M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

3 Juni PNS Cuti Bersama Lagi

3 Juni PNS Cuti Bersama Lagi

JAKARTA — Pemerintah kembali menetapkan cuti bersama pada tanggal 3 Juni mendatang. Surat keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yakni dalam SKB Nomor 03/2011, Kep.135/MEN/V/2011 dan SKB/02/M.PAN-RB/05/2011.

Pemerintah pun menetapkan 3 Juni yang jatuh pada hari Jumat sebagai hari libur, karena tanggal 2 Juni (hari Kamis) libur memperingati kenaikan Isa Almasih dan 4 Juni (Sabtu) memang hari libur kerja.
‘’Ini untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan hari kerja di antara dua hari libur. Karena sebagian PNS tidak sepenuhnya memanfaatkan hak cuti tahunan, padahal cuti adalah momen untuk revitalisasi, rekreasi dan penyegaran bagi pegawai dan keluarganya,’’ kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono pada wartawan di Jakarta, Senin (23/5).
Dengan cuti bersama ini kata Agung, memberikan kesempatan pula bagi para orangtua untuk menyiapkan keperluan sekolah atau kuliah putra putri mereka memasuki tahun ajaran baru. ‘’Libur ini juga lebih baik karena diharapkan dapat meningkatkan kegiatan pariwisata dalam negeri,’’ kata Agung.
Namun untuk pelayanan umum yang bersifat strategis, seperti rumah sakit, perusahaan pelayanan telekomunikasi, listrik, air minum dan pemadam kebakaran, tetap akan berjalan seperti biasanya. Agung meminta PNS yang bekerja pada bidang-bidang tersebut untuk berkoordinasi dengan pimpinan mereka. ‘’Perlu kami tegaskan kembali, bahwa pelaksanaan cuti bersama ini merupakan bagian dari hak cuti tahunan pegawai,’’ tegas Agung.

Sumber: jpnn.com

“Going International”, ISI Denpasar dilirik UNISA

“Going International”, ISI Denpasar dilirik UNISA

Kiprah Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dilakukan ISI Denpasar diantaranya ujian TA, persiapan Pesta Kesenian Bali, dan kegiatan pengabdian masyarakat, kampus seni satu-satunya di Bali ini mendapat kunjungan dari University of South Africa, yang terdiri dari Prof Fred J Van Staden dan Mr. Hellnut Willheim, kedatangan ini merupakan awal terbukanya hubungan ke arah yang lebih serius.

Kedatangan salah satu universitas dari Afrika Selatan ini dilatarbelakangi oleh adanya kegiatan Dharmasiswa yang merupakan program pemerintah Indonesia untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa/i dari luar negeri untuk belajar di salah satu universitas di Indonesia dalam waktu setahun. Adapun salah satu peserta Dharmasiswa yang memilih ISI Denpasar sebagai tempat belajarnya adalah mahasiswa dari Afrika Selatan yang bernama David Maphonyane, pengalaman yang dirasakannya diceritakan kepada professor dan seorang dosennya di kampus UNISA, ternyata hal ini memberikan pengaruh yang luar biasa hingga memunculkan keinginan dari mereka untuk melihat secara langsung Institut Seni Indonesia Denpasar.

Dalam pertemuan ini, penjelasan mengenai kampus UNISA (University of South Africa) dibeberkan dalam presentasi singkat oleh Prof. Fred, dalam presentasi tersebut beliau menjelaskan mengenai sekilas profile universitasnya sebagai perkenalan. Pertemuan dengan Prof Rai merupakan hal yang membuat mereka bahagia hal ini seperti yang diungkapkan bahwa kedatangan mereka ke Pulau Bali dan ISI khususnya merupakan awal untuk menjalin kerjasama yang lebih baik baik dalam bidang seminar, workshop, pameran, hingga pertukaran pelajar. Tentu saja hal ini disambut baik oleh bapak Rektor ISI Denpasar yang dalam kesempatan ini mengungkapkan bahwa tentu saja kami membuka kesempatan untuk menjalin kerjasama dengan universitas manapun dalam bidang kebudayaan dan kesenian sehingga harapan besar ISI Denpasar untuk menambah jaringan/networking dengan universitas di dunia pun bisa meningkat.

