M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Keberadaan Tari Pakarena Di Sulawesi Selatan

Keberadaan Tari Pakarena Di Sulawesi Selatan

Kiriman: I Gde Made Indra Sadguna, SSn., MSn., Alumni ISI Denpasar

Pendahuluan

            Keberadaan suatu jenis kesenian di Indonesia nampaknya tidak bisa dijauhkan dari cerita-cerita mitologi. Hal tersebut juga dapat dilihat pada sebuah kesenian dari daerah Sulawesi Selatan yakni tari Pakarena. Awal kemunculannya tidak dapat diperkirakan dengan pasti sebab hanya terdapat cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Konon diceritakan bahwa tari Pakarena berawal dari kisah mitos perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan-gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual saat penduduk lino menyampaikan rasa syukurnya kepada penghuni boting langi. Cerita lain menyebutkan bahwa tari Pakarena dihubungkan dengan legenda Tumanurung ri Tamalate sebagai Somba (raja) pertama kerajaan Gowa. Dikisahkan bahwa Pakarena pertama kali muncul bersamaan dengan Putri Tumanurung ri Tamalate. Menurut kisah, Pakarena merupakan pengiring dan pelengkap kebesaran Tumanurung ri Tamalate.

            Sebelum menjadi bentuk tari Pakarena yang sekarang, dahulu disebut dengan nama sere jaga yang berfungsi sebagai bagian upacara ritual sebelum menanam padi dan usai menanam padi. Para penari memegang seikat padi pilihan (padi bibit yang telah dipilih melalui upacara) yang dianggap dewi padi. Kemudian tari sere jaga berkembang menjadi bagian upacara ritual yang dilakukan semalam suntuk. Upacara tersebut antara lain: ammata-mata jene, ammata-mata benteng, dan lain-lain. Taripun mengalami perkembangan dalam bentuk penyajian dan piranti. Padi yang dipegang sekarang diganti dengan kipas.

Pertunjukan Tari Pakarena

            Secara garis besar pelaku pertunjukan tari Pakarena dapat dibagi menjadi dua, yakni penari dengan pemusik. Penari memperagakan gerakan yang sangat lembut dan halus yang dianggap sebagai cerminan wanita Sulawesi Selatan. Tarian ini dibagi ke dalam 12 babak, akan tetapi sangat sulit untuk mengidentifikasi pembabakan tersebut karena gerakannya tetap lembut dan monoton. Adapun beberapa gerakan yang menjadi penanda dalam tarian tersebut seperti gerakan pada posisi duduk adalah sebagai pertanda awal dan akhir dari tarian tersebut, dan ada gerakan berputar mengikuti arah jarum jam yang diibaratkan seperti siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi.

            Tiap jenis tari Pakarena mempunyai pola iringan yang harus diketahui oleh penari dan pemusik. Penyusunan iringan ditentukan secara kreatif oleh seorang sutradara yang disebut Anrong Guru. Dalam hal gerak, penari berpatokan pada penari terdepan sebelah kanan Anrong Guru yang disebut Pauluang. Selain itu, judul dan jenis tari Pakarena sangat ditentukan oleh nyanyian dalam tari tersebut. Nyanyian tersebut disebut Lelle dan Dondo. Misalnya Lelle dan Dondo Samboritta hanya akan dibawakan pada tari Pakarena Samboritta. Selain itu ada juga Kelong atau nyanyian yang disajikan berdasarkan pilihan anrong guru.

            Jika melihat aksi dari pemusik tari Pakarena maka akan terlihat suatu sajian yang sangat kontradiktif dengan tari. Para pemusik akan bermain dengan sangat kencang dan keras. Hal tersebut sangat nampak pada pemain gendang yang menghentakkan alat musik membranofon dengan sangat energik dan bersemangat secara sepintas terlihat tidak ada kaitannya dengan tarian. Ini merupakan cerminan dari kaum pria masyarakat Sulawesi Selatan yang keras dan tegas. Pemain gendang adalah pemimpin dari kelompok musik ini karena ia yang menentukan irama dan tempo dari jalannya suatu lagu. Ada dua jenis pukulan yang dikenal dalam tabuhan Gendang. Pertama, adalah pukulan Gundrung, yaitu pukulan Gendang dengan menggunakan stik atau bambu yang terbuat dari tanduk kerbau. Kedua adalah pukulan tumbu yang dipukul hanya dengan tangan. Selain instrumen gendang, adapun beberapa instrumen lainnya pada kelompok musik ini adalah gong, katto-katto, dan puik-puik. Khusus untuk pemain puik-puik (sejenis alat musik tiup menyerupai preret), harus memiliki keahlian meniup secara terus menerus (circular breathing) atau disebut juga dengan a’mai lalang.

