Wangi dupa diatas canang, menebar aura memberi spirit gerak tari seorang anak. Alunan tembang klasik menggema di seluruh wantilan, hingga mengetuk ruang hati yang hadir tuk sejenak berpikir. Penari cilik itu menari, bukannya tanpa makna. Tariannya penuh ekspresi, mengolah tempo yang datar, seakan sadar pada isi alam. Ia memainkan kain putih, melilit, membentuk garis lurus,
Wangi dupa diatas canang, menebar aura memberi spirit gerak tari seorang anak. Alunan tembang klasik menggema di seluruh wantilan, hingga mengetuk ruang hati yang hadir tuk sejenak berpikir. Penari cilik itu menari, bukannya tanpa makna. Tariannya penuh ekspresi, mengolah tempo yang datar, seakan sadar pada isi alam. Ia memainkan kain putih, melilit, membentuk garis lurus, dan terkadang saling merespon dengan seorang wanita setengah baya. Anak itu kemudian melepas kain, lalu tidur dipangkuan wanita itu.
Itulah garapan tari berjudul “Pangraksa Jiwa” yang disajikan pada acara ‘Bulan Menari’ di Wantilan Insititut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, belum lama ini. Tari ini menampilkan penari cilik bernama I Made Manipuspaka, yang menari sendiri (tunggal) mengekplorasi alunan dari kidung suci itu. Garapan ini menjadi unik, ketika dua pendukung lainnya, yakni Ida Ayu Wayan Prihandari dan Sri Supriyatini melantunkan tembang yang memiliki makna sama, namun dengan bahasa yang berbeda (bahasa bali dan bahasa Jawa).
Garapan tari karya Ida Ayu Wayan Arya Satyani, S.Sn., M.Sn itu idenya dari sebuah kidung pada upacara “kepus pungsed” (pupus pusar) sebuah tradisi yang ada di daerah Karangasem. “Ini adalah tradisi di desa kami yang diyakini karya Danghyang Dwijendra saat ada di Karangasem. Di Jawa, kidung ini juga biasa dinyanyikan untuk doa Sunan Kalijaga, sehingga saya semakin tertarik untuk mengangkatnya ke dalam sebuah seni pertunjukan tari,” jelasnya.
Meski tampak sederhana, namun garapan ini memiliki makna mendalam. Perbedaan hanya sebagai warna dan keindahan saja, namun jika semua perbedaan itu bersatu padu akan menjadi sebuah kekuatan. “Adakah jiwa ini berbeda, jika ia bermula dan berpulang pada yang Esa. Kidung Pangraksa Jiwa atau Kidung Rumekso Ing Wengi atau Kidung Hikayat Nabi adalah doa keselamatan. Ruh toleransi yang ditanamkan pada sang jiwa. Maka kuatlah Ia,” papar Dayu Ani puitis.
Bulan Menari, sebuah ajang seni bulanan yang digagas Program Studi Seni Tari ISI Denpasar, juga menampilkan karya I Ketut Sutapa, SST., M.Sn. dengan judul Kait Kiat, karya Anak Agung Bagus Suendra Diputra dengan judul Akwayan, karya I Nyoman Swandana Putra, SSn berjudul Gongseng Mas dan karya I Nyoman Kharisma Aditya Hartana (ucup) berjudl Conversation. (BTN/bud)
Denpasar (ANTARA) – Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum mengajak seluruh mahasiswa baru di kampus setempat untuk berbangga menjadi bagian dari kampus seni negeri satu-satunya di wilayah Indonesia bagian tengah itu.
“ISI Denpasar merupakan kampus seni negeri satu-satunya di wilayah Indonesia bagian tengah dan memiliki sejumlah keunggulan yakni akreditasi institusi nilai A, 90 persen prodi juga akreditasinya A dan lulusannya terbukti tidak ada yang menganggur,” kata Prof Arya Sugiartha saat acara pengesahan sebanyak 491 mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 di Denpasar, Selasa.
Guru besar seni karawitan ini juga menegaskan bahwa ISI Denpasar bukanlah lembaga pendidikan yang prematur. Diapun kemudian memaparkan sejarah berdirinya ISI dari awal, proses akademik hingaa pembiayaan yang 80 persen didukung pemerintah melalui APBN serta untuk SPP, pihaknya telah memberlakukan subsidi silang menyesuaikan dengan kemampuan orangtua masing-masing mahasiswa.
ISI Denpasar, lanjut Prof Arya, kalau dilihat dari sejarahnya berawal dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, didirikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Bali tahun 1967. Kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) atas prakarsa Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya), beberapa tahun berselang barulah STSI menjadi Institut.
