by admin | Jul 15, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ari Wirawan, Mahasiswa PA Seni Karawitan ISI Denpasar
Penulis : Linus Suryadi AG
Edisi Pertama : Cetakan Pertama, 1993
Penerbit : Andi Offset, Yogyakarta 55281
Percetakan : Andi Offset
Pusat Penjualan : PT. Andi Pratita Trikarsa Mulia Jakarta Barat 11510
Candi Borobudur Dan Sekolah Abad 8-10 Di Jawa
Candi Borobudur yang di angap salah satu dari 10 kaajaiban dunia, dengan jelas memperlihatkan bahwa nenekmoyangetnik jawa bukan hanya bangsa ketengan. Sejumlah setudi arkiologi dan sejarah dan arsitektur ikut menterjemahkan prestasi yang berprestasi tingi itu. Gandrebangsa berperadaban tinggi dan besar yang di bangun atas dasar wangsa-wangsa pernah menjadi model terbaik dan modal bagi usaha konsultasi dan dinamisasi ini.
Belum lagi jelas wangsa sriwijaya atau wangsa medang kamulan yang membangun candi merah dan agung itu, ketika wangsa pertama di kabarkan berpusat di Sumatra dan wangsa kedua berpusat di jawa tengah, tetapi sebuah hipotensa sudah pula di ajukan. Sebagian candi prambanan di bagun oleh wangsa sanjaya yang berpusat di kraton baka, maka hal itu berarti bangunan tersebut tidak jauh dari pusat kekuasaan dan pemeritah. Agaknya demikian pula dengan candi Borobudur yang di bangun oleh wangsa Cailendra yang berpusat di jawa tengah. Akan tetapi, hipotera pembangun candi Borobudur yang berpusat di lokasi tertentu dik kawasan ini, nasibnya selalu di gugurkan oleh bencana alam letusan gunung merapi yang berulang, sehinga bukti arkiologi menghendaki pengalian lokasi secara besar-besaran.
Dan konon lokasi-lokasi tmpat berdirinya kemegahan peradaban bhuda di tanah jawa pada lebih dari 10 abad yang lampau itu, berkat timbunan erosi gunung merapi, akibatnya berada jauh lebih rendah lokasinya ketimbang permukaan tanah jawa abad 20. Demikianpun sekolah-sekolah Zaman kebudan, yang memunkinkan keberadaban Budha di kawasan ini dapat tumbuh dapat berkemgang baik sera subur, berda sayu penambang lapisan tanah, sama dengan banguna kraton medang kamulan. Untuk konteks ini dipakai konpensi sementara bahwa pembagunan candi Borobudur adalah wangsa cailendra, dan kraton kerajannya bernama medang kamulan.
Dusun sebagi lokasi sekolah budha yang kini bernama jetiskadi sobogo, walaupun bentuk dan gambarannya dusun pada waktu kini, namul lokasinya berda di bawah permukaan tanah masa kini, berna,ma dusun giridanda. Sedang jabatan selaku derektur sekolah pada masa itu di sebut gurudhama maharesh, namanya sudapala.
Budaya Religi Komunitas Jawa
Dalam komunitas jawa, yang mulai entah sejak abad sebelumnya masehi atau sesudah masehi actual. Ritus yang berhubungan dengan peristiwa kehidupan manusia tersebut mengambil titik-titik poros incidental, titik-titik secara turun temurun diangap mempunyai makna penting dan makna vital, sebagai inti kejadian pada deminsi wakyu dan deminsi ruang. Dari kejadian insidental yang bermakna penting dan pital itulah suatu tanda hidup bermula dan berahir ketitik tanpa ujung.
Adapun titik poros incidental ini menyankut awal dan ahir manusia ada di dunia, dan di tengah-tengah proses tersebut ritus pelengkap yang berpariasi jenis dan jumlahnya.
komunitas jawa, manakala dunia dan hidupnya tergelar terpapar, berbabai ritus hidup diad Dari rentang waktu lahir sampai meningal dunia bagi seorang manusia dalam kompensi akan. Ritus dalam pergelaran hidup tersebut banyak ragamnya, dari yang pital sampai kecabang dan rantingnya. Hal itu untuk memenuhi krenteg dan karep, niat dan kehendak, didalam angapandan tangapan dunia bahwa pada dasarnya hidup manusia itu sacral. Dari asal usunlnya yang sacral, bereksistensi di dunia yang sacral,pada giliranya kembali kea lam sacral pula. Dari asal usulnya yang tanpa dimensi ruang dan tanpa dimensi waktu, masuk kedalam tahap kesadaran hidup yang terbinkai ruang dan dimensi waktu, ahirnya pun balik kedemensi tanpa ruang dan demensi tanpa waktu, alias demensi ruang waktu yang tungal.
