by admin | May 10, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Putu Juliartha, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar.
Ngelaras atau matutang trompong pada hakekatnya adalah suatu proses yang memerlukan keahlian dan keterampilan khusus, karena dalam proses ini mengandalkan kepekaan pendengaran yang disebut dengan meguru kuping yang disertai dengan kemampuan tafsir atau feeling, untuk menafsirkan dalam penyelarasan suara atau nada yaitu antara nada trompong yang dilaras dengan mengikuti petuding atau bentuk lain yang dipergunakan sebagai acuan, guna memperoleh suara trompong yang harmonis dan indah sesuai dengan laras yang dipakai.
Pada dasarnya pelarasan trompong secara tidak langsung sudah dilakukan pada proses sebelumnya yang dilakukan di luar prapen, yaitu mulai dari narikin dan tahapan-tahapan lain dalam proses pemangguran. Setiap trompong yang sudah selesai dikerjakan dalam prapen jika sudah didinginkan atau disepuh nada yang dihasilkan selisihnya tidak terlalu jauh dari nada yang seharusnya dipakai, maksudnya dalam setiap trompong selisih nadanya dengan petuding atau standar nada kurang lebih antara satu nada atau Akaka. Untuk menepatkan posisi nada tersebut dengan petuding sepenuhnya dilakukan dalam proses pemangguran. Namun terkadang tidak selalu dalam pembersihan muka trompong nada trompong tersebut sudah pas dengan petuding, terkadang nada trompong kurang tinggi atau kurang rendah akibat pengolahan dalam proses sebelumnya. Meski pada akhir proses didalam prapen sudah didapat nada trompong seperti telah tersebut di atas. Proses-proses seperti pemangguran yang terlalu berlebihan pada bagian muka trompong mengakibatkan suara trompong semakin merendah. Pengikiran di bagian menur moncol pada saat penghalusan moncol mengakibatkan suara trompong semakin tinggi. Maka dari itu pelarasan yang lebih teliti dan seksama sangat perlu dilakukan.
Mengatur atau meninggikan nada trompong dilakukan dengan 3 cara dibawah ini:
Pemukulan pada bagian tangkar trompong dilakukan dari bagian basang trompong yang diletakkan rapat di atas landesan paron dengan memutar trompong saat dipukul, dalam beberapa pukulan dites nada trompong tersebut sambil mencocokkan dengan petuding.
Dipanggur atau dikikir pada bagian moncol, tetapi cara ini sangat jarang dilakukan dalam pelarasan trompong yang baru dibuat. Cara ini dilakukan jika keadaan trompong tidak memungkinkan lagi untuk dipukul karena muka trompong yang sangat tipis dan umur trompong yang sudah tua sangat rentan pecah jika dipukul. Maka dari itu ngelaras trompong dengan cara ini merupakan cara yang dilakukan karena terpaksa/tidak ada jalan lain lagi.
Dipanggur atau dikikir pada bagian lambe, ngelaras trompong dengan cara ini dilakukan untuk membantu kedua cara di atas. Cara ini dilakukan jika lambe trompong masih dalam keadaan tebal, meninggikan suara trompong dengan cara ini sangatlah lama sehingga cara ini paling jarang dilakukan.
Mengatur atau merendahkan nada trompong dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu:
Pemangguran pada bagian tangkar trompong: arah pemangguran dimulai dari garis usuk mengarah ke dalam sampai ke gelang moncol. Cara pemangguran ini dilakukan untuk menghasilkan sedikit cekungan pada bagian tangkar, dan gelang moncol masih tetap tebal sehingga kualitas suara trompong masih tetap bagus.
Pemukulan pada bagian tangkar trompong dilakukan dari sisi luar atau dari bagian muka, diletakkan dengan dirapatkan di atas landesan paron yang terbuat dari kayu atau besi, dengan memutar trompong sambil mencocokkannya dengan nada petuding. Pada kuncinya keadaan tangkar trompong yang agak cekung ke bawah menimbulkan suara trompong akan merendah atau menurun. Cara ini paling tepat dilakukan jika tangkar sudah agak tipis dan tidak memungkinkan untuk dipanggur lagi.
Matutang Trompong Gong Kebyar, Selengkapnya
by admin | May 9, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Pengelompokan terhadap bidang seni ini dapat dicirikan atas tiga bentuk yaitu:
1) Seni Karawitan (seni musik trasional) yang berarti musik tradisional baik vokal maupun instrumental yang berlaras pelog dan selendro. Yang dimaksud musik vokal adalah musik yang mempergunakan suara manusia sebagai sumber bunyinya sedangkan musik instrumental adalah musik yang mempergunakan alat/instrumen sebagai sumber bunyinya. Dari hasil pengamatan yang dilakukann prihal keberadaan jenis perangkat gamelan Bali yang terdapat di Kota Mataram diantaranya: Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Gong Gede, Gamelan Angklung, Gamelan Gender Wayang, Gamelan Smar Pagulingan, Gamelan Joged, Rindik serta pesantian dan cekepung untuk di bidang vokal.
