Pengumuman Pengambilan Piagam Diklat PMW ISI Denpasar Tahun 2011
Pengumuman Pengambilan Piagam Diklat PMW ISI Denpasar Tahun 2011 : Klik disini
Pengumuman Pengambilan Piagam Diklat PMW ISI Denpasar Tahun 2011 : Klik disini
Kiriman: I Putu Agustino, PS. Kriya Seni ISI Denpasar.
Alam lingkungan merupakan sumber imajinasi yang tak pernah habisnya dijadikan sumber inspirasi dalam berkarya seni. Sumber ide tersebut tidak saja terbatas pada alam binatang dan tumbuhan, melainkan juga alam manusia. Penciptaan karya seni sesungguhnya tidak lepas dari adanya pengaruh lingkungan, pengalaman fisik, pengalaman batin dan peristiwa menakjubkan yang dialami oleh seniman itu sendiri. Peristiwa dan pengalaman tersebut akan mengendap dan direnungkan kembali sehingga memunculkan endapan pengalaman estetis, selanjutnya diinterpretasikan ke dalam bentuk karya seni kriya yang melahirkan simbol-simbol yang dapat mewakili perasaan dan kepribadian dari pencipta. Dalam hal ini pencipta tertarik dengan anatomi tubuh manusia yang dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam berkarya seni.
Tubuh/anatomi manusia masing-masing memiliki peranan yang sangat penting dalam aktivitas manusia itu sendiri, bisa dilihat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Anatomi tubuh manusia dilihat dari bentuk dan susunannya, terdiri dari potongan-potongan bagian tubuh yang memiliki keterkaitan hubungan organ. Bila ditelaah satu persatu, organ dan tubuh manusia sangat kompleks, memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya antara organ yang satu dengan yang lain. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki antar bagian tubuh manusia dimulai dari bagaimana bentuknya, jaringan-jaringan yang menyusunnya, fungsi serta cara kerja masing-masing (Syaifuddin, 2009: 5).
Cara untuk menelaah setiap bagian tubuh manusia dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Secara umum, untuk menelaah keunikan bentuk anatomi tubuh manusia dengan melakukan pengamatan yang seksama, untuk mendapatkan detail variasi dari tiap bagian. Sedangkan untuk mengetahui sel-sel serta jaringan-jaringan susunannya dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskop serta melalui pembacaan hasil radiologi atau city scan.
Pemilahan tiap bagian tubuh dengan cara membedakan berdasarkan sistem yang terdapat dalam tiap bagian tubuh juga dapat mempermudah dalam mempelajari tiap detail tubuh manusia. Misalnya, sistem tulang dan otot (muskuluskeletal) membawa kita bagaimana susunan anatomi tulang-tulang serta otot yang dimiliki oleh manusia. Sebagai mekanisme pertahanan diri, manusia memiliki lapisan kulit palimg luar yang disebut dermis untuk melindungi susunan maupun organ yang berada di dalamnya dari berbagai benda asing yang bisa merusak tubuh manusia. Secara umum, tubuh manusia ideal adalah memiliki tinggi kurang lebih sama dengan 8 kali ukuran panjang kepalanya, atau 8 kali jarak dari siku ke ujung ketiak. Posisi selangkangan kurang lebih adalah titik tengah dari tinggi manusia dewasa. Panjang bentangan lengan seseorang kurang lebih sama dengan lebar panggulnya. Panjang bentangan kedua lengan, dari ujung jari paling kiri ke ujung jari paling kanan sama dengan tinggi tubuh. Panjang tapak kaki seseorang sama dengan panjang lengan bagian bawahnya. Lebar maksimum bentangan dada seseorang kurang lebih sama dengan seperempat tinggi tubuhnya. Lebar telapak tangan kurang lebih sama dengan 4 jari. Panjang kaki seseorang kurang lebih sama dengan 4 kali lebar telapak tangannnya. Lebar kepala kurang lebih sama dengan 4-5 kali lebar mata. Panjang kepala (dari akar rambut sampai bagian bawah dagu) kurang lebih sama dengan satu jengkal tangan. Panjang kepala seseorang kurang lebih sama dengan 3 kali jarak dari ujung dagu ke hidung. Jarak antara mata kiri dan kanan sama dengan lebar mata. Tinggi telinga sama dengan jarak dari ujung mulut ke ujung mata. Lebar bagian bawah hidung sama dengan lebar mata. Lebar mulut saat terkatup sama dengan jarak antara 2 bola mata atau lebar mata. Panjang wajah seseorang kurang lebih sama dengan 3 kali panjang telinga atau 3 kali jarak antara ujung kening ke alis. (http://andreasap.multiply.com/journal/item/3)
