M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI Denpasar Raih 3 Penghargaan Dalam Anugerah Media Humas (AMH) Tingkat Nasional

ISI Denpasar Raih 3 Penghargaan Dalam Anugerah Media Humas (AMH) Tingkat Nasional

DSC_0102Yogyakarta- Kegiatan Pertemuan Tahunan BAKOHUMAS Tahun 2009 merupakan kegiatan ke empat yang diselenggarakan di Yogyakarta (Hotel Inna Garuga, Yogyakarta), dari tanggal 28-29 Oktober 2009. Peserta dari Pertemuan Tahunan BAKOHUMAS berjumlah kurang lebih 750 peserta dari 500 instansi (departemen instansi pusat, lembaga negara, BUMN, Perguruan Tinggi Negeri, Humas Provinsi dan Humas Kabupaten/Kota) di seluruh Indonesia.

Tema Pertemuan Tahunan BAKOHUMAS Tahun 2009 adalah : “Peran humas pemerintah dalam menyongsong implementasi undang-undang keterbukaan informasi publik, pada tahun 2010”. Tema ini diambil dalam rangka kesiapan para pejabat humas pemerintahan di seluruh Indonesia dalam melaksanakan amanat Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, yang akan efektif berlaku pada bulan April Tahun 2010.

Sementara kegiatan lomba Anugerah Media Humas (AMH Tahun 2009) sesuai hasil penyeleksian diikuti oleh 167 peserta instansi pusat dan daerah (48 Departemen dan Lembaga Negara, 77 Pemda, 21 BUMN, serta 21 Perguruan Tinggi Negeri). Hasil seleksi yang dilakukan oleh Tim Penilai Independent dari kalangan media dan pakar kehumasan, diperoleh kurang lebih 114 nominasi untuk juara I, II, III, IV dan V, dari 6 kriterian, yakni : Penerbitan Internal; Profil Lembaga (cetak), Profil Lembaga (audio visual); Laporan Tahunan Cetak; Website; dan
Merchandise.

Dari enam kategori tersebut ISI Denpasar mengirimkan 4 produk yaitu Profil Lembaga (cetak), Profil Lembaga (audio visual); Website; dan Merchandise. ISI Denpasar yang notabene baru pertama kalinya bergabung dalam ajang ini mampu memboyong penghargaan ditiga kategori, yaitu Juara 2 Profil Lembaga (audio visual) yang merupakan hasil karya dari UPT. Puskom ISI Denpasar, dibawah pimpinan Hendra Santosa selaku Kepala Puskom ISI Denpasar, dengan dibantu oleh konseptor Ketut Hery Budiyana. Sementara website ISI Denpasar yang juga merupakan produk dari UPT. Puskom ISI Denpasar mendapat peringkat 5, dibawah rancangan IB. Praja Diputra. Untuk kategori merchandise, ISI Denpasar yang mengirimkan souvenir berupa kipas dan miniature wayang kayonan mendapat peringkat 4.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan bahagia atas prestasi yang diraih, pihaknya berharap agar keberhasilan ini dijadikan cambuk bagi semua civitas ISI Denpasar untuk lebih meningkatkan diri sehingga mampu mengukir prestasi. Keberhasilan ini menurut Prof. Rai, adalah anugrah Tuhan, sehingga tak henti-hentinya beliau bersujud dan menghaturkan syukur kehadapan Tuhan. Ini juga sebagai bentuk eksistensi ISI Denpasar dalan kancah dunia pendidikan di Indonesia. Prof. Rai pun mengucapkan terima kasih atas kerja keras tim yang mampu memboyong hingga 3 penghargaan, karena berkat prestasi ini mampu mengangkat citra positif ISI Denpasar di tingkat nasional.

