by admin | Jan 29, 2010 | Artikel, Berita
Laporan Penelitian Dosen Muda
Oleh: I Made Pande Artadi, M. Sn
Puri sebagai sebuah karya arsitektur merupakan wujud kebudayaan fisik yang lahir melalui ide dan sistem budaya serta sistem sosial masyarakat Bali di masanya. Melalui arsitektur puri dapat dilihat gambaran budaya masyarakat Bali pada masa tertentu. Perubahan sosial dan budaya yang terjadi pada masyarakat Bali yang berlangsung pada rentang waktu tertentu akan tercermin pada perubahan elemen-elemen arsitektur puri. Perubahan sosial dan budaya yang cukup tajam sangat jelas terlihat pada periode Bali Kolonial. Secara garis besar wujud kebudayaan dibagi menjadi 3, yakni: cultural system, cultural activities, material culture. Ketiga wujud kebudayaan tersebut sangat erat kaitannya. Bila terjadi mobilitas sistem budaya yang meliputi nilai-nilai, gagasan, konsep, dan berbagai macam norma, maka akan mempengaruhi berbagai aktivitas budayanya, serta bermuara pada pergeseran perwujudan benda budaya/ material culture. Arsitektur Puri sebagai salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud benda (material culture), kehadiranya tidak lepas dari pola pikir dan perwujudan yang lahir dari tanggapan terhadap sekumpulan kondisi yang ada. Ini berarti wujud arsitektur puri Kanginan Singaraja sangat terkait dengan sistem peradaban masyarakat, seperti: tata nilai, sosial, budaya, politik, dan keadaan lingkungan alamnya. Dengan demikian perubahan atau pergeseran nilai-nilai budaya yang terjadi akibat politik kolonial di daerah Buleleng akan berpengaruh pula pada prinsip-prinsip estetik dan tata nilai perwujudan arsitektur Puri Kanginan Singaraja.
Metode yang digunakan dalam penulisan adalah metode deskriptif, sedangkan metode analisa yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari berbagai obyek yang diawasi. Penilaiannya didasari oleh analisa kesesuaian antara teoritis ilmiah dengan pengamatan terhadap studi kasus, sehingga terbentuk analisis studi konformitas yaitu menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tolok ukur yang diungkapkan secara deskriptif.
Dalam kajian estetik arsitektur Puri Singaraja dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip estetika klasik Barat menjadi acuan dalam perwujudan bentuk visual bangunan. Kesatuan, keseimbangan, proporsi dan irama berintegrasi dalam konsep tata ruang lokal. Ini terlihat dari penggunaan molding yang dibuat mengalir mengikuti elevasi dinding pada beberapa bangunan sehingga menampilkan irama (ritme) pada desainya. Irama molding sebagai penghubung dan menciptakan kesatuan visual (unity) bidang dinding satu dengan yang lainnya. Pemilihan warna yang analog pada elemen bangunan seperti kusen, pintu, jendela dan lisplank merupakan hasil pertimbangan yang matang untuk menciptakan keselarasan dan kesatuan (unity) dalam mendukung bobot estetik bangunan
Aturan letak masa bangunan yang berkaitan dengan simbol-simbol relegi, yakni aturan luan-teben dan kosep Tri Angga (utama, madya, dan nista) pada prinsipnya masih tetap dipertahankan. Konsep Tri Angga dalam teritorial puri sangat tegas terlihat, yakni area jaba sisi sebagai kaki, jaba tengah sebagai badan dan jeroan sebagai kepala. Batas masing-masing area sangat tegas dipisahkan oleh tembok penyengker (pagar pembatas). Area jeroan memiliki hirarki ruang yang tinggi dibandingkan area lain. Ketegasan perbedaan nilai hirarki masing-masing ruang ditunjukan dengan adanya perubahan level pekarang dari area ancak saji ke jeroan. Area ancak saji memiliki level yang paling rendah, selanjutnya diikuti area jaba tengah, dan area jeroan sebagai level yang paling tinggi. Konsep ini menuntut pengguna untuk berjalan berbudaya, melangkah terstruktur, namun bertahap yakni dari lapis yang rendah ke yang tinggi, dari yang profan luar ke yang sakral suci.
