M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Undangan Peresmian Tugas Akhir (TA)

PENGUMUMAN

Nomor: 1229/IT5.1/DT/2011

Diberitahukan kepada Mahasiswa FSRD ISI Denpasar yang telah mendaftar Tugas Akhir (TA) Semester Ganjil 2011/2012 agar hadir pada:

Hari/Tanggal  :  Senin, 19 September 2011

Jam                 :  10.00 Wita

Tempat           :  Gedung PUSDOK ISI Denpasar

Pakaian          :  Atas Kemeja Putih Berdasi & Bawah Hitam

 

Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan.  Terima kasih.

Denpasar, 14 September 2011

A.n. Dekan

Pembantu Dekan I,

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

NIP.  196107061990031005

 

 

Undangan Peresmian Tugas Akhir

Kepada Yth.:  1. Seluruh Pejabat Struktural FSRD ISI Denpasar

2. Dosen Pembimbing TA

3. Senat Fakultas FSRD ISI Denpasar

 

Dengan hormat,

Dalam rangka Peresmian Tugas Akhir (TA) Semester Ganjil 2011/2012 FSRD ISI Denpasar, dengan ini kami mohon kehadiran Bapak/Ibu pada:

 

Hari/Tanggal : Senin,  19 September 2011

Pukul              : 10.00 Wita – selesai

Tempat           : Gedung PUSDOK ISI Denapasar

Demikian kami sampaikan, atas  perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

 

a.n. Dekan,

Pembantu Dekan I,

 

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

NIP. 196107061990031005

 

BALĀDHIKĀ

BALĀDHIKĀ

Penata

Nama                     : Agus Ary Andika

NIM                      : 2007.02.008

Program Studi       : Seni Karawitan

Sinopsis       :

Pada zaman penjajahan colonial Belanda peperangan demi peperangan terjadi diseluruh wilayahIndonesia, tak terkecualiBalidan Khususnya di Kerajaan Badung. Sikap Raja Badung yang tidak menunjukan tanda-tanda menyerah, dan memicu perang Puputan Badung pada tanggal 20 September 1906.

Semangat Puputan yang dimiliki oleh laskar Badung atau dikenal sebagai “Baladhika” yaitu pasukan perang yang gagah berani. Hal tersebut menhyentuh hasrat penata untuk mengungkapkan kedalam sebuah karya komposisi karawitan kreasi Beleganjur, Pelog Lima Nada, yang tetap berpedoman pada unsur-unsur tradisi seperti kawitan, pengawak, pengecet, atau pekaad. Dalam proses penggarapan ditonjolkan berbagai variasi pukulan seperti geguletan kendang, aksen-aksen kendang belik, gong bheri dan rebana yang ritmis, namun tetap berpijak pada unsur melodi dengan cita rasa yang harmonis, dan pukulan yang mantap, menggambarkan puputan Badung

Pendukung Karawitan  :

Mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar dan   Sanggar Rare Angon SMP N 2 Abiansemal  Desa Sedang, Badung.

 

 

 

 

 

 

“Pendet Mahardhika” Menggedor Keindonesiaan

“Pendet Mahardhika” Menggedor Keindonesiaan

Kiriman Kadek Suartaya, SSKar., Msi., Dosen PS. Seni Karawitan.

Senyum ramah tari Pendet yang diciptakan I Wayan Rindi (almarhum) pada tahun 1950, kerlingnya telah memantul ke mancanegara. Tetapi relakah Anda bila cipta seni bangsa Indonesia tersebut diklaim oleh bangsa lain?  Pagelaran “Pendet Mahardhika” yang disajikan serangkaian dengan HUT ke-66 Kemerdekaan RI, mencoba menggedor rasa kebangsaan kita. Sore (17/8) itu, menjelang upacara penurunan bendera Merah-Putih, 200 orang gadis remaja pelajar SMP dan SMA membawakan tari Pendet di Lapangan Alit Saputra, Tabanan. “Sebagai bangsa yang merdeka berdaulat, relakah kita dipandang sebelah mata oleh bangsa lain?” tegas narasi deklamatis yang menggarisbawahi awal pentas tari berdurasi tujuh menit itu.

            I Made Wardana, S.S.Kar, M.Si, konseptor dan penggarap artistik “Pendet Mahardhika” ini, mengungkapkan bahwa pesan yang ingin dilontarkan di tengah perayaan hari kemerdekaaan RI ke-66, terinspirasi oleh peristiwa tiga tahun terakhir tentang diklaimnya beberapa bentuk ekspresi artistik bangsa kita seperti Reog, batik, lagu Rasa Sayange, dan tari Pendet oleh Negeri Jiran Malaysia. Dibantu dua koreografer muda, Ida Ayu Priatna, S.Sn dan Komang Ari Wira Kandraniati, S.Sn, Made Wardana ingin menggugah rasa kebangsaan melalui dan dengan topik rasa cinta terhadap seni budaya bangsa sendiri. “Sadarilah, jagat seni negeri ini masih setia menjaga citra bangsa kita dan dalam gelanggang kesejagatan, dunia seni kita masih punya jati diri mengawal martabat bangsa Indonesia,” ujar alumnus ISI Denpasar ini dengan lugas penuh semangat.

