M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kartun Konpopilan Pada Koran Kompas (Kajian Bahasa Rupa)

Kiriman : I Wayan Nuriarta (Ps Desain Komunikasi Visual FSRD ISI Denpasar)

Abstrak

Untuk menghadirkan humor ataupun kritik, sebuah kartun pada Koran biasanya memanfaatkan dua teks yaitu teks visual dan teks verbal. Teks visual yang dimaksudkan adalah gambar-gambar, baik bentuk manusia, tumbuhan maupun binatang. Sementara teks verbal adalah rangkaian kata-kata yang bisa dibaca serta memiliki makna sesuai pesan yang ingin disampaikan. Kedua teks ini sama-sama saling memperkuat pesan yang ingin disampaikan sang kartunis, baik itu pesan humor maupun kritik. Jika salah satu dari teks ini tidak ada, biasanya pesan sangat susah dipahami bahkan sangat mungkin terjadi kegagalan komunikasi sebuah karya kartun. Dua teks ini menjadi begitu penting karena saling membutuhkan satu sama yang lainnya. Kartun Konpopilan yang hadir pada Koran Kompas Minggu justru berbeda. Kartun ini dengan tegas menyatakan ‘dirinya’ adalah sebuah karya komunikasi visual. Artinya kartun Konpopilan hanya memanfaatkan teks visual saja dalam menyampaikan pesan. Salah satu kartun Konpopilan yang hadir pada Koran Kompas 21 Februari 2016 hadir dengan cara bercerita komik strip yang terdiri dari 4 panil. Bahasa Rupa isi wimbanya menghadirkan manusia bercaping dengan satwa kucing dan harimau. Kartun ini bercerita tentang bencana banjir.

Kata Kunci: Kartun Konpopilan, Bahasa Rupa, Koran Kompas

Selengkapnya dapat unduh disini

ISI Denpasar Raih Akreditasi A

ISI Denpasar Raih Akreditasi A

Denpasar (Antara Bali) – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar syukuran, karena perguruan tinggi seni itu meraih Akreditasi A.

“Keberhasilan meraih akreditasi A dengan nilai sempurna itu terdiri atas 11 Program Studi (Prodi) yang ada,” kata Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Arya Sugiartha, S.Kar. M.Hum, di kampus setempat (19/9). 

Prodi yang meraih akreditasi A adalah Desain Interior (S1), Desain Komunikasi Visual (S1), Kriya Seni (S1), Pendidikan Seni Drama (S1), Tari dan Musik (S1), Fotografi  (S1),  Seni Tari (S1), Desain Fashion D-IV, Seni Karawitan (S1), Seni Pedalangan (S1), Seni Rupa Murni (S1), Dan yang akreditas B yakni: Film dan Televisi D-IV, Penciptaan dan Pengajian Seni (S2)

Menurut dia, hal yang membanggakan itu menjadi bukti bahwa pihaknya benar-benar mengutamakan kesungguhan dalam mengelola institusi pendidikan seni itu agar bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

“Hasil ini juga menjadi tekad mewujudkan visi ISI Denpasar menjadi pusat unggulan seni budaya berbasis kearifan lokal yang berwawasan universal, selain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berdasarkan kebenaran, kejayaan, dan keindahan,” katanya.

Sementara itu, Pembantu Rektor I ISI Prof. Dr Nyoman Artayasa menambahkan, pihaknya semakin optimistis menjadi kampus terbaik dalam memberikan pendidikan kesenian sebagai pusat penciptaan, pengkajian, penyajian, dan pembinaan seni budaya yang unggul.

“Dengan mendapat akreditas A sebagai proses evaluasi dan penilaian mutu institusi atau program studi yang dilakukan oleh suatu tim pakar sejawat (tim asesor) berdasarkan standar mutu yang ditetapkan,” katanya.

Pihaknya bersama Rektor akan selalu mendorong setiap karya seni agar membuat deskripsinya, sehingga bisa dipublikasikan sekaligus menghindari pengklaiman orang lain. (*)

ISI Denpasar Menggali dan Mengembangkan Kearifan Lokal Kesenian Mataram

ISI Denpasar Menggali dan Mengembangkan Kearifan Lokal Kesenian Mataram

Denpasar (Antara Bali) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar akan mengembangkan kesenian yang berbasis kearifan lokal di Mataram melalui program Pendidikan Diluar Domisili (PDD). 

“Misi yang dilakukan adalah mengembangkan, mengali dan melestarikan budaya suku sasak yang ada di pulau Lombok itu,” kata Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Arya Sugiartha, S.Kar. M.Hum di Denpasar.

Arya Sugiartha meyakinkan kalau program PDD ini tidak akan menghilangkan kearifan lokal budaya Mataram itu, melainkan menggali dan mengembangkan sesuai potensi yang ada.

“Program ini dilakukan atas pencapaian dan keberhasilan  ISI Denpasar dengan akreditasi A atau nilai sempurna terdiri atas 11 Program Studi (Prodi) dan 2 program studi (prodi) akreditasi B yang ada di perguruan tinggi seni ini, ” ujarnya.