Kekaburan aturan luan-teben sedikit terlihat pada area jeroan yakni pewaregan (dapur) yang terletakan di area luan (area utama). Namun kehadiran dapur dalam satu banguan yang terletak di area ‘utama’ pekarangan ini tidak terlepas dari keberadaan Bale Dangin yang menghadirkan ruang makan pada serambi belakang rumah, sehingga apabila dilihat dari sudut pandang efesiensi letak dapur adalah benar. Ini berarti prinsip-prinsip tata letak yang bersumber pada relegi masyarakatnya telah diabaikan, beralih pada prinsip-prinsip penataan arsitektur modern yang mempertimbangkan rasio dan fungsi.
Disamping eskpresi prinsip-prinsip estetika Barat, bebarapa bangunan yang ada di area puri Kanginan banyak menggunakan elemen-elemen estetika arsitektur kolonial yang ada di Indonesia, seperti penggunaan molding, gevel ‘Curviliner Gabele’, Pediment, kolom jenis ‘Tuscan’, dan overstack. Pada prinsipnya kehadiran elemen-elemen arsitektur kolonial dalam arsitektur tradisional Bali adalah salah satu proses akulturasi budaya yang cenderung terjadi dalam perjalanan dinamika budaya. Akulturasi yang dimaksud dalam hal ini adalah pertemuan dua budaya dalam wujud arsitektur (arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur kolonial Belanda), kemudian terjadi peminjaman unsur-unsur arsitektur kolonial dalam arsitektur tradisional Bali. Dalam hal ini budaya kolonial sebagai kebudayaan donor dan budaya tradisional Bali sebagai kebudayaan acceptor. Peminjaman unsur-unsur ini dalam proses integrasi melahirkan wujud arsitektur baru yang berbeda dari bentuk arsitektur masing-masing dua budaya tersebut.
by admin | Jan 29, 2010 | Artikel
Oleh I Wayan Rinda Suardika
Fungsi Geguritan Sebun Bangkung terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Hindu di Bali meliputi fungsi Ketuhanan (Widhi Tatwa), fungsi moralitas (etika), fungsi upacara (rituil), fungsi pendidikan, fungsi estetika, dan fungsi sosial budaya. Fungsi Ketuhanan dapat dilihat lewat tokoh-tokoh dewa-dewa, bhatara, seperti Dewa Parama Siwa, Dewa-dewa Panca Dewata, Dewata Nawa Sanga, Sang Hyang Licin, Sang Hyang Guru Reka, Hyang Durga, bahkan dalam Teks Nabi ada sebutan Allah. Semua itu adalah Tuhan itu sendiri atau manifestasi kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan fungsinya masing-masing. Fungsi pendidikan moral (etika) dapat dilihat atau tecermin pada tokoh Jero Dukuh ketika memberikan ajaran agama (sastra) kepada tokoh I Made Tanu dan I Gede Togag, seperti yang tersirat pada Teks Guyu Pasaja. Fungsi upacara (ritual) dapat dilihat hanya berkisar pada upacara-upacara yang berhubungan dengan kelahiran manusia dalam ajaran Kanda Empat (Geguritan Sebun Bangkung, bait 96). Fungsi pendidikan dapat dilihat dari metode pendidikan malajah sambilang magending (“belajar sambil bernyanyi”). Dengan membaca sebuah lontar, dididik untuk membaca huruf Bali, memahami bahasa yang dipergunakan, serta mencari nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam kesusastraan tersebut sehingga dapat menjauhi budaya anak muda seperti Teddy Boys, Hippies, Hell Angels (Tester, 2003:154). Fungsi estetika, pengungkapan rasa estetik tersirat pada kemampuan pengarang untuk mengungkapkan rasa keindahannya lewat tokoh-tokoh Dewi Saraswati, Kawi Swara, Dewa