M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Mahasiswa Uwa Dilepas Dengan Exibition & Farewell Party

Mahasiswa Uwa Dilepas Dengan Exibition & Farewell Party

Program ISACFA (International Studio for Arts & Culture FSRD-ALVA),  sebuah program yang merupakan implementasi dari MoU antara ISI Denpasar dan University of Western Australia (UWA) dengan 22 mahasiswa UWA dibawah komando Prof. Paul Trinidad belajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar sejak 13 Juni yang lalu, Jumat malam (1/7) yang lalu dilepas secara resmi oleh Rektor ISI Denpasar lewat pameran bertajuk “Exhibition of ISAFCA Program, Darmasiswa &ISI Denpasar Students”. Pameran ini diawali dengan penandatanganan kanvas oleh seluruh undangan dan mahasiswa UWA.

Pameran ini terlaksana setelah mahasiswa UWA mempelajari Kamasan Painting sejak 26 Juni lalu di Klungkung selama tiga hari. Selain mengikuti perkuliahan, diantaranya Bahasa Indonesia, Seni Budaya Bali, Komunitas dalam Ritual dan Upacara, Komunitas Masyarakat dalam Subak dan Banjar, Pengenalan Arsitektur Tradisional Bali, Ashta Bumi dan Ashta Kosala-Kosali, Ornamen, fotografy, lighting, dll mereka juga mengunjungi Pura Tirta Empul untuk lebih mengenal lebih jauh tentang kebudayaan Bali. “Selain mengamati kegiatan religious di pura tersebut, mahasiswa Negeri Kangguru itu juga ikut melukat bersama mahasiswa dan dosen ISI Denpasar,”papar Dekan FSRD, Dra.Ni Made Rinu,M.Si.

Alexander Philip Wolman, salah seorang mahasiwa UWA yang memberi sambutan pada acara malam itu,mengungkapkan rasa bahagia dan terimakasih atas semua yang telah diperoleh saat perkuliahan di ISI Denpasar. “We have a very wonderful time here, so many  invaluable knowledge and ISI Denpasar has given us more than what we expected, ”ujar Alex yang disambut applaus seluruh hadirin.

Rektor ISI didampingi para Pembantu Rektor, Dekan FSP, Dekan FSRD serta jajarannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh keluarga besar ISI Denpasar yang telah bekerja keras dalam melaksanakan setiap kegiatan untuk mahasiswa UWA,sehingga setiap kegiatan dapat berjalan lancar. “Kegiatan ini adalah implementasi dari MoU antara ISI Denpasar dan UWA. Kedepan akan ada banyak kegiatan lagi tidak hanya di FSRD, tapi juga di FSP, yang tentunya merupakan  tantangan untuk kita meningkatkan diri untuk mampu bersaing di tingkat internasional,” papar Prof. Rai ditemui pada acara makan malam bersama seluruh mahasiswa UWA malam itu.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Ketika Calonarang “Ngereh” Di Siang Bolong

Ketika Calonarang “Ngereh” Di Siang Bolong

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Ni Calonarang girang bukan kepalang karena anak kesayangannya, Ratna Mangali, dipersunting oleh raja Kediri, Airlangga. Tetapi kemudian  gelora suka cita janda desa Dirah itu berbalik menjadi duka kecewa yang mengobarkan api amarahnya. Calonarang  tersinggung berat dan sakit hati atas diusirnya Ratnamangali dari Kediri dengan tuduhan sebagai penganut ilmu hitam leak. Calonarang berang dan mengerang garang. Bersama murid-muridnya, Si Walu Nateng Dirah ini meneror negeri Kediri dengan mengerahkan leak ganas haus darah. Raja Airlangga menitahkan kepada patih andalannya, Maling Maguna, menghentikan prahara yang ditebar Calonarang dan mengembalikan ketenteraman rakyat Kediri.

