by tik ISi | Nov 8, 2019 | Artikel
Kiriman : Ida Bagus Paramartha (Program Studi Desain Interior FSRD
Institut Seni Indonesia Denpasar)
Abstrak
Desain bisa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur dan berbagai pencapaian kreatif lainnya yang merupakan salah satu unsur kebudayaan suatu daerah yang merupakan hasil karya cipta berbasis desain yang memiliki tujuan, fungsi dan makna tersendiri di setiap elemennya. Arsitektur museum di bali dari masa ke masa mengalami perkembangan serta perubahan sesuai dengan tradisi, ataupun trend ke kinian di masa tersebut dimana arsitektur museum di bali pada masa tertentu dapat dilihat dari beberapa museum yang terkenal di bali. Ada beberapa desain museum yang masih menerapkan desain khas bali sebagai upaya dalam pelestarian serta pengenalan identitas bali dibidang desain pada arsitektur. Oleh karena itu, penulis bermaksud untuk dapat mengkaji desain yang berkembang di Bali baik desain arsitektur tradisional Bali maupun desain modern yang diterapkan pada Agung Rai Museum Of Art. Penerapan desain yang tercermin yaitu ornament, material alami serta struktur arsitektur tradisional Bali. Sedangkan penerapan desain modernnya tercermin pada penerapan desain yang bergaya klasik.
Kata Kunci : Desain, Arsitektur, Kebudayaan, Bali, Modern
Selengkapnya dapat unduh disini
by tik ISi | Nov 7, 2019 | pengumuman
Dengan hormat, menindaklanjuti surat Kepala Biro SDM Kemristekdikti Nomor B/27064/A2.A4/KP.09.00/2019, tanggal 18 Oktober 2019 perihal tersebut diatas, maka perlu adanya persiapan pembaharuan data pada Kemdikbud. Seluruh PNS di lingkungan ISI Denpasar diharapkan mengisi dan melengkapi Form Rekonsiliasi Data (terlampir). Format excel dapat diunduh di website ISI Denpasar ( http://www.isi-dps.ac.id )
Untuk itu dimohon kepada Bapak/Ibu/Saudara Pimpinan unit kerja agar bisa menyampaikan dan mengkoordinir pengumpulan data tersebut pada seluruh PNS dilingkungan unit kerja masing-masing.
Pengumpulan Data dan dokumen pendukungnya disampaikan kepada Sub Bagian Kepegawaian BUK ISI Denpasar melaui e-mail : [email protected] paling lambat tanggal 22 Nopember 2019 dengan subjek : Rekonsiliasi Data dengan diikuti nama pegawai bersangkutan.
Contoh: Rekonsiliasi Data_Yudha Arsana
Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakas
by tik ISi | Nov 6, 2019 | Berita
Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/167200/festival-seni-bali-jani-2019-isi-denpasar-tampilkan-tenun-primitif
Denpasar (ANTARA) – Mahasiswa Program Studi Desain Mode, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Denpasar akan menampilkan berbagai karya busana yang dipadukan dengan sejumlah corak tenun primitif khas Bali dalam ajang Festival Seni Bali Jani di Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar pada Minggu (28/10).
“Peragaan busana yang melibatkan sekitar 30-40 model dari mahasiswa Prodi Desain yang menampilkan karya-karya terbaru, termasuk karya ujian akhir mahasiswa, akan bertajuk Nemu Gelang,” kata Ketua Jurusan Fashion ISI Denpasar, Dr Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, SSn, di Denpasar, Jumat.
Tema tersebut, lanjut dia, menggambarkan sebuah proses kreatif dalam penciptaan karya busana yang berujung pada kesadaran akan pentingnya penggunaan dan pemaknaan “wastra” atau kain Bali sebagai bagian dalam identitas karya.
Sedangkan para desainer yang terlibat selain dirinya juga ada Dr Tjokorda Abinanda Sukawati (Cok Abi), Kadek Wira Dika Saskara, I Gusti Ngurah Krisna Adi, Ni Kadek Yuni Diantari dan Putu Darmara Pradnya Paramita.
Cok Istri Cora menambahkan, adibusana berbasis pada wastra Bali merupakan muara dari proses kreatif seorang desainer. Sejauh ini, pesan yang ingin disampaikan sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali tentang Pemakaian Busana Adat.
“Dunia fashion identik glamour, lihat saja tren penggunaan busana di masyarakat belakangan ini apa yang lagi viral, corak busana , style begitu cepat meluas dan kompak digunakan. Sayangnya penggunaanya banyak yang melanggar secara etika, ini yang harus diberikan pemahaman secara konsisten kepada masyarakat yakni bagaimana berbusana yang baik dan benar sesuai norma yang berlaku,” ujarnya.