Kama, Dewi Ratih. Kemudian ungkapan rasa keindahan lewat sajak keindahan dalam diri seorang gadis, dalam bunga, deburan ombak (Geguritan Sebun Bangkung, Lb. 25a, bait 198). Di samping itu pemakaian berbagai macam pupuh dalam Geguritan Sebun Bangkung sehingga dapat dinyanyikan sesuai dengan watak, fungsi serta misi yang dibawa untuk menghibur pendengar, maupun yang menyanyikan. Fungsi sosial budaya, fungsi ini dapat terlihat dalam mengimplementasikan ajaran melalui megeguritan. Dalam megeguritan jelas ada aktivitas manusia baik secara individu maupun berkelompok dalam bentuk Sekaa Santi, seorang terhibur, menghibur, menghilangkan rasa gundah. Melalui kegiatan ini pula ada aktivitas saling tolong menolong sesama umat tatkala melakukan upacara-upacara keagamaan disuguhkan nyanyian (gending-gending) oleh sesama Sekaa Santi. Hal ini sesuai dengan pendapat Horace (Welled dan Waren, 1990:25) yang menyebutkan bahwa karya sastra dalam masyarakat berfungsi dulce (hiburan atau menghibur) dan utile (bermanfaat).
Geguritan Sebun Bakung Selengkapnya
by admin | Jan 28, 2010 | Artikel, Berita
Laporan Penelitian Imhere
Oleh: I Made Berata, S.Sn, Msn, Drs. I Wayan Mudra, M.Sn., Dra. Ni Kadek Karuni, M. Sn., I Made Latra., I Made Yudha Pariwa
Abstrak
Penelitian ini bermaksud mengungkap dan memetakan berbagai macam produk seni kerajinan yang dimiliki Daerah Kabupaten Tingkat II Klungkung, yang tersebar di wiayah kecamatan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan, yakni pendekatan survei, temasuk dalam wadah penelitian kwalitatif. Data-data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara untuk mengumpulkan data verbal dan sekunder. Terkait data-data visual dikumpulkan dengan pemotretan. Data tersebut kemudian dikodifikasi, dikategorikan, direduksi, selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif analitis.
Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa beragam aktivitas dan produktivitas kerajinan yang tersebar di wilayah pedesaan terpencil, yang terdapat di tiap-tiap kecamatan, daerah Kabupaten Klungkung. Berbagai macam produk kerajinan seperti, kerajinan klongsong peluru, pis bolong (uang kepeng), perak, cenderamata di desa kamasan. Kerajinan gerabah di desa tojan, tenun songket di desa gelgel, kerajinan kuningan/ bola mimpi di desa Budaga, pelepah pisang di desa Satra, dan kerajinan tenun warna alam di desa Tegak Kecamatan Klungkung. Macam produk kerajinan seperti tedung (payung), kain prada, tempurung terdapat di desa Satriya, dan kerajinan keris terdapat di desa Kusamba Kecamatan Dawan. Sedangkan kerajinan gong di desa Tihingan, batok/tempurung kelapa di desa Banjarangkan, kecamatan Banjarangkan. Pruduk-produk kerajinan tersebut di atas bukan hanya untuk konsumsi pariwisata, tetapi lebih pada konsumsi masyarakat lokal terkait dengan kepentingan keagamaan, sehingga aktivitas membuat barang kerajinan di Kabupaten Klungkung tetap eksis.
Proses produksi barang-barang kerajinan tersebut, secara umum para perajin, ternyata menerapkan teknik dan peralatan konvensional, hanya sebagian kecil prosesnya dibantu dengan peralatan masinal. Maka, produk yang dihasilkan lebih menonjolkan pekerjaan tangan (handwoork), sehingga nampak memiliki nilai artistik dan estetik yang masif.