Kisah janda dari desa Dirah atau Girah itu lazimnya disimak masyarakat Bali pada tengah malam dalam sebuah seni pertunjukan yang disebut Calonarang. Tetapi pada Sabtu (16/4) lalu, Ni Calonarang dan murid-muridnya justru ngereh dan mengumbar ilmu hitamnya pada siang bolong. Tengoklah pementasan garapan seni yang bertajuk “Prahara Ing Kediri“ di panggung terbuka Balai Budaya Gianyar. Karya seni pentas besutan para seniman Sanggar Genta Manik, Desa Seronggo, Kecamatan Gianyar, itu menyihir ribuan penonton yang memadati Pawai Budaya serangkaian hari jadi ke-240 Kota Gianyar.

Didukung oleh lebih dari 200 orang pelaku seni, “Prahara Ing Kediri“ hadir kolosal, diiringi dengan sepasukan penabuh gamelan Balaganjur yang ditata apik. Para penabuh yang bergerak dinamis, merangkai variasi figurasi di atas panggung. Peran-peran yang ada dalam teater Calonarang dihadirkan merajut kisah. Tokoh Ni Calonarang tampak berperan cukup dominan terutama saat mengerahkan murid-muridnya memporakporandakan kerajaan Kediri. Klimaks drama tari ini, pertarungan hidup mati antara Ni Calonarang dengan Maling Maguna, dihadirkan mencekam. Perubahan Ni Calonarang menjadi Rangda divisualisasikan dengan ogoh-ogoh Rangda yang diusung puluhan orang. Maling Maguna meloncat ganas ke atas dan menancapkan kerisnya berkali-kali pada sekujur tubuh Rangda. Penonton tegang.

Sihir adalah tema yang selalu ditonjolkan dalam cerita Calonarang. Kendati berasal dari Jawa, tapi di Bali sendiri, hingga kini, cerita ini masih begitu menggetarkan masyarakat. Cerita dengan tokoh utama bernama Ni Calonarang itu merasuk lewat drama tari Calonarang, sebuah genre seni pertunjukan Bali yang diduga muncul pada tahun 1825, zaman kejayaaan dinasti kerajaan Klungkung.  Dalam seni pentas yang oleh peneliti asing disebut the drama of magic ini, simbol sarang Ni Calonarang di tempatkan di sisi kalangan yang disebut tingga, sejenis rumah panggung yang dibuat agak tinggi. Di depan tingga itu ditancapkan gedang renteng, tempat Calonarang dalam wujud Rangda mengangkang dan menjerit-jerit memamerkan kesaktiannya

Calonarang adalah cerita semi sejarah dengan seting kejadian pada  abad XI, zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur. Dalam wujudnya sebagai seni pertunjukan Bali, disamping tetap mengacu kepada sastra sumbernya, terjadi pula mengembangan dan penyimpangan. Misalnya muncul tokoh penting yang disebut Rangda yang merupakan siluman Calonarang dalam wujud yang menakutkan. Padahal yang dimaksud rangda dalam sastra sumber adalah janda.

Dalam drama tari Calonarang,  Matah Gede adalah figur atau karakter untuk si janda sihir dari Dirah, Calonarang, sebagai manusia biasa sebelum berubah  menjadi ratu leak dalam wujud yang dahsyat menyeramkan. Tokoh ini memiliki karakter yang khas dan sekaligus menjadi identitas seni pertunjukan Calonarang.  Matah Gede hadir dengan jati diri perwatakan, tata busana, dan tata rias wajahnya. Pemberang adalah watak menonjol dari tokoh yang tak pernah lepas dari tongkatnya ini. Jika sedang naik pitam, sorot matanya yang menusuk tajam dilukiskan pantang dilawan jika tak ingin hangus terbakar. Keangkeran Matah Gede juga dibangun oleh dominasi tata ucapannya dengan suara yang berat dalam bahasa Jawa Kuno.

