M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI Denpasar padukan kuliah daring dan konvensional di tengah COVID-19

ISI Denpasar padukan kuliah daring dan konvensional di tengah COVID-19

ISI Denpasar padukan kuliah daring dan konvensional di tengah COVID-19

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/202310/isi-denpasar-padukan-kuliah-daring-dan-konvensional-di-tengah-covid-19

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr Drs I Nyoman Artayasa, MKes (Antaranews Bali/Dok ISI Denpasar/2020)Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia Denpasar berencana memadukan sistem perkuliahan daring dan tatap muka (konvensional) di tengah pandemi COVID-19, untuk menyempurnakan sistem perkuliahan dari satu-satunya kampus seni “pelat merah” di wilayah Bali dan Nusa Tenggara itu.

“Semester depan, kami akan berencana menata itu (perkuliahan) dengan baik, kami kombinasikan antara daring dan pertemuan fisik, sehingga benar-benar bisa diatasi suasana COVID-19 ini. Seberapa kita berani bertemu dengan fisik, seberapa secara daring. Atau yang mana bisa dilakukan daring dan yang mana diperlukan ‘assessment’ lapangan,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr Drs I Nyoman Artayasa, MKes, di Denpasar, Kamis.

Menurut Prof Artayasa, sejak diberlakukannya status darurat COVID-19 di dunia pendidikan mulai pertengahan Maret 2020, pimpinan ISI Denpasar telah langsung merespons dengan menyiapkan perkuliahan secara “online” atau dalam jaringan (daring).

“Begitu ada instruksi dari pusat, kami langsung koordinasi dengan bagian IT di kampus. Semua dosen sudah punya email, kami manfaatkan perkuliahan dengan aplikasi google clashroom, termasuk bimbingan proposal skripsi dan tesis,” ujarnya didampingi Humas I Gede Eko Jaya Utama, SE, MM itu.

Mengingat hingga saat ini pemerintah belum mengizinkan perguruan tinggi menggelar perkuliahan tatap muka langsung (konvensional), Artayasa mengaku akan menyempurnakan perkuliahan daring, berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya.

Baca juga: ISI Denpasar selenggarakan UTBK dengan protokol kesehatan ketat

Dalam memadukan perkuliahan daring dengan tatap muka langsung, lanjut Prof Artayasa, tentunya disesuaikan dengan mata kuliah atau ujian apa yang bisa di-daring-kan, dan mana yang harus digelar langsung.

“Pandemi ini secara tidak langsung memaksa civitas akademika menguasai teknologi informasi yang menjadi keniscayaan menghadapi era revolusi industri 4.0,” katanya.

Praktik seni, ujar Prof Artayasa, juga bisa dilakukan secara daring dengan merekam proses dari awal penciptaan kemudian diserahkan pada dosen. Kalau ada yang belum, kemudian dilakukan di kampus.

“Seperti praktik pedalangan dilakukan di kampus dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Intinya kami selektif, tidak seperti dulu sebebas kita melihat kemampuan mahasiswa

Di sisi lain mengenai riak-riak protes mahasiswa ISI Denpasar yang menuntut bantuan kuota internet beberapa waktu lalu, Artayasa mengaku bisa memakluminya karena adanya ‘kegagapan’ dari pemerintah pusat dan internal kampus sebagai eksekutor. Namun ia menegaskan sudah berupaya semaksimal mungkin membantu mahasiswa.

Sejumlah mahasiswa ada yang mencari informasi tentang bantuan kuota internet gratis ke kampus-kampus ISI di luar Bali. “Ada mahasiswa yang bilang di ISI Yogyakarta sudah memberikan kuota internet gratis ke mahasiswanya. Setelah kita cek ternyata belum. Jadi persoalan kita secara nasional sama,” ujarnya.

