Pemilihan Calon Dekan FSP ISI Denpasar Tahun 2017-2021
Kunjungi link dibawah ini :
http://fsp.isi-dps.ac.id/pengumuman/pemilihan-calon-dekan-fsp-isi-denpasar-tahun-2017-2021
Kunjungi link dibawah ini :
http://fsp.isi-dps.ac.id/pengumuman/pemilihan-calon-dekan-fsp-isi-denpasar-tahun-2017-2021
Kiriman : I Gede Mugi Raharja (Dosen Ps. FSRD ISI Denpasar)
ABSTRAK
Lahirnya siaran televisi melalui proses yang cukup panjang, diawali oleh kesuksesan percobaan G. Marconi dan Alexander S. Popoff mengirim dan menerima gelombang radio pada 1895. Tabung televisi gambar berhasil dibuat oleh Vladimir K. Zworykin pada 1923, televisi elektronik dibuat pada 1927 dan siaran televisi sudah dilakukan di Inggris pada 1936. Kemudian, pada 1953 berhasil dilakukan uji cova pesawat televisi berwarna oleh National Television System Committee (NTSC), disusul mulainya siaran televisi berwarna pada 1954. Pemerintah Indonesia baru berhasil membangun stasiun pemancar dan siaran televisi pada 1962. Kelahiran siaran televisi di Indonesia, dipicu oleh keinginan untuk menyiarkan kegiatan Asian Games IV 1962. Sehingga tanggal 24 Agustus 1962 ditetapkan sebagai Hari Lahir Televisi Republik Indonesia bertepatan dengan kegiatan Pembukaan Asian Games IV di Jakarta. Di Bali, Stasiun TVRI Denpasar berdiri dan diresmikan pada 16 Juli 1978. TVRI Denpasar sangat berperan dalam menyukseskan kegiatan Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak awal 1980-an. Kegiatan PKB yang senantiasa ditunggu-tunggu siarannya oleh pemirsa di Bali adalah siaran sendratari Mahabharata, drama gong dan drama klasik Teater Mini Badung. Khusus rancangan dekorasi televisi untuk produk hiburan, sebagian besar dibuat dalam bentuk simulasi, kamuflase, artifisial, seperti dengan teknik chromakey yang dikenal dengan istilah green screen atau blue screen. Akan tetapi, di layar televisi bisa tampak seperti nyata. Itulah teknik simulasi gambar yang bisa dibuat berkat kemajuan teknologi komputer grafis.
Kata Kunci: Marconi, Zworykin, Siaran tv, Chromakey, Komputer grafis.
Selengkapnya dapat unduh disini
Kiriman : I Gusti Agung Malini (Mahasiswa S2 Institut Seni Indonesia Denpasar)
ABSTRAK
Selain ritual, menusukkan keris ke dada merupakan hal yang berbeda dan menjadi ciri khas dari upacara pengerebongan di Pura Agung Petilan Kesiman. dibandingkan dengan Pura lain yang ada di Bali. Busana (pengrangsuk) Pemangku yang dipakai pada saat upacara pengerebongan berbeda dari busana yang biasa digunakan oleh Pemangku di Pura lainnya di Bali. Salah satunya adalah busana pemangku pengluran yang didominasi oleh warna poleng. Warna poleng dari busana pemangku pengluran pada saat upacara pengrebongan di Pura Agung Petilan Kesiman, masuk ke dalam warna natural karena terdiri dari warna hitam dan putih. Makna warna poleng yang digunakan pemangku pengluran pada upacara pengerebongan, diambil dari kepercayaan Kesiman sebagai penganut Siwaisme yang menyembah matahari, disimbolkan dengan warna putih dan gunung yang disimbolkan dengan warna hitam
Kata Kunci : Poleng, Pemangku Pengluran, Pengerebongan.
Selengkapnya dapat unduh disini
Kiriman : I Wayan Muliyadi (Mahasiswa S2 Institut Seni Indonesia Denpasar)
ABSTRAK
Seni merupakan sebuah kreatifitas yang terus menerus mengalami perubahan oleh seniman sendiri, dengan terus menggali dan mencari kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi atau bisa dikembangkan dari sebuah media cipta menjadi sebuah karya seni baru. Seni karawitan merupakan salah satu dari bagian seni tradisional yang mengalami perkembangan begitu pesat dengan pengaruh-pengaruh unsur musik barat atau bisa dikatakan musik kekinian. Seorang pengerawit memainkan lagu dengan rasa indah itu sudah biasa dilakukan, kini pengerawit lebih mencari teknik dalam memainkan lagu, di mana teknik yang sulit menjadi tolak ukur keindahan dari sebuah karya seni karawitan, terlepas dari unsur-unsur tradisi yang selama ini membalut. Gambelan merupakan salah satu media bagi seniman dalam berkreatifitas. Di Bali pada khususnya terdapat beraneka jenis gambelan dengan karakteristik yang berbeda sesuai dengan daerah asal dari gamelan tersebut. Ada gamelan golongan tua, madyada golongan baru. Pada masyarakat Bali, gamelan sangat berperan penting dalam setiap kegiatan adat atau keagamaan, seperti Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya. Gamelan angklung merupakan salah satu jenis barungan gamelan Bali yang termasuk dalam golongan gamelan tua, menggunakan laras selendro, dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari bahan kerawang. Perkembangan angklung kebyar yang begitu pesat menyebabkan perubahan pandangan masyarakat terhadap eksistensi gamelan angklung. Apalagi generasi muda semakin meninggalkan gending-gending klasik keklentangan. Menjadi sebuah tantangan bagi para seniman yang mencintai eksistensi gamelan angklung. Guna menjaga kelestarian barungan gamelan Bali dengan ciri khasnya masing-masing, tidak perlu menyeragamkan setiap barungan gamelan Bali menjadi kebyar, agar gamelan sebagai warisan leluhur dikembalikan pada fungsi dan karakteristik dari gamelan Bali.
Kata Kunci: Angklung, Keklentangan, Kebyar, Karakteristik, Kelestarian.
Selengkapnya dapat unduh disini