Dengan mengamati karakter dan keunikan yang dimiliki tubuh manusia, yang tercermin dalam prilaku manusia masa kini, maka pencipta tersentuh dan tertarik untuk memvisualisasikan ke dalam bentuk karya seni kriya, yang lebih menekankan karakter bentuk anatomi tubuh manusia itu sendiri. Bentuk anatomi tubuh manusia yang dijadikan objek seperti: kepala, kaki, badan serta organ yang lain diolah dengan menerapkan elemen-elemen seni rupa seperti: garis, bidang, ruang, warna dan tekstur tanpa meninggalkan prinsip-prinsip estetika. Karya seni yang terwujud merupakan hasil kreativitas pencipta yang dikembangkan dengan mendeformasi bentuk yang dipersepsi dan interpretasi, sehingga memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri, ditampilkan dalam bentuk dua dimensi dan tiga dimensional.
Perwujudan karya diungkapkan lewat simbol-simbol terkait dengan perilaku manusia masa kini. Hal ini dicermati melalui gejala dan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Manusia selalu mengejar keinginan yang bersifat praktis atau sesaat, tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkan lebih lanjut.
Sumber Ide penciptaan
Penciptaan karya kriya seni, seperti yang telah disebutkan di atas yaitu mengambil sumber ide dari anatomi tubuh manusia yang diwujudkan lewat simbol-simbol terkait dengan tingkah laku manusia sekarang. Dalam memvisualisasikan anatomi tubuh manusia tersebut diungkapkan lewat pendeformasian bentuk.
Deformasi merupakan penggambaran bentuk yang menekankan pada interpretasi karakter, mengubah bentuk anatomi tubuh manusia dengan cara menggambarkan objek tersebut, yang dianggap mewakili, atau pengambilan unsur tertentu yang mewakili karakter hasil interpretasi yang sifatnya sangat hakiki (Dharsono, 2007: 38)
Dalam mewujudkan sumber ide di atas, karya kriya yang akan dibuat dapat dibagi menjadi dua bentuk yaitu, karya kriya yang bersifat kriya seni (art) dan karya kriya terapan (applied art). Karya kriya seni akan disusun dengan komposisi vertikal dan horizontal yang mentransformasikan tingkah laku manusia sesuai dengan bentuk anatominya yang diungkapkan lewat simbol-simbol sebagai refleksi sifat-sifat manusia panda jaman sekarang. Karya kriya fungsional, yang akan dibuat memiliki nilai pakai dan sifat praktis, ekonomis, efisien, ergonomis dengan orientasi produksi.
Mengingat luasnya permasalahan yang dihadapi dan agar tidak terjadi salah penafsiran tentang tema, sangat penting untuk melakukan penegasan sekaligus untuk membatasi permasalahan. Dalam mewujudkan karya kriya seni yang bertemakan “Anatomi Tubuh Manusia sebagai Objek Penciptaan Kriya Seni”. Dalam pengambilan objek tersebut pencipta membatasi pada bagian anatomi seperti kaki, badan, kepala dan organ menarik lainnya yang diungkapkan lewat simbol-simbol terkait dengan perilaku kehidupan manusia masa kini, yang selalu mengejar kepentingan praktis tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh perilakunya tersebut. Manusia memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menciptakan berbagai peralatan yang membuat segala sesuatunya menjadi praktis. Seperti perkembangan berbagai kendaraan bermotor begitu pesat yang diciptakan sebagai duplikasi dan perpanjangan dari kaki manusia. Manusia mengejar kepentingan praktis untuk menuju suatu tempat tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan seperti polusi udara yang meningkatkan resiko global warming.
