M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar

Kiriman : Naya Maria Manoi (Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar)

ABSTRAK

Arsitektur tradisional Bali merupakan budaya peninggalan masa lalu yang sangat berharga dan penting untuk dilestarikan. Namun, budaya masa kini juga menuntut kebutuhan masyarakat akan tampilan dan modernisasi yang mengedepankan fungsi daripada estetik. Paduan kedua arsitektur ini merupakan jawaban dari permasalahan pelestarian budaya dan juga kebutuhan masa kini, sehingga gaya ini banyak berkembang di banyak daerah dengan kombinasi ciri modern dan tradisional Bali yang berbeda-beda. Salah satu bangunan dengan arsitektur tradisional Bali adalah rumah tinggal yang beralamat di Jl. Dewi Madri VI no.38, Denpasar, Bali.

Kata Kunci: Tradisional, Modern, Fungsi, Kombinasi

Selengkapnya dapat unduh disini

 

Dekorasi Untuk Pelaminan Pengantin

Kiriman : Ni Made Dwi Oktaviani (Staff UPT. TIK ISI Denpasar)

Abstrak

Rakyat Indonesia baru saja disuguhi tayangan langsung lewat beberapa stasiun televisi, upacara akad nikah dan resepsi pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di Solo, kemudian masih berlanjut di Medan, Sumatra utara. Beberapa tahun sebelumnya, penikahan artis Raffi Ahmad dan Nagita Slavina pun disiarkan stasiun televisi, baik saat acara dilaksanakan di Jakarta maupun di Bali. Bagi masyarakat Hindu di Bali, melangkah ke jenjang pernikahan merupakan tingkatan perjalanan kehidupan grehastha asrama. Tujuan kehidupan berumah tangga dalam keyakinan umat Hindu di Bali adalah untuk melahirkan keturunan yang baik (suputra), yang dapat memberi jalan kepada leluhur untuk melakukan penebusan dosa.Pelaksanaan pernikahan masyarakat Hindu di Bali, biasanya dibantu oleh kelompok organisasi sosial di desa, yang biasa disebut kelompok suka-duka atau kelompok muda-mudi, terutama untuk menyiapkan acara resepsinya. Masyarakat tradisional Bali biasanya menghias pelaminan pengantin dengan dekorasi kain berwarna keemasan yang disebut kain perada. Kain perada bermotif hias tradisional, dapat bisa memberi kesan mewah dan indah. Hiasan janur juga dimanfaatkan untuk memberi suasana segar yang alami.

Kata Kunci: Pernikahan, Pelaminan, Dekorasi, Perada, Janur.

Selengkapnya dapat unduh disini

 

 

 

ISI Denpasar Rekonstruksi 12 Jenis Kidung  Karya Warisan Danghyang Nirarta

ISI Denpasar Rekonstruksi 12 Jenis Kidung Karya Warisan Danghyang Nirarta

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menutup kegiatan rekonstruksi kidung ‘Dwijendra Astawa’ di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem yang meliputi 12 jenis kidung diantaranya Astapaka Astawa, Gebang Apit Lontar, Sara Kusuma, Palugon, Bubuksahs Gagak Aking, Alis-alis Ijo, Jayendriya, Aji Kembang, Kawitan Wargasari, Rare Angon, Bramana Ngisep Sari, dan Wasi (Sewaka Dharma).

Kidung Dwijendra Astawa merupakan karya besar warisan leluhur para pendeta di Budakeling yaitu karya Danghyang Nirarta, Danghyang Astapaka dan keturunannya. Secara bentuk, teknik, karakter, cengkok, dan gayanya tidak saja memiliki keunikan tetapi mengandung kekuatan emosional subyektif terhadap masyakarakat setempat. Demikian dikatakan Rektor ISI Denpasr Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum., saat penutupan rekonstruksi di Karangasem, Jumat (27/10) lalu.

Arya menuturkan, berdasarkan data dari narasumber terdeteksi sekitar 200 kidung kuno di Desa Budakeling, yang diibaratkan ‘mutiara yang tercecer’. Kidung-kidung tersebut mulai luntur karena sudah jarang dipentaskan, sebagian lagi masih tercecer pada narasumber yang semakin sepuh, bahkan banyak yang sudah terlupakan, akibat pelakukanya sudah meninggal dunia. “Saya harapkan kita mampu merekonstruksi semuanya. Meski bertahap, saat ini baru 12 dan selanjutnya bisa ditambah lagi. Sudah kewajiban kita menyelamatkan,” harapnya.

Arya mengapresiasi keterlibatan anak-anak dan remaja yang ikut berperan merekonstruksi di bawah arahan narasumber. Ia yakin Budakeling adalah kawasan budaya yang banyak menyimpan warisan budaya masa lampau.  Peranda Budha-nya juga banyak, basisnya sastra, bukan ngadep banten tapi sastra, tutur dan kaweruhan, oleh karena itu kita sangat mengapresiasi. Sekalipun program rekonstruksi nantinya berpindah, ia berharap rekkonstruksi bisa dilakukan oleh peneliti lainnya.

Rekonstruksi, lanjut Arya, digalakkan karena berkaca dari zaman Asti (sebelum ISI,red), saat itu, dikatakan Arya, banyak kesenian kuno yang hampir punah seperti rejang, telek, barong, dan gambuh berhasil direkonstruksi, termasuk seni pedalangan gaya Sukawati dan gaya Tunjuk Tabanan. “Tahun 90-an pernah ada polemik bahwa ISI membawa virus Asti sehingga mamatikan gaya di daerah.  Itu semua terbalik, justru lembaga kita menyelamatkan keseenian di daerah asalnya, bukan mengubah dengan gaya Asti. Karena landasan kita mengikuti gaya-gaya di daerah asalnya,” jelasnya.

Sementara itu, narasumber dan tokoh Desa Budakeling Ida Wayan Ngurah mengaku sangat bersyukur upaya rekonstruksi kidung bisa dilaksanakan di Desa Buhakeling. Menurutnya, kidung adalah seni, bagian dari Weda berkaitan dengan nyanyian spiritual ke-Tuhanan. “Sangat tepat sekali direkonstruksi kembali sehingga apa yang menjadi konsep semula bisa dibawakan secara utuh. Terimakasi kepada ISI,” tutup Ida Wayan.

Aktualisasi Dan Eksistensi Dramatari Parwa Di Desa Sukawati

Kiriman : Dr.  Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si (Dosen FSP ISI Denpasar)

Abstrak

Pada era globalisasi ini komunitas seni pertunjukan Parwa di Banjar Babakan, Sukawati, Gianyar,  masih menyisakan gairah berkesenian walau belum mampu eksis. Mereka sempat mencoba bangkit pada tahun 1980-an merangkai kembali puing-puing reruntuhan nilai-nilai estetik yang terbengkalai. Memang, dari aspek seni, rekontruksi teater ini agaknya tak begitu sulit. Selain masih adanya narasumber, para pelakunya seniman-seniman muda yang sebagian besar bergelut dalam bidang seni pedalangan, tari, dan karawitan adalah potensi yang menyangga bergulirnya upaya reaktualisasi kesenian tua ini. Namun memasuki tahun 2000-an, hasil rekonstruksi dan aktualisasi tersebut senyap di tengah riuhnya seni pertunjukan modern.

Kata Kunci: Parwa, aktualisasi, eksistensi

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...