Pendirian ASTI Denpasar dilandasi Pola Dasar Kebijaksanaan Pembinaan Kebudayaan Daerah Bali yang memperhatikan sifat-sifat pertahanan, penggalian, pembinaan dan pengembangan kebudayaan daerah Bali.
“Makin intensifnya interaksi antara kebudayaan dan teknologi, serta bertambah banyaknya seniman yang meninggal dunia, menyebabkan beberapa bentuk kesenian tradisional Bali dikhawatirkan akan punah, sehingga perlu diadakan pendidikan kesenian bagi generasi muda sebagai pewaris dan penyelamat kebudayaan bangsa,” ucap akademisi dari Kabupaten Tabanan.
Di sisi lain, Prof Arya menegaskan ISI Denpasar adalah pendukung Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjunjung keragaman dalam bingkai NKRI.
“Mumpung ini di awal, jika ada di ruangan ini yang masih meragukan Pancasila, silakan angkat kaki dari ISI Denpasar,” katanya di depan mahasiswa baru dan ratusan orang tua mahasiswa tersebut.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni ISI Denpasar Prof Dr I Nyoman Artayasa MKes mengatakan proses seleksi tahun ini dilakukan lewat tiga jalur, berpedoman pada Peraturan Menristekdikti No 60/2018, yakni yang diterima melalui SNMPTN (51 orang), SBMPTN (160 orang) dan Jalur Mandiri (280 orang).
“ISI Denpasar mendapat kuota Bidikmisi sebanyak 106, dan semua telah terisi dari ketiga jalur tersebut,” ujar Artayasa.
Sejak dua tahun terakhir, serapan mahasiswa baru yang masuk ke ISI Denpasar makin meluas, bahkan hampir di seluruh provinsi di Indonesia, juga dari kantong-kantong transmigran.
“ISI Denpasar tahun ini juga siap membuka program studi Magister Desain dan Magister Pendidikan Seni. Proses proposalnya sudah hampir rampung. Prodi tersebut didirikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat berdasarkan hasil kajian,” kata Artayasa.
Sebanyak 491 mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar disahkan pada Sidang Terbuka Senat di Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar dengan dipimpin Ketua Senat I Wayan Gulendra.
Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha berfoto bersama didampingi Wakil Rektor Prof Dr I Nyoman Artayasa MKes serta perwakilan fakultas dan mahasiswa baru (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2019)
Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia Denpasar terus berkomitmen untuk menjadikan mahasiswa dan lulusannya sebagai pribadi yang kreatif dan mandiri.
“Sebelum mereka yudisium, banyak perusahaan meminta tenaga kerja kepada saya, lalu saya tawarkan ke mahasiswa, tidak ada yang mau. Alasannya, mereka sudah punya kerjaan atau usaha mandiri,” kata Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar Dr AA Gde Bagus Udayana, SSn, MSi, usai meyudisium 206 lulusan pada Yudisium Semester Genap 2019, di Denpasar, Jumat.
Ia menjelaskan, selain melanjutkan ke jenjang magister (S2), hampir seluruh lulusan FSRD di kampus seni negeri di Bali itu telah mendapatkan dan menciptakan lapangan kerja mandiri (job creator).
“Peserta didik di FSRD memang telah digembleng secara keras agar menghasilkan output kreatif dan mandiri. Salah satu contoh dengan menggelar event-event besar di kampus,” ucapnya.
Pihaknya tidak memanjakan mahasiswa dengan sokongan dana melimpah, tetapi setiap kegiatan pasti sukses karena kreativitas mahasiswa menggali dana dengan cara mereka sendiri.
“Saya salut, karena mereka selalu punya akal menggali dana dengan ilmunya, misalnya jual kaos, merchandise atau pameran. Pola pendidikan seperti itu, membuat mahasiswa bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah walaupun belum lulus dari bangku kuliah,” ujarnya.
Udayana berharap pemerintah memerhatikan permodalan para wirausaha kreatif lulusan FSRD, sebab umumnya mereka terkendala dana pembelian perangkat kerja.
“Apalagi software yang digunakan harus original. Jika tidak, karya mereka akan ditolak oleh pasar karena terdeteksi menggunakan perangkat bajakan,” kata dosen yang mantan jurnalis itu.
Pihaknya bertekad memberi sentuhan digitalisasi terhadap semua prodi yang dikelola, termasuk mengembangkan sejumlah prodi baru, seperti desain kartun.
“Tujuan kami mendekatkan diri pada generasi milenial,” kata Udayana, sembari mengungkapkan peminat mahasiswa baru ke FSRD naik 15 persen dari tahun lalu, sebanyak 300 orang.
Pada yudisium tersebut, lima lulusan dengan predikat IPK tertinggi pada Program Sarjana Terapan, Prodi Desain Mode diraih oleh Ni Made Michel Krisdayanti (3,84), Ni Pande Nyoman Ayu Triana Damayanti (3, 84), Renata Dianitasari (3,84), Ni Putu Irma Maha Sasmita (3,89), serta Ni Kadek Paramitha Puspita Handayani (3,79).