2) Seni Tari, adalah ungkapan rasa keindahan yang diungkapkan lewat gerak-gerak tangan, kaki dan anggota badan yang lainnya. Jenis-jenis tarian Bali yang ada di Mataram diantaranya: Tari Klasik, Tari Kreasi Baru,
3) Seni Teater Tradisional merupakan ungkapan rasa indah yang disampai-kan dalam bentuk drama teaterikal yang disampaikan melalui dialog antara tokoh-tokoh yang berperan didalamnya. Penampilan cerita-cerita tradisional yang dalam pementasannya didukung dengan gerak tari dan tembang. Yang tergolong seni teater tradisional diantaranya Wayang, Topeng, Drama Gong, Arja dan Prembon.
Potensi Seni Pertunjukan Bali
Keberadaan berbagai jenis seni pertunjukan Bali di Kota Mataram, menunjuk-kan bahwa potensi yang dimiliki sangat tinggi dan tidak kalah dengan apa yang ada di Bali. Swarsi (dalam Yudha Triguna, 2008:34) menyebutkan, kajian budaya mengungkapkan sumber-sumber keunggulan budaya terdapat dalam berbagai sentra dan aktivitas, diantaranya:
1) Kehidupan publik (folk life) memberikan folk culture seperti: sistem banjar, sistem desa pekraman dan sistem subak yang berifat otonomi.
2) Kehidupan puri (court life) melahirkan court culture yang kaya dengan tradisi sastra, tardisi seni tari dan musik, dan tardisi ritual.
3) Sentra-sentra budaya seperti museum, sanggar, yayasan budaya, yang melahirkan kreatifitas, buah karya seni, pameran dan pendidikan,
4) Pemberdayaan dan berbagai eksperimen ke arah kreasi, inovasi, invensi, dan akulturasi dan
5) Dialog budaya, melalui festival, kolaborasi, misi seni membuka peluang untuk saling menukar wawasan, gagasan, karya dan eksperimen budaya.
Kelima keunggulan tentunya dilengkapi oleh kandungan nilai-nilai terdapat di dalamnya. Adapun nilai-nilai tersebut diantaranya:
1) Nilai Budaya, yaitu nilai-nilai budaya kemasyarakatan yang di landasi oleh ajaran agama Hindu.
2) Nilai Religius, nilai-nilai spiritual dalam upaya pendekatan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa
3) Nilai Estetis yaitu nilai keindahan dengan berbagai sifat-sifat satyam (kebenaran), siwam (kesucian) dan sundaram (keindahan).
Terdapatnya berbagai keunggulan sebagaimana telah diuraikan di atas, hal ini sangat memungkinkan untuk menjadikan seni pertunjukan Bali sebagai sarana pendukung dalam membangun dunia kepariwisataan di Kota Mataram. Sebagaimana halnya di Bali, seni pertunjukan merupakan salah satu modal budaya dalam industri pariwisata. Pemanfaatannya dalam usaha ini lebih banyak untuk menarik perhatian para wisatawan yang pada umumnya tertarik dengan seni budaya tradisional.
Guna mewujudkan keunggulan tersebut dalam pengembangan kepariwisa-taan di Lombok, diperlukan managemen yang efektif dari berbagai pihak yang berkompe-ten selaku leading sector dalam wacana ini. Pada jalur birokrasi, Dinas Pariwisata dan Budaya selaku leading sector selayaknya memiliki komitmen dan tanggungjawab serta mampu mengoptimalkan berbagai potensi yang ada dalam pembangunan dan pengembangan kepariwisataan di Lombok.
Membangun dunia kepariwisataan harus ditunjang oleh berbagai aspek baik berupa sarana dan prasarana yang semuanya saling berkaitan satu sama lainnya. Demikian pula halnya dengan sumber-sumber daya yang dimiliki seyogyanya dapat dioptimalkan guna mendukung program peningkatan kepariwisataan. Kesenian khususnya seni pertunjukan sebagai sub unsur kebudayaan, merupakan salah satu aset yang telah dimanfaatkan sebagai modal budaya dalam pembangunan bangsa Indonesia. Hal ini telah termaktub dalam TAP No. II/MPR/1988 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), dimana modal budaya telah ditetapkan sebagai salah satu modal dasar bagi peningkatan pembangunan bangsa. Adapun pembangunan yang dimaksud adalah ke “dalam” membangun dan meningkatkan derajat segenap warga bangsa Indonesia, dan ke “luar” membangun citra dan pergaulan antar bangsa atas dasar kedaulatan dan kesederajatan (Yudha Triguna, 2008:7).
