Pengumuman Kelulusan Peserta BIDIKMISI dan PMDK 2011
Kiriman Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar
4. Puri Sebagai Komoditas Pariwisata
Pesatnya perkembangan pariwisata di Ubud tentunya tidak terlepas dari potensi yang ada di daerah ini, baik potensi alam, budaya maupun potensi sumber daya manusianya. Potensi yang dimiliki inilah yang dikembangkan masyarakatnya untuk meningkatkan industri pariwisata daerah ini. Sebagai sebuah obyek wisata, Ubud yang penuh dengan hasil karya seni maupun keindahan alam ini telah mampu membuat kesan tersendiri bagi wisatawan yang datang berkunjung ke daerah ini (Damardjati, 1981: 79).
Melihat potensi ini, Puri Saren Agung pun terdorong untuk mempergunakan purinya sebagai komoditas pariwisata. Hal ini tentu didasari oleh berbagai pertmbangan. Puri sebagai obyek wisata atau destination tentu harus dilengkapi berbagai sarana pendukungnya, antara lain meliputi attractions yaitu hal-hal yang menarik perhatian, jasa pengangkutan dan keramah-tamahan untuk menerima wisatawan (Spilane, 1994 : 63).
Sebagai sebuah obyek wisata, daya tarik Puri Saren Agung ini tidak dapat dilepaskan dari faktor yang melatar-belakanginya, khususnya yang berkaitan dengan produk wisata yang ditawarkan kepada wisatawan sehingga mereka ingin mengunjungi puri ini kembali. Menurut Kayam ( 1981) salah satu faktor yang dapat mendorong wisatawan datang ke suatu daerah adalah kesan yang mereka peroleh ketika datang ke daerah tersebut. Sebagaimana wisatawan yang datang berjunjung ke Puri Saren Agung ini, yang tidak terlepas dari keunikan puri yang terletak di pusat kawasan wisata Ubud ini. Selain itu, keindahan panorama alam daerah ini juga tidak kalah menariknya. Wisatawan yang datang ke puri ini biasanya berjalan-jalan mengelilingi lingkungan puri melalui jalan setapak sambil memotret bangunan dan aktivitas budaya yang sedang berlangsung.
Panorama alam desa Ubud yang indah mampu memberikan nilai tambah bagi daya tarik wisata Puri Saren Agung. Sebagai sebuah obyek wisata, Puri Saren Agung ini dibangun berdasarkan tata-nilai budaya masyarakatnya. Hal itu dapat dilihat dari adanya tinggalan budayanya yakni berbentuk pura dan puri (Wahab, Crampon, dan Rothfield, 1989 : 41). Tata-ruang puri yang terdiri dari jaba sisi, jaba tengah dan jeroan ini mempunyai fungsi tersendiri, dimana di jaba sisi (halaman luar) wisatawan dapat menyaksikan keindahan puri karena itu setiap ada wisatawan berkunjung di puri ini, mereka tidak akan melintasi pamerajan puri dan merajan agung yang disakralkan masyarakat setempat.
Sebagai sebuah obyek wisata, Puri Saren Agung ini dilengkapi berbagai fasilitas pariwisata, misalnya sanitasi umum, tempat parkir, restaurant dan art shop, warung tempat wisatawan membeli makanan dan minuman serta aneka barang cendramata yang semuanya terletak di jaba sisi. Dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas penunjang pariwisata ini tentu dapat membuat wisatawan merasa lebih mudah dan nyaman. Berkaitan dengan sarana transportasi, obyek wisata ini sangat mudah dijangkau. Dengan biaya yang memadai, aman, dan nikmat selama dalam perjalanan, wisatawan tidak merasa beban menuju Puri Saren Agung ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Kayam ( 1981) bahwa pariwisata berkembang karena adanya keinginan wisatawan untuk melihat sesuatu sebanyak mungkin, dengan biaya rendah, dan dalam waktu pendek.Untuk memenuhi tuntutan itu, maka ketersediaan prasarana dan sarana transportasi menjadi sangat penting. Dalam kaitan ini, jalan yang menghubungkan antara Puri Saren Agung Ubud dengan kota Denpasar pun dibuat beraspal (hotmik) sehingga dapat ditempuh mempergunakan mobil atau sepeda motor dengan lancar.