Berbagai macam produk kerajinan yang ada di masing-masing kecamatan daerah Kabupaten Klungkung, terbukti memiliki produk yang mendominasi serta identitas tersendiri sebagai aset unggulan, seperti di Kecamatan Klungkung produk kerajinan yang lebih mendominasi adalah wayang kamasan, tenun songket, klonsong peluru, dan bola mimpi; di kecamatan Dawan kerajinan keris, kain prada dan tedung (payung); sedangkan kerajinan gong lebih mendominasi kecamatan Banjarangkan.
by admin | Jan 28, 2010 | Artikel, Berita
Kiriman Bendhi Yudha (Dosen Program studi Seni Rupa Murni)
Di Bali rarajahan hampir selalu digunakan dalam kaitannya dengan upacara keagamaan yang lebih dikenal dengan Panca Yadnya, yaitu lima bentuk korban suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas, di mana bentuk-bentuk rajah tersebut tidak hanya berbentuk huruf-huruf , tetapi bermacam-macam wujud benda baik bergerak maupun tidak bergerak, benda mati maupun benda hidup dan lain-lain.
Sebagaimana yang diuraikan oleh Ginarsa (1979) sebagai berikut: Pertama berupa tulisan atau kaligrafi Bali, kedua berupa stilisasi dari bentuk manusia, ketiga berupa gambar-gambar binatang yang digabung dengan gambar khayalan. Sedangkan Jaman dalam Titib (2001: 480), mengkelompokkan meliputi; (1), Rarajahan berbentuk huruf-huruf terutama huruf-huruf suci atau Vijaksara mantra, kutamantra maupun mantram yang singkat. Vijaksara tersebut meliputi : Omkara simbol Tuhan Yang Maha Esa (Brahman), Am (simbol Brahma). (2), Rarajahan ini banyak digunakan terutama pada waktu upacara Panca Yadnya, misalnya upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan upacara Rsi Yadnya. (3), Rarajahan berbentuk benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang yang dikombinsikan dengan huruf-huruf suci, vijaksara, dan senjata dewa-dewa. (4), Rarajahan berbentuk bunga terutama bunga padma atau teratai, sering pada masing-masing kelopak daunnya dirajah dengan huruf-huruf suci vijaksara. (5), Rarajahan berbentuk binatang seperti harimau, singa, ular atau naga, ikan laut, ulat dan lain-lain. (6), Rarajahan berbentuk dewa-dewa, lengkap dengan masing-masing dewi (sakti)-Nya, kendaraan (tunggangan)- Nya, senjata-Nya, posisi-Nya pada tubuh manusia, warna dan penjuru yang dikuasainya. (7), Rarajahan berbentuk manusia, manusia berkepala binatang, binatang berkepala manusia, anggota badan manusia seperti manusia tanpa kepala, kepala tanpa badan, tangan berkepala manusia, kaki berkepala manusia dan sebagainya. (8), Rarajahan berbentuk raksasa lengkap dengan senjatanya, warna dan lain-lain, serta yang terakhir adalah rerajahan berbentuk bangunan suci seperti meru.
Sehubungan dengan jenis bentuk-bentuk yang ada pada rarajahan Bali, apabila dikaitkan dengan fungsi dari masing-masing bentuk rarajahan tersebut, dapat dikelompokkan antara lain; (1), Untuk mendapatkan kekuatan dan perlindungan dari para dewata. (2), Untuk menyucikan pribadi seseorang. (3), Untuk memperoleh kekuatan gaib dari kekuatan alam. (4), Untuk memperoleh simpati “pamatuh”, dan menghentikan tindakan seseorang yang jahat. (5), Mencegah dan menangkal hal-hal yang tidak disukai yang dapat membahayakan seseorang, (6), Mengembalikan usaha pihak musuh untuk mencelakakan diri seseorang dengan kekuatan sihir dari rarajahan, sehingga menyebabkan pihak musuh meninggal.