Bentuk Seni pertunjukan Bali di Kota Mataram selengkapnya
by admin | May 9, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Drs I Wayan Mudana, M.Par. Dosen PS. Seni Rupa Murni FSRD. ISI Denpasar
Posendo Art
Muncul dari seni pertunjukan tentang adanya keinginan wisatawan untuk mengetahui suatu bentuk garapan tari yang dipentaskan ditengah-tengah masyarakat. Karena wisatawan memiliki waktu yang sangat terbatas, pertunjukan tarian juga harus diketahui esensinya secara utuh, oleh para seniman diciptakanlah tarian kemasan wisata dengan cara mengambil poin-poin penting dari bentuk tarian tersebut tanpa menghilangkan esensi sebenarnya.
Demikian juga dalam wujud karya-karya seni rupa, dalam memberikan informasi atau seniman ingin berkomunikasi tentang sesuatu hal hanya dengan mengangkat hal-hal penting yang dianggap mewakili secara keseluruhan dari phenomena tersebut.Lihat gambar nomor 51)
Ekletek Art
Karena adanya pemahaman dari latar belakang budaya yang berbeda, oleh para seniman/pengrajin dicermati sebagai peluang untuk menciptakan bentuk-bentuk karya seni baru sebagai seni kemasan wisata dengan cara mensinkritisme karya-karya seni dari masing-masing daerah atau Negara dipadukan menjadi satu kesatuan yang memiliki nilai seni harmonis tanpa menghilangkan identitas aslinya namun memiliki kekhasan pribadi yang tinggi sehingga dapat mewakili cirri khas seseorang. Contoh Karya seni patung India dengan sikap tri bangganya dan atribiut, ekpresi dipadukan dengan karya seni patung Bali dengan ornament dan sikap-sikap patungnya.(lihat photo halaman 50)
Airport Art
Karena keterbatasan waktu wisatawan dalam memenuhi kebutuhan akan barang-barang cendra mata, para pebisnis seni membuat satu tempat biasanya berdampingan dengan bandara(airport) untuk memajang berbagai bentuk barang cendramana sebagai bentuk barang souvenir denganmaksud memudahkan wisatawan bertransaksi dalam waktu yang singkat.
Pressible Art
Wisatawan pada umumnya menyukai suatu hal yang bernuansa unik, jarang dijumpai pada suatu daerah. Istilah pressible art pada awalnya muncul pada seni masak memasak dengan memampaatkan bahan-bahan masakan yang masih segar dan murni tanpa dimasak, direbus, digoreng, dipanggang, atau ditanak. Tetapi diolah sedemian rupa secara murni(fresh), disajikan dengan olahan bumbu sampai siap hidangan dan siap dimakan dengan kualitas tinggi.
Dalam bentuk karya seni, karya ini muncul sebagai seni instalasi, rice teras, mengclose up gunung menjadikarya seni, art and pece, dan performing art lainnya.
Salah satucontoh bentuk seni ini yang menonjol adalah tidak pernah diulang, dan ciptan tuhan.
Pop Art
Karya seni pop muncul karena adanya tuntutan industry, yang dikemas dengan memasukkan unsur-unsur local dan luar yang dikombinasikan sesuai dengan selera pasar. Kemasan seni pop banyak dislimuti oleh kreatif yang semu, lebih tepatnya merupakan pemalakan seni local yang diadopsi menjadi identitas pribadi. Pada dasarnya seni pop yang lebih mengutamakan komersialisasi, komodifikasi, provanisasi,dan industrialisasi (power,order dan interest) dibangun sebagaimana layaknya seniman/pengrajin berkreatifitas sedapat mungkin menghindari dari hal-hal tersebut.
Kekuatan akan uang akan dapat mengalahkan siapa saja sehingga akan berlaku hegemoni dalam berkesenian. Para pengusaha akan menekan order sebagai kontrak kerja sekecil-kecilnya dengan harapan dengan prilaku sesuka hati (interst) karena seniman dalam posisi tidak berdaya.
Wujud dari bentuk karya seni pop adalah cerminan dari modifikasi dari bentuk-bentuk seni etnik yang memiliki daya tarik tinggi dibuat tiruannya(provanisasi) agar dapat dijual dengan harga yang menjangkau sebagai bentuk industry.
