Pendaftaran Mahasiswa Baru Program Studi Seni Program Doktor (S3) PascaSarjana ISI Denpasar
Kunjungi Link Di bawah ini :
http://pasca.isi-dps.ac.id/?p=589
Kunjungi Link Di bawah ini :
http://pasca.isi-dps.ac.id/?p=589
Sertakan SMA/ SMK Se-Bali Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kembali menggelar lomba lagu pop solo antar mahasiswa se- Bali. Ajang tahunan yang dilaksanakan UKM Kesenian Senat Mahasiswa ISI , berlangsung di Gedung Citta Kelangen, Kampus ISI , Sabtu ( 14/4).
Ajang ini diikuti 82 peserta dari kalangan mahasiswa dan SMA/SMK se- Bali . Lomba lagu pop solo dibuka langsung oleh Rektor ISI Denpasar yang diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Drs. Nyoman Artayasa, M.Kes dibagi menjadi tiga kategori. Diantaranya , kategori lomba lagu pop Bali, lomba lagu pop barat dan lagu pop Indonesia.
Warek I ISI Denpasar Prof. Artayasa mengungkapkan kegiatan ini rutin digelar oleh lembaga Senat Kemahasiswaan , yang bertujuan untuk pengembangan lagu – lagu di Bali. ” Untuk mencari pengalaman bagi kalangan muda , khususnya anak – anak SMK dan SMA di Bali,” kata Prof. Artayasa usai acara .
Dikatakan, ajang ini juga sekaligus memperkenalkan atau mempromosikan prodi musik yang dimiliki ISI Denpasar. ” Sedikit tidaknya kita sudah membina lomba ini, sekaligus memperkenalkan musik lewat program studi musik bagi lulusan SMA dan SMK, ” tuturnya.
Prof. Artayasa menegaskan kegiatan seperti ini secara tidak langsung memberikan informasi tentang kelembagaan terutama kesempatan bagi calon mahasiswa untuk menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi negeri. ” Dalam hal penerimaan calon mahasiswa baru, setiap tahun ISI mengalami peningkatan jumlah pelamar sebesar 10 persen, selain kegiatan lomba ini, kita juga gencar sosialisasi di berbagai daerah tidak saja di Bali melainkan di luar daerah, , ” ungkap Prof. Artayasa didampingi Humas ISI Gede Eko Jaya Utama .
Sementara itu Ketua Panitia Lomba Ni Made Ayu Dwara Putri menjelaskan lomba ini bertujuan mencari dan mewadahi bakat kalangan generasi muda khususnya di Bali. ” Lomba ini adalah upaya menggali dan mencari bakat musik, bernyanyi sekaligus memberikan ruang dan pengalaman bagi kalangan generasi muda Bali, ” ucap Ayu.
Ditambahkan, banyak kalangan muda Bali memiliki potensi untuk menekuni dunia musik. ” Tercermin dari apresiasi peserta yang cukup baik dan kualitas yang kita harapkan mampu menjadi modal mereka untuk menambah kemampuan tampil pentas di atas panggung, ” tandasnya.
Untuk pemenang lomba ini, Ayu menyebutkan , kategori lomba pop Bali juara 1 diraih Kadek Nita Purnama Sari, Juara 2 Ni Made Mawar Pradnyawati dan Juara 3 Ni Nengah Susi Laksmi Perbriyanti dan tiga pemenang harapan.
Kategori lagu pop Barat juara 1 diraih Komang Putri Astrini, Juara 2 Muhammad Syahfuddin Jihansyah , Juara 3 A.A Ayu Istri Ray Mayuni dan tiga pemenang harapan.
Kategori lagu pop Indonesia Juara Juara 1 diraih Ni Komang Suriatari, Juara 2 Luh Gede Yuniasti Widhiasih Jorareis dan Juara 3 Ni Putu Kaniya Indira ditambahin tiga harapan lainya.
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar kembali terlibat memeriahkan ‘Grand Opening’ Badung Bahari Festival ke-2 yang dibuka 9 Mei 2018, di Pantai Pendawa, Banjar Kutuh, Kuta Selatan. Sebanyak 250 lebih mahasiswa akan menampilkan karya fenomenal ‘Ketug Bumi’ diiringi fragmen tari yang telah disempurnakan dari penampilan tahun lalu.