Sedangkan pada Program Sarjana, lulusan terbaik I Prodi Interior diraih oleh IA Ketut Andriyogi Pradnyaswari (3,94). Prodi Fotografi diraih I Gede Ngurah Hartawan (3,93). Terakhir dua lulusan terbaik dari Prodi Kriya diraih oleh Ni Kadek Yuliastini (3,90) dan Gusti Ngurah Agung Dalem Diatmika (3,90).
Pola pikir baru untuk merespons perubahan dalam era Revolusi Industri dengan konsep 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity thinking (berpikir kreatif), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi)Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia Denpasar mengingatkan konsep “4C” kepada 104 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan kampus setempat yang diyudisium agar bisa tetap bersaing di tengah era Revolusi Industri 4.0 .
“Di tengah era globalisasi dan Revolusi Industri 4.0, bahkan di Jepang sudah 5.0, maka tantangan yang kita hadapi semakin ketat. Era disrupsi ini telah menyebabkan terjadinya banyak pergeseran pekerjaan sehingga kita harus memiliki kompetensi agar tetap bisa bersaing,” kata Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga, SSn, MHum dalam sambutan pada Yudisium Mahasiswa FSP ISI Denpasar Periode Semester Genap Tahun 2019, di kampus setempat, di Denpasar, Kamis.
Sudirga mengemukakan pola pikir baru untuk merespons perubahan dalam era Revolusi Industri dengan konsep 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity thinking (berpikir kreatif), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi)”.
“Kami mengharapkan anak-anak tidak hanya lugas dalam berkarya seni, tetapi juga mampu menelurkan karya-karya tulis yang merupakan pertanggungjawaban dari karya mereka. Dalam membuat karya juga kritis menyikapi fenomena sosial dan fenomena kehidupan yang ada di lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Dengan demikian, mahasiswa yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya di ISI Denpasar itu dapat merespons fenomena sosial yang dapat dijadikan acuan oleh masyarakat.
“Kemudian di era revolusi industri ini, kemampuan mesin tidak akan mampu menyamai kemampuan otak manusia dan gagasan pada manusia. Oleh karena itu, dengan berpikir kreatif kita bisa menumbuhkan daya saing di era sekarang ini,” ucapnya.
Terkait komunikasi dan kolaborasi, lanjut Sudirga, artinya lulusan ISI Denpasar harus mampu membangun kerja sama satu dengan yang lain, tidak boleh egois dalam satu bidang. “Kita harus mampu menumbuhkan sikap multidisiplin, bahkan berguru lintas ilmu dan lintas generasi,” ujar Sudirga.
Untuk memantapkan kompetensi dan bisa menjadi orang yang berpengetahuan, Sudirga pun berpesan agar lulusannya tidak berhenti untuk menambah pengetahuan dengan terus belajar.
“Dengan bekal pengetahuan yang telah diberikan para dosen selama kuliah, kami harapkan nantinya bisa disumbangkan pada masyarakat sehingga sekaligus bisa mengibarkan panji-panji ISI Denpasar dimanapun berada. Semoga ISI Denpasar tetap jaya dan terus menghasilkan SDM unggul serta generasi emas,” ucap Sudirga.
Di sisi lain, Sudirga berpesan agar lulusan ISI Denpasar jangan sampai mengalami tujuh “kemabukan” atau dalam konsep Hindu dikenal dengan nama Sapta Timira, yakni mabuk karena ketampanan/kecantikan, mabuk karena harta, mabuk karena kepintaran, mabuk karena keturunan, mabuk karena masa muda, mabuk karena minuman keras, dan mabuk karena merasa mempunyai keberanian.
Sementara itu, Ketua Panitia Wardizal mengatakan 104 mahasiswa yang diyudisium berasal dari lima program studi/jurusan di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, yakni dari Prodi Tari (26 orang), Seni Karawitan (44 orang), Seni Pedalangan (10 orang), Pendidikan Seni Pertunjukan (14 orang) dan terakhir Prodi Musik (10 orang).
“Yudisium bukanlah acara seremonial atau dianggap formalitas belaka. Yudisium adalah proses akademik yang wajib dilaksanakan. Yudisium adalah proses akademik yang telah menyangkut penerapan nilai dan kelulusan mahasiswa dari seluruh proses akademik yang telah dijalaninya,” ucapnya.
Yudisium, tambah Wardizal, merupakan pengumuman nilai pada mahasiswa dan penetapan nilai dalam transkrip akademik serta memutuskan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh pejabat berwenang.
