by admin | Mar 1, 2017 | Berita
Sumber : Humas ISI Denpasar
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kembali mewisuda sejumlah 80 orang Sarjana Seni S1 dan S2 dalam acara Wisuda Sarjana Seni XVIII ISI Denpasar yang bertempat di Gedung Citta Kelangen kampus setempat, Selasa (27/2).
Dalam laporan yang dibacakan oleh Rektor, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum menyampaikan bahwa jumlah wisudawan kali ini adalah sebanyak 80 orang yang terdiri atas 25 orang dari Fakultas Seni Pertunjukan, 48 orang dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, dan 7 orang dari Program Pascasarjana. Dengan demikian jumlah alumni ISI Denpasar sejak tahun 2003 hingga 2016 adalah 2.442 orang.
Dalam laporannya, Rektor ISI Denpasar juga mengumumkan 3 lulusan terbaik program S1 yang seluruhnya berasal dari Prodi Sendratasik yaitu Putu Rahayu Devita Sari dengan perolehan IPK 3,96; Ni Luh Ade Cahyani dengan perolehan IPK 3,96; serta Kadek Paramita Hariswari dengan perolehan IPK 3,96. Sementara 3 lulusan terbaik untuk program S2 yaitu Putu Cherisna Widiantari dengan perolehan IPK 3,96; Ni Made Mirah Andriyani dengan perolehan IPK 3,54; dan I Nyoman Bayu Juniartha dengan perolehan IPK 3,50.
“Sesuai dengan visinya sebagai pusat unggulan seni budaya, ISI Denpasar terus menerus meningkatkan kinerja agar mampu melahirkan sarjana seni yang berkualitas dan berdaya saing, mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Oleh sebab itu, agar lulusan kita mampu bersaing secara total di masyarakat, ia harus memiliki kompetisi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.” ujar Prof. Arya.
Sementara sambutan Gubenur Bali yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Drs. Dewa Putu Beratha mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan berharap agar wisudawan dapat mengaplikasikan ilmunya di masyarakat.
Dalam wisuda kali ini juga menghadirkan orasi ilmiah oleh Dr. I Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum (Dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar) dengan judul “Inovasi Dalam Gamelan Bali”
by admin | Feb 27, 2017 | Berita
Sumber : Humas ISI Denpasar
Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai sebagai satu-satunya bandara yang terdapat di Pulau Bali adalah pintu gerbang utama menampilkan nuansa keindahan di Bali yang akan dirasakan pertama kali oleh wisatawan ketika tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Atas dasar hal tersebut Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bersama dengan Manajemen Bandara I Gusti Ngurah Rai menciptakan sebuah tari maskot atau ciri khas Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Tarian ini diberi nama “Sekar Angkasa Pura Satu” Tarian ini menggunakan struktur tri angga yaitu Pepeson, Pengawak dan ditutup dengan Pengecet. Tari Sekar Angkasa Pura Satu dipentaskan oleh penari dan penabuh yang merupakan pegawai Angkasa Pura. Tari Sekar Angkasa Pura Satu adalah hasil kreasi dari dosen di ISI Denpasar, yaitu Tjok Istri Putra Padmini sebagai penata tari dan I Nyoman Winda sebagai penata tabuh. Tarian ini dipentaskan di Gedung Natya Mandala Kampus setempat, Senin (20/2)
Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha S.Skar.,M.Hum dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setiggi-tingginya kepada Tim ISI yang sudah sangat membantu menciptakan tarian maskot ini pihak ISI Denpasar juga mengapresiasi terjalinnya kerja sama antara ISI dengan Angkasa Pura I. “Tarian ini diciptakan dalam waktu 1,5 bulan. Mencerminkan kesejukan, keramahan, ketulusan dan keindahan Bandara I Gusti Ngurah Rai, itu pesan pentingnya.” tambahnya.
Sementara itu, Yanus Suprayogi selaku General Manager PT Angkasa Pura I dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada ISI Denpasar karena telah bekerja sama dan tari maskot B
by admin | Feb 27, 2017 | Artikel
Kiriman : I Wayan Dirana (Mahasiswa Ps Kriya FSRD ISI Denpasar)
Abstrak
Pretima merupakan salah satu perlengkapan upacara keagamaan yang ada sejak dari dahulu khususnya di Bali. Pretima merupakan simbolisasi yang digunakan untuk perlengkapan upacara keagamaan pada tapakan daksina hias. Dahulu pretima hanya berupa plat kayu yang dilukis dengan pewarnaan sederhana. Bila pretima hanya digambar dengan warna, lama kelamaan akan mudah luntur gambarnya sehingga sulit untuk dikenali. Pretima di Banjar Anggabaya berbentuk dewa yang sedang bertapa (mamusti). Pada bagian bawah bentuk dewa berisi bunga teratai atau bunga lotus dengan delapan kelopak, yang sesuai dengan Delapan Jalan Hukum Baik. Pada saat ini, pembuatan pratima di Banjar Anggabaya, di ukir seperti relief, sehingga bisa tahan lama dan tampilannya lebih bagus. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengungkapkan faktor-faktor yang memengaruhi berkurangnya perajin pretima di Banjar Anggabaya, jenis dan fungsi pretima yang di buat di Banjar Anggabaya, bagaimana teknik pembuatan, dampak ekonomi dan sosial dalam kehidupan masyarakat di Banjar Anggabaya. Lokasi penelitian dilakukan di Banjar Anggabaya Penatih. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi.
Kata kunci: Simbolisasi, Plat Kayu, Mamusti, Ekonomi-Sosial.
Selengkapnya dapat unduh disini
by admin | Feb 24, 2017 | Artikel
Kiriman : I Nyoman Payuyasa (Dosen Film Dan Televisi FSRD ISI Denpasar)
ABSTRAK
Dunia yang berkembang begitu pesat membuat seseorang lupa, bahwa ada hal-hal yang terlewatkan yang begitu menggema saat masa silam. Salah satunya, seni teater. Saat teater menjadi satu-satunya hiburan masa lalu, teater begitu dibanggakan dan dipuji manfaatnya untuk mengasah budi. Zaman Milenial ini, masihkah generasi mudanya bangga menonton teater atau berpartisipasi aktif dalam pertunjukkan teater? Meski jawaban yang didapat akhirnya akan mengecewakan, namun masih ada beberapa generasi muda yang merawat teater dengan baik, sekaligus masih percaya bahwa fungsi teater, salah satunya bisa mengasah tutur dan budi.
Kata kunci: Teater, Mengasah Budi.
Selengkapnya dapat unduh disini