Keberadaan Tari Pakarena Di Sulawesi Selatan, selengkapnya

Dosen ISI Denpasar Raih 15 Besar Dosen Berprestasi tingkat Nasional

Dosen ISI Denpasar Raih 15 Besar Dosen Berprestasi tingkat Nasional

Kiriman Hery Budiyana, Staf FSRD ISI Denpasar

ISI Denpasar dalam waktu dekat ini akan mengirim seorang dosen berprestasi untuk maju di tingkat Nasional, yaitu Tjok Istri Ratna Cora S, S.Sn., M.Si yang merupakan dosen Desain Interior FSRD ISI Denpasar. Beliau terpilih dalam daftar 15 besar Dosen Berprestasi tingkat Nasional. Tahap penjurian akan diadakan di Jakarta dari tanggal 14 hingga 16 Agustus 2011, dimana nantinya hanya akan dipilih 3 orang dosen berprestasi, besar harapan agar ISI Denpasar masuk dalam urutan tersebut. Kemudian tepat tanggal 17 Agustus 2011 beliau diundang oleh Presiden Republik Indonesia untuk berkunjung ke Istana Negara. Kebanggaan yang luar biasa dirasakan oleh seluruh pihak di lingkungan ISI Denpasar.

Pada hari Selasa (9/8) dalam kesempatan pertemuan di ruang rektor, Ibu Ratna Cora menyampaikan mengenai persiapan untuk keberangkatannya yang tinggal beberapa hari lagi, kemudian menyampaikan judul presentasi yang diangkat, yaitu “Produk Aksesoris Interior dan Fashion dengan Konsep Fullyhandpainted (lukis tangan keseluruhan) Berdasarkan Perpaduan dan Pencampuran Warna pada Media Tekstil sebagai Representasi Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Kontemporer”. Beliau mengungkapkan bawa lahirnya judul ini tidak terlepas dari keinginnannya untuk menwujudkan Think Locally and Act Globally dalam setiap karyanya. Dalam kesempatan ini Dekan FSRD, Ibu Rinu, sangat setuju dan mendukung pernyataan ibu Ratna Cora tersebut dan berharap agar dapat diaplikasikan dengan baik, berfikir secara lokal dengan tetap mempertahankan lokal genius kemudian mengaplikasikannya secara luas dan global. Pembantu Rektor I yang juga hadir dalam kesempatan ini juga memberikan masukan untuk selalu menyeimbangkan diri baik secara vertical; dengan bersyukur dan berdoa agar diberikan kemudahan, maupun secara horizontal untuk selalu berkompetisi dengan baik.

Pencapaian ini merupakan kebahagaiaan seluruh pihak baik beliau sendiri maupun seluruh civitas akademika di ISI Denpasar. Rektor ISI Denpasar, Prof I Wayan Rai S, M.A mengungkapkan beliau turut berbangga dan berterima kasih atas usaha dosen yang bersangkutan serta semua pihak yang telah mendukung, sehingga mampu meningkatkan pencitraan kampus ISI Denpasar, dan beliau berpesan untuk tidak mudah puas dengan pencapaian ini namun bisa lebih meningkatkan prestasi lagi, serta besar harapan agar hal ini diikuti oleh dosen-dosen yang lain.

Di luar pertemuan yang diadakan siang tadi ada beberapa masukan yang berdatangan dari teman serta pimpinan di FSRD ISI Denpasar yaitu bapak Olih Solihat Karso selaku Pembantu Dekan I FSRD, mengungkapkan bahwa Tjok Istri Ratna Cora S, S.Sn., M.Si merupakan dosen yang selalu haus akan keilmuwan serta tidak pernah berhenti berusaha serta dikenal juga sebagai orang yang memiliki personal approach yang baik. Harapan positif juga diucapkan oleh PD II FSRD ISI Denpasar yang mengungkapkan prestasi yang ditorehkan ini menunjukkan kualitas Dosen yang meningkat sehingga dengan sendirinya kualitas sumber daya mahasiswa pun turut meningkat. Semoga kedepannya prestasi yang mampu diraih oleh ISI Denpasar tidak hanya berhenti disini namun terus maju untuk meningkatkan eksistensi ISI Denpasar baik di tingkat nasional maupun internasional.

