by dwigunawati | Jun 20, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Wayan Adi Gunarta
Nim : 200701019
Program Studi : Seni Tari
Sinopsis :
Ibarat sapu lidi, manusia lebih kuat dalam kebersamaan. Perbedaan watak, sifat dan kepentingan bila diharmoniskan akan menjadi kekuatan, namun ketika ego tak terkendali, maka timbullah perpecahan bagaikan lidi-lidi rapuh tatkala sendiri.
Penata Iringan : I Wayan Ary Wijaya, S.Sn
Pendukung Tari : Mahasiswa Jur.Seni Tari FSP ISI DPS
1. I Gusti Putu Agus Adi Yustika
2. I Putu Arimbawa
Pendukung Iringan : Palawara Music Company, Denpasar
Ujian Tugas Akhir FSP Gelombang I Tahun 2011



by admin | Jun 19, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha, S.Sn., Alumni ISI Denpasar
Interpretasi adalah seni yang menggambarkan komunikasi secara tidak langsung, namun dapat dipahami. Interpretasi berhubungan dengan jangkauan yang harus dicapai oleh subjek dan pada saat itu pula diungkapkan kembali sebagai identitas struktur yang terdapat dalam kehidupan, sejarah, dan objektivitas (Kaelan 1998 :224). Dengan kata lain, interpretasi tergantung pada hubungan timbal balik antara pemahaman atas bagian-bagian yang merupakan keseluruhan atas campuran bermacam-macam hal yang telah diketahui sebelumnya dan koreksi terhadap apa saja yang kemudian hari dirasakan tidak sesuai lagi. Jelas, interpretasi adalah salah satu hal yang tersaji dalam proses komunikasi yang terjadi antara pelaku dengan penikmat. Pada kasus ini, interpretasi bisa berdiri di mana saja, tergantung sudut pandang kita dalam memahaminya.
Dari segi penikmat seni, interpretasi timbul dari hasil pengamatannya terhadap apa yang tertampil dalam karya seni. Seorang interpreter, harus menanggalkan keinginannya untuk mendukung atau menolak pesan yang berusaha dikomunikasikan oleh penampil, karena akan mempengaruhi sisi subjektivitas interpretasi yang dihasilkan. Interpretasi yang baik adalah interpretasi yang berhasil meminimalisasikan sifat subjektivitas dirinya, sehingga apa yang tertuang dari hasil interpretasinya menjadi objektif, sesuai apa yang diamati dan tidak diliputi susupan-susupan tertentu. Jadi, interpretasi dari sisi penikmat merupakan kelanjutan dari lontaran ekspresi simbol-simbol teks yang tersaji pada indera. Pada sisi ini, interpretasi akan menghasilkan sebuah kritik, esai atau masukan (evaluasi) dari penikmat kepada seniman.
Kita bersama tahu bahwa karya seni, tidak hanya seni tari, merupakan sesuatu yang bersifat ekspresif dan penuh makna. Makna-makna tersebut berusaha dikomunikasikan melalui berbagai media (dalam hal ini tari, dengan media ungkap utama gerak), dengan menempatkan simbol-simbol tertentu yang bersifat estetis. Dalam tari, yang tertuang tidak hanya sekedar kekuatan otot semata, namun lebih dari itu, ada sebuah kekuatan misteri yang diperuntukkan bagi persepsi penikmat sehingga mereka dibuat berpikir dan menggunakan nalar untuk mengungkap kekuatan misteri itu. Artinya, sebagai timbal balik dari ekspresi yang tertampil, dituntut adanya interpretasi atau penalaran untuk menghidupkan komunikasi antara seniman dan penikmat ataupun kritikus.
Karya seni yang ditangani dengan kesungguhan pastilah mengandung interpretasi si seniman terhadap kehidupan atau terhadap segi tertentu kehidupan, setidaknya terhadap tema yang ditampilkannya dalam karya yang bersangkutan. Di sini ditunjukkan bahwa, interpretasi juga terlibat dalam proses penciptaan karya seni. Tari adalah bentuk yang dapat dimengerti yang mengungkapkan perasaan insan di mana kekayaan kehidupan batiniah termasuk di dalamnya. Kehidupan batiniah adalah gambaran cerita dan riwayat hidup diri pribadi orang yang bersangkutan. Singkatnya, pengalaman batiniah yang dialami oleh seorang seniman, yang ketika diterjemahkan ke dalam kesenian, ia menjadi sebuah pengalaman estetis. Namun, lebih jauh lagi, tari bukanlah gejala perasaan penarinya, namun sebuah ekspresi dari pengetahuan penyusunnya tentang berbagai perasaan. Disini kita tidak dituntut untuk mengalami segala cobaan atau pengalaman inderawi sebelum menterjemahkannya ke dalam bentuk tari.