Baca juga: Wagub Bali minta ISI Denpasar rumuskan protokol pertunjukan seni

Pada prinsipnya, lanjut Prof Artayasa, ISI Denpasar ingin bekerja bersih. Apalagi menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), ada prosedur ketat yang harus dilewati, tidak bisa terburu. Ia juga meminta mahasiswanya tidak membandingkan bantuan kuota internet dengan perguruan tinggi swasta yang jelas-jelas beda manajemen.

Ia memastikan baik pemerintah daerah dan pusat telah berupaya maksimal membantu mahasiswa di perguruan tinggi negeri maupun swasta agar operasional kampus tetap berjalan. Salah satu buktinya adalah pemerintah telah merelaksasi biaya UKT dan membantu biaya Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP).

Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA

ISI Denpasar selenggarakan UTBK dengan protokol kesehatan ketat

ISI Denpasar selenggarakan UTBK dengan protokol kesehatan ketat

ISI Denpasar selenggarakan UTBK dengan protokol kesehatan ketat

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/200930/isi-denpasar-selenggarakan-utbk-dengan-protokol-kesehatan-ketat

Suasana UTBK di ISI Denpasar. (ANTARA/Ni Luh Rhisma/2020)Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menyelenggarakan ujian tulis berbasis komputer (UTBK) untuk seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri tahun 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penularan COVID-19.

“Secara teknis, semuanya sudah sesuai dengan sistem nasional dan standar-standar protokol kesehatan pencegahan COVID-19,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr I Nyoman Artayasa, MKes, saat meninjau pelaksanaan UTBK hari pertama di Kampus ISI Denpasar, Minggu.

Di gerbang kampus, ada petugas yang mengukur suhu tubuh peserta UTBK. Kalau ada peserta yang suhu tubuhnya di atas 37,5 derajat Celsius maka panitia akan mengarahkan peserta yang bersangkutan untuk mengikuti ujian pada hari yang lain.

“Yang berhalangan karena sakit, bisa mengikuti sesi force majeur ataupun diarahkan ke sesi kedua, itu sudah ada sistem tersendiri untuk melaporkan. Bisa saja suhu tubuh peserta meningkat karena sebelumnya melalui perjalanan jauh. Mudah-mudahan 100 persen bisa mengikuti UTBK kali ini,” kata Artayasa didampingi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Dr I Komang Sudirga dan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Dr AA Gede Bagus Udayana itu.

Selain itu, peserta UTBK yang jumlahnya  2.815 orang harus mengenakan masker. Tempat cuci tangan dan cairan “hand sanitizer” juga disediakan di lokasi UTBK.

Baca juga: ISI Denpasar terapkan protokol kesehatan ketat untuk UTBK 2020

Panitia mengatur jarak tempat duduk peserta ujian sesuai dengan protokol pencegahan COVID-19. Pada masa pergantian sesi, ruangan ujian didisinfeksi untuk mencegah penularan virus corona.

Artayasa mengatakan, panitia UTBK sudah mengantongi izin dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Bali.

Panitia pelaksanaan UTBK ISI Denpasar juga telah berkoordinasi dengan puskesmas terdekat.  “Sebelumnya kami juga sudah sowan ke Puskesmas Dentim untuk mengantisipasi jika ada kondisi yang tidak diinginkan terjadi pada peserta. Pihak dari Puskesmas yang posisinya dekat dengan Kampus ISI Denpasar pun sudah menyatakan siap setiap saat,” kata Artayasa.

Artayasa menjelaskan, dalam seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri tahun akademik 2020/2021 para peserta seleksi bersaing untuk menempati 40 persen dari sekitar 700 kursi mahasiswa baru di ISI Denpasar.

Baca juga: Wagub Bali minta ISI Denpasar rumuskan protokol pertunjukan seni

Pelaksanaan Ujian

Koordinator Pelaksana UTBK ISI Denpasar I Ketut Adi Sugita mengatakan UTBK dilaksanakan di empat laboratorium dengan 110 komputer di kampus ISI Denpasar.