Berdasarkan bentuk-bentuk dan fungsi yang terdapat pada rarajahan Bali sebagaimana yang diuraikan di atas, dapat ditangkap makna yang terkandung di dalamnya bahwa, kehidupan yang ada pada makrokosmos (alam besar) dan mikrokosmos (alam kecil), memiliki dua sifat yang berlawanan yaitu sifat dewa dan sifat bhuta, sebagai cerminan dari konsep dualistis yang merupakan dua pasangan berbeda, yang harus selalu ada dalam posisi seimbang. Ini berarti bahwa kehidupan manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, hendaknya senantiasa mampu mengelola potensi diri yang bersumber pada dua kekuatan besar, baik yang ada di dalam maupun di luar dirinya, sehingga keduanya dapat bekerja dengan baik secara sinergis, untuk mencapai suatu tujuan yaitu keseimbangan hidup lahir dan batin. Berkaitan dengan ini I Ketut Sunarya (2001: 92) menjelaskan bahwa: Konsep dualistis atau rwa bhineda tercermin juga dalam bentuk rajah yaitu bala dan penolak bala. Rajah bala yaitu rajah yang diyakini masyarakat Hindu di Bali sebagai jimat membuat penyakit, sedangkan rajah penolak bala diyakini sebagai pengayom atau menjaga dari serangan bala. Kemunculan rajah terkait dengan keinginan masyarakat menciptakan keharmonisan dan keseimbangan baik secara sekala (jagat raya ini) maupun niskala (alam abstrak). “… dengan rajah pengeleakan atau pendestian yang disebut juga dengan bala atau ilmu hitam, ilmu kiri yang mempunyai tugas menyakiti dengan kesaktiannya yang luar biasa. Leak adalah sifat dan tingkah laku manusia yang berpihak pada kejahatan seperti; ingin menguasai orang lain dengan cara memaksakan kehendak.
Dalam kaitannya dengan rajah penolak bala, Tulak dalam Sunarya (2001: 92-93) menjelaskan bahwa; manusia mempunyai keinginan untuk berbuat baik, hal ini menumbuhkan hasrat belajar ilmu pengobatan, dan juga mantra-mantra untuk membersihkan lingkungan sebagai penolak bala dari keletehan (energi negatif) yang disebabkan oleh gangguan roh jahat, salah menempatkan posisi pintu rumah, hubungannya dengan tembok pembatas pekarangan rumah (penyengker) dan sebagainya.
Bentuk lain sebagai penolak bala dilakukan pula oleh pemuka agama, seperti Pemangku, Sulinggih/Peranda dan lain-lain, dengan melakukan upacara yadnya, berupa kurban suci untuk membersihkan/meruat jagat raya ini dari keletehan (energi negatif). Adapun sarana upacara yadnya tersebut dilengkapi dengan rajah penolak bala yaitu goresan berupa simbol-simbol dewa serta mantra-mantra yang dilakukan sesuai dengan tujuan dari rajah tersebut. Kedua pandangan ini agaknya telah cukup dijadikan acuan dalam menyikapi kehidupan ini yang berada dalam batas ruang dan waktu, untuk melakukan reinterpretasi mengenai kosmos dan jatidiri kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Atmaja (2003: 9)
Pendapat di atas lebih menegaskan betapa pelaksanaan nilai-nilai kearifan menjadi lebih penting ketimbang harus mengurai wacana, dan perlu dilanjutkan ke tingkat penghargaan/ruang apresiasi untuk bisa menghargai nilai-nilai yang dikandungnya dengan cara yang tepat dan kontekstual. Artinya nilai-nilai kehidupan bermasyarakat hendaknya dihargai secara proporsional, dimaksudkan dapat mengejewantahkannya ke dalam prilaku keruangan/interaksi yang didasari dengan sikap penuh kearifan untuk mencapai tujuan hidup yaitu mokhsartam jagadithaya ca iti dharma.