Sebagai ilustrasi, lukisan fenomenal seniman Leonardo da Vinci yang bertajuk “Monalisa”, merupakan suatu mahakarya seni yang hingga kini masih mengundang misteri yang terkandung dalam senyuman dan juga sosok gadis yang dilukisnya. Senyum Monalisa yang demikian indah membuka ruang interpretasi yang sangat luas bagi para penikmatnya. Ada yang menangkap senyuman itu mengandung unsur kesedihan, kepasrahan dan juga kegembiraan. Begitu luas, sehingga kadang kala benturan pendapat atau sudut pandang menjadi tak terelakkan. Inilah indahnya interpretasi penikmat dalam menghayati seni. Dari satu objek dapat menimbulkan berbagai sudut pandang yang memungkinkan terjadinya diskusi ilmiah yang terarah.
Contoh di atas merupakan sudut pandang lain dari interpretasi. Hal tersebut pula menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan karya seni, interpretasi sang seniman akan fenomena di sekitarnya mutlak diperlukan. Sebab, kreativitas yang menjadi pokok utama dalam karya seni timbul dari pencarian seniman akan kemungkinan-kemungkinan baru yang ada meskipun dalam objek yang sama. Pada sisi ini, interpretasi timbul berdasarkan intuisi dan akan melahirkan sebuah ekspresi serta simbol-simbol tertentu yang disajikan melalui medianya masing-masing, dalam hal ini tari di atas panggung.
Interpretasi Dalam Dunia Seni Pertunjukan, Selengkapnya
by admin | Jun 18, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Ketika Adi Merdangga berderap, itu artinya perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali (PKB) dimulai. Degub drumband tradisional ini menjadi penanda pesta seni tahunan kebanggaan masyarakat Bali. Musik prosesi yang didominasi oleh puluhan instrumen kendang ini lahir dari kandungan PKB pada tahun 1984. Sejak lahir dan hingga PKB ke-33 tahun 2011 ini, Adi Merdangga yang digarap dan disuguhkan ASTI (kini ISI Denpasar), menjadi ujung tombak pawai PKB. Dibawakan oleh ratusan penabuh dan penari, Adi Merdangga membuncah dengan nuansa modern namun sangat kental dengan identitas seni tradisi lokal Bali. Penampilannya sepanjang rute pawai selalu dielu-elukan penonton seperti terlihat pada pawai PKB, Sabtu (11/6) lalu.
Nama Adi Merdangga diambil dari bahasa sansekerta yaitu adi berarti utama dan merdangga adalah kendang, Jadi Adi Merdangga berarti sebuah ansambel yang didominasi oleh instrumen membranophone (alat musik yang sumber bunyinya dari kulit yang dicencang), terdiri dari beberapa jenis kendang Bali berukuran besar, sedang, dan kecil. Ketika menguak pertama kali pada PKB tahun 1984, Adi Merdangga tampil murni sebagai sajian musik. Tetapi dalam perjalanannya kemudian, komposisi musiknya dipadukan dengan pragmen tari. Sepuluh tahun terakhir, olahan musiknya disertai dengan penampilan figur Siwanataraja, lambang PKB. Dalam pawai PKB Sabtu siang lalu, Adi Merdangga berkisah tentang keperkasaan dan kepahlawan Burung Garuda.
Adalah pencetus PKB, Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra yang menstimulasi kelahiran Adi Merdangga. Ketika PKB menginjak usia ke-5 pada tahun 1983, Mantra berangan-angan adanya musik prosesi besar yang berkarakter kesenian Bali. Lontaran orang nomor satu Bali itu direspon kreatif para seniman ASTI Denpasar. Berangkat dari musik ritual Balaganjur, dalam tempo tak begitu lama terwujudlah ekspresi artistik musik baru. Konsep musikalnya dikembangkan dari Balaganjur dengan melipatgandakan instrumen kendang dan cengceng. Disertai semangat berkesenian, Adi Merdangga hadir kreatif, baik dari tata musikalnya maupun tampilan inovatif dari atraksi bermain musiknya nan apik.
Dalam perkembangannya, Adi Merdangga kemudian menggebrak tampil sebagai marchingband yang dalam penampilannya dilengkapi dengan penari dan peraga properti seperti tombak, payung, kipas, dan umbul-umbul. Ketika meragakan demontrasi penampilan atau display di depan tamu-tamu kehormatan dengan koreografi yang dibingkai oleh komposisi musik, sering memanen aplaus penonton, terutama ketika para penari membentuk sebuah figurasi tari dan para penabuh bermain musik sembari melakukan gerak-gerik atraktif, meragakan aksen-aksen tari.
Pamor Adi Merdangga membumbung. Pada tahun 1987, tak kurang dari 300 orang mahasiswa ASTI/STSI Denpasar pernah diundang menyuguhkan Adi Merdangga di Istora Bung Karno Senayan, Jakarta pada pembukaan Sea Games ke-14. Pada tahun 1995, saat perayaan emas kemerdekaan RI, kembali pasukan drumband tradisional perguruan tinggi seni di Bali ini didaulat datang ke Jakarta menyuguhkan kebolehannya saat upacara penurunan bendera pusaka di Istana Merdeka. Kini di ISI Denpasar sendiri, Adi Merdangga terus dipoles. Setiap tampil menjadi pengawal pawai PKB, insan-insan seni perguruan tinggi seni tersebut selalu berusaha menampilkan nuansa baru.