Ujian dilaksanakan dua tahap, tahap pertama 5 sampai 14 Juli dan tahap kedua 20 sampai 29 Juli 2020. Selain itu ada sesi ujian 29 Juli sampai 1 Agustus 2020 bagi peserta yang karena kondisi tertentu seperti bencana tidak bisa mengikuti ujian pada jadwal yang ditentukan. “Mudah-mudahan tidak sampai terjadi hal seperti itu,” kata Sugita.

Sugita menjelaskan pula bahwa dalam setiap ruang ujian disiapkan dua  hingga tiga komputer untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gangguan pada komputer yang digunakan oleh peserta ujian.

Baca juga: Terkait akreditasi internasional, ISI Denpasar datangkan sutradara Julie Taymor

Panitia juga sudah menyiapkan genset untuk mengantisipasi kemungkinan listrik mati dan berupaya mengamankan koneksi internet dengan menggunakan dua provider selama pelaksanaan ujian.

“Penyelenggaraan UTBK untuk tahun ini di tengah pandemi COVID-19 memang paling unik, tidak bisa seperti biasanya. Sesi pelaksanaan UTBK dipotong, materinya juga dikurangi, tidak selengkap tahun-tahun sebelumnya,” kata Sugita didampingi Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama, SE, MM itu.

Koordinator TIK UTBK ISI Denpasar Nyoman Lia Susanthi, SS, MA menambahkan, selain disiapkan dua server, juga di-backup dua server lagi.

Untuk pelaksanaan UTBK tahap pertama dari 5-14 Juli dibagi ke dalam 19 sesi, sedangkan untuk tahap kedua dari 20-19 Juli terbagi dalam sembilan sesi.

“Selain itu juga disiapkan ujian cadangan dan relokasi peserta jika dihadapkan pada masalah COVID-19 seperti misalnya dari daerah-daerah zona merah, permasalahan bencana alam, dan permasalah infrastruktur. Force majeur disiapkan untuk ujian cadangan. Relokasi peserta untuk penginputan datanya itu pada 6 Juli 2020,” ujar Lia. 

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiwaan dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr I Nyoman Artayasa, MKes didampingi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Dr I Komang Sudirga dan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Dr AA Gede Bagus Udayana disela-sela meninjau pelaksanaan UTBK hari pertama di Kampus ISI Denpasar (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2020)

Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA

ISI Denpasar terima 83 calon mahasiswa baru dari SNMPTN

ISI Denpasar terima 83 calon mahasiswa baru dari SNMPTN

ISI Denpasar terima 83 calon mahasiswa baru dari SNMPTN

Sumber : https://bali.antaranews.com/berita/188722/isi-denpasar-terima-83-calon-mahasiswa-baru-dari-snmptn

Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia Denpasar menerima sebanyak 83 orang calon mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021 yang telah lulus dari hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

“Penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021 tidak berhenti pada jalur SNMPTN, namun pada bulan Juli mendatang akan dibuka jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Jalur SBMPTN ini akan ditentukan melalui tes tulis yang telah ditentukan oleh tim dari pusat,” kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum, di Denpasar, Jumat.

Terkait dengan sistem tes SBMPTN di tengah situasi pandemi COVID-19, Prof Arya mengatakan pihaknya akan mengikuti aturan dari pemerintah pusat.

“Kami akan mengikuti aturan dari pemerintah, bagaimana sistem tesnya. Karena kita tidak tahu kapan COVID-19 ini akan berakhir. Pokoknya semua yang telah dijadwalkan akan jalan, meskipun dengan sistem yang berbeda,” ujar guru besar seni karawitan itu.

Selain membuka jalur SBMPTN, pihaknya juga akan membuka seleksi jalur Mandiri pada bulan Agustus mendatang, karena masing-masing perguruan tinggi diberikan kuota 30 persen untuk menerima mahasiswa baru secara mandiri.