3.3. Pangsa Pasar
Kemampuan melihat tantangan untuk dimaksimalkan menjadi peluang, dengan pertimbangan yang matang, itulah yang disebut pangsa pasar. Seorang pebisnis harus mampu menghitung tingkat kerugian maksimal dari situasi apapun, untuk mengantisipasinya disiapkan langkah-langkah analisis untuk mengoptimalkan kekuatan berupa potensi-potensi yang dimiliki dan menutupi kelemahan(analisis SWOT, rakuti,2002).
Produk Seni Kemasan Pariwisata selengkapnya
by admin | May 9, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Saptono, SSen., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar.
Teknik Pencarian Nada
Teknik pencarian dalam menentukan nada selain dari kepekaan dari panca indra pendengaran telinga sepenglaras, juga akan dibantu dengan alat yang namanya malam (untuk batuk) atau tanah liat. Baik menurut Suraya maupun Sutarno bahwa malam atau tanah liat, ini satu-satunya alat yang tidak bisa ngapusi untuk menentukan tinggi rendahnya nada. Nada-nada pada ricikan gamelan baik nada pada ricikan yang berbentuk bilah (gender, balungan, dan gambang) maupun nada pada ricikan yang berbentuk pencon (gong, kempul, kenong, kethuk, kempyang, dan bonang). Dan sudah pasti setiap bilah atau pencon yang sudah memiliki nada tertentu jika diberi atau ditempel malam, nada tersebut akan menjadi lebih tinggi. Penglaras ketika mencari (bereksplorasi) nada ideal adalah dengan menempelkan malam pada bilah-bilah gender, saron, maupun, pencon, tergantung instrument/ricikan apa yang sedang dicari nadanya.
Teknik Membuat Nada
Di dalam pelarasan gamelan teknik membuat nada yang dimaksud adalah meninggikan dari nada yang sudah ada maupun menurunkan dari nada yang sudah ada. Di dalam bahasa pembuat atau penglaras gamelan Jawa istilah meninggikan nada lebih lumrah dengan menggunakan istilah dijuluk (dari asal kata “juluk” yang artinya naik) dan kebalikannya untuk istilah menurunkan nada dengan menggunakan istilah diendak (dari asal kata “mendak” yang artinya turun). Perlu diketahui bahwa ricikan/instrument gamelan Jawa bentuknya terdiri dari bilah dan pencon, maka teknik meninggikan dan teknik merendahkan nada caranya berbeda-beda tergantung dari ricikannya.
1.Melaras Ricikan Bilah
Untuk kelompok ricikan/instrument gamelan Jawa yang berbentuk bila seperti berikut.
- Gender barung
- Gender penerus
- Slenthem
- Demung
- Saron
- Peking
- Gambang
Hanya saja untuk ricikan gambang bahan bilah-bilahnya terbuat dari kayu, maka peralatan dan cara yang digunakan untuk meninggikan atau merendahkan nada-nadanya pun berbeda dengan bilah-bilah yang terbuat dari perunggu.
Peralatan yang digunakan untuk membuat nada-nada pada bilah yaitu gerenda listrik, wadung, dan air. Gerenda listrik digunakan untuk meninggikan ataupun merendahkan bilah-bilah nada dari bahan perunggu, sedangkan wadung digunakan untuk mengerjakan pada bilah-bilah gambang. Sementara air berfungsi membasahi setiap permukaan bilah yang sedang digerenda.
Teknik yang digunakan untuk membuat nada pada bilah-bilah perunggu yaitu menipiskan bilah dengan cara digerenda pada bagian dalam bilah (lambung) pada posisi wilayah samping kanan atau kiri untuk meninggikan, dan posisi wilayah tengah untuk merendahkan nada.
Adapun teknik meninggikan nada (membuat nada menjadi lebih tinggi) bilah agar bilah-bilah tersebut tetap kondisi baik/seimbang tebal tipisnya, maka cara penggerendaannya diambil pada wilayah 1 dan 3 (samping kanan/kiri dari posisi lubang bilah. Agar bilah-bilah instrumen memiliki bentuk yang seimbang tebal tipisnya, maka cara penggerendaannya dipertimbangkan dengan kondisi bilah tersebut. Sebaliknya teknik untuk merendahkan nada (membuat nada agar menjadi lebih rendah) instrumen bilah yaitu dengan cara menipiskan pada posisi tengah diantara lubang bilah (bagian lambung).
Menurut Suraya untuk menjaga kondisi dan kwalitas bilah instrumen tetap baik, maka ketika menggerenda bilah-bilah instrumen gamelan harus dibasahi air. Adapun cara mengairi bilah yang sedang digerenda bisa dibawah pancoran air/kran atau disiapkan ember yang berisi air dan gelas plastik/botol plastik yang dipotang dan diberi lobang agar airnya bisa mengalir.
Melaras Gamelan Jawa, Bagian II, selengkapnya