Buduya Keris Pusaka
Pada sebuh keluarga jawa masa kini, manakala kehidupanya masih sedikit punya konfensi tradisi keluaraga jawa, maka dam simpanan lemarinya dapat diduga bahwa keluarga jawa itu punya keris pusaka. Di desa dan di kota, keluarga miskin dan kaya, di keluarga priyayi dan petani, di keluarga pejat dan pedagang, tidak menjadi soal. Pada semua jenjang predikat dan pankat. Tinkat soal dan ekonomi, dan semua lapisan budaya masyarakat, pihak-pihak tersebut mennyimpan prianti hidupberupa pusaka. Namun sebuh periode zaman, manakala pengertian mengenai filsapat kebudayan jawa dihayati kongkrit, tidak selamanya mempunyai tempat disegala bidang kehidupan dan sendi-sendi konfensi tradisi keluarga jawa pun mengalami pengendoran. Karena, itu kini “hanya” dalam sebuah keluarga jawa yang yang tebal maka dalm sipanan lemarinya dapat dipastikan bahwa keluaraga jawa itu punya keris pusaka.
Resensi Buku: Regol Mengal Mengol Fenomena Kosmogoni Jawa, selengkapnya
by dwigunawati | Jul 15, 2011 | Berita, Galeri
Penata
Nama : I Komang Teja Ambara
NIM : 2007.02.004
Program Studi : Seni Karawitan
Sinopsis :
Air merupakan sumber kehidupan bagi semua mahkluk hidup yang membuat lingkungan menjadi asri. Akibat dari pergeseran jaman, membuat aliran air yang mengalir di sungai menjadi tidak tetap atau mengalami pasang surut. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor kehidupan kehidupan warga seperti : penebangan pohon liar yang mengakibatkan hutan menjadi gundul, sehingga air pun tidak mendapat resapan di daerah pegunungan. Aliran air sangat mudah membesar bahkan menyebabkan terjadinya banjir bandang. Fenomena air diatas menjadi sumber inspirasi untuk dikemas kedalam suatu bentuk penciptaan komposisi karawitan inovatif dengan judul “Nyat Mancuh”
Pendukung Karawitan : Mahasiswa semester II & VI Jurusan Karawitan FSP, ISI Denpasar.



by admin | Jul 15, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Made Dwi Andika Putra, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Oleh : Drs.K.M. Suhardana
Penerbit : “ PARAMITA”
Cetakan Pertama : Tahun 2006
Kata “Arya” menurut P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson dalam “Kamus Jawa Kuno Indonesia” diartikan sebagai “terhormat, terpandang, mulia atau ningrat,” sedangkan kata “Nararya” diartikan sebagai “yang mulia diantara orang-orang keturunan ningrat. Sementara itu kata Nararya sering kali dicantumkan di depan nama diri. Dengan demikian menjadi jelas bahwa Nararya di depan nama seseorang menunjukkan bahwa orang tersebut adalah keturunan raja, keturunan ningrat atau orang yang terhormat, mulia atau terpandang. Pemakaian gelar Arya sebenarnya sudah berjalan sejak jaman Bali Kuno ketika Raja Ugrasena Berkuasa (tahun 882 M), demikian juga pada waktu Raja Kesari Warmadewa memerintah (tahun 913 M). Jayakaton yang pada tahun 907 menjadi Patih Raja menurunkan Arya Rigih, kemudian Arya Rigih melahirkan Arya Rigis yang selanjutnya menurunkan Arya Kedi. Berikutnya Arya Kedi menurunkan Arya Karangbuncing. Kemudian pada jaman Airlangga (tahun 1019 M) pun gelar Arya juga sudah dipergunakan. Sri Airlangga sendiri dari isterinya seorang putri gunung menamakan putranya Arya Buru atau Arya Pangalasan atau Arya Timbul.
