Kiriman : I Wayan Nuriarta (Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar)
ABSTRAK
Panel-panel yang digunakan GM Sudarta dalam menghadirkan kartun Oom Pasikom sangat bervariasi. Ada yang menggunakan panel secara jelas, ada juga kartunnya menggunakan panel secara semu. Semu dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tapak seperti asli, padahal sama sekali bukan yang asli, tipu; muslihat. Dalam pembahasan ini, panel semu diartikan sebagai panel yang tidak tampak tetapi ada dalam menghadirkan transisi panel komik/ kartun strip. Panel tersebut dapat kita lihat dengan melakukan pemotongan-pemotongan “ruang” momen tiap panel. Panel tidak saja digambarkan secara jelas berupa bentuk persegi panjang, tetapi bisa juga hadir dengan memanfaatkan panel semu. Panel-panel semu terkadang digunakan untuk menghadirkan kesan agar kartun secara visual tampak tidak terikat atau statis karena adanya batas panel secara jelas. Kartun Oom Pasikom 14 Februari 2009 menggunakan panel semu dan memanfaatkan perubahan momen dengan transisi panel dari aksi ke aksi karena terjadi perubahan aksi antara panel 1 ke panel 2 dan panel 2 ke panel 3 pada tokoh-tokohnya. Transisi panel 1 ke panel 2 terlihat dari ekspresi wajah yang ditunjukan oleh tokoh anak dan Oom Pasikom pada kedua panel tersebut. Pada panel 1, tokoh anak digambarkan matanya tertutup dengan mulut yang kecil, dan Oom pasikom juga menunjukan ekspresi wajah yang tenang. Selanjutnya pada panel 2 ekspresi wajah anak dan Oom pasikom berubah. Tokoh anak dengan matanya yang terbuka lebar dengan mulut digambarkan terbuka lebar, dan Oom Pasikom juga digambarkan dengan wajah panik dan matanya terbuka. Transisi panel selanjutnya terjadi perubahan aksi pada tokoh di panel 3. Pada panel 3 digambarkan tokoh anak berhenti mengikuti Oom pasikom, ia terdiam, wajahnya dipalingkan menghadap ke pembaca sehingga senyumnya yang lebar memperlihatkan giginya sangat jelas digambarkan.
Kiriman : I Wayan Nuriarta (Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain)
Abstrak
Komik memiliki kekuatan tersendiri dalam menggambarkan sebuah cerita karena pada masing-masing panel dibuat keadaan yang mendukung alur cerita. Dahulu kita membaca komik secara sembunyi-sembunyi karena takut dimarah oleh orang tua kita. Membaca komik diartikan sebagai kegiatan yang mengganggu pelajaran sekolah dan juga dianggap membuang-buang waktu. Di Indonesia, para pendidik menentang kehadiran komik, apalagi komik yang berasal dari Barat. Mereka juga mengkritik komik bukan saja dari segi bentuknya yang dianggap tidak mendidik, melainkan juga dari segi gagasannya yang berbahaya. Para pendidik sempat berpikir untuk menghentikan penerbitan komik untuk selamanya. Bahkan memasuki tahun 1955, dilakukan pembakaran komik secara masal oleh pemerintah. Saat itu komik dinilai tidak bagus karena dianggap terlalu mengadaptasi budaya Barat. Para komikus kemudian mengadaptasi budaya Indonesia menjadi sebuah cerita dalam komik. Lahirnya komik wayang Indonesia dipandang sangat berhasil mewakili budaya bangsa dan mengakibatkan komik Amerika diabaikan orang serta menempatkan pengaruh Barat di tempat kedua. Periode yang ditandai oleh pengaruh besar dari Barat segera digantikan oleh periode pemantapan “kepribadian bangsa”, suatu hasrat murni yang mendorong komikus kembali ke wayang
Kata Kunci:Sejarah Komik, Komik Wayang, R.A Kosasih, Budaya
Kiriman : I Wayan Budiarsa (Prodi Tari FSP ISI Denpasar)
Abstrak
Covid19 yang melanda di awal tahun 2020 berdampak keberbagai sektor lapisan kehidupan masyarakat dunia. Virus yang menyerang manusia ini tidak mengenal batasan umur, level, status sosial, merebak menyerang secara cepat keberbagai belahan dunia. Negara Indonesia pun tidak luput dari serangan virus ini, negara berkembang yang menghandalkan sektor pariwisata/ seni budaya dalam promosi dan pendapatan negara lambat laun terpuruk juga. Salah satu yang terdampak dengan mewabahnya Covid19 adalah kegiatan seni pertunjukan tari. Salah satu protokol kesehatan yang dihimbau adalah tidak adanya kerumunan orang banyak dan menjaga jarak, sedangkan dunia tari tidak bisa lepas dari kontak sebagaimana himbauan tersebut. Seni pertunjukan digelar sudah barang tentu menimbulkan , melibatkan banyak orang baik dari pihak seniman maupun penontonya. Maka, demi keselamatan dan mengikuti himbauan pemerintah semenjak Maret hingga Juli 2020 kegiatan seni tari tidak lagi disajikan, baik dalam konteks Wali, Bebali, Balih-balihan/ turistik.
Kata kunci: Corona, Pertunjukan, Seni Tari Bali, Merana.
WEBINAR : Kegiatan Prodi Desain Mode serangkaian Hibah PPPTV Dirjen Pendidikan Vokasi
DENPASAR – Program Studi (Prodi) Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memenangkan hibah Program Penguatan Pendidikan Tinggi Vokasi (PPPTV) Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi tahun anggaran 2020.
Ketua Prodi Desain Mode FSRD Dr. Tjok Istri Ratna C.S, S.Sn, M.Si mengatakan, fokus utama kebijakan Dirjen Pendidikan Vokasi di tahun 2020 adalah penentuan perguruan tinggi penerima hibah PPPTV yang dilakukan melalui satu rangkaian proses seleksi terdiri atas tiga tahapan yaitu proposal, administrasi dan presentasi. “Pada gelombang pertama Program Studi Desain Mode, FSRD Institut Seni Indonesia Denpasar berhasil melalui seluruh rangkaian seleksi bersama 63 perguruan tinggi di Indonesia dan menyisihkan hampir 200 perguruan tinggi lainnya,” jelas Tjok Istri Cora, Minggu ( 18/10/2020).
Prodi Desain Mode melaksanakan hibah yang diraih melalui dua aktivitas utama yaitu aktivitas Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan aktivitas Pengembangan Peralatan Pendukung Pembelajaran. Aktivitas Penguatan SDM diimplementasikan melalui enam kegiatan dalam bentuk seminar, workshop, dan focus group discussion yang dilaksanakan secara daring serta satu pelatihan yang dilaksanakan secara luring. Sedangkan aktivitas pengembangan peralatan pendukung pembelajaran dilaksanakan melalui pengembangan sarana dan prasarana pada Prodi Desain Mode yang relevan dengan kebutuhan industri mode.
Dua aktivitas tersebut diwujudkan dalam satu rangkaian kegiatan bertajuk “Gema Citta Dwipantara” yang berarti kumandang kesadaran akan keberagaman adat, suku, budaya dan bahasa yang ada di Indonesia khususnya dalam industri mode.
Sementara, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar, memberi apresiasi dan selamat kepada Prodi Desain Mode atas dimenangkanya hibah tahun ini. ” Selamat kepada prodi desain mode dengan kegigihan sukses memenangkan hibah penguatan pendidikan tinggi vokasi dalam bentuk program kegiatan baik workshop, pelatihan, seminar dan dukungan peralatan senilai Rp 1. 1 Miliar, ” kata Prof. Arya.
Rektor asal Pujungan Pupuan ini berharap kepada Prodi Desain Mode, agar mahasiswa kedepan semakin mantap menyiapkan diri dalam peningkatan kualitas SDM. ” Peralatan semakin lengkap, belajar mengajar lancar sehingga muaranya anak didik kita semakin berkualitas untuk bersaing nanti mereka terjun di industri,” tandasnya.
Hal senada juga disampaikan Dekan FSRD Dr. A.A Gde Bagus Udayana , S.Sn, M.Si, mengatakan, melalui program ini, lebih fokus meningkatkan kesiapan SDM ketika mereka terjun ke industri. ” Lebih pada kerjasama yang dibangun antara pendidikan tinggi vokasi dengan industri, sehingga, lulusan anak didik kita ketika menyelesaikan kuliahnya langsung terserap oleh industri,” kata Udayana.
Untuk diketahui, agenda program penguatan pendidikan tinggi vokasi yang dilaksanakan melalui Hibah PPPTV Prodi Desain Mode berlangsung dari 14 -24 Oktober 2020 diantaranya webinar internasional menghadirkan tokoh profesional seperti Sri Astari Rasjid-webinar nasional, Bunda Ni Putu Putri Suastini – FGD, GBKRAA PAKU ALAM X – FGD, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana – FGD, Dr. Adrianus Laurens Gerung Waworuntu, S.S., M.A – FGD, Prof. Dr. Agus Windharto, DEA – Webinar Nasional, Dr. A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si – FGD, Dr. Ir. Yuke Ardhiati, M.T – Webinar Nasional, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. – webinar Internasional, Dr. Urmila Mohan – webinar internasional, Dr. Linda McIntosh – webinar internasional, Shingo Sato – webinar internasional, Okke Hatta Rajasa – webinar internasional.(sur)