Seni Tradisi: Modal Budaya Membangun Karakter Bangsa Melalui  Rekonstruksi  Kreatif  Dan  Dekonstruksi  Kritis (Bagian I)

Seni Tradisi: Modal Budaya Membangun Karakter Bangsa Melalui Rekonstruksi Kreatif Dan Dekonstruksi Kritis (Bagian I)

Kiriman: Kadek Suartaya, S,S.Kar, M.Si., Dosen PS. Seni Karawitan, ISI Denpasar.

Disampaikan pada seminar dalam rangka kegiatan dies natalis dan wisuda tahun 2011

I. Optimisme-Pesimisme Jagat Seni

Segumpal kegundahan yang dilontarkan oleh seorang gadis belia dalam sebuah lomba pidato berbahasa Bali di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) 2011 yang baru lalu membuat penonton tertegun. Dalam pidatonya yang berjudul “Ngewangun Karakter Wangsa Melarapan Pesta Kesenian Bali”, dara belia duta Kabupaten Gianyar itu dengan intonasi galau mengungkapkan tergerusnya seni tradisi oleh hegemoni globalisasi. “Indayang cingak, aduh dewa ratu,  akehan mangkin kula wargane sane ngengebin selebriti ring tivi-ne. Jegegne Dewi Sita miwah Dewi Subadra sampun kalah baan I Luna Maya miwah Cut Tari. Bagusne Sang Arjuna taler doh kasub antuk Ariel Peterpan. Wayang kulit, sane dumun dados balih-balihan sane akeh micayang piteket lan suluh agama, mangkin sayan-sayan rered kakutang penonton. Sekulerisasi lan komersialsisasi ngancan ngicalang taksu  seni budaya druwene. Riantukan punika, ngiring mangkin lestariang  lan limbakang seni budaya  sami, angge ngewangun karakter wangsane“.

            Seni tradisi, karakter bangsa, dan globalisasi adalah ide, konsep, fenomena yang akan dipertautkan dalam paper kecil ini. Ketiganya dipertautkan untuk mengartikulasikan tentang peranan dan pentingnya seni tradisi sebagai alternatif pondasi karakter bangsa ketika kini berhadapan dengan keniscayaan gelombang globalisasi. Ada beberapa argumentasi, kenapa seni dipandang berkontribusi penting membangun karakter bangsa dan kenapa seni diketengahkan sebagai benteng jati diri bangsa di tengah era globalisasi ini. Sebab, seni adalah  gudang penyimpanan makna-makna kebudayaan. Budaya dan seni tradisi merupakan bagian integral dari kehidupan sosio-kultural-religius masyarakat. Tradisi merupakan akar perkembangan kebudayaan yang memberi ciri khas identitas atau keperibadian suatu bangsa … seni tradisi menyediakan bahan baku yang melimpah. Di Bali dan di Indonesia pada umumnya para seniman tidak membiarkan kesenian tradisi menjadi beku, dan untuk itu setiap generasi terus berusaha untuk melakukan inovasi terhadap kesenian tradisi milik mereka.

Sebagai  bagian dari kebudayaan, kesenian adalah salah  satu perlengkapan manusia dalam memenuhi kehidupannnya. Adalah  kehidupan akan  menjadi  gersang tanpa   kehadiran kesenian.  Akan  tetapi arti seni bagi nilai  kehidupan  tentulah lebih multidimensional.   Sepanjang sejarahnya   seni   memang mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Jika kebudayaan  dirumuskan sebagai gejala apa yang dipikirkan, menurut Mochtar Lubis, maka seni  merupakan  unsur yang amat penting  yang memberikan wajah manusiawi,  unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif,  irama, harmoni, proporsi dan sublimasi pengalaman manusia,  pada  kebudayaan. Tanpa nilai-nilai maka manusia akan jatuh menjadi binatang ekonomi atau kekuasaan belaka.

Seni sebagai gudang penyimpan makna-makna kebudayaan berarti di dalamnya mengkristalisasikan  pencapaian peradaban manusia pelaku utama kebudayaan itu yang terimplementasi dalam karakter bangsanya. Karakter bangsa dalam antropologi  dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut. Karakter bangsa adalah kualitas jati diri bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain. Karakter bangsa  Indonesia bersumber pada nilai-nilai kebangsaan yang kita miliki Karena itu, dalam konteks kehidupan kekinian, karakter sebuah bangsa dapat dieksplorasi dari nilai-nilai seni kebudayaannya. Konstruksi karakter bangsa itu kini kita sadari sebagai sebuah pondasi signifikan dalam kehidupan berbangsa di era kesejagatan ini. Carut-marutnya kehidupan berbangsa ditengarai disebabkan kelalaian membangun karakater bangsa. Soekarno dan Ki Hajar Dewantara telah jauh-jauh hari mengingatkan bangsa Indonesia tentang pentingnya karakter bangsa Urgensi perlunya pembangunan karakter bangsa itu, salah satunya dapat digali dan ditimba dari jagat seni. Seni tradisi sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berkarakter.

        Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk kesenian yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Meneropong jagat seni  dalam konteks globalisasi dewasa ini menghadapkan kita pada berbagai panorama masa depan yang menjanjikan berbagai optimisme, akan tetapi sekaligus pesimisme. Sebagai bagian dari peradaban global, masyarakat Indonesia pun kiranya sulit melepaskan diri dari arus transformasi budaya. Konsekuensinya adalah terjadi pergeseran-pergeseran nilai yang membawa dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan penghuni jagat ini, termasuk pada ekspresi artistik.

            Bagaimana dunia seni, seni tradisi khususnya sebagai representasi karakater bangsa mengaktualisasikan diri di tengah hegemoni globalisasi tersebut yang akan didiskusikan dalam kesempatan ini.  Pertama, dilema kultural seni tradisi di tengah tranformasi budaya yang dibawa gelombang globalisasi. Kedua, rekonstruksi dan dekonstruksi seni tradisi sebagai proses kreativitas seni membangun karakter bangsa. Kedua masalah tersebut, bahasannya akan mengacu pada suasana berkesenian, seni pertunjukan, di Bali.

II. Dilema Kultural Seni Tradisi

Seni tradisi yang pada hakikatnya merupakan representasi dari kebudayaan luhur, sejak dulu telah menjadi media pendidikan yang ampuh dalam membentuk karakter masyarakatnya. Di Bali, hampir dalam semua seni pertunjukan tradisi, selain berfungsi sebagai persembahan, juga berkontribusi penting mencerahkan karakter masyarakatnya. Saat menonton teater Topeng atau dramatari Gambuh di pura, penonton memperoleh spirit keagamaan dan siraman rohani. Ketika menonton Arja atau Drama Gong di Bale Banjar, masyarakat penonton menyerap nilai-nilai moral dan sosial yang berguna. Lebih-lebih bila menyimak pementasan Wayang Kulit, penonton akan dihidangkan ensiklopedi kehidupan yang semuanya patut dijadikan pegangan diri.

            Tetapi, masyarakat modern masa kini telah kehilangan orientasi hidup, terombang-ambing oleh centang perenang kusutnya zaman. Pergeseran budaya dan nilai-nilai mendistorsi pola pikir dan prilaku masyarakat kita. Guncangan budaya itu juga berimbas pada keberadaan lokal jenius yang terurai dalam ekspresi seni tradisi bangsa. Wayang Kulit yang dulu sangat karismatik di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, kini terpojok lunglai. Di tengah masyarakat Bali tempo dulu, wayang merupakan tontonan favorit yang begitu deras mengisi alam pikiran dan dunia nyata masyarakatnya. Pesan-pesan ceritanya diresapi cermat dan tokoh-tokoh idolanya dijadikan teladan serta identifikasi diri. Namun kini, pendidikan karakter yang diberikan oleh teater wayang dan seni tradisi kita itu telah rapuh dan mandul. Seni tradisi kita tergilas laju era kekinian.

            Tak kenal tak sayang. Kira-kira seperti itulah nestapa sebagian seni tradisi Bali di tengah masyarakat masa kini. Karena semakin tak dipedulikan, tidak sedikit kemudian bentuk-bentuk kesenian itu teronggok di pojok, hidup payah matipun pasrah. Komunitas pendukungnya pun tak lagi memiliki ikatan batin dengan nilai keindahan yang mungkin dulu pernah disanjung-sanjung dan dibanggakan.   Kini, bentuk-bentuk kesenian yang telah mengisi dinamika kehidupan masyarakat tersebut kian marginal dan langka. Pencapaian estetik yang pernah diraihnya tergerus tak terurus. Fungsi-fungsi sosial dan religius yang sempat diisinya terkikis. Makna-makna kultural dan filosofis yang dulu mengawalnya terpental entah kemana. Tragisnya, kesenjangan bentuk-bentuk kesenian itu dengan generasi muda, semakin lebar. Orientasi masyarakat kita di tengah gelombang globalisasi yang cenderung materialis-kapitalistik,  sungguh membuat butir-butir budaya itu tergelincir.

