by dwigunawati | Oct 9, 2011 | Berita
Penata
Nama : I Putu Candra Wijaya
Nim : 200703004
Program Studi : Seni Pedalangan
Sinopsis :
Di ceritakan perjalanan Tri Samaya turun ke Bumi (Madya Pada) menyusup mencari keberadaan Bhatara Guru yang sudah mengutuk dirinya menjadi Kala Rudra, karena ingin bertemu dengan Bhatari Uma yang sudah di kutuk menjadi Bhatari Durga. Pertemuannya itu menyebabkan munculnya Buta Kala yang mengganggu kehidupan manusia dan upacara di Kerajaan Galuh, Sang Hyang Tri Samaya segera turun dan menemui Raja Batatipati, menyampaikan kepergian bhatara guru. Raja Galuh (Sri Batatipati) disuruh mempersiapkan dan menghaturkan sesajen, yakni caru Pancasia beserta menampilkan kesenian Wayang Golek Topeng Pajegan, Wayang Lemah, dimana Sang Hyang Iswara menjadi Dalang dengan didampingi oleh Bhatara Brahma dan Bhatara Wisnu sebagai ketengkong. Agar Sang Hyang Kala Rudra dan Bhatari Durga Somya Rupa.
Pendukung Karawitan :
- Sanggar Sangita Mredangga
- Pendukung Tari Sanggar Pucuk Bang
- Pembantu Dalang 3 Orang
by admin | Oct 8, 2011 | Berita
A two-week residency in Perth by visiting artists I Made Bendi, Ni Made Rinu and I Komang Arba Wirawan has culminated in the creation of three new artworks. Whilst here they worked in two venues; the new ArtLAAB Studio (situated in the Masonic Hall on the corner of Hampton Road and Stirling Highway, Nedlands) and the Ancient Rock Studio, Byford.
The guest artists of the Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts (ALVA) at UWA were welcomed at an official ceremony attended by the Perth Indonesian Consul-General Bapak Syarief Syamsuri and his wife Ibu Ella Syamsuri on Monday 26 September at UWA’s Cullity Gallery.
The three artists’ have different specialities but the works all reflect their unique relationship with Balinese culture.
Rinu works in the traditional Kamasan style of painting. This 400 year old style depicts puppet-like figures to bridge literacy in pictorial language between image and text. Her work is a document which records the process of developing relations between the Faculty of Art at the Indonesian Institute of the Arts (ISI), Denpasar and the ALVA.
Bendi paints in the Balinese contemporary style. His work Purification of The Earth Mother is inspired by the ancient Lontar inscriptions of Bali, especially those found in the Siwa Tatwa stories. His work describes the process in which the earth mother is purified by the universe. In Bali a ceremonial procession about the purification of our Earth Mother is normally held once each year. The ceremony is called “Mecaru Tawur Ke Sanga”. Through this ceremony Balinese hope that nature will flourish and provide bounty for humans living in the world.
Arba’s photographic work captures a moment in the Ramayana story in which Rama, Sita and Lakshmana journey into the forest during a transforming thirty-year long pilgrimage. The photograph was taken during a dance performance by some members of the Faculty of Performing Arts (ISI ) at UWA’s Calloway Auditorium on September 27.
The three works will be on display in the Cullity Gallery until the end of October 2011.
by admin | Oct 8, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Kadek Suartaya, Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.
Jika bumi Bali tak melahirkan seniman I Ketut Marya, mungkin wajah perkembangan tari Bali tidak seperti sekarang. Adalah karena “pemberontakan“ laki-laki tampan yang dilahirkan di Belaluan (Denpasar) dan besar di Banjar Lebah, Tabanan, inilah yang mengobarkan inovasi seni tari yang hingga kini apinya tetap membara. Karya tarinya, Kebyar Duduk (1925) dan Oleg Tamulilingan (1952) menjadi tonggak dan pelopor cikal bakal sebuah genre seni pertunjukan yang kini disebut seni kebyar. Orisinalitas artistik dan presentasi estetik Kebyar Duduk atau juga disebut Kebyar Trompong dan Oleg Tamulilingan, tak tertandingi hingga hari ini.