Berdasarkan pengalaman dari mengamati nilai-nila tersebut, telah melahirkan perasaan estetik dan imajinasi bagi munculnya ide-ide kreatif, untuk dijelmakan ke dalam bentuk karya seni lukis, mengingat fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat saat ini telah dijadikan lahan yang potensial untuk dijadikan ajang pertentangan dan pertikaian dalam mewujudkan kepentingan politik dan kekuasaannya. Hal tersebuti cenderung mengorbankan kepentingan yang lebih luas menyangkut sendi-sendi keutuhan dalam berbangsa dan bernegara, karena telah mengabaikan dan melakukan distorsi terhadap nilai-nilai /tata krama dalam kehidupan bermasyarakat serta keluar dari prinsip-prinsip keseimbangan dan keharmonisan.
by admin | Jan 25, 2010 | Berita, pengumuman
Mengakhiri semester ganjil 2009/2010 Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar menyelenggarakan Pameran Karya Tugas Akhir pada tanggal 28 s.d 31 Desember 2009 dan dilanjukan dengan Ujian Komprehensip pada tanggal 4 s.d 7 Januari 2010. Rapat kelulusan dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2010 dan Yudisium pada tanggal 23 Januari 2010. Pererta Tugas Akhir sebanyak 23 orang.
Peserta Tugas Akhir (TA) Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar
Semester Ganjil 2009/2010
| No. |
Nama Mahasiswa / NIM |
L/P |
Program Studi |
Judul T.A. |
Jenis Karya |
Pembimbing |
Nama Orang Tua |
|
I Wayan Purbawa
2004020310010
|
L |
DKV |
Perancangan Komunikasi Visual Untuk Mempromosikan Desa Budaya Kertalangu di Jl. By Pass Ngurah Rai Tohpati |
Studio |
– A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si
– I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn
|
– I Md. Sutapa
– Ni Nym. Darmini
|
| 2. |
Putu Dodi Wirawan
031511021
|
L |
DKV |
Perancangan Media Komunikasi Visual Dalam Usaha Mempromosikan Museum Bali |
Studio |
– A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si
– I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn
|
– I Wayan Matra
– Nengah Wati
|
| 3. |
Ida Bagus Adhiguna
2004020310012
|
L |
DKV |
Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Kampanye Denpasar Bebas Rabies |
Studio |
– A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si
– I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn
|
– I.B. Dirga
– Desak Rai Alit
|
| 4. |
Komang Febri Sadrawan
2004020310056
|
L |
DKV |
Perancangan Komunikasi Visual Untuk Mempromosikan PT. Bali Craft Internasional di Kuta Bali |
Studio |
– A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si
– Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn
|
– I Made Ramia
– Ni Made Sadiari
|
| 5. |
I Gusti Ngurah Dwi Aryawan
2004020310037
|
L |
DKV |
Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Peningkatan Eksistensi Obyek Taman Wisata Alam Sangeh Badung Bali |
Studio |
– Drs. Cok. Gde Raka Swendra
– Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn
|
– I Gst. Ngr. Gede Wenawa
– I Gst. Ayu Wasni
|
| 6. |
A.A. Sagung Intan Pradnyanita
200506037
|
P |
DKV |
Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Penyuluhan Kesehatan Gigi Anak di Tabanan |
Studio |
– Drs. Cok. Gde Raka Swendra
– Drs. A.A. Anom Mayun KT.