Untuk mematangkan persiapan, Arsitek Direktur yang juga Wakil Rektor bidang Perencanaan dan Kerja Sama ISI Denpasar I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., menggelar rapat koordinasi (rakor) terakhir dengan jajaran internalnya, pada Jumat (13/4) lalu di kampus ISI Denpasar. Selain mematangkan persiapan di tengah waktu yang semakin mepet, rakor itu bertujuan agar ‘pasukannya’ memiliki bayangan tentang sirkulasi atau medan di lapangan.
Pada pinsipnya, Garwa mengatakan, ISI Denpasar sudah siap dari segala aspek. Hanya saja yang perlu digenjot adalah penyesuaian musik dengan tarian, serta penguasaan medan. “Tahun 2017 tempatnya di Pantai Samuh, Tanjung Benoa. Tahun ini di Pantai Pendawa, jadi perlu penyesuaian. Tapi tempat tahun ini sangat bagus,” kata Garwa, ditemui sebelum memimpin rakor.
Dosen yang selalu tampil energik ini menjelaskan, Ketug artinya bergetar, sedangkan Bumi artinya jagat. “Maknanya, bagaimana kita menggetarkan jagat dengan alat musik,” imbuh dia. Sehingga instrument yang digunakan berukuran serba besar, seperti kendang besar, ceng-ceng besar, jimbe, keroncongan, dan instrument musik lain yang telah diuji coba. Hingga saat ini, ia mengaku belum menemukan bentuk yang sempurna, karenanya berdasarkan perintah Rektor Prof. Arya, Ketug Bumi akan terus di-eksplor dengan melibatkan seniman dari berbagai unsur.
Minggu depan, ia menargetkan sudah menggelar latihan lapangan agar mahasiswa mengetahui alur dari awal hingga tiba di panggung kehormatan. Seizin rektor, Garwa mengaku, ISI Denpasar selalu berkomitmen mempersembahkan karya terbaik bagi masyarakat. Apa lagi, ISI sebagai kampus pengembang kesenian memiliki kompetensi untuk itu.
Lebih lanjut, Garwa yang didampingi Humas I Gde Eko Jaya Utama, SE., MM., berujar hal tersebut menandakan sinergi antara ISI Denpasar dengan Pemerintah Kabupaten Badung makin menguat, terlebih pasca-penandatanganan MoU antar kedua lembaga beberapa waktu lalu. Tahun 2018 ini, kelompok mahasiswa ISI Denpasar juga menggelar Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Kecamatan Abiansemal dan Petang.
Lembaga Penenilitian juga sudah mengajukan jadwal kegiatan PKL yang meliputi pemetaan kesenian dan mencetak ‘blue print’ kesenian di kabupaten berjuluk Gumi Keri situ. “Untuk kegiatan PKL kami sudah ajukan di dinas kebudayaan dan dinas bapeda. Kalau untuk kegiatan di Badung Bahari Festival, itu melalui Dinas Pariwisata Badung,” kata Garwa memungkasi.
Kiriman : I Wayan Budiarsa (Jurusan Tari FSP ISI Denpasar)
Abstrak
Event parade kesenian sangat diperlukan dalam perkembangan zaman yang semakin kompleks seperti sekarang ini. Perhatian dari berbagai pihak mesti ditingkatkan guna keberlangsungan suatu kesenian. Tidak dapat dipungkiri, adanya unsur budaya global yang mulai merambah keberbagai pelosok dunia, bukan tidak mungkin akan berdampak pada kesenian lokal/ tradisi ke arah arus kepunahan. Maka, benteng tradisi lokal mesti diperkuat guna keajegan, kelestarian seni budaya yang telah kita warisi. Salah satunya di Bali telah diwujudkan pesta tahunan melalui pelaksanaan Pesta Kesenian Bali yang merupakan wahana pelestarian, perkembangan bagi kehidupan kesenian Bali khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Setidaknya melalui even kesenian seperti PKB dapat dipakai sebagai jembatan memupuk rasa kebersamaan, perekat, saling membutuhkan, serta terjalin solidaritas aktualitas bersama, seperti etnis Bali dan etnis Sasak di kancah PKB tahun 2017 yang telah lewat.
Kata Kunci: Fragmentari, Bali-Sasak, Persatuan
Selengkapnya dapat unduh disini