Marya yang meninggal tahun 1968 dalam usia 69 tahun, meniti kesenimannya dengan asupan tari-tarian klasik. Pada usia belasan tahun ia sudah dikenal masyarakat di sekitar Tabanan sebagai penari Sisya (dalam dramatari Calonarang) dan Gandrung (sejenis tari Joged yang dibawakan penari pria). Ketika mulai menginjak dewasa, Ketut Marya mempesona penonton dengan pentas tari Jauk dan Topeng. Dari penguasaan tari klasik itu menstimulasinya kemudian berolah rasa merangkai sebuah tari baru. Adalah nuansa ritmis dan dinamis dari orkestrasi Gong Kebyar yang memicu adrenalin estetik Marya, berimprovisasi mengalirkan gerak dan meletupkan ekspresi hingga tercetuslah tari yang sebagian besar diragakan berjinjit-jinjit setengah duduk, Kebyar Duduk.
Seiring dengan kian lebarnya ruang jelajah perkembangan Gong Kebyar dari Bali Utara ke seantero Bali, nama Marya sebagai penari dan pelatih tari Kebyar Duduk juga semakin masyur. Ketokohan Marya sebagai maestro tari begitu melambung ketika ia berhasil menciptakan tari Oleg Tamulilingan pada tahun 1952. Melalui serangkaian lawatan pentasnya ke mancanegara, nama Marya pun menginternasional. Penonton Amerika dan Eropa mengagumi tariannya, mengelu-elukan namanya dengan lafal lidah mereka, Marya menjadi Mario. Menurut pakar tari Indonesia, Soedarsono, masyarakat Amerika dan Eropa menjuluki Ketut Marya The Great Mario. Nama besar Ketut Marya, selain menjadi kebanggaan masyarakat Bali dan Indonesia, kini diusung penuh respek Kabupaten Tabanan. Lihatlah, arena berkesenian yang terletak di jantung kota, diberi nama Gedung Mario. Simaklah, beberapa tahun belakangan, di Gedung Mario tersebut, sekian kali telah digelar pentas seni atau lomba tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk. Terakhir, 24-27 Agustus lalu, telah digelar pula pembinaan tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk yang diikuti oleh 24 sanggar tari se-Kabupaten Tabanan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Tabanan, sebagai penyelenggara pembinaan kedua karya Marya ini, secara khusus mendatangkan nara sumber dua penari sepuh, Ni Gusti Ayu Raka Rasmin (73 tahun) dan Ida Bagus Oka Wirjana (79 tahun), yang pernah berguru langsung kepada Marya.
Alasan mendatangkan Gusti Ayu Rasmin dan Ida Bagus Wirjana yang berasal dari Gianyar, kiranya sebagai ungkapan penghormatan pada Marya, lewat idealisme mengawal keaslian kedua tari monumental itu. Ayu Rasmin adalah penari pertama Oleg Tamulilingan yang diajarkan oleh Marya menjelang tour keliling Amerika dan Eropa pada tahun 1952. Oka Wirjana yang pada masa remajanya tinggal di Tabanan, selain sebagai pengagum juga pernah ditempa langsung oleh Marya. “Selain versi Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk yang umum dikenal masyarakat Bali, kami di Tabanan ingin melestarikan versi asli Marya,“ ujar Ni Luh Nyoman Sri Suryati, S.Sn, alumnus ISI Denpasar, pimpinan sanggar tari Sekar Rare Tabanan.
Pelatihan tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk “asli“ Marya itu, ternyata banyak mengundang minat generasi muda Tabanan. Ratusan remaja putra dan putri Tabanan dengan penuh kesungguhan mengikuti pelatihan yang diarahkan oleh Gusti Ayu Rasmin dan Oka Wirjana itu. Hasilnya, Sabtu (27/8) sore dipertontonkan kepada masyarakat umum di Gedung Mario. Sebagian tampil menari dengan pakaian latihan dan beberapa orang menari dengan kostum lengkap, diiringi sekelompok penabuh. Tak kurang dari Wakil Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya, menyambut sumeringah pentas tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk itu. “Kalau saya masih muda, rasanya ingin sekali belajar tari Oleg dan Kebyar Duduk yang asli, karya seniman besar Tabanan ini,“ katanya bergairah.
