M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Kartun-Kartun Mata Kuliah Kartun

Kiriman : I Wayan Nuriarta (Dosen DKV FSRD ISI Denpasar)

 

Abstrak

Matakuliah kartun di Prodi Desain Komunikasi Visual (Diskomvis), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar) adalah matakuliah praktik dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional Bali dalam berkarya rupa. Untuk menghasilkan sebuah karya kartun, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan berkarya rupa semata, namun mereka juga harus memiliki pengetahuan atau kepekaan terhadap isu sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Artinya mahasiswa sebelum berkarya harus memiliki pengetahuan terkait isu-isu yang sedang terjadi di masyarakat dengan membaca berbagai berita di media massa cetak maupun melalui media elektronik. Pada pembahasan ini, secara visual karya kartun mahasiswa memperlihatkan karakterisik budaya Bali seperti menghadirkan tokoh pewayangan Anggada dalam konteks kritik terhadap isu penebangan hutan secara liar, menghadirkan tari-tarian Bali dan juga kuliner khas Bali (babi Guling) dalam konteks kecintaan terhadap budaya, serta menghadirkan Barong yang merupakan salah satu ikon budaya Bali dalam karya kartun humor. Membaca karya-karya kartun tersebut menunjukan bahwa kartun yang dihadirkan ada yang berupa kartun kritik dan ada juga kartun humor. Cara ungkapnyapun bisa menggunakan satu panel, dua panel maupun empat panel.

Kata Kunci: Kartun, Budaya Bali, Desain Komunikasi Visual

 

Selengkapnya dapat unduh disini

Dari Diklat PMW ISI Denpasar Rubah Stigma ‘Job Seeker’ menjadi ‘Job Creator’

Dari Diklat PMW ISI Denpasar Rubah Stigma ‘Job Seeker’ menjadi ‘Job Creator’

Ratusan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 2018. Para peserta nantinya akan magang di sejumlah perusahaan atau UKM di Bali. Secara garis besar, PMW bertujuan mengubah stigma lulusan perguruan tinggi dari ‘Job Seeker’ menjadi ‘Job Creator’ atau pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Demikian dikatakan Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum., saat membuka PMW di kampus setempat, Selasa (27/3).
Arya menjelaskan, stigma ‘job seeker’ menjadi salah satu tantangan pendidikan tinggi Indonesia saat ini, sehingga yang perlu dirubah pertama kali adalah paradigma berfikir para lulusan di tengah pertumbuhan ekonomi yang rendah dan ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas. Menurutnya, mayoritas  lulusan perguruan tinggi lebih memilih bekerja sebagai buruh, karyawan, pekerja yang dibayar oleh suatu instansi tertentu dibandingkan bekerja mendiri dan  mempekerjakan orang lain atau wirausaha. Sedangkan bekerja mandiri dan mempekerjakan banyak orang, justru dikontribusikan lebih banyak oleh lulusan sekolah dasar dan menengah.
“Kewirausahaan ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipelajari,” sebut Arya. Perguruan tinggi, kata dia, adalah  salah satu tempat yang paling pas untuk melakukan pendidikan kewirausahaan. Bahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ingin menjadikan program kewirausahaan sebagai salah satu program prioritas nasional yang harus dijalankan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. “Dikti menyebutnya dengan Program Mahasiswa Wirausaha.  Dananya langsung dititipkan ke DIPA (Daftar Isian Pengunaan Anggaran) masing-masing perguruan tinggi,” imbuh dia.
Kepada peserta diklat, Arya mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan program yang baik ini, demi masa depan mereka kelak. Dalam proses magang, para peserta diwajibkan melaksanakan penyusunan rencana bisnis, selanjutnya seleksi rencana bisnis yang dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga (perbankan, perusahaan, dan Dinas Koperasi Kota Denpasar). Setelah proses seleksi diumumkan para peserta akan  memulai bisnis (start-up business) dengan menerima modal kerja setelah menandatangani kontrak kerja antara mahasiswa peserta program PMW dengan ISI Denpasar.    
Terkait materi diklat, Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama, SE., MM., memaparkan terdiri dari 10 materi, yakni tentang kewirausahaan, manajemen SDM dan pemasaran, manajemen produksi dan keuangan, komunikasi, etika bisnis, skim kredit UKM, kebijakan pembinaan UKM, kiat-kiat pengusaha muda sukses, dan penyusunan ‘bussines plan’.
Membangun Keelokan Budaya Lokal Dalam Sebuah Karya Seni ISI Gelar Sarasehan Terbuka Tentang Nilai Budaya Panji

