majapahit (Gelebet, 1993: 5).

1. Falsafah Ruang

Falsafah ruang di Bali berkembang dari ajaran Tat Twam Asi dalam Hindu (Gelebet, 1993: 5). Tat Twam Asi berarti “itu adalah aku”. Inti ajaran Tat Twam Asi adalah menjaga keharmonisan dalam kehidupan, terhadap segala bentuk ciptaan Tuhan, termasuk dunia ini. Dalam keyakinan Hindu, dunia (alam semesta) ini diciptakan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Brahma (Parisadha Hindu Dharma, 1968: 21), sehingga dunia ini disebut sebagai “Telur Brahma” (Brahma-Anda = Brahmanda). Dalam hal ini kita menemukan konsep ruang arsitektur dalam arti yang sejati, yakni konsep ruang yang diilhami oleh kedalaman jiwa manusia yang peka dimensi kosmologi, yang tumbuh dari penghayatan keagamaan (Mangunwijaya, 1988: 55).

Dalam kaitannya dengan ruang, ajaran Tat Twam Asi mengandung makna konsep ruang dalam keseimbangan kosmos (balance cosmologi). Dalam hal ini ruang makro (Bhuwana Agung) senantiasa harus seimbang dengan ruang mikro (Bhuwana Alit). Di dalam makrokosmos,  terdapat tiga struktur ruang secara vertikal yang dianalogikan sebagai tiga dunia (Tribhuwana). Struktur ruang Tri Bhuwana atau Tri Loka ini terdiri dari: Bumi dan alam lingkungannya sebagai “alam paling bawah”, disebut Bhur loka; “Alam tengah” adalah alam roh-roh suci, disebut Bhuwah loka; dan “Alam atas” adalah alam para Dewa, disebut Swah loka (Parisada Hindu Dharma, 1968: 22). Struktur Tri Bhuwana dalam kosmos juga dapat  dianalogikan dengan “litosfir” untuk “alam bawah”, “hydrosfir” untuk “alam tengah” dan “atmosfir” untuk “alam atas”.

Falsafah Tri Bhuwana kemudian dijabarkan ke dalam konsep Tri Hitakarana, yang pendekatannya dilakukan ke dalam perencanaan ruang secara makro (macro planing) dan perencanaan ruang mikro (micro design) menjadi tiga kelompok ruang (Tri Mandala): ruang sakral – ruang untuk aktivitas manusia – ruang yang bersifat pelayanan/servis. Pengelompokan ruang ini berlaku dari lingkungan terbesar sampai elemen ruang terkecil. Sedangkan secara filosofis, Tri Hitakarana sendiri mengandung pengertian sebagai  tiga kutub yang menjadikan suatu kehidupan di bumi (Bagus (ed.), 1986: 24), terdiri dari jiwa (atma), fisik (angga) dan tenaga (kaya).

Falsafah dan Konsep Ruang Tradisional Bali selengkapnya

Konjen Jepang Kunjungi ISI Denpasar

Konjen Jepang Kunjungi ISI Denpasar

Konsul Jendral Jepang, M. Shirota, kunjungi ISI Denpasar Senin (18/4). Pria yang pasih berbahasa Indonesia ini,diterima langsung oleh Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., beserta jajarannya. Pada kesempatan tersebut, Shirota mengungkapkan rasa bangga dan terima kasihnya atas peran aktif ISI Denpasar dalam acara Love and Friendship for Japan, rangkaian acara Pray for Japan, yang diselenggarakan di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Lapangan Renon Denpasar beberapa waktu yang lalu.

“Terima kasih kepada ISI Denpasar dan seluruh masyarakat Bali yang telah memberi dukungan kepada negara kami.Walaupun jumlah kunjungan warga Jepang untuk sementara berkurang karena bencana alam yang terjadi, namun ikatan batin antara Indonesia dan Jepang tetap kuat. Bagi warga Jepang, Indonesia, Bali khusunya tidak hanya merupakan tourist destination tapi ketika kami ke Bali, kami merasa return home. Bahkan kami merasa memiliki DNA yang sama dengan masyarakat Bali,” tutur Shirota.

Rektor ISI Denpasar memaparkan jalinan kerjasama yang telah terjalin antara ISI Denpasar dengan beberapa Universitas di Jepang seperti Kanda University dan Tokyo University of Arts. Bahkan pada tahun 2009, ISI Denpasar berkunjung ke Jepang dan menciptakan  kolaborasi dengn Noh Jepang di Tokyo University of art. “Kami sangat berharap dengan kolaborasi tersebut,kita dapat melahirkan karya yang universal, dan hubungan baik antara ISI Denpasar dan jepang tetap dapat terjalin dengan baik,”harap Prof. Rai..

Shirota juga sangat antusias dengan kebudayaan Bali,dan ingin belajar menari. Jumlah mahasiswa Jepang yang belajar di ISI Denpasar melalui program Dharma Siswa, juga membuatnya berdecak kagum. Selain jumlahnya yang selalu terbesar dari pada negara lain, mahasiswa Jepang yang belajar di ISI Denpasar juga sangat piawai menari, dan aktif dalam kegiatan “ngayah”. Hal ini, tentu bukan hanya karena mereka tekun berlatih tari Bali, namun karna mereka juga mendalami budaya Bali, termasuk turut dalam persembahyangan sebelum menari.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Loading...