HUMAS ISI DENPASAR MELAPORKAN

Berita yang sama

Garapan Ekperimental Tari Baris Dan Lawung “KEBO IWA”

Garapan Ekperimental Tari Baris Dan Lawung “KEBO IWA”

IMG_1727Denpasar- Sebagai implementasi atas keberhasilan ISI Denpasar dalam memenangkan Program Hibah Kompetisi (PHK) –B-Seni Bacht IV 2009, Jurusan Tari akan mementaskan garapan Eksperimental Tari Baris dan Lawung bertajuk “Kebo Iwa”. Garapan tersebut akan dipentaskan pada 1 Desember 2009 nanti. Guna memantapkan garapan tersebut para penari, penabuh serta pendukung acara sudah memulai kegiatan latihan sejak 21 November 2009. Latihan awal adalah latihan sektoral yang terbagi menjadi  3 sektor latihan, yaitu latihan tabuh, tari pria dan tari wanita.

Menurut konseptor garapan, Prof. Dibya, dalam garapan ini dicoba untuk mempertemukan dua tradisi tari klasik dari dua budaya yang berbeda yaitu Bali dan Jawa. Tari Bali diwakili dengan Baris sedangkan tari Jawa dengan tari Lawung. Keduanya merupakan tari kepahlawanan yang menggunakan senjata tombak. Garapan ini merupakan sebuah eksperimen untuk mempertemukan tari Baris dengan tari Lawung. Dalam dance and drama disebutkan bahwa eksperimen menunjukkan kedekatan antara tari Baris dengan tari Lawung.

Garapan ini dilatar belakangi dengan dua wilayah budaya yang berbeda (Jawa dan Bali), namun sejak berabad-abad yang lalu, telah memiliki interaksi kultural yang sangat akrab. Oleh sebab itu banyak perwujudan ekspresi budaya yang datang dari kedua daerah ini memiliki kedekatan walaupun secara fisik Nampak berbeda. Baris dan Lawung adalah dua jenis tari klasik/ tradisional dengan latar belakang budaya yang berbeda; Baris dari Bali, Lawung dari Jawa Tengah. Dibalik perbedaan wujud fisik dari keduanya, terdapat beberapa kedekatan rasa estetis yang kiranya dapat dipertemukan untuk menghasilkan suatu garapan tari yang bernafaskan Jawa-Bali sebagai satu strategi untuk melahirkan tari-tarian yang bernafaskan Nusantara.

IMG_1706Ekperimen tari “Baris Lawung” pada dasarnya sebuah upaya kreatif untuk mempertemukan unsur-unsur dua budaya Indonesia yang berbeda. Garapan ini lebih mengutamakan olah tari, dengan mengedepankan bahasa gerak, dari pada bahasa verbal. Oleh sebab, kisah Kebo Iwa hanya dijadikan “tali” untuk menjalin rangkaian tari yang dihasilkan dari pengolahan kembali terhadap untus-unsur tari Baris dan Lawung.

Pembabakan

Babak I – Arus Selat Bali

Gambaran tarik menarik arus air laut di Selat Bali yang digambarkan dengan munculnya Baris dan Lawung (dalam jumlah masing-masing 4 orang)

  • Baris
  • Lawung
  • Interaksi kedua kelompok

Babak II – Di Kerajaan Bedahulu

Patih Kebo Iwa menghadap Raja Bedahulu untuk memohon restu dari Sang Raja menjelang keberangkatannya ke tanah Jawa guna memenuhi undangan Maha Patih Gajah Mada.

  • Pasukan Baris
  • Patih Kebo Iwa
  • Raja Bedahulu (diiringi dayang-dayang)
  • Kebo Iwa meninggalkan Bedahulu

Babak III – Di Kerajaan Majapahit

Mahapatih Gajah Mada senantiasa mengawasi pasukan kerajaan. Tiba-tiba dating laporan akan tibanya pasukan Kebo Iwa dari Bali. Dalam suasana tegang, Gajah Mada menjelaskan bahwa yang dating bukan musuh melainkan Patih Kebo Iwa dari Bali atas undangan dirinya. Pasukan Majapahit kemudian bergerak menjemput pasukan bali.