Membangun Keelokan Budaya Lokal Dalam Sebuah Karya Seni ISI Gelar Sarasehan Terbuka Tentang Nilai Budaya Panji

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bekerjasama dengan Dharma Nature Time menggelar sarasehan terbuka bertajuk ” Nilai – Nilai yang Mendasari Lahirnya Budaya dan Kesenian Panji”,  berlangsung di Gedung Natya Mandala, Kampus ISI, Selasa ( 26/3).
Sarasehan yang menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya  Dr. Lydia Kieven ( Jerman ), I Ketut Kodi ( ISI Denpasar ) dan Diane Butler ( UNUD ). Sarasehan dibuka oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar, yang diwakili Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP-ISI) Denpasar  Dr. I Komang Sudirga, dihadiri ratusan peserta seperti mahasiswa ISI, Dharmasiswa ( mahasiswa asing), juga hadir dari IHDN, UNHI serta pecinta sejarah budaya Panji di Bali. 
Dekan FSP Dr Komang Sudirga mengatakan, sarasehan ini digelar dalam upaya  mengangkat nilai -nilai budaya bangsa berasal dari budaya lokal, bisa dibangun keelokanya dalam  perspektif  bisa dikaryakan sebagai seni pertunjukan maupun senirupa. ” Melalui sarasehan ini, kita bisa memaknai sekaligus menggali budaya – budaya Panji yang banyak mengilhami karya – karya seni baik sebagai sajian garapan seni pertunjukan maupun seni rupa ,” jelas Sudirga. 
Dikatakan, sarasehan ini menghadirkan peneliti  Dr. Lidya Kieven dari Jerman, Diana Betler dari Unud bersama dosen kita I Ketut Kodi. Dalam penelitiannya , lanjut Sudirga Dr. Lidya yang lebih banyak meneliti di Jawa, tepatnya di Candi Penataran banyak mengamati relief – relief , yang digambarkan dalam bentuk cerita yang selanjutnya dari relief itu telah menelorkan karya – karya menarik baik seni pertunjukan maupun seni rupa . 
Di Bali, Sudirga menyebutkan, inspirasi cerita Panji banyak dituangkan dalam garapan seni tradisional . Semisal, karya seni pegambuhan, kemudian ada drama gong, calon arang, kemudian ada kesenian Topeng  yang rujukannya adalah cerita Panji.” Tahun 1996, dalam ajang Pesta Kesenian Bali ( PKB), ISI sempat menggarap cerita – cerita yang berbasis pada pertunjukan budaya  Panji .memang sangat menarik untuk dikaji dan dijadikan pegangan setiap garapan dalam melahirkan karya yang inovatif ,” tuturnya. 
Dr. Sudirga  menegaskan,  dalam sarasehan ini dimana pembicara Dr Lidya membeberkan tentang temuan mereka  seperti asal muasal cerita Panji,  histori hingga penyebarannya sampai ke Asia Tenggara. ” Mereka banyak meneliti relief ,khususnya di Candi Penataan Jawa, mereka merajutnya dalam sebuah kisah mulai dari pengembaraan, ada penyamaran , kemudian ada rintangan sehingga kembali bertemu , seperti siklus perburuan , dia mengkaji senimanya, dengan karya kreasi yang dilahirkan, hingga munculnya seni kontemporer yang ada di Jawa. Yang jelas kita mendapatkan pencerahan termasuk pembicara lainya seperti  Pak Kodi yang menjelaskan  memaknai Panji, ada kidung,  nalar dibangun, bagaimana hubungan Tantri, jadi intinya supaya nilai kesempurnaan bisa dimaknai,” ungkapnya. 
 Sementara itu, Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama,  SE menambahkan  kegiatan sarasehan di ISI ini bentuk  kerjasama ISI Denpasar dengan Darma Nature pimpinan Diane Butler.” Beliau yang mendatangkan  seorang peneliti Panji dari Jerman, disamping juga ada pembicara yang lain ada Ketut Kodi dari ISI Denpasar, dengan harapan ada proses penggalian dan membuka wawasan kita tentang konsep Panji sebagai runutan dalam menelorkan karya yang inovatif dan kreatif di masa mendatang, ”  pungkas Eko Jaya.
Loading...