|
– Drs. A.A. Ngr. Gd. Surya Buana, M.Sn
– Dra. Lies Bandiyah
|
| 7. |
Adhitia Mulyana Kusuma
200506002
|
L |
DKV |
Perancangan Komunikasi Visual Untuk Kampanye Pencegahan Penularan TBC di Denpasar |
Studio |
– Drs. I Wayan Swandi, M.Si
– Drs. A.A. Anom Mayun KT
|
– Muhamad Tedja Purnomo
– Sumiati Purnomo
|
| 8. |
I Nyoman Anom Fajaraditya
0010005042
|
L |
DKV |
Perancangan Media Komunikasi Visual Promo Album Fauto 61 Band Gianyar |
Studio |
– Drs. I Nym. Mantra Fandy, M.Si
– Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn
|
– I Nym. Gde Setiawan
– Ni Luh Dwi Partiwi
|
| 9. |
Adi Rahmadhani
031521030
|
L |
Desain Interior |
Redesain Interior Fashion Market di Jl. Dipenogoro Denpasar |
Studio |
– Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
– I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds
|
– Suparman
– Tri Iriani
|
| 10. |
Marsha Hafiria
031521036
|
P |
Desain Interior |
Perancangan Interior Praktik Bersama Metro Medicare Dengan Konsep Holistik |
Studio |
– Drs. IGst. Ngr. Ardana, M.Erg
– I.A. Kd. Sri Sukmadewi, S.Sn, M.Erg
|
– Dewi Hamriena
– Widhy Firmanto
|
| 11. |
Anggun Prawindari
200505006
|
P |
Desain Interior |
Desain Interior Next Billiard Club & Café Cabang Denpasar Junction |
Studio |
– Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes
– I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds
|
– Kt. Wijana, SE
– Ir. Tutut Tutati
|
| 12. |
Gede Sutrawan
2005050007
|
L |
Desain Interior |
Redesain Restaurant Bridge Cafe |
Studio |
– Drs. Cok. Gde Rai Padmanaba, M.Erg
– I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds
|
– Md. Ledeng
– Luh Badri
|
| 13. |
Luhtut Maharani
2004020320001
|
P |
Desain Interior |
Desain Interior Lobby dan Restoran Peninsula |
Studio |
– Drs. Cok. Gde Rai Padmanaba, M.Erg
– Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
|
– I Md. Astika
– Ni Made Muriatini
|
| 14. |
Kadek Dewi Oktaviani
2004020320003
|
P |
Desain Interior |
Desain Interior Museum Barong Bangli |
Studio |
– Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
– I Md. Pande Artadi, S.Sn, M.Sn
|
– I Md. Suratma
– Ni Luh Puriani
|
| 15. |
Pande Putu Gede Sarjana
2004020110013
|
L |
SRM / Lukis |
Bentuk Alam Benda Sebagai Sumber Inspirasi Malam Seni Lukis |
Studio |
– Drs. I Made Yasana, M.Erg
– Dra. Ni Md. Purnami Utami, M.Erg
|
– I Made Jana
– I Ketut Sarji
|
| 16. |
Muh M’ruf
2005040003
|
L |
SRM / Lukis |
Pengalaman Jiwa Pribadi Sebagai Ide Dalam Penciptaan Seni Lukis |
Studio |
– Dra. Ni Made Rinu, M.Si
– Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn
|
– Muh Ichwan
– Neneh Siti Nuryamah
|
| 17. |
Sirajul Munir
0110005044
|
L |
SRM / Lukis |
Fenomena Ketimpangan Sosial Dalam Bahasa Rupa |
Studio |
– Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn
– Drs. I Gede Yosef Tjokropramono, M.Si
|
– Jumali
– Khamsiyah
|
| 18. |
Eka Setya Hadi
0210205004
|
L |
SRM / Lukis |
Lebah Sebagai Metafora Kehidupan Dalam Karya Seni Lukis |
Studio |
– Dra. Sri Supriyatini, M.Sn
– Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn
|
– Miswadi
– Marhamah
|
| 19. |
I Kadek Ari Purwanto
2005040033
|
L |
SRM / Patung |
Apresiasi Tubuh Wanita Dalam Bentuk Figuratif |
Studio |
– Drs. I Ketut Buda, M.Si
– I Made Jodog, S.Sn, MFA
|
– I Made Tana
– Ni Luh Suarni
|
| 20. |
I Wayan Ekajayaningrat
2005040035
|
L |
SRM / Patung |
Visualisasi Tubuh Wanita ke Dalam Seni Patung |
Studio |
– Drs. I Wayan Sutha S.
– Drs. Dw. Pt. Merta, M.Si
|
–
–
|
| 21. |
I Gede Sudarsana
2005040038
|
L |
SRM / Patung |
Gerakan Yoga Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Karya Seni Patung |
Studio |
– Drs. I Wayan Sutha S.
– I Made Jodog, S.Sn, MFA
|
– I Made Suarta |
| 22. |
I Gst. Km. Rai Sartika
2005040032
|
L |
SRM / Patung |
Tokoh-tokoh Politik Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Karya Seni Patung |
Studio |
– Drs. I Wayan Sutha S.