Dengan pesatnya perkembangan pariwisata di Ubud, wisatawan yang berkunjung ke Puri Saren Agung inipun dikunjungi wisatawan mancanegara yang tinggal di puri ini sekurang-kurangnya 24 jam dengan tujuan : a). Pesiar, yaitu hubungan dagang, sanak keluarga, konferensi-konfrensi dan misi (Pendit; 1976 : 11). Tipologi wisatawan yang datangpun ada bermacam-macam, tergantung jenis kriteria yang dipakai untuk merumuskan tipologi tersebut. Atas dasar kriteria kenegaraan pada umumnya dibedakan antar wisatawan domestik dan wisatawan asing. Perbedaan ini pun diajukan menurut kriteria tujuan wisatawan dan lain-lain. Wisatawan yang datang ke Puri Saren Agung ini disebut tamu sehingga pihak puri merasa berkewajiban untuk menerima dan melayaninya dengan baik. Pada umumnya wisatawan Amerika, Eropa dan Jepang yang datang berkunjung ke puri ini untuk melihat-lihat bangunan fisik puri maupun untuk menginap. Keterbukaan keluarga Puri Saren Agung dalam menerima kunjungan wisatawan disebabkan dari pengalaman mereka dalam bidang kepariwisataan.
Secara konseptual pariwisata budaya bertumpu pada potensi budaya. Budaya adalah sumber yang sangat potensial bagi kehidupan masyarakat. Dalam konsep budaya itu, budaya sebagai modal dasar mempunyai pengertian dan fungsi normatif dan operasional (Mantra, 1991 : 4 ). Sebagai konsep normatif aturan budaya diharapkan dapat mempunyai potensi dalam memberikan identitas aturan prinsipil dan memiliki pola kontrol yang secara operasional diharapkan dapat menjadi daya tarik wisatawan.
Konsep pariwisata budaya diharapkan antara budaya dan ekonomi pariwisata dapat saling mengisi dan menikmati keuntungan. Industri pariwisata tidak hanya diartikan dari sisi ekonomi saja, namun memiliki implikasi yang lebih luas dan mencakup keuntungan sosial budaya. Sejalan dengan itu, Mantra ( 1991) mengatakan bahwa dalam memuat program pengembangan kepariwisataan diharapkan mampu meningkatkan keseimbangan karakter dan budaya. Terkait dengan ini, puri diangap memiliki fungsi sosial yakni setiap orang bisa menikmati keindahan maupun untuk memanfaatkan sebagai tempat penelitian.
Sehubungan dengan keterbukaan puri dan proses komodifikasi yang berlangsung di puri sebagai obyek wisata, beberapa jenis-jenis komoditas Puri Saren Agung tampak tetap dipertahankan, antara lain : a). Puri sebagai pusat kebudayaan dan agama. b). Image puri tetap dipertahankan sebagai warisan budaya. Untuk itu pihak Puri Saren Agung ini tidak memasang papan penunjuk hotel dan tidak mengenakan biaya masuk bagi wisatawan dengan tujuan menghindari komersialisasi. Bangunan fisik dan arsitekturnya tetap dipertahankan berdasarkan konsep Sanga Mandala dan ditata tanpa menghilangkan identitas Puri Saren Agung sebagai pusat budaya dan keagamaan masyarakat setempat.
Komodifikasi Obyek Wisata Puri Saren Agung Ubud, bagian II, selengkapnya
Denpasar – Drs I Wayan Mudana MPar, pengamat seni lukis asal Bali, menilai perkembangan kreatif seni lukis sangat tergantung dari jiwa, dedikasi dan vitalisme seniman bersangkutan dalam menekuni proses karya seni.
“Dalam menciptakan karya seni lukis itu sangat tergantung dari batas kemampuan vitalisme untuk mengungkapkan sesuatu ke dalam media kanvas,” kata Wayan Mudana yang juga dosen Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Rabu.
Ia mengatakan, selain itu karya seni juga dipengaruhi segi-segi psikologis lain yang sangat konpleks, karena sebuah lukisan megandung kompleksitas kehidupan jiwa seniman secara total.
Kebutuhan kreatif tersebut berkembang dalam proses penciptaan seuah karya seni, yang akan diakhiri dengan apa yang disebut kepuasan kreatif.