Asli dan tidak asli dalam konteks tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk karya Ketut Marya tersebut, jika diperdebatkan, akan tidak berkesudahan. Sebab ketika para seniman tari kebyar tempo dulu seperti Ketut Marya, Gde Manik, atau Nyoman Kaler mentransmisikan ciptaannya diberbagai tempat di Bali, mereka selalu tergoda untuk merevisi dan mengembangkannya. Kreativitas tiada henti sesuai dengan suasana batin dan kultur lingkungan tersebut memunculkan variasi seni, tari kebyar, yang dirawat oleh masing-masing komunitas seni dan masyarakat. Di Peliatan, Gianyar, menurut Ni Gusti Ayu Raka Rasmin, tari Oleg Tamulilingan yang diajarkan I Marya padanya, masih dipertahankan dengan teguh.
Namun jika ditarik secara kultural, perhatian yang ditunjukkan Pemkab Tabanan pada cipta tari Ketut Marya selain dapat dimaknai sebagai bentuk pengayoman, tentu juga untuk meneguhkan sebuah jatidiri. Karakteristik estetik Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk serta Ketut Marya yang virtuoso (seniman hebat), sangat meyakinkan didaulat sebagai pemberi identitas dan spirit masyarakat yang berkeadaban. Bila demikian adanya semangat serta komitmen masyarakat dan Pemkab Tabanan, tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk akan berkibar lestari di Tabanan; Gedung Mario mungkin akan diberdayakan Pemkab Tabanan sebagai arena berkesenian yang berwibawa; dan patung beton Oleg Tamulilingan yang cacat tak terurus di depan gedung itu bisa jadi akan diganti pula dengan patung berbahan perunggu dalam visualisasi estetika rupa yang lebih menggugah.
Tabanan Mengusung Mario Sang Maestro Nan Virtuoso selengkapnya
by admin | Oct 7, 2011 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Di umumkan kepada seluruh dosen dan mahasiswa FSRD peserta FKI agar kumpul di gedung Natia Mandala pada:
Hari : Selasa
Tanggal : 11 Oktober 2011
Pukul : 11.30 wita
Acara : Pengarahan dari Bapak Pembantu Rektor IV
DAFTAR PESERTA FKI ISI SURAKARTA 2011
| NO |
NAMA |
L/P |
PRODI |
| 1 |
I Ketut Alit Wijaya |
L |
Lukis |
| 2 |
Ni Made Yeni Rahmadewi |
P |
Lukis |
| 3 |
Ngakan Putu Agus Arta Wijaya |
L |
Lukis |
| 4 |
I Wayan agus Darmayasa |
L |
Lukis |
| 5 |
Ni N. Ratih Sintya Dewi Pinatih |
P |
Lukis |
| 6 |
Jin Dirgandi |
L |
Lukis |
| 7 |
I Putu Adnyana |
L |
Lukis |
| 8 |
Dewa Putu Budiarta |
L |
Patung |
| 9 |
R Kun Aji Pratama |
L |
Interior |
| 10 |
Anur Prasojo Mukti |
L |
Interior |
| 11 |
I Nyoman Tera Gradi W. |
L |
DKV |
| 12 |
I Komang Gede Sentanu |
L |
DKV |
| 13 |
Rizky Indra Brata |
L |
DKV |
| 14 |
Yogi |
L |
DKV |
| 15 |
Wardiyanta |
L |
Kriya |
| 16 |
Putu Kusuma |
L |
Kriya |
| 17 |
Desak Made Yuni |
P |
Kriya |
| 18 |
I Made Andy Darmawan |
L |
Fotografi |
| 19 |
A A GD Swabawa |
L |
Fotografi |
| 20 |
Ngurah Arya Sutawan |
L |
Fotografi |
| 21 |
Ni Made Sri Wahyuni |
P |
Fotografi |
Demikian pengungumuman ini dibuat untuk dilaksanakan sekian dan terimakasih
Denpasar, 7 Oktober 2011
Pembantu Dekan III
TTD
Drs. D.A Tirta Ray, M.Si
NIP:195704231987101001