Kesempatan ini juga digunakan juga untuk mengunjungi fasilitas atau gedung-gedung kampus ISI Denpasar, yaitu Gedung Latta Mahosadhi yang menyimpan berbagai koleksi dalam bidang kesenian Bali, studio keramik dan patung yang letaknya bersebelahan dengan gedung Lata Mahosadi, hingga akhirnya mengunjungi gedung Kriya Hasta Mandala yang menyimpan berbagai koleksi lukisan dan karya keramik maupun patung dari mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar. Kekaguman terlihat menghiasi wajah kedua orang tamu ini setelah mengunjungi beberapa fasilitas yang tersedia di kampus, kemudian karena keterbatasan waktu akhirnya beliau harus meninggalkan ISI Denpasar dengan membawa harapan untuk kembali lagi.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Tugas Akhir Mahasiswa ISI Sarat Kolaborasi

Tugas Akhir Mahasiswa ISI Sarat Kolaborasi

Denpasar- Penampilan karya seni yang adalah ujian tugas akhir mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, sarat dengan nilai kolaborasi, namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisi.

Seniman muda itu mempunyai keberanian dan kemampuan memadukan dua unsur atau lebih ke dalam satu garapan karya seni, sehingga penyuguhannya lebih unik dan menarik, kata Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar I Ketut Garwa SSn, MSn, di Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, sebanyak 60 mahasiswa tercatat sebagai peserta ujian tugas akhir (TA) 2011.
Seperti yang telah dipersiapkan, mereka akan menyuguhkan karya ciptaan yang orisinil, dengan mengkolaborasikan atau menata dua perangkat gamelan atau lebih menjadi sebuah hiburan yang unik dan bermutu.
Perpaduan kedua jenis alat musik atau lebih tersebut mampu menciptakan alunan musik yang menyejukkan hati dan kedamaian dalam batin, seperti yang selama ini mereka lakukan, tutur I Ketut Garwa.
Luh Gede Candra Pratiwi, salah seorang mahasiswa program studi Seni Tari ISI Denpasar menuturkan, dalam memenuhi persyaratan mengikuti TA, dirinya menciptakan tari yang diberi judul “Ratna Wighna”.
“Tarian tersebut terinspirasi dari cinta kasih, kebersamaan, kedamaian dan saling menghargai antarwarga di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal saya,” katanya.
Namun cinta kasih itu bisa terkoyak oleh sebuah “cupu manik” yang tidak pantas mereka miliki. Akibat serakah, angkuh, irihati dan kedengkian, ternyata telah mampu meluluhlantakkan sebuah keharmonisan.
Pementasan tari kreasi “Ratna Wighna” dengan penata iringan I Made Subandi SSn, melibatkan mendukung tari I Gede Radiana Putra, pelajar SMAN 3 Denpasar dan Dewa Putu Selamat Raharja, pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Sukawati.
Pementasan tarian tersebut dimeriahkan Sanggar Ceraken, Batubulan, Kabupaten Gianyar yang tampil di hadapan tim dosen penguji pada hari pertama dari empat hari pelaksanaan ujian akhir, 24-27 Mei 2011.
Ke-60 mahasiswa dalam menampilkan karya seni ciptaan tari terbaik melibatkan puluhan sanggar seni maupun sekaa kesenian dari berbagai pelosok pedesaan di Pulau Dewata.
Tim dosen penguji terdiri atas unsur guru besar, dosen biasa yang mengajar sehari-hari menilai dari aspek gagasan, bentuk dan penampilan, tema, teknik, komposisi, kreativitas, busana serta tata cahaya saat pagelaran.
Pagelaran mahasiswa tersebut terdiri atas penciptaan dengan jurusan tari 22 orang, jurusan kerawitan 27 orang, jurusan pendalangan empat orang, pengkajian untuk jurusan tari empat orang, kerawitan seorang dan jurusan pedalangan dua orang.
Masyarakat luas diberikan kesempatan untuk menyaksikan kemampuan karya seni mahasiswa, tanpa mengganggu tim dosen melakukan penilaian ujian, tutur I Ketut Garwa.

Sumber: antaranews.com

Instrumen Musik Minangkabau Kelompok Membranophone

Instrumen Musik Minangkabau Kelompok Membranophone

Kiriman: Wardizal Ssen., Msi., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Gandang Tambur

Salah satu jenis instrumen gandang (kendang) yang berkembang di Minangkabau, khususnya di daerah Pariaman dan sebagian kabupaten agam seperti Tiku, Lubuk Basuang, Maninjau dan Malalak. Gandang Tambur mempunyai dua kepala (double headed) ; maksudnya bagian permukaan gandang yang dilapisi dengan kulit (membran). Gandang ini juga termasuk keluarga cylindrical drums (gandang berbentuk slinder). Bagian badan gandang terbuat dari kayu jenis ringan seperti kayu pulai dan kayu kapok. Garis tengah gandang lebih kurang 60 cm dan panjang gandang lebih kurang 80 cm. Kulit yang dipergunakan sebagai membran biasanya kulit kambing atau kulit sapi.