  • Patih Gajah Mada
  • Pasukan Lawung
  • Utusan Jawa
  • Gajah Mada dan pasukan bergerak menjemput Kebo Iwa

Babak IV- Pertemuan Pasukan Bedahulu dan Majapahit

Dalam mengiringi Kebo Iwa dan Gajah Mada ke istana Majapahit, pasukan Bali dan Jawa bergabung dalam suasana yang penuh persaudaraan.

  • Pasukan kebo Iwa bertemu pasukan Gajah Mada
  • Gajah Mada menyambut Kebo Iwa dan mengantarnya ketempat peristirahatan
  • Kedua pasukan (Baris dan Lawung) bergerak bersama-sama mengiringi Gajah Mada dan Kebo Iwa.
Lokakarya Pembinaan Jurnal Bidang Seni ’Mudra’ ISI Denpasar

Lokakarya Pembinaan Jurnal Bidang Seni ’Mudra’ ISI Denpasar

Prof. Rai tengah menunjukkan jurnal "Mudra" ISI Denpasar

Prof. Rai tengah menunjukkan jurnal "Mudra" ISI Denpasar

Denpasar – Guna membangun serta menggairahkan semangat dalam bidang tulis menulis dilingkungan dosen ISI Denpasar, UPT. Penerbitan ISI Denpasar menggelar Lokakarya Pembinaan Jurnal Bidang Seni Mudra ISI Denpasar dari tgl 17-18 Nopember 2009, bertempat di Inna Bali Hotel Veteran. Kegiatan pengembangan jurnal bidang seni yang diberikan oleh DP2M-DIKTI kepada Jurnal Makara seri Sosial Humaniora untuk membina Jurnal MUDRA melalui hibah jurnal yang memenuhi Standar Mutu dan Tata Kelola Nasional, dengan ini pengelola jurnal MUDRA ISI Denpasar. Lokakarya diikuti 17 peserta yang terdiri dari penyunting, editor dan redaksi Jurnal Jurusan Tari (Agem), Karawitan (Bheri), Pedalangan (Wayang), Seni Rupa Murni (Rupa) dan Desain (Prabangkara). Hadir sebagai pembicara adalah Prof. Dr. Wasmen Manalu dengan 3 materi naskah tentang, yaitu ”Memburu Naskah Lebih Bermutu Dan Manajemen Naskah”, ”Teknik Penyuntingan” serta ”Organisasi Penerbitan Dan Kiat Menjamin Keterlibatan Aktif Mitra Bestari”, Dr. Yoki Yulizar, MSc. Dengan materi ”Pengalaman Pengelolaan Berkala Dan Pelanggan”, Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Putra Yadnya, M.A, yang mengevaluasi Jurnal. Selain itu hadir juga pembicara dari ISI Denpasar yaitu Drs. I Ketut Murdana., MSn, dengan materi ”Arah Kebijakan Penerbitan Institut Seni Indonesia Ke Depan”.