            Harapan untuk menyelamatkannya kembali memang belum sirna. Pesta Kesenian Bali (PKB) masih gigih menghadirkan kesenian tradisi, termasuk yang dikatagorikan tua dan langka. Bagi masyarakat umum, mungkin bentuk-bentuk kesenian langka tersebut terdengar asing, lebih-lebih di kalangan generasi muda masa kini. Gamelan Gambang misalnya yang dentang bilah-bilah bambunya kian sayup di tengah euforia ritual keagamaan, tak begitu banyak dikenali masyarakat karena ensambel tua itu sendiri memang hampir punah. Begitu pula mata air seni pertunjukan Bali, Gambuh, mungkin hanya dikenal oleh komunitas yang terbatas. Demikian pula halnya dengan Wayang Gambuh, lebih-lebih pernah menonton, bagi masyarakat masa kini, mungkin mendengar namanya pun agaknya baru kali ini.

Sekaratul maut memang sedang mengintai bahkan telah merenggut sebagian nilai-nilai tradisi, tersemasuk warisan kesenian tradisional Bali. Dialektika budaya global dan lokal sekarang ini cenderung menggiring masyarakat hanyut mengorbankan jati dirinya terdistorsi oleh dinamika budaya semu yang sedang menghegemoni. Seni-seni tradisi yang merupakan bagian integral dengan sosio-kultural-religius masyarakat, kini berona gamang, sebagian tertidur lelap.

Dis-apresiasi bukan hanya mendera kesenian yang telah tua dan kuyu, bahkan seni-seni tradisi primadona di tahun 1970-an pun telah semakin tak mendapat perhatian. Arja dan Drama Gong misalnya, telah kehilangan pamor. Pementasannya kian sulit dicari. Arena panggung pertunjukan di bale banjar pun semakin lengang dari pentas kedua teater itu. Ekspresi seni tradisi pada umumnya tampak kikuk berinteraksi dengan dinamika zaman. Masyarakat kekinian dimanjakan oleh beragam pilihan seni dan hiburan modern, salah satunya lewat presentasi televisi.

Komunalitas yang menjadi identitas masyarakat Bali dalam menghayati kehidupan lewat teks yang disajikan oleh kesenian tradisionalnya, ke depan, jika tak segera dibenahi, agaknya akan merenggang. Muatan nilai-nilai keindahan yang disuguhkan seni tradisi tak akan mampu lagi menularkan kebeningan nurani. Pesan-pesan moral yang diungkapkan seni tradisi tak kuasa lagi menerbitkan fajar budi masyarakat. Keberadaaan seni tradisi hanya dipandang sebagai seonggok hidangan basi. Seni tradisi hanya sekali-sekali dilirik sebagai ekspresi budaya yang kusut masai.

Penyelamatan dan aktualisasi terhadap bentuk-bentuk seni tradisi sudah sepatutnya diapresiasi. Sebab dalam seni tradisi tidak hanya merupakan kristalisasi estetik suatu rentangan zaman namun juga sarat dengan makna kultural. Kini, ditengah laju trasformasi budaya, keberadaan seni tradisi sebagai formulasi artistik kian redup dan sebagai pencatat makna budaya kurang dipedulikan. Perubahan budaya sebagai imbas dinamika kehidupan, berkontribusi besar pada cara pandang, pola berpikir, sikap hidup masyarakat, termasuk pada sikap masyarakat Bali masa kini dalam berinteraksi dengan keseniannya.

Bersambung

Menkominfo Resmikan Pusat Layananan Internet Kecamatan

Menkominfo Resmikan Pusat Layananan Internet Kecamatan

Senin, 8 Agustus 2011

Bandung – Kementerian Komunikasi dan Informatika meresmikan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) bergerak dan menyerahkan enam unit kendaraan PLIK kepada enam provinsi di Indonesia, di Halaman Gedung Sate Bandung, Senin.

Penyerahan tersebut dilakukan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring kepada enam, yaitu Gubernur Jawa Barat, Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Jawa Timur, Gubernur Sulawesi Utara, Gubernur Sumatera Barat dan Gubernur Maluku Utara.

Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) itu berupa kendaraan roda empat yang di dalammnya terdapat lima unit komputer jinjing (Laptop) yang sudah terhubungan dengan layanan internet, televisi dan sambungan telepon.

Pusat Layanan Internet Kecamatan itu dirancangan agar masyarakat di daerah bisa menikmati akses internet seperti masyarakat perkotaan.

“Mudah-mudahan dengan adanya PLIK ini tidak ada kesenjangan informasi antara masyarakat di daerah dan perkotaan,” ujar Tifatul Sembiring.

sumber : antaranews.com

Loading...