Kepuasan kreatif merupakan tanda rampungnya sebuah karya di atas kanvas bagi seorang pelukis. “Kepuasan kreatif diibaratkan sebagai muara di lautan, dari sebuah sungai yan berliku-liku panjang meliuk-liuk di sepanjang dataran dan bukit yang berasal dari sebuah mata air di puncak bukit yang disebut kebutuhan kreatif,” tutur Wayan Mudana.
Demikian pula sebuah lukisan bermula dari kebutuhan kreatif dan berakhir dalam keputusan kreatif, yakni proses penciptaan yang disebut sebagai karakterisasi .
Namun demikian dalam penjiwaan sebuah lukisan, seorang akan tumbuh berkembang sesuai dengan kematangan jiwa seniman bersangkutan atau selaras dengan kompleks jiwanya.
Menurut Mudana, corak penjiwaan dalam proses penciptaan akan menempatkan setiap karya seni pada bentuknya yang bertentangan. yaitu vibrasi garbo dan vibrasi vitae.
Vibrasi garbo merupakan karya-karya yang dilahirkan secara inspiratif dan diciptakan dengan kecermatan teknis yang sempurna, sehingga keindahan visual mejadi tujuan utama bisa menggetarkan pesona secara mendadak.
Untuk itu seluruh elemen, warna, garis, ruang dan bentuk mendapat pengamatan secara sungguh-sungguh, hingga struktur yang membentuknya,
Demikian pula anatomi, dan proprsi diolah sampai tidak ada celanya, sehingga proses kreatif itu akan menjadi lebih lama. Akurasi demikian akan menyebabkan hilangnya spontanitas.
Hal itu penting karena spontanitas dinilai sebagai gejala emosi yang masih mentah serta belum mengalami pengendapan. Dengan demikian puncak dramatiknya akan diperoleh dalam dasar statisme yang mengendap pada statisme vitalnya, ujar Wayan Mudana.
Sumber: antaranews.com
Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Dari Pulau Dewata, sebuah garapan seni pentas megah kini menantang penonton mancanegara untuk mengaguminya. Seni pentas yang bertajuk “Bali Agung–The Legend of Balinese Goddesses” itu, dibingkai dengan sahibul hikayat Bali Kuno yang dikemas secara spektakuler di atas panggung besar ultra modern dengan tata lampu dan suara nan canggih. Disajikan secara kolosal, selain oleh lebih dari 150 orang pelaku seni, juga oleh puluhan aneka satwa, dari bebek hingga gajah. Berdurasi satu jam, penonton seakan diajak bersafari melongok sepotong kejayaan peradaban masa lampau Bali, dalam sebuah presentasi artistik masa kini, untuk diapresiasi masyarakat dunia dari beragam budaya dan bangsa.
Disuguhkan rata-rata tiga kali seminggu, “Bali Agung“ yang digarap oleh para profesional seni pertunjukan Bali dan Barat, telah menggelinding selama sembilan bulan. Bali Theatre, sebuah panggung besar berukuran 60×40 meter yang berlokasi di Bali Safari dan Marine Park Gianyar, menjadi arena pengejewantahan kemasan seni pertunjukan yang dirajut dari beragam elemen kesenian Bali menjadi karya kreatif sarat pesona, sejak menit pertama hingga detik puncak. Minggu (1/4) siang yang lalu misalnya, ratusan penonton mancanegara yang menyimak pementasannya, tampak berdecak-decak diayun oleh keapikan visualisasi artistiknya dan kesejukan gurat-gurat pesan persahabatan dan kasih sayangnya.
“Bali Agung“ merupakan karya bersama seniman teater dan koreografer Bali I Made Sidia dengan sutradara kreatif kaliber internasional Peter Wilson. Selain Peter dan Sidia, totalitas garapan seni pentas ini didukung musik sugestif besutan Chong Lim, komposer upacara pembukaan Olimpiade Sydney 2006. Tak kalah pentingnya menjadikan garapan seni ini begitu terasa menggugah adalah juga desain kostum yang ditangani oleh Richard Jeziorny, seorang penata busana kelas dunia, yang memerlukan riset khusus untuk mendandani seluruh pemain sesuai dengan keadaan dan kultur masyarakat Bali ratusan tahun yang lalu.
