M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Thailand Delegation Visits ISI Denpasar

Thailand Delegation Visits ISI Denpasar

Sumber : http://bali.antaranews.com/berita/105602/thailand-delegation-visits-isi-denpasar

Denpasar (Antara Bali) – Officials from three provinces of Thailand visited Indonesia’s Institute of Arts (ISI) Denpasar to strengthen relations between the two countries.

“We are pleasure to welcome Thailand officials and it is our time to introduce more about our campus and sharing best experiences each other,” The Rector of ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha stated here on Friday.

Those three officials were the Governor of Nakhon Si Thammarat Province Chamroen Tipayapongtada, Vice Governor of Surat Thani Province Vijyut Tjinto and Vice Governor of Chumphon Province Jaraschai Chokreunsakul along with their entourage.

On his remarks, Prof Arya said ISI Denpasar is one out of nine colleges of art in Indonesia who conducted academic and vocational program of art and design and managed two faculties including bachelor degree and post-graduate.

He said the number of active students in academic year of 2017 registered more than 2.165 students from both local and various cities across Indonesia. International students, he added, has been acknowledged as one of its primary concern.

“Each year international students from many countries are consistently participating art at our campus and we now administer international student for undergraduate and graduate levels, pursuing degrees of either bachelor or master,” he said.

“We also have 217 lecturers who hold master and PhD, graduated from both Indonesian and international universities,” he added.

Prof Arya explained international students also interested to seek “Dharmasiswa”, a non degree scholarship program given by the Indonesian Government to foreign students for one year of course.

To improve human resources, research and academic issues, Prof Arya stated that ISI Denpasar will expand cooperation and partnership with stakeholders including campus in Indonesia and foreign universities.

In line to that of, they explored possibilities to initiate and establish network with other universities in the world, including from Thailand.

On May this year, ISI Denpasar will be the host for a workshop held by Southeast Asian Ministers of Education Organization Center for Archipelago and Fine Art or SEAMO CFAFA in which Prof Arya is one of the Governing Board Member Representative of Indonesia.

“We have cooperation with several universities, indigenous people, local government, consulate general and embassies,” he said.

Keindahan Arca Buddha Indonesia, Pengaruh Kebudayaan Hellenisme

Kiriman : I Gede Mugi Raharja (Dosen FSRD Institut Seni Indonesia Denpasar) 

Abstrak

Kebudayaan Indonesia (Nusantara) memang tidak ada hubungan secara langsung dengan kebudayaan Yunani  di masa lalu. Akan tetapi, secara tidak langsung pengaruh kebudayaan Yunani telah masuk melalui kesenian Agama Buddha yang datang dari India pada awal abad Masehi. Kesenian Buddha yang masuk ke Indonesia setelah melalui percampuran budaya India dengan Yunani disebut kebudayaan Hellas atau Hellenisme. Percampuran budaya itu terjadi pada masa berkembangnya kebudayaan Gandhara, yang berlanjut pada kebudayaan Mathura dan Gupta. Gaya arca-arca Buddha dari zaman Gupta inilah kemudian mempengaruhi seni arca di Indonesia. Pengaruh kebudayaan Hellas sangat besar pada kebudayaan India, karena telah merubah gaya seni pengarcaan India kuno, dari wujud simbolik ke naturalis. Seperti pengarcaan Buddha yang semula dengan simbol-simbol, berubah menjadi berwujud manusia memakai jubah pendeta seperti di Yunani, menghias rambut dan melukiskan roman muka seperti manusia biasa. Hal ini merupakan suatu revolusi seni dalam Agama Buddha.

Kata Kunci: Hellenisme, Gandhara, Gupta, Simbolik-Naturalis, Revolusi seni.

Selengkapnya dapat unduh disini

ISI DENPASAR TANDA TANGANI MOU DENGAN STIKOM BALI

ISI DENPASAR TANDA TANGANI MOU DENGAN STIKOM BALI

Sumber : Fajar Bali

Kesenian Bali, terutama arsip perlu diselamatkan, caranya dengan mengalihmediakan arsip tersebut dari media manual ke media modern sesuai perkembangan zaman. Melalui Memorandum of Understanding (MoU) antara Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Bali, diharapkan mampu menyelamatkan arsip yang terseimpan di ISI Denpasar pada khususnya. Demikian dikatakan oleh Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, usai penandatangan MoU dengan STIKOM Bali, di Kampus STIKOM Bali Denpasar, Selasa (25/4) kemarin.

Arya Sugiartha mengakui, ISI Denpasar menyimpan cukup banyak arsip berupa rekaman mulai dari awal berdirinya ISI Denpasar. Menurutnya, jika tidak segera dialih mediakan, arsip yang notabene mengandung nilai sejarah tersebut akan hilang begitu saja. “Dulu medianya masih manual seperti piringan hitam dan hetamex. Sekarang dimana nyari player nya? Karena itu kami sangat membutuhkan kerjasama ini. Kami punya materinya, STIKOM yang bertugas mengalih mediakan, karena mereka punya ilmunya.” terang Arya Sugiartha.

Ia menambahkan, dokumen kebudayaan Bali yang sudah berhasil dialihmediakan harus dijaga dan dirawat dengan baik. Pihaknya berjanji akan melaksanakan hal tersebut, dengan tujuan memudahkan generasi muda mempelajari sejarah Bali tempo dulu. “Selanjutnya tugas kami tentu mempertahankan dokumen itu agar awet. Melalui teknologi, kita lindungi itu semua. Kami pasti lanjutkan kerjasama yang sangat baik ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Ketua STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan menyampaikan, STIKOM dan ISI Denpasar, adalah perguruan tinggi yang sama-sama terletak di Bali. Terlebih menurutnya, kebudayaan adalah tulang punggung Bali, yang menjadikan Bali tersohor di mata internasional. Sehingga menurutnya, STIKOM Bali memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi melestarikan kebudayaan tersebut. “Kami sekolah IT yang berkomitmen ikut menunjang atau memajukan budaya Bali dengan bantuan alat teknologi sesuai keahlian kami.” tutur Dadang.

Lebih lanjut, Dadang menambahkan, STIKOM Bali telah sukses ‘memulangkan’ ratusan dokumen kebudayaan Bali yang tersimpan di luar negeri, khususnya di Amerika Serikat. Ia mengaku butuh kerja keras untuk memulangkan dokumen dalam bentuk video maupun foto tersebut. “Dokumen yang telah kami pulangkan mengenal kondisi Bali di tahun 1928. Untuk memulangkannya, harus ada kerjasama dulu dengan salah satu universitas di sana. Hasilnya langsung kami pamerkan, tadi Pak Wagub Bali juga sudah melihat langsung,” tutup Dadang.

Loading...