Antonin Artaud, seorang dramawan terkemuka Prancis, sempat sangat terpesona dengan drama tari Calonarang.  Ceritanya pada tahun 1931,  Artaud dan para pekerja seni pertunjukan di Eropa sempat digemparkan pementasan Calonarang oleh para seniman Bali yang dipimpin oleh Cokorda Gede Raka Sukawati di arena Paris Colonial Exhibition. Sementara itu, kajian ilmiah menyangkut teater ini juga cukup banyak.  Diantaranya, Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya Dance and Drama in Bali (1931), Urs Ramseyer dalam The Art and Culture of Bali (1977),  dan I Made Bandem & Fredrik deBoer dengan Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition (1981).

Belakangan, televisi yang bersiaran di Bali juga rajin menayangkan teater Calonarang—cukup diminati pemirsa. Calonarang agaknya masih menyihir masyarakat Bali masa kini. Termasuk, garapan seni pentas “Prahana Ing Kediri” tersebut, disimak antusias ribuan penonton yang memadati lapangan Astina Gianyar. Karya seni pentas binaan seniman Drs. I Made Mertanadi, M.Si yang merupakan duta Kecamatan Gianyar ini tampak membuat haru Camat Gianyar, A.A. Gde Agung, S.Sos, M.Si dan Perbekel Desa Seronggo, A.A. Gde Bagus Udayana. Lewat bingkai cerita Calonarang, ungkap Mertanadi, para seniman Gianyar, dalam beragam pengejawantahan ekspresi kreatif seni, bertekad tetap “menyihir” dunia.

Ketika Calonarang “Ngereh” Di Siang Bolong selengkapnya

Ujar Sinambung

Ujar Sinambung

Penata

Nama                     : I Made Murdana

NIM                      : 2007.02.021

Program Studi : Seni Karawitan

Sinopsis       :

Ujar Sinambung merupakan sebuah garapan komposisi baru yang memadukan antara instrument saih pitu yaitu gamelan semarandhana dan instrument gamelan dari bambu. Perpaduan dua instrument yang memiliki karakteristik warna bunyi (timbre) yang dimaksud sebagai implementasi akustik yang berbeda dalam kesinambungan. Cetusan imajinasi dan penalaran musikal dari teknik gegebug, penggunaan patutan, pola garapan dan penonjolan masing-masing instrumen, merupakan keterikatan pada satu kesatuan garapan yang utuh (unity) dan berkesinambungan (continuity) untuk mpencapaian keindahan music ( aesthetic musical )

Pendukung Karawitan :  Sekaha Gong Sida Githa Karya, Br. Dukuh Mertajati, Sidakarya, Denpasar Selatan

Ujian Tugas Akhir FSP Gelombang I Tahun 2011

 

Bharatasattama

Bharatasattama

Penata

Nama                     : I Gst Ngurah Wira Adnyana.

Nim                       : 2007 02 038

Program Studi  : Seni Karawitan

Sinopsis       :

Bharatasattama adalah sebutan yang diberikan kepada seorang ksatria pandawa di medan perang Kurusehetra yang tiada lain adalah Arjuna yang berarti ksatria terbaik wangsa bharata. Terkadang di saat pertempuran telah tiba kegelisahan dan keraguanpun menyelimuti hatinya. Akan tetapi demi melaksanakan kewajiban sebagai seorang ksatria yang bertempur di medan laga. Demikianlah gambaran seorang ksatria pandawa yang dikenal dengan sebutan Bharatasattama. Dengan adanya tokoh tersebut penata mencoba untuk mentranspormasikannya kedalam sebuah komposisi karawitan kreasi pepanggulan dimana, dalam pengolahannya masih berpijak pada pola-pola tradisi yang kemudian dikemas menjadi karya baru yang inovatif dengan media ungkap Gong Kebyar.

Pendukung Karawitan:

Sekaa Gong Manik Gangga, Br Perean, Baturiti Tabanan

Ujian Tugas Akhir FSP Gelombang I Tahun 2011

Loading...