by admin | Dec 7, 2016 | Artikel
Kiriman: Ni NyomanAndra Kristina Susanti (Mahasiswa Program Pascasarjana ISI Denpasar)
Abstrak
Salah satu tari balih-balihan yang digemari oleh masyarakat Bali, adalah drama tari arja. Drama tari arja termasuk dalam kategori teater/ drama, karena tarian ini sangat kompleks memadukan berbagai jenis seni, seperti seni tari, drama, tembang/ vokal, instrumentalia, puisi, pantomim, dan busana. Pagelaran Parade Kesenian Arja Remaja pada ajang Pesta Kesenian Bali, fungsinya adalah untuk meningkatkan kesadaran seniman-seniman muda, bahwa kesenian arja bukan saja sebagai tontonan hiburan namun juga sebagai tuntunan, dalam kesenian. Keberadaan arja pada zaman sekarang, memperlihatkan adanya perubahan, di mana lebih mementingkan nilai humor/ lucu daripada nilai filsafatnya. Tokoh Arja yang memiliki watak humoris adalah tokoh Liku. Keberadaan tokoh Liku tersebut memiliki eksistensi yang cukup tinggi, terlihat dengan banyaknya muncul tokoh-tokoh Liku muda. Tokoh Liku bisa diperankan oleh wanita maupun laki-laki. Agar menarik, dilakukan perubahan pada kreasi busana tokoh Liku. Yang paling mencolok adalah kreasi baru busana seniman muda yang memerankan tokoh Liku, sehingga perbedaan tokoh Liku dulu dan sekarang sangat nampak. Artikel ini ditulis untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Bali tentang peran tokoh Liku pada kesenian Arja. Perubahan kostum yang terjadi dapat memberikan dampak negatif dan positif. Namun, semua itu menjadikan kesenian arja selalu diminati oleh masyarakat. Artikel ini juga tidak bermaksud untuk membenarkan, namun hanya mengkritisi perubahan yang ada.
Kata Kunci: Drama tari, Parade, Liku, Kreasi Busana.
Selengkapnya dapat di unduh disini
by admin | Dec 5, 2016 | Artikel
Kiriman : Dewa Made Weda Githapradana (Mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar)
Abstrak
Identitas dan eksistensi individu dalam lingkungan sosial merupakan sesuatu yang penting. Perkembangan sosial media di dunia maya mendorong setiap individu dalam menunjukan identitas dan eksistensinya. Fesyen dalam hal ini adalah pakaian dan seluruh artefak penunjangnya, menjadi elemen yang penting dalam mengungkap identitas individu di masyarakat. Memasuki abad 21, kebebasan berekspresi mendorong setiap individu untuk dapat menunjukan identitas personal melalui gaya berdandan. Dengan demikian gaya berdandan menjadi sangat individualis, tidak lagi bersifat komunal seperti pada abad-abad sebelumnya. Androgyny adalah salah satu gaya yang berkembang pada akhir abad ke 19 dan awal abad 20. Perkembangannya dilatar belakangi oleh isu kesetaraan gender dan emansipasi kaum feminis. Melalui fesyen, perspektif publik digiring untuk memandang gaya androgyny tidak sekedar sebagai gaya berbusana, tetapi juga sebagai media dalam menyampaikan kritik sosial khususnya menyangkut permasalahan gender.
Kata Kunci: Identitas, Eksistensi, Fesyen, Androgyny, Isu Gender.
Selengkapnya dapat di unduh disini
by admin | Dec 1, 2016 | kegiatan
Fine Art Exhibition : Kamasandi #1

by admin | Nov 30, 2016 | Berita
Pada hari Senin, 28 November 2016 Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menerima kunjungan dari dua orang maestro musik tradisional yang datang langsung dari Jepang, yaitu Mr. Baisho Matsumoto dan Mrs. Fujimoto yang didampingi oleh Konsulat Jendral Jepang, Mr. Hirohisa Chiba. Kunjungan kali ini disambut langsung oleh Rektor ISI Denpasar (Prof. Arya Sugiartha) di Gedung Candra Metu kampus setempat. Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperkenalkan seni musik tradisional Jepang bernama Shamisen.
Acara diawali dengan sambutan Rektor ISI Denpasar yang disampaikan oleh Wakil Rektor IV (I Ketut Garwa), dalam sambutannya Wakil Rektor IV menyampaikan ucapan terima kasih atas kegiatan kunjungan ini dan berharap acara ini dapat memperkaya ilmu seni setiap individu baik itu dosen-dosen maupun mahasiswa ISI Denpasar. Sementara itu Konsulat Jenderal Jepang, Mr. Hirohisa Chiba menyampaikan rasa kagumnya akan keberagaman budaya yang ada di Bali dan tidak lupa menyampaikan terima kasih karena telah disambut dengan hangat oleh ISI Denpasar.
Acara ini dihadiri pula oleh Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, dosen-dosen, dan juga mahasiswa ISI Denpasar. Setelah sambutan disampaikan oleh Wakil Rektor IV dan Konsulat Jenderal Jepang, acara dilanjutkan dengan demonstrasi seni musik tradisional Jepang Shamisen yang dibawakan oleh Mr. Baisho Matsumoto bersama Mrs. Fujimoto. Shamisen adalah salah satu jenis alat musik tradisional Jepang, alat musik petik ini memiliki bentuk seperti rebab (alat musik tradisional) di Bali dan suara yang dihasilkan mirip dengan banjo. Shamisen merupakan salah satu jenis alat musik tradisional Jepang yang biasanya digunakan untuk mengiringi pementasan kabuki (drama topeng), tari Geisha, dan matsuri-matsuri tertentu. Para peserta yang hadir juga diajak untuk turut serta memainkan alat musik tradisional Jepang ini.
Acara kemudian diakhiri dengan penyerahan cindera mata yang diberikan oleh wakil Rektor 4 kepada Mr. Baisho Matsumoto, Mrs. Fujimoto, dan Konsulat Jenderal Jepang Mr. Hirohisa Chiba.