Pada pertengahan Agustus 2009, tari Pendet tiba-tiba  mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Ini gara-gara ditampilkannya salah satu tari kreasi dari Pulau Dewata tersebut dalam iklan pariwisata negeri jiran Malaysia. Promosi Visit Malaysia Year yang sekelebat menghadirkan lenggang gemulai dan senyum manis empat penari Bali itu membuat masyarakat Indonesia gerah. Iklan pariwisata yang disebar gencar secara internasional itu ditengarai sebagai upaya Malaysia mengklaim tari Pendet sebagai seni budayanya sendiri.

            Banyak yang beropini pendakuan tari Pendet oleh Malaysia dipicu oleh kepentingan pragmatis-ekonomis, dalam konteks ini industri keparawisataan yang memang dikelola amat sungguh-sungguh negeri tetangga itu dengan mempromosikan  bangsanya sebagai  Truly Asia. Pendet sebagai salah satu tari Bali yang sudah sangat familiar menyongsong wisatawan mancanegara,  mereka pinjam tanpa permisi untuk pencitraan eksistensi nilai keindahan budaya. Tetapi karena tari Pendet–seperti juga Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, batik yang sebelumnya pernah didaku Malaysia—adalah ekspresi sub kebudayaan Indonesia, tentu saja  ulah dan sepak terjang bangsa serumpun itu tak etis bahkan diteriaki sebagai maling siang bolong.  Hasrat dan agresifitas kapitalisme dunia pariwisata rupanya membuat Malaysia kehilangan urat malu.

            Namun isu tari Pendet dalam iklan pariwisata Malaysia itu justru berhasil menggugah bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Bali, akan keberadaan seni budayanya. Masyarakat Indonesia kebanyakan menjadi mulai benar melafalkan nama tari dari pulau Bali ini. Masyarakat Bali yang kurang begitu akrab dengan seni tari jadi ingin tahu sosok tari Pendet itu. Nama sang pencipta tari itu, I Wayan Rindi, kini menjadi agak dikenal. Wacana yang mengarah pada kesadaran akan seni budaya bangsa yang muncul dalam representasi media massa terasa begitu hangat dengan semangat sarat kepedulian.

Sumber inspirasi lahirnya tari Pendet adalah sebuah ritual sakral odalan di pura yang disebut mamendet atau mendet. Prosesi mendet  berlangsung setelah pendeta mengumandangkan puja mantranya dan dan seusai pementasan  topeng Sidakarya—teater sakral yang secara filosofis melegitimasi upacara keagamaan. Hampir setiap pura besar hingga kecil di Bali disertai dengan aktivitas mamendet. Tari ini dibawakan secara berpasangan atau secara masal oleh kaum pria dan wanita dengan membawakan perlengkapan sesajen dan bunga.

 Pendet sebagai tari selamat datang kini telah menabur bunga perdamaian, menjalin komunikasi estetik di tengah pluralitas bangsa Indonesia dan dalam mulikulturalitas masyarakat dunia. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tari berkarakter wanita ini cukup intim dengan peminat tari Bali. Demikian pula di luar negeri, tari Pendet bak menjadi identitas seni pertunjukan Bali.  Lewat doa dan persembahan semerbak bunganya, tari Pendet telah merajut harmoni dan menjadi jempatan toleransi dalam realita kebhinekaan kita mengapresiasi suatu ekspresi kesenian.

            Kesenian adalah keseharian masyarakat Bali dan seni jua merupakan kristalisasi kebudayaan. Karena itu, gelora kebangsaan kita  juga dapat disulut melalui media khasanah kesenian bangsa. Tengoklah kembali penampilan tari “Pendet Mahardhika“, mempesona secara artistik dan menggedor cinta keindonesiaan kita. Dibawah pandangan  ribuan penonton, hamparan para penari Pendet itu tampak bak puspa ragam bunga di sebuah taman yang indah. Puncaknya adalah ketika seluruh penari berleret membuat konfigurasi, 100 penari berjongkok dengan lembaran kain putih dan 100 penari bendiri dengan lembaran kain merah, disatukan menjadi bendera Merah-Putih kolosal. Adegan menggetarkan tersebut ditegaskan dengan narasi: Jayalah negeriku, mulialah tanah airku, majulah Indonesiaku, Sang Merah Putih benderaku,  rakyat Idonesia siap membelamu!

“Pendet Mahardhika” Menggedor Keindonesiaan, selengkapnya

Loading...