Prof Arya menambahkan, kuota penerimaan mahasiswa baru di ISI Denpasar untuk tahun akademik 2020/2021 tetap sama seperti tahun sebelumnya, yaitu 600 orang mahasiswa baru.

“Hanya saja kami meningkatkan jumlah penerimaan mahasiswa baru di Program Pascasarjana, karena kami akan membuka Prodi S2 Desain,” ucapnya.

Baca juga: ISI Denpasar jadi penyelenggara pusat UTBK pada SBMPTN 2020

Sementara itu, Wakil Rektor Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr I Nyoman Artayasa, MKes, mengemukakan dari 83 calon mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SNMPTN, Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual yang paling banyak diminati yakni 24 orang.

Kemudian Desain Interior (12 orang), Prodi Tari (11 orang), Prodi Fotografi (10), Prodi Seni Drama, Tari dan Musik (10 orang) dan sebagainya.

Calon mahasiswa baru tersebut tidak saja berasal dari berbagai siswa SMA/SMK di Bali, namun juga beberapa provinsi di Tanah Air, bahkan ada yang berasal dari luar negeri.

Prof Artayasa merinci kuota penerimaan mahasiswa baru untuk jalur SNMPTN sebanyak 30 persen, SBMPTN 40 persen dan sisanya 30 persen melalui jalur Mandiri.

“Untuk jalur SNMPTN ini ada beberapa program studi yang belum terpenuhi kuotanya dan itu akan dipenuhi pada periode berikutnya, sampai dengan daya tampung dalam satu kelas terpenuhi,” ucapnya.

Daya tampung di jalur SNMPTN, kata Prof Artayasa, sebenarnya 145 mahasiswa untuk yang S1, belum termasuk untuk yang D4.

“Secara keseluruhan memang belum terpenuhi kuotanya di SNMPTN karena hanya 83 orang. Tetapi yang bagus bagi kami adalah semua prodi sekarang sudah terisi. Jadi sudah ada peningkatan dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Mengenai seleksi Jalur SBMPTN, ada perubahan jadwal untuk Ujian Tulis Berbasis Komputernya (UTBK) yakni pendaftarannya 2-20 Juni 2020, pelaksanaan UTBK 5-12 Juli, dan pengumuman SBMPTN pada 25 Juli 2020.

“Materi tes yang diujikan adalah hanya Tes Potensi Skolastik dan jaraknya diatur sesuai dengan protokol COVID-19. Mudah-mudahan saat itu COVID-19 sudah hilang,” kata Prof Artayasa.

Dia menambahkan, di tengah situasi pandemi COVID-19, proses pembelajaran “online” di ISI Denpasar berjalan dengan baik, karena para dosen sudah melaksanakan melalui WA grup, zoom, google meet dan lainnya. Bahkan ujian proposal mahasiswa S2 juga dilaksanakan dengan aplikasi zoom.

Sedangkan untuk mata kuliah yang berisi praktik akan diundur pada akhir semester, atau sekitar bulan Juli mendatang. “Mungkin akan ada perpanjangan di semester ini untuk mengejar proses belajar-mengajar yang belum genap,” katanya.

Wakil Rektor Akademik, Kemahasiwaan dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr I Nyoman Artayasa, MKes (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2020)

Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA

Comparative studies of Owen Jones and Christopher Alexander Related to Pattern Design and Cultural Knowledge

Kiriman : Nyoman Dewi Pebryani (Dosen Desain Mode ISI Denpasar)

Abstract

Owen Jones and Christopher Alexander are two architects who explored design in different years, so their perspective and exploration in patterns design are distinctive. The comparative analysis between these two architects will start from the different standpoint of “pattern” definition introduced by each architect and continue with a description about the way that the theories of each architect relates to the classification of pattern design and cultural knowledge.

Keywords: Owen Jones, Christopher Alexander, Ornament, pattern design, computation

Selengkapnya dapat unduh disini

Loading...