Untuk itu pihaknya mengajak masyarakat agar menumbuhkan pengetahuan berbusana yang beretika, seperti apa busana yang benar dan baik sehingga cocok dikenakan untuk ke pura, atau kegiatan lainnya tanpa menimbulkan efek negatif.
Dalam karya yang akan dipersembahkan nanti, Cok Istri Cora menyebut akan ada pengenalan bahan kain tenun khas Bali Timur, yang sejauh ini banyak orang tidak mengenalnya.
“Jadi ada wastra Bebali namanya Saudan dan Tuu Batu dalam karya adibusana, umurnya ratusan tahun, kami akan perkenalkan corak langka kain khas kita Bali yang punya, nanti kita kenalkan ke publik,” ujarnya.
Menurut dia, kain dengan polanya yang primitif, ketika digunakan dalam karya-karya kekinian jelas hasilnya luar biasa. “Jadi, orang Bali dalam menjalankan upacara Panca Yadnya, melalui napas doa dan harapan masyarakat kita tempo dulu, bisa dilihat dari jenis wastranya, sangat disakralkan, nah ini yang kita coba sedang gali, dimana pengetahuan leluhur kita maha hebat itu mewarisi karya busana yang kita masih bisa lihat hari ini,” katanya.
Cok Istri Cora mengapresiasi kegiatan ajang Festival Seni Bali Jani sebagai wahana anak muda berkarya dan memberikan harapan untuk tumbuh generasi yang produktif dan menghasilkan di masa mendatang.
“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kegiatan Festival Seni Bali Jani ini sebagai wadah kreativitas anak muda, para pelajar, mahasiswa menunjukkan kemampuannya dalam menggali karya-karya utamanya di dunia mode atau fashion,” ujarnya.
Untuk diketahui, ajang Seni Bali Jani yang berlangsung dari 26 Oktober-8 November 2019, secara umum akan menampilkan berbagi kegiatan diantaranya Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran), Aguron-guron (Workshop), Kandarupa (Pameran), Tenten (Pasar Malam Seni), Timbang Rasa (Sarasehan).
by tik ISi | Nov 6, 2019 | Berita
Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/167335/isi-denpasar-mantapkan-keahlian-mahasiswa-dalam-seni-ukir-tulang
Denpasar (ANTARA) – Sivitas akademika ISI Denpasar mengadakan lokakarya/workshop dengan menghadirkan seniman ukir dari Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, untuk memantapkan keahlian mahasiswa dalam seni mengukir tulang menggunakan teknik atau alat foredom.
“Biasanya foredom ini digunakan untuk mengukir atau membuat benda-benda yang kecil dan unik. Dengan kegiatan ini, kami harapkan dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan mahasiswa agar tidak saja ahli menggunakan pahat,” kata Sekretaris Panita Workshop yang juga akademisi ISI Denpasar I Ketut Sida Arsa, di Denpasar, Sabtu.
Pada kegiatan pelatihan yang diikuti para mahasiswa semua tingkatan dari Prodi Kriya ISI Denpasar itu, foredom digunakan untuk mengukir tulang sapi. “Tulang sapi yang diukir ini telah melalui proses perebusan sehingga aman dan higienis dipakai sebagai produk kerajinan,” ucapnya.
Oleh karena foredom itu ukuran mesinnya kecil, lanjut Sida Arsa, sehingga pemanfaatannya bukan untuk produk kerajinan skala besar, tetapi khusus untuk produk cinderamata dan aksesoris.
Mesin ukir foredom tidak saja dapat dimanfaatkan untuk mengukir tulang, tetapi bisa dimanfaatkan hampir di semua material seperti dalam media kayu hingga tempurung kelapa. Yang belum pernah digunakan untuk mengukir keramik karena tingkat kekerasannya tinggi dan juga getas.
“Kami memang melibatkan mahasiswa di semua angkatan, tetapi untuk workshop ini kami pilih. Untuk berikutnya, kami harapkan mereka dapat menularkan keahliannya dalam penguasaan alat pada rekan-rekan mahasiswa lainnya,” ujar Sida Arsa.
Dengan mahasiswa lebih banyak menguasai alat untuk mengukir di berbagai media, diharapkan bisa diterapkan pula pada mata kuliah yang ada. Apalagi kegiatan pelatihan dibimbing langsung seniman ukir tulang Dewa Ketut Kenak dan Dewa Komang Drika dari Tampaksiring, Gianyar.
Dalam kegiatan “workshop” yang berlangsung selama dua hari, 25-26 Oktober 2019 itu terlihat mahasiswa sangat antusias mengukir di atas media tulang sapi menggunakan foredom.