Dalam acara yudisium tersebut juga diumumkan mahasiswa dengan predikat peraih lima IPK tertinggi, yakni I Nyoman Agus Hari Sudarma Giri (IPK 3,97), Made Darma Yoga dan Ni Komang Ayu Pramesti (3,93), Gede Arip Pratama (3,92), Dwi Ayu Mandili (3,90) serta Sri Ayu Pradnya Larasari dan I Putu Sutresna Putra (IPK 3,88).
Denpasar (ANTARA) – Institut Seni Indonesia Denpasar mewadahi puluhan akademisi dari berbagai kampus di delapan kota di Nusantara mendiskusikan pengembangan kreativitas seni, kriya, dan desain dalam era Revolusi Industri 4.0 melalui Seminar Nasional Sandyakala 2019.
“Kami berharap dari Seminar Nasional Sandyakala 2019 ini dapat menghasilkan pemikiran yang disatukan dan didiskusikan, yang kemudian bermanfaat tidak saja untuk dunia akademik, tetapi juga untuk masyarakat,” kata I Nyoman Larry Julianto, Ketua Panitia Seminar Nasional Sandyakala 2019 dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar, di Denpasar, Kamis.
Larry yang juga dosen FSRD ISI Denpasar itu mengemukakan sebelumnya ada 64 pemakalah dari 10 kota besar di Indonesia yang ingin mempresentasikan makalahnya dalam seminar nasional di kampus seni negeri satu-satunya di wilayah Bali-Nusa Tenggara itu.
Namun, setelah melalui proses “review” yang dilakukan oleh tiga reviewer eksternal (dari Institut Teknologi Bandung, ISI Yogyakarta, dan Universitas Udayana) dan delapan reviewer internal dari ISI Denpasar, maka diputuskan 43 pemakalah yang berasal dari delapan kota yang berbeda untuk mempresentasikan makalah dari hasil penelitiannya.
Adapun 43 pemakalah itu berasal dari Kota Denpasar, Singaraja, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Gorontalo. Para akademisi tersebut mewakili 17 instansi pendidikan yakni Universitas Paramadina, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Telkom.
Kemudian dari Universitas Kristen Maranatha, ISI Yogyakarta, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, ISI Denpasar, Sekolah Tinggi Desain Bali, Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Universitas Pendidikan Ganesha, dan Universitas Gorontalo.
“Proses review makalah dilaksanakan dengan ‘blind review’ atau dengan kata lain, reviewer tidak mengetahui identitas dari pemakalah, dan pemakalah pun tidak mengetahui makalahnya diperiksa oleh siapa,” ujar akademisi dari Sembung, Mengwi, Kabupaten Badung itu.
Seminar nasional tersebut dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama adalah penyampaian materi dan diskusi oleh tiga narasumber yakni Dr Imam Santosa MSn (Institut Teknologi Bandung), Dr Prayanto Widyo Harsanto MSn (ISI Yogyakarta), dan Drs I Ketut Murdana MSn (ISI Denpasar).
Sesi kedua berupa presentasi paralel dari para pemakalah yang dibagi dalam lima kelas. Kemudian sesi terakhir diisi dengan pengumuman artikel (makalah) terbaik dan penyaji presentasi terbaik.
Adapun makalah terbaik merupakan karya Nyoman Lia Susanthi dan Ni Ketut Suryatini (ISI Denpasar) dan Ayoeningsih Dyah W (Universitas Paramadina). Sedangkan sebagai presenter atau pemakalah terbaik adalah Citra Smara Dewi (Universitas Indonesia), Nuning Yanti Damayanti (ITB) dan Iqbal Prabawa Wiguna (Universitas Telkom).
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan ISI Denpasar Dr Drs I Gusti Ngurah Seramasara MHum saat membuka seminar mengatakan pengaruh Revolusi Industri 4.0 telah terjadi secara masif dalam setiap jengkal kehidupan, yang terimplementasi melalui interaksi sosial dan komunikasi, transaksi ekonomi, model produksi, wacana budaya dan paradigma seni yang baru.
Revolusi Industri 4.0 diharapkan dapat menghasilkan transformasi yang pesat dan menyeluruh, yang didukung oleh implementasi teknologi utama yaitu internet of thing, artificial intelectual, robotic dan teknologi sensor.
“Pada saat ini, perkembangan digitalisasi seni merupakan arus besar yang mengglobal dan membuka dunia seni berbasis teknologi informasi digital, termasuk di dalamnya cyber art, information art, dan multimedia art,” ucapnya pada acara yang diikuti sekitar 200 peserta itu.
Oleh karena itu, menurut dia, perguruan tinggi terutama ISI Denpasar harus menciptakan SDM yang aktif terhadap teknologi informasi, internet, big data, dan komputerisasi.