Dalam lokakarya terungkap bahwa publikasi dari karya dosen sangat diperlukan untuk bisa dibaca dan diketahui banyak orang tentang temuan, atau ide-ide cemerlang dari seseorang penemu yang kemudian bisa dikembangkan atau dijadikan sumber acuan bagi pelaksanaan program yang lain. Hal ini juga tidak terlepas dengan membangun semangat kembali untuk menggairahkan dalam bidang tulis menulis sebagai kewajiban tridarma seorang dosen dan kemudian mempublikasikannya. Sumber juga diketahui bahwa publikasi peneliti Indonesia di dunia internasional masih sangat kurang. Salah satu faktor penyebabnya adalah budaya menulis yang belum berkembang di masyarakat pada umumnya, khususnya di perguruan tinggi. Hal ini juga disebabkan karena rendahnya kemauan dan kemampuan menulis hasil-hasil penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat dalam berkala bermutu, sehingga hasil-hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat publikasinya melalui berkala ilmiah nasional maupun internasional masih rendah atau kurang. Pengembangan budaya dalam meningkatkan kemampuan atau motivasi menulis, menjadi suatu tantangan dan permasalahan yang harus segera dapat dicarikan solusi pemecahannya. Untuk dapat menampilkan berkala ilmiah yang bermutu juga bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Kita sadari bahwa di Indonesia masih sedikit sekali berkala ilmiah yang mampu memuat naskah-naskah bermutu, karena ada dua pemasalahan umum yang dihadapi para pengelola berkala ilmiah, yaitu ketersediaan naskah bermutu; dan keberlanjutan pengelolaaan berkala. Naskah bermutu sangat terbatas karena pada kesadaran peneliti untuk mempublikasikan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui berkala ilmiah masih belum termotivasi dengan baik. Tanggungjawab moral terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan untuk menyebarluaskannya masih perlu terus dimotivator oleh para pengelola, belum tumbuh dari dalam disri seorang peneliti/dosen. Padahal hasil-hasil penelitiannya tentunya akan yang sangat berguna bagi masyarakat luas baik untuk kepentingan praktis maupun pengembangan teoritis. Di samping itu kemampuan pengelola berkala juga dirasa kadang masih jauh atau kurang, sehingga tidak melakukan penyuntingan dan pengelolaan berkala secara optimal. Hal ini berdampak pada rendahnya mutu artikel yang diloloskan/dimuat. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada, maka diperlukan melakukan peningkatan mutu pengelolaan berkala ilmiah dengan mengadakan penataan dan lokakarya menajemen berkala ilmiah secara sisitematis dan berkelanjutan.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., mengungkapkan, lokakarya ini menjadi salah satu solusi, yang bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam membuat artikel ilmiah sesuai dengan persyaratan untuk jurnal nasional dan internasional, dan patut kita sambut dengan tangan terbuka. Prof. Rai akan terus memotivasi para dosen untuk terus berkarya lewat tulisan. Sehingga tujuan utama dari kegiatan penataan dan lokakarya ini adalah meningkatkan mutu berkala dan kemampuan pengelola berkala ilmiah termasuk mekanisme serta segi-segi penting dalam meningkatkan mutu berkala dan proses akreditasi dapat terealisasi.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Makalah Nyoman Dantes Disampaikan dalam Lokakarya Kurikulum Di FSRD

Konstruksi masyarakat masa depan ditandai dengan semakin menguatnya semangat Bhineka Tunggal Ika, sistim sosial yang mengakar pada masyarakat, ekonomi yang berorientasi pasar dengan perspektif global, akulturasi multikultur dalam berbagai hal, serta moralitas hukum. Hal tersebut mengindikasikan orientasi pembangunan yang mengedepankan kepentingan mayoritas yang berimplikasi pada perlunya upaya peningkatan mutu sember daya manusia, peningkatan aktivitas sektor ekonomi riil, pengembangan kreativitas dan produktivitas kelembagaan, model akomodasi multikultur masyarakat dalam bidang pendidikan, dan pengembangan hati nurani kemanusiaan melalui sektor pendidikan.

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar  sebagai salah satu penyelenggara pendidikan tinggi, juga dituntut untuk mengantisipasi berbagai dinamika pembangunan pendidikan yang sering tidak terprediksi dengan akurat oleh para pelaku pendidikan itu sendiri, dan untuk itu dituntut mampu menyesuaikan berbagai program dan aktivitas akademiknya sejalan dengan paradigma baru pendidikan kita, demi menyambut pendidikan berwawasan masa depan, yang diartikan sebagai pendidikan yang dapat menjawab tantangan masa depan, yaitu suatu proses yang dapat melahirkan individu-individu yang berbekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk hidup dan berkiprah dalam era globalisasi.