Dalam sejarahnya memang penggunaan gelar Arya itu menjadi semakin meluas setelah jatuhnya Kerajaan Kadiri ke tangan pasukan Majapahit. Sejak jatuhnya Kerajaan Kadiri, keturunan Sri Jayakatwang dan orang-orang Kerajaan Kadiri tidak lagi memperoleh kepercayaan. Semua pejabat yang semula dipegang orang-orang Kadiri diganti dengan orang-orang Majapahit. Raja Kadiri Sri Sastrajaya (tahun 1258-1271M) yang kedudukannya diganti oleh Jayakatwang turut menerima kekalahan itu dan mendapatkan gelar baru sebagai Arya Kadiri dan lazim disebut Ksatriyeng Kadiri atau Ariyeng Kadiri. Semua keturunan dan sanak saudaranya juga memperoleh gelar atau julukan yang sama. Gelar Arya atau Ksatria itu tidak saja diberlakukan bagi keturunan Raja Kadiri, tetapi juga bagi keturunan bekas Kerajaan Kahuripan. Karena itu disamping Arya Kadiri ada pula Arya Kahuripan. Ada Kesatiyeng Kadiri ada Kesatriyeng Kahuripan. Tidak itu saja, mantan Raja-raja dan keturunannya dari kerajaan-kerajaan kecil bekas daerah kekuasaan Kerajaan Kadiri maupun Kahuripan pun memperoleh gelar atau julukan yang sama. Gelar Arya diberikan juga kepada mereka yang kawin nyeburin (nyentana) dengan keturunan Kesatriyeng Kahuripan yang sudah menyandang gelar Arya. Misalnya Ida Bang Banyak Wide (wangsa Brahmana) yang kawin nyentana dengan Ni Gusti Ayu Pinatih putra Arya Beleteng (wangsa Arya) beralih kewangsaannya dari Brahmana menjadi Arya. Itulah sebabnya mengapa Ida Bang Banyak Wide menurunkan wangsa Arya Wang Bang Pinatih atau I Gusti Pinatih.
Di Bali, kata Arya yang berarti juga ksatria ini diterjemahkan menjadi Gusti. Bahkan keturunan para Arya sendiri semisal Pangeran, Kiyai dan lain-lain diberi julukan yang sama yaitu Gusti. Tidak jelas kapan julukan Gusti termaksud diberlakukan, namun dapat diduga ada keterkaitannya dengan gelar para Raja Bali yang oleh pemerintah colonial Belanda diatur berdasarkan Staatblad No. 226 tanggal 1juli 1929. ketika itu Raja-raja Bali diberi gelar Cokorda, anak Agung atau I Dewa Agung. Dari sinilah rupanya gelar atau sebutan Gusti itu menunjukkan jati dirinya sebagai pengganti kata Arya, Kiyai atau Pangeran.
Resensi Buku Babad Arya, Kisah Perjalanan Para Arya, Selengkapnya
by admin | Jul 14, 2011 | Uncategorized
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed blandit massa vel mauris sollicitudin dignissim. Phasellus ultrices tellus eget ipsum ornare molestie scelerisque eros dignissim. Phasellus fringilla hendrerit lectus nec vehicula. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. In faucibus, risus eu volutpat pellentesque, massa felis feugiat velit, nec mattis felis elit a eros. Cras convallis sodales orci, et pretium sapien egestas quis. Donec tellus leo, scelerisque in facilisis a, laoreet vel quam. Suspendisse arcu nisl, tincidunt a vulputate ac, feugiat vitae leo. Integer hendrerit orci id metus venenatis in luctus tellus convallis. Mauris posuere, nisi vel vehicula pellentesque, libero lacus egestas ante, a bibendum mauris mi ut diam. Duis arcu odio, tincidunt eu dictum interdum, sagittis quis dui.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam dictum egestas rutrum. Aenean a metus sit amet massa egestas vulputate sit amet a nisi. Sed nec enim erat. Sed laoreet imperdiet dui fermentum placerat. Donec purus mi, pellentesque et congue at, suscipit ac justo. Pellentesque et augue quis libero aliquam lacinia. Pellentesque a elit vitae nisl vulputate bibendum aliquet quis velit. Integer aliquet cursus erat, in pellentesque sapien tristique vitae. In tempus tincidunt leo id adipiscing. Sed eu sapien egestas arcu condimentum dapibus. Donec sit amet quam ut metus iaculis adipiscing eget quis eros.
Sed id dui dolor, eu consectetur dui. Etiam commodo convallis laoreet. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Vivamus vel sem at sapien interdum pretium. Sed porttitor, odio in blandit ornare, arcu risus pulvinar ante, a gravida augue justo sagittis ante. Sed mattis consectetur metus quis rutrum. Phasellus ultrices nisi a orci dignissim nec rutrum turpis semper. Donec tempor libero ut nisl lacinia vel dignissim lacus tristique. Etiam accumsan velit in quam laoreet sollicitudin. Mauris euismod lacus ut magna placerat ac molestie augue consequat.