Buku Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Edisi XI Tahun 2017
Silahkan Kunjungi Link Dibawah ini :
http://lp2m.isi-dps.ac.id/berita/1929
Silahkan Kunjungi Link Dibawah ini :
http://lp2m.isi-dps.ac.id/berita/1929
Kiriman : Tri Haryanto (Dosen FSP ISI Denpasar)
Abstrak
Kembar mayang adalah sepasang hiasan dekoratif simbolik setinggi setengah sampai satu badan manusia yang dilibatkan dalam upacara perkawinan adat Jawa, khususnya sejak sub-upacara midodareni sampai panggih. Kembar mayang biasanya dibawa oleh pria dan mendampingi sepasang cengkir gading yang dibawa oleh sepasang gadis. Rangkaian Kembar Mayang dibuat sesuai dengan kemampuan pembuatnya, baik model, ukuran, dan fariasi isiannya, meskipun sebenarnya dari masing-masing rangkaian janur dan isian tersebut masing-masing memiliki simbolisasi. Aturan yang perlu dicermati oleh pembuat Kembar Mayang adalah meliputi 1) harus menggunakan bahan yang sudah dipilih dan paling baik, 2) harus dibuat pada waktu yang longgar dan tidak boleh dikerjakan dengan pekerjaan lain (fokus dalam pembuatan), 3) dalam membuat harus selesai dalam satu waktu, tidak boleh ditunda-tunda apalagi dilanjutkan di lain hari, 4) harus dibuat di ruang yang bersih dan terhormat, 5) dari mulai mengerjakan sampai selesai harus disertai pembacaan doa. Prosesi kegiatan upacara kecil setelah selesai pengerjaan kembar mayang harus dilakukan panebusan atau yang sering disebut dengan panebusing kembar mayang. Waktu pelaksanaan pada malam hari menjelang hari resepsi atau yang sering disebut dengan midodareni, yaitu kegiatan pembuatan kembar mayang sampai panebusing kembar mayang yang kadang-kadang diteruskan dengan kegiatan macapat yang isinya doa-doa. Harapan dari kegiatan ini, untuk memohon ke hadapan Tuhan agar pelaksanaan upacara pernikahan keesokan harinya berjalan lancar sesuai harapan, tanpa ada aral yang melintang.
Kata Kunci: kembar mayang, midodareni, panebusan
Selengkapnya dapat unduh disini
Kiriman : I Wayan Nuriarta (Program Studi Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni Rupa dan Desain-Institut Seni Indonesia Denpasar)
Abstrak
Karikatur karya Wahyu Kokkang pada Koran Jawa Pos 22 April 2017 adalah sebuah kartun opini yang menggambarkan Kartini masa kini. Kartun tersebut sebagai sebuah karya yang merepresentasikan kehidupan sosial masyarakat. Sebuah potret seorang Kartini (perempuan) masa kini yang sibuk dengan dirinya sendiri. Menggunakan smartphone—bermain media sosial, sampai tidak memperhatikan anaknya, karena lebih mementingkan dunia maya. Sebagai ktirik melalui media kartun, Wahyu bermaksud mengkritisi masyarakat luas (perempuan dan laki-laki) yang terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan terlalu larut dengan kemajuan teknologi/sosial media. Akhirnya, mereka sampai melupakan banyak hal, seperti melupakan teman di dekatnya, lupa sebagai seorang ibu, maupun sebagai seorang bapak yang memiliki kewajiban menjaga anak. Kritik ini tentu bertujuan untuk mengingatkan masyarakat luas agar nilai-nilai Kartini tentang kemandirian, dan kepedulian terhadap lingkungan, serta bangsa, bisa terus dijaga. Semangat untuk selalu memajukan bangsa seharusnya terus dirawat di tengah-tengah berbagai tantangan yang dialami Indonesia sampai saat ini.
Kata kunci: Kartun, Kartini-masa kini, Media sosial, Kritik.
Selengkapnya dapat unduh disini
Berikut form pendaftaran mahasiswa baru s2 & s3 tahun 2017
http://pasca.isi-dps.ac.id/pascasarjana-jenjang-s2
http://pasca.isi-dps.ac.id/jenjang-s3