– Drs. Dw. Pt. Merta, M.Si
|
– Ni Kt. Wati |
| 23. |
Dadang L H
0110005015
|
L |
Kriya Seni / Keramik |
Pengaruh Bahan Pendong Pada Lempung ( di Desa Benoh dan Desa Kapal) Terhadap Susut Kering dan Susut Bakar Body Keramik Gerabah |
Skripsi |
– Drs. I Made Mertanadi, M.Si
– Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si
|
– Alm. Arofik Abuhasan
– Isti Sugiani
|
Peserta Pameran :




Nama-nama Peserta Yudisium Semester Ganjil Tahun Akademik 2009/2010 Sesuai lampiran Surat Keputusan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar Nomor: 02/I5.1.10/PP/2010 tanggal 23 Januari 2010:
| No. |
Nama |
NIM |
Prog. Studi |
Predikat |
|
I Wayan Purbawa |
2004020310010 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 2. |
Putu Dodi Wirawan |
031511021 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 3. |
Ida Bagus Adhiguna |
2004020310012 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 4. |
Komang Febri Sadrawan |
2004020310056 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 5. |
I Gusti Ngurah Dwi Aryawan |
2004020310037 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 6. |
A.A. Sagung Intan Pradnyanita |
200506037 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 7. |
Adhitia Mulyana Kusuma |
200506002 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 8. |
I Nyoman Anom Fajaraditya |
0010005042 |
DKV |
Sangat Memuaskan |
| 9. |
Adi Rahmadhani |
031521030 |
Desain Interior |
Memuaskan |
| 10. |
Marsha Hafiria |
031521036 |
Desain Interior |
Sangat Memuaskan |
| 11. |
Anggun Prawindari |
200505006 |
Desain Interior |
Sangat Memuaskan |
| 12. |
Gede Sutrawan |
200505007 |
Desain Interior |
Sangat Memuaskan |
| 13. |
Luhtut Maharani |
2004020320001 |
Desain Interior |
Memuaskan |
| 14. |
Kadek Dewi Oktaviani |
2004020320003 |
Desain Interior |
Sangat Memuaskan |
| 15. |
Pande Putu Gede Sarjana |
2004020110013 |
SRM / Lukis |
Memuaskan |
| 16. |
Eka Setyo Hadi |
0210205004 |
SRM / Lukis |
Memuaskan |
| 17. |
I Kadek Ari Purwanto |
200504033 |
SRM / Patung |
Memuaskan |
| 18. |
I Wayan Ekajayaningrat |
200504035 |
SRM / Patung |
Memuaskan |
| 19. |
I Gede Sudarsana |
200504038 |
SRM / Patung |
Sangat Memuaskan |
| 20. |
I Gst. Km. Rai Sartika |
200504032 |
SRM / Patung |
Memuaskan |
| 21. |
Dadang L H |
0110005015 |
Kriya Seni / Keramik |
Memuaskan |
Lampiran 1 Keputusan Dekan FSRD ISI Denpasar Nomor: 03/I5.1.10/PP/2010, tentang Nama-nama mahasiswa karya terbaik semester genap tahun akademik 2009/2010:
| No. |
Nama |
NIM |
Program
Studi
|
Nilai |
Ket.
|
|
Komang Febri Sadrawan |
2004020310056 |
DKV |
91,38 |
Karya Terbaik I |
| 2. |
Ida Bagus Adhiguna |
2004020310012 |
DKV |
90,26 |
Karya Terbaik II |
| 3. |
I Gusti Ngr. Dwi Aryawan |
2004020310037 |
DKV |
87,18 |
Karya Terbaik III |
| 4. |
Adhitya Mulyana Kusuma |
200506002 |
DKV |
85,92 |
Karya Terbaik IV |
| 5. |
I Gede Sudarsana |
200504038 |
SRM/Patung |
85,80 |
Karya Terbaik V |
Lampiran 2 Keputusan Dekan FSRD ISI Denpasar Nomor : 03