Sebuah cerita romantis-tragis yang konon terjadi pada abad ke-12, dijadikan pijakan kreatif-inovatif pentas seni kolosal “Bali Agung“. Tersebutlah Sri Jaya Pangus (Dalem Balingkang), seorang raja zaman Bali Kuno yang mendirikan keratonnya di kaki Gunung Batur. Suatu hari datang saudagar dari negeri Tiongkok yang disertai putrinya Kang Ching Wie. Kecantikan Wie menggedor asmara Jaya Pangus. Kendati mendapat tentangan dari para penasihat istana, Jaya Pangus nekat memperistri Kang Ching Wie. Hanya, perkawinan Bali-Cina itu tak dikarunai keturunan. Jaya Pangus meninggalkan istrinya berkelana dan bertemu dan jatuh cinta dengan Dewi Danu. Dari pertemuan asmara dengan Dewi Danu lahir seorang anak laki-laki bernama Mayadanawa. Pada akhir cerita, Jaya Pangus dan Kang Ching Wie yang kembali bersatu, dikutuk oleh Dewi Danu menjadi patung.
Perkawinan antar bangsa yang dikaitkan dengan keberadaan Barong Landung itu, digarap dengan memadukan seni teater, tari, dan musik. Keseluruhan adegan diuntai dengan narasi (bahasa Inggris) Jro Dalang yang berkisah kepada seorang bocah. Diawali dengan penggambaran kehidupan rakyat Bali yang aman dan makmur. Segerombolan bebek yang berenang dituntun pengembalanya di bibir depan panggung, menggarisbawahi harmoni kehidupan yang nyaman dan damai. Jaya Pangus (muncul naik gajah) dilukiskan sebagai seorang raja yang arif bijaksana. Adegan berikutnya adalah kehadiran saudagar Tiongkok dengan kapal besar penuh muatan barang untuk dibarter dengan hasil bumi tanah Bali. Sang Saudagar menawarkan kain sutra, keramik, dan juga uang kepeng. Dari atas kapal juga diturunkan binatang macan, ular, burung elang dan jerapah.
Adegan perkawinan Raja Jaya Pangus dengan Kang Ching Wie dimeriahkan dengan penampilan secara bergantian dan atau bersamaan kesenian Bali dan Tiongkok. Barong Ket dan Barong Sai, ditampilkan bersamaan saling berjingkrak riang merayakan kebahagiaan perkawinan dua budaya. Dari kegembiraan, penonton kemudian disajikan adegan nestapa Jaya Pangus berkelana. Tata lampu yang dominan ungu dan biru mengantar tampilan mahluk-mahluk aneh dan monster-monster yang menyeringai seram, mengernyitkan fantasi alam gaib. Dalam buaian alam gaib inilah Jaya Pangus bercinta dengan Dewi Danu dan melahirkan Mayadanawa. Lepas dari alam gaib, Jaya Pangus dan Kang Ching Wie, dikutuk Dewi Danu, menjadi patung laki dan perempuan. Sepasang patung tinggi besar, muncul tiba-tiba di tengah arena pentas diantar dengan kepulan asap. Di latar belakang juga hadir gunung menjulang diapit candi bentar. Mayadanawa menjadi penerus dinasti raja Bali. Selesai. Penonton bertepuk. Terpukau.
Sungguh memesona. “Bali Agung“ yang sarat dengan trik dan spectacle kiranya memang dirancang sebagai sebuah tontonan megah dan menggugah namun ringan dan menghibur. Tepatnya, “Bali Agung“ berangkat dari konsep seni pertunjukan wisata yaitu sarat variasi, padat, dan disajikan secara menarik. Berbeda dengan seni pentas turistik seperti Barong dan Kecak misalnya, sebagai art by metamorphosis yang kental dengan nuansa magis, simbolis dan sakral–merupakan peniruan aslinya, “Bali Agung“ tampaknya adalah sebuah konstruksi selera estetik profan global dalam bingkai berukir ornamentik lokal Bali. Dalam konteks ini, idealisme dan gagasan progresif para senimannya diberi ruang luas, tetapi hasrat-hasrat dan orientasi ekonomi (pariwisata) juga dikalkulasi dengan cermat. Namun tak dipungkiri, “Bali Agung“ adalah “gebrakan agung“ dunia seni kita dan mudah-mudahan jua memuliakan martabat para senimannya.
Kisah Cinta Bali Kuno Dalam Pentas Wisata Bali, selengkapnya