Inovasi musik dan tata kreativitas Adi Merdangga yang selalu ditampilkan pada pawai PKB, mengusik dan menyadarkan Balaganjur akan potensi dirinya. Menjamurlah kemudian gelar Balaganjur di desa-desa, sekolah-sekolah hingga kampus-kampus. Penyelenggaraan Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) di Bali biasanya selalu menyertakan lomba Balaganjur sebagai sebuah mata acara yang sangat diminati. Yang menarik, kehadiran Adi Merdangga mendongkrak gengsi gamelan Balaganjur di kalangan generasi muda Bali. Musik tradisi yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap ritual adat dan keagamaan itu serta merta menggeliat bergairah. Inovasi olah musik yang ditawarkan dalam Adi Merdangga dikembangkan dan dijadikan model orientasi kreativitas musik Balaganjur. Rekaman komersial, CD dan VCD Balaganjur, banyak diminati masyarakat Bali.
Perkembangannya belakangan, kini Balaganjur menggeliat dan menggebrak menjadi seni pertunjukan yang layak disimak. Karena itu, sejak empat tahun terakhir ini, PKB memberikan ruang khusus pada seni pentas ini. Dalam PKB ke-33 ini ditampilkan sembilan grup Balaganjur persembahan kabupaten/kota se-Bali. Sajian seni yang disebut Parade Balaganjur Pragmentari tersebut dapat disimak penonton di panggung terbuka Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Senin (20/6) besok malam akan unjuk kebolehan duta Kabupaten Gianyar, Karangasem, dan Badung.
Lahir dari rahim PKB, Adi Merdangga menjadi inspirator pembaharuan signifikan kebangkitan Balaganjur. Dibawah pangkuan masyarakat Bali yang kasih akan nilai seni, Balaganjur kini menjadi kesayangan segenap lapisan masyarakat, khususnya menjadi kebanggaan insan-insan muda Bali, sumber insani penyangga kejayaan seni budaya bangsa. Bukahkah penjelajahan jati diri di era globalisasi ini, sari patinya ada dalam asuhan nilai-nilai lokal? Kemesraan generasi muda Bali dengan seni pertunjukan Balaganjur-nya patut disyukuri dan dijadikan wahana pembentukan karakter.
Adi Merdangga, Inspirator Gengsi Balaganjur selengkapnya
by admin | Jun 17, 2011 | Berita
Paduan suara ISI Denpasar dibawah komando dosen Jurusan Karawitan, I Komang Darmayuda dan Ni Wayan Ardini, mempesona penikmat Pesta Kesenian Bali (PKB), Kamis malam (16/6) di Gedung Ksirarnawa. Paduan Suara yang beranggotakan mahasiwa ISI Denpasar baik Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ini membawakan 5 lagu, yaitu Pesta Kesenian Bali karya Wedhasmara, LGM PulauBali, Enggung,Janger, serta Bungan Sandat.
Selain paduan suara ISI Denpasar, acara Musik Keroncong yang diiringi Orkes Keroncong “Pesona Dewata” ini juga menampilkan penyanyi keroncong ternama seperti Sefi Indah Prawasari, Ayu Sadha, Eka, Putri, serta Agung Wira Sutha. Sefi Indah Prawasari menampilkan lagu Hanoman Obong, Perahu Layar, Walang Kekek, Bengawan Solo, Kemuning, dan Aryati. Ayu Sadha melantunkan Indonesia Jelita dan Tanah Airku, Eka Putri melantunkan Dayung Sampandan Jali-Jali. Agung Wira Sutha yang juga menjadi pemandu acara (MC) dalam acara tersebut membawakan lagu Melati Pesanku.
Suasana hangat tercipta malam itu. Para penyanyi tersebut mengundang penonton untuk ikut bersenandung. Paduan suara ISI Denpasar yang malam itu peserta wanitanya mengenakan seragam pink-ungu,berpadan dengan peserta pria berseragam warna senada, semakin mempesonapenonton yang memenuhi Geduang Ksiarnawa malam itu. Komang Darmayuada dan Ni Wayan Ardini yang ditemui seusai pementasan, mengatakan sangat bangga dengan kerja keras para mahasiswa. “Mahasiswa sangat tekun dalam berlatih, sehingga malam ini kami bisa tampil maksimal.Yang terpenting adalah dukungan dan motivasi dari pimpinan, sehingga kami bisa sampai dipanggung ini”ujar Ardini yang malam itu menjadi dirigen.
Pementasan paduan suara ISI Denpasar ini dihadiri oleh Rektor ISI Denpasar,para Pembantu Rektor,serta pejabat struktural lainnya. Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan, I Made Suberatha sangat bangga dengan penampilan mahasiswanya malam itu. “Ini adalah hasil kerja keras kita bersama. Syukur dan terimakasih kita kepada Tuhan atas keberhasilan paduan suara ISI Denpasar, yang masih muda usia tapi mampu berkreasi maksimal,”ujar Suberatha bangga.
Humas ISI Denpasar melaporkan.