Ini masih tahap awal, perlu menyusun, meneliti serta mendekatkan kepada tokoh- tokoh Agama, Seniman, budayawan yang ada di daerah  tersebut.

Tujuannya adalah menjadikan kesenian sebagai sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat Mataram.

Arya Sugiartha mengungkapkan dengan bangga hal itu sebagai upaya membuktikan keseriusannya dalam mengelola institusi pendidikan seni agar bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara, dan cara ini pula sebagai upaya mewujudkan visi ISI Denpasar menjadi pusat unggulan seni budaya berbasis kearifan lokal berwawasan universal

Institut Seni Indonesia Denpasar menggelar pembukaan rekonstruksi seni pertunjukan Joged Pingitan di Banjar Apuan Desa Singapadu Kecamatan Sukawati

Institut Seni Indonesia Denpasar menggelar pembukaan rekonstruksi seni pertunjukan Joged Pingitan di Banjar Apuan Desa Singapadu Kecamatan Sukawati

Khasanah budaya Bali bak untaian mutiara. Indah dan bernilai seni tinggi.  Salah satunya adalah Joged Pingitan. Apa itu? Institut Seni Indonesia (ISI).  Denpasar menggelar pembukaan rekonstruksi seni pertunjukan Joged Pingitan di Banjar Apuan Desa Singapadu Kecamatan Sukawati, Jumat (15/9) malam. Rekonstruksi yang melibatkan sejumlah dosen di kampus seni ini akan mengangkat kembali kesenian Joged Pingitan.

Khasanah budaya Bali bak untaian mutiara. Indah dan bernilai seni tinggi.  Salah satunya adalah Joged Pingitan. Apa itu? Institut Seni Indonesia (ISI).  Denpasar menggelar pembukaan rekonstruksi seni pertunjukan Joged Pingitan di Banjar Apuan Desa Singapadu Kecamatan Sukawati, Jumat (15/9) malam. Rekonstruksi yang melibatkan sejumlah dosen di kampus seni ini akan mengangkat kembali kesenian Joged Pingitan yang sempat dilupakan sejak puluhan tahun lalu.

Ketua LP2M ISI Denpasar I Gusti Ngurah Ardana yang hadir pada kesempatan itu menerangkan, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab ISI Denpasar dalam membangun kembali setiap kesenian yang hampir atau pun sudah punah. ”Tugas kami melakukan rekonstruksi kesenian yang sudah punah,” ucapnya.

Dikatakannya, terungkapnya kesenian Joged Pingitan ini berawal saat penelitian pada tahun 2015. Didapatkan informasi bahwa tarian ini sempat tenar di era 1970-an. Bahkan kesenian ini pernah dipentaskan ke Jakarta. ”Itu informasi yang kami terima. Tetapi entah kenapa, sepulang dari Jakarta itulah, kesenian ini tidak muncul lagi ke permukaan,” jelasnya.

Terkait kondisi ini, ia pun menilai sangat penting dilakukannya rekonstruksi tarian Joged Pingitan. Terlebih selama ini beberapa rekonstruksi berbagai kesenian sudah berhasil dilakukan di kabupaten lain. ”Makanya tahun ini kami laksanakan rekonstruksi Joged Pingitan ini dengan harapan bisa dibangun kembali dan menambah variasi seni tari yang ada di Bali,” terangnya.

Selama proses rekonstruksi ini, ISI Denpasar sudah memilih dua narasumber yang memiliki pengetahuan tentang tari Joged Pingitan. Dua seniman asal Singapadu itu adalah I Ketut Muji dan I Made Resa. ”Kita mengambil dari narasumber yang ada di sini, model tarian seperti apa,” ujarnya.

Berdasarkan penjabaran dua seniman yang notabene sudah lansia itu, tari ini akan dikemas oleh dosen ISI Denpasar yang bertugas sekaligus selaku instruktur seperti I Nyoman Windha S.SKar., MA., I Gusti Ayu Ketut Suandewi, S.ST., M.Si., Tjok Istri Putra Padmini, SST., M.Sn. dan Ni Wayan Suartini S.Sn., M.Sn. ”Setelah didapat, bentuknya akan diajarkan kepada generasi muda yang ada di sini khususnya,” jelasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar I Wayan Suharta, S.SKar. M.Si. mengungkapkan, rekonstruksi ini merupakan permintaan masyarakat setempat agar Joged Pingitan dihidupkan kembali. ”Dosen yang hadir sebagai tim ini, semua dosen tari sehingga sangat tepat karena ini memang bidang kami,” katanya.

Menurutnya, Joged Pingitan ini sudah sebagian dilupakan, sehingga di sinilah peran ISI Denpasar mengisi kekosongan tersebut. ”Ini (Joged Pingitan-red) sesungguhnya sudah ada. Hanya masyarakat belum yakin. Ada bagian-bagian yang belum nyambung. Nah, di sini kita yang bertugas untuk menyambungkan,” ucapnya.

Disinggung apakah selanjutnya tarian ini akan tetap disakralkan, Suharta mengaku belum bisa memastikan hal tersebut. Dikatakannya, hal itu akan didiskusikan kembali dengan tokoh masyarakat setempat. 

Loading...