Untuk memainkan gandang tambur ini disandang dibahu dengan posisi gandang terletak pada bagian depan pemainnya. Agar lebih memudahkan, gandang tambur diberi tali penyandang pada kedua sisinya dengan kain yang agak tebal atau semacam ikat pinggang yang dibuat dari kain, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit pada bahu ketika dimainkan. Alat pemukul (panggul) terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa (bentuk bulat pada kedua ujungnya) dengan ukuran yang berbeda. Agak besar untuk pemukul kepala gandang pada posisi atas, dan agak kecil untuk pemukul gandang pada posisi bawah. Jumlah pemain dari gandang tambur ini relatif, biasanya berkisar antara 4-9 orang serta dalam setiap penampikanya sejalan dengan instrumen musik Tasa.

Gandang Sarunai Sungai Pagu

Bentuk atau jenis kendang lain yang berkembang di Minangkabau yang terdiri dari 2 (dua) jenis alat, yaitu: gandang dan sarunai. Jenis gandang ini sering juga disebut dengan gandang sarunai Sungai Pagu disebabkan penyajiannya terdiri dari gandang dan sarunai yang terdapat di daerah Sungai Pagu, kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Sama halnya dengan gandang tambur, gandang sarunai Sungai Pagu ini juga mempunyai dua kepala (double headed) dengan ukuran diameter kepala berbeda, yang satu agak lebih besar dari yang lainnya. Dari segi bentuk, instrumen musik ini termasuk keluarga conical drums (gandang berbetuk kerucut). Di tengah kehidupan masyarakat, gandang sarunai Sungai Pagu difungsikan untuk keperluan hiburan pada upacara-upacara seperti: batagak penghulu, helat perkawinan dan lain sebagainya.

Gandang Aguang

Jenis gandang yang berkembang di Minangkabau khususnya di nagari Labueh Gunuang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jenis gandang ini terdiri dari gandang jantan dan gandang batino dengan ukuran yang berbeda. Dilihat dari segi bentuk, gandang jantan tergolong jenis cylindrical drums (berbentuk slinder), sedangkan gandang batino tergolong bariel drums (gondong berbentuk tong), yaitu pada bagian tengah gandang agak cembung atau diameternya lebih panjang dari kedua bagian kepala gandang.

Gandang aguang ini merupakan bagian dari ensambel musik Talempong Aguang yang terdiri dari: talempong, gong, gandang dan pupuik batang padi. Instrumen Gandang Aguang ini lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan terutama digunakan pada acara-acara yang terdapat di Nagari Labueh Gunuang Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Gandang Katindik

Jenis gandang bermuka dua (double headed) yang sering juga disebut gandang gamat. Hal ini dikarena gandang ini sering digunakan dalam pertunjukan kesenian gamat. Gandang katindik termasuk keluarga barrel drums (gandang berbentuk tong). Gandang Katindik yang berkembang di Minangkabau sama bentuknya dengan gandang katindik yang terdapat dalam karawitan Jawa.

Adok

Jenis instrumen musik keluarga membranophone bermuka satu (single headed) yang berkembang di Minangkabau. Instrumen Adok ini termasuk keluarga vissel drums (gandang berbentuk bejana). Oleh karena pada bagian bawah dari Adok ini datar, tidak cembung, maka adok ini bisa juga dikategorikan pada jenis instrumen musik conical drums (gandang berbentuk kerucut).

Pada massa dahulu, adok ini dipergunakan sebagai media dakwah dan untuk menyebarkan informasi lainnya kepada masyarakat. Dalam penyajiannya, adok ini lebih banyak dimainkan secara tunggal. Dalam perkembanganya sekarang sering dimainkan sejalan dengan instrumen musik Minangkabau lainnya seperti: talempong, pupuik sarunai, dan erupakan ensambel musik untuk mengiringi tari-tarian terutama di luhak nan tigo. Untuk daerah Pesisir Selatan, gandang adok dipergunakan untuk mengiringi dendang yang dikenal dengan sebutan dendang adok.

Instrumen Musik Minangkabau Kelompok Membranophoe, Selengkapnya

Loading...