Komisi Internasional bagi Pendidikan Abad ke 21 yang dibentuk oleh UNESCO melaporkan bahwa di era global ini pendidikan dilaksanakan dengan bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan  learning to live together (Delors, 1996). Dalam learning to know mahasiswa belajar pengetahuan yang penting sesuai dengan jenjang pendidikan yang diikuti. Dalam learning to do mahasiswa mengembangkan keterampilan dengan memadukan pengetahuan yang dikuasai dengan latihan (law of practice), sehingga terbentuk suatu keterampilan yang memungkinkan mahasiswa memecahkan masalah dan tantangan kehidupan. Dalam learning to be, mahasiswa belajar menjadi individu yang utuh, memahami arti hidup dan tahu apa yang terbaik dan sebaiknya dilakukan, agar dapat hidup dengan baik. Dalam learning to live together, mahasiswa dapat memahami arti hidup dengan orang lain, dengan jalan saling menghormati, saling menghargai, serta memahami tentang adanya saling ketergantungan (interdependency). Dengan demikian, melalui keempat pilar pendidikan ini diharapkan mahasiswa tumbuh menjadi individu yang utuh, yang menyadari segala hak dan kewajiban, serta menguasai ilmu dan teknologi untuk bekal hidupnya.

Fasli Jalal dan Supriadi (2001) menyebutkan tiga acuan dasar pengembangan pendidikan di Indonesia dalam era reformasi untuk menjawab tantangan global, yaitu acuan filosofis, acuan nilai kultural, dan acuan lingkungan strategis.

KURIKULUM URIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DI PERGURUAN TINGGI, Selengkapnya

RAJUTAN GAMELAN BALI YANG MENGGODA

RAJUTAN GAMELAN BALI YANG MENGGODA

DSC00617 (1)Jakarta- Sebuah konser yang mempertemukan gamelan Bali, Jawa, dan Sunda ditampilkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (6/10) malam lalu. Pentas seni dari tiga wilayah musik tradisional gamelan terpenting Indonesia itu disuguhkan sebagai pembuka Festival Kesenian Indonesia (FKI)  perguruan tinggi seni se-Indonesia. Dalam FKI ke-6 tahun 2009 yang bertema Exploring Root of Identity yang berlangsung tanggal 5-24 Oktober tersebut, tampaknya gamelan diusung sebagai maskot festival. Penonton yang memenuhi gedung tertutup Graha Bakti Budaya  menyimak konser gamelan yang jarang terjadi itu dengan tekun hampir selama dua jam.

Gamelan Jawa disuguhkan oleh Istitut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, gamelan Sunda digelar oleh Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, dan gamelan Bali dipentaskan oleh ISI Denpasar. Barungan gamelan Jawa, Sunda, dan Bali itu ditampilkan seluruhnya di atas panggung yang dimainkan secara bergilir. ISI Surakarta menyodorkan tajuk “Nyugata” dengan media musikal gamelan Carabalen dan Sekaten. STSI Bandung menampilkan gamelan langka Goong Renteng. Terakhir, ISI Denpasar menyuguhkan garapan berjudul “Ngalor-Ngidul Kangin-Kauh“ yang dituangkan dengan empat set gamelan yakni Slonding, Gamelan Gambuh, Semarapagulingan dan Gong Gede.

Kendati suasana yang dihadirkan dari konser gamelan ini tentu tidak gegap gempita seperti konser musik dangdut atau pop, namun denyut eksplorasi estetik dan makna kulturalnya mengharukan. Para seniman ISI Surakarta dengan bangga menggelar komposisi terbarunya yang berangkat dari karawitan tradisi. Begitu pula para pengerawit dari STSI Bandung dengan percaya diri menyajikan garapannya di hadapan penonton yang apresiatif. Respek penonton terhadap konser gamelan tersebut terasa membuncah ketika menyaksikan sajian yang ekspresif dari ISI Denpasar. Tak kurang dari setengah jam menonton menyimak dengan antusias aksi 30 orang mahasiswa dari Bali tersebut.