Anatomi Manusia Sebagai Objek Penciptaan Kriya Seni selengkapnya
Penata
Nama : I Wayan Suwintara
NIM : 2007.02.007
Program Studi : Seni Karawitan
Sinopsis :
Manusia terlahir kedunia memiliki garis-garis kehidupan sesuai dengan kehendak Hyang Maha Kuasa. Manusia sebagai mahkluk Tuhan, memiliki kelebihan dalam menyikapi segala fenomena yang terjadi. Garis kehidupan penuh dengan warna-warni, sifat-sifat sebagai pemeran dalam drama universal. Grunyam, mewakili sifat anak manusia yang selalu ingin tahu, dinamis, enerjik, apatis, dalam menatap masa depan.
Pendukung Karawitan : Sekaa Gong Dhama Kusuma, Br. Pinda,Saba, Blahbatuh, Gianyar
Kiriman: Kadek Suartaya, Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.
Pengakuan dan penghargaan Pemda Bali kepada seseorang atau kelompok orang yang telah berkarya dan mengabdikan hidupnya untuk dunia seni ditandai dengan penganugrahan piagam yang bernama Dharma Kusuma. Apresiasi pemerintah terhadap dedikasi para seniman ini, Minggu (14/8) lalu, misalnya, ditunjukkan oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika serangkaian dengan HUT Pemda Bali ke-53. Di antara 18 piagam yang diserahkan gubernur Bali itu, terdapat sebuah penghargaan untuk seniman pedalangan. Piagam untuk seniman pengabdi wayang kulit ini terasa mengetuk rasa haru, mengingat semakin tergerusnya wibawa teater boneka pipih dua dimensi ini di tengah masyarakat Bali masa kini.
Dulu, wayang kulit adalah pertunjukan favorit masyarakat. Masing-masing daerah di Bali mengembangkan kekhasan bentuk dan gaya pementasannya. Kendatipun berangkat dari sumber cerita yang sama, Ramayana dan Mahabharata, ornamentasi fisik wayang kulit Bali bervariasi, seperti berukir rumit halus di Bali Selatan dan sebaliknya agak polos di Bali Utara. Namun bagaimana pun bentuk estetik fisik wayangnya dan gaya artistik pementasannya, yang pasti, di masa lalu, pementasan wayang kulit begitu mempesona penonton. Penyajiannya dicermati penonton mulai dari kotak wayang dibuka oleh dalang hingga wayang kayonan ditancapkan pertanda pertunjukan usai. Cerita yang dikisahkan merasuk ke relung hati.
Tetapi kini, kelaziman penyebutan nama desa asal domisili para dalang terkenal tidak terdengar lagi. Sebutan Dalang Sukawati (Gianyar), Dalang Bongkasa (Badung), atau Dalang Tunjuk (Tabanan) misalnya, sudah tak bergaung lagi. Kendati di kantong-kantong seni pedalangan Bali itu wayang kulit masih dirawat, namun sebagai seni tontonan yang sarat tuntunan, seni pertujukan bayang-bayang ini telah terdepak ke pinggir. Amat menyedihkan, belakangan, sebuah pertunjukan wayang hanya ditunggui segelintir orang. Masyarakat kekinian tak sempat lagi mengunyah-ngunyah lezatnya cerita atau saripati kehidupan yang dituturkan sajian wayang. Fenomena surutnya pementasan wayang terjerembab hampir di seluruh Bali.
Namun, walaupun mendung pesimisme membayang-bayangi kelir (layar) wayang, sebagian seniman pedalangan Bali masih bersiteguh menggeluti keseniannya. I Wayan Nartha, 69 tahun, di Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar, adalah salah satu dalang desa setempat menunjukkan totalitas hidupnya untuk teater wayang kulit. Karenanya, sangat pantas bila Dalang Wayan Nartha menjadi salah satu penerima piagam Dharma Kusuma tahun 2011 tersebut. Selain pantas, penghargaan ini sangat bermakna menyemangati para seniman pedalangan dan sekaligus menggedor masyarakat untuk kembali mengapresiasi wayang. Lebih-lebih bila mengingat arti penting kesenian ini sebagai seni pertunjukan adiluhung yang telah diakui Unesco, PBB, sebagai warisan budaya dunia.
Wayan Nartha adalah kakak kandung Dalang “Jengki” I Ketut Madra (almarhum). Sejak Madra meninggal pada tahun 1979, Nartha meneruskan profesi keluarganya sebagai pelaku seni pertunjukan wayang, menjadi dalang. Ketika pertunjukan wayang kulit masih mengundang antusiasisme penonton, tahun 1980-an, Dalang Nartha sering diundang pentas di tengah masyarakat Bali, baik ngewayang untuk tontonan maupun tampil dalam konteks ngayah ngewayang saat ritual keagamaan. Sebagai wujud pengabdiannya pada jagat wayang, Dalang Nartha membuat sendiri wayang yang dimainkannya. Di rumahnya, dalang yang sempat melawat ke Jerman, Jepang, dan Australia ini, kesehariannya banyak diisi dengan mengukir atau mengecat wayang buatannya.
Keteladanan Dalang Nartha yang juga patut diapresiasi dan dikagumi di tengah surutnya pertunjukan wayang adalah ketulusannya berbagi ilmu, membina generasi penerus seni pedalangan. Tanggung jawabnya mewariskan seni pedalangan pada keturunannya telah mengalir secara alamiah. Salah satu anaknya (Ketut Sudiana) dan dua orang cucunya (Natya dan Gus Dian) telah menapaki jejaknya sebagai dalang. Selain pengkaderan di lingkungan keluarganya, Dalang Nartha juga dengan penuh kesungguhan membina siapa pun dan dari mana pun orang-orang yang datang kepadanya. Bahkan peminat teater wayang dari luar negeri pun dibinanya dengan serius. Maria Bodmann, seorang pemain teater dari Amerika Serikat, telah berhasil dicetaknya menjadi dalang yang kini sudah sering pentas di negerinya.
Kaderisasi seperti yang telah diayunkan oleh Dalang Nartha tersebut patut diberi perhatian dan sangat urgen dilakukan pada seni pedalangan Bali. Sebab, di tengah masyarakat Bali, dalam konteks sosial-religius, kesenian ini masih fungsional walaupun sebagai presentasdi estetik ia kini mungkin tereduksi oleh beragamnya pilihan tontonan modern, televisi utamanya. Juga, sebagai ekpresi artistik, teater total yang telah muncul pada abad ke-11 ini perlu diselamatkan, direvitalisasi, dan ditransmisikan pada generasi mendatang. Tapi masalahnya adalah seni mendalang yang memerlukan kemampuan multiseni ini langka peminat. Di lembaga pendidikan formal yang memiliki jurusan seni pedalangan selalu cekak murid atau mahasiswa.
Krisis yang kini mendera seni pedalangan sangat mengkhawatirkan. Diperlukan kesadaran semua pihak, termasuk pemerintah, untuk menanggulanginya. Penanggulangannya, rupanya, tidak cukup hanya berupa apresiasi simbolik selembar piagam saja melainkan suatu komitmen kongkret dengan perspektif sosial-kultural-religius. Wayang, nilai keindahan seni pada umumnya, berkontribusi penting membangun humanisme serta mental-spiritual manusia dan masyarakat bangsa ini.