Dibandingkan dengan gamelan Jawa dan Sunda, bentuk-bentuk ekspresi ensambel gamelan Bali lebih variatif. Mungkin karena itu, dalam konser gamelan FKI tersebut ISI Denpasar memboyong empat barung gamelan dari 20-an jenis barung gamelan yang diwarisi dan bertumbuh di seluruh Bali. Tiga komposer muda ISI Denpasar, I Ketut Garwa, Gede Mawan, dan I Made Kartawan menuangkan gagasan kreatifnya lewat empat media gamelan itu menjadi sebuah tontonan musik yang memamerkan keterampilan menabuh dan penampilan yang menawan.

Berbeda juga dengan eksistensi gamelan di Jawa dan Sunda yang cenderung termarginalisasi oleh dinamika zaman, gamelan Bali  masih diposisikan secara hormat oleh masyarakatnya. Syahdan, keseharian Bali tak pernah sepi dari kumandang gamelan. Di tengah riuh dan khusuknya upacara keagamaan, bunyi gamelan mengalun seiring sejalan dengan denting genta pendeta dan liukan kidung suci. Di tengah sanggaan alam yang ramah dan kehidupan yang dinamis, tatabuhan gamelan memberi hiburan dan sekaligus sebagai media ekspresi keindahan. Puspa ragam gamelan senantiasa menyertai sajian seni tari dan pementasan teater.

Masyarakat Bali telah mengakrabi gamelan setidaknya sejak abad ke-10. Beberapa prasasti yang ditemukan telah menyebutkan adanya pamukul (penabuh), papadaha (pemain kendang), dan pabangsi (penggesek rebab). Gambelan sebagai sebuah ansambel juga telah disinggung dalam Aji Gurnita–lontar tua tentang gamelan Bali–diantaranya, Meladprana (gamelan Gambuh), Selonding, Semara Haturu (Semara Pagulingan) dan Semara Pendirian (gamelan Palegongan). Kini, gamelan yang berasal dari zaman Bali kuno hingga era Bali modern tetap eksis dan menggeliat dinamis berinteraksi dengan perkembangan masyarakatnya.

Representasi geliat dinamis evolusi gamelan Bali itulah yang tampak ditampilkan ISI Denpasar dalam konser bertitel “Ngalor-Ngidul Kangin-Kauh“ itu. Di tengah masyarakat Jawa,  makna konotatif dari istilah ngalor-ngidul adalah obrolan tak tentu arah. Begitu juga ungkapan kangin-kauh di tengah masyarakat Bali juga dimaknai omongan ngawur. Tetapi jika dicermati dari aspek estetik musikal yang ditampilkan, ternyata sebuah letupan dari ramuan penjelajahan melodi, permainan ritme, kompleksitas jalinan nada-nada yang menggoda. Ngalor-ngidul kangin-kauh kiranya menjadi ungkapn simbolik dari rajutan gagasan musik dari segala arah zaman, budaya, dan selera dengan semangat pengayaan dan perayaan terhadap kebhinekaan seni.

Tepuk tangan panjang penonton mengiringi bagian akhir dari garapan musik ISI Denpasar tersebut. Bahkan ketika konser sedang bergulir pun  beberapa kali tepuk tangan mengemuka merespon ungkapan musik yang menggelitik atau menggugah relung-relung estetik penonton. Para penabuh bermain secara dinamis, tak hanya memainkan satu instrumen dan tak hanya memainkan satu ensambel gamelan. Diawali dengan denting ritmis jalinan Slonding lalu tersambung oleh liukan suling dan tingkah kendang gamelan Gambuh. Sementara gamelan Gambuh masih mengalun, Semarapagulingan bergemerincing renyah yang kemudian dimeriahkan nada-nada berat gamelan Gong Gede. Pada klimaksnya, seluruh gamelan dimainkan dengan tempo naik turun dan dinamika yang lincah, sigap, dan lugas. Sebuah pendakian berkesenian (seni karawitan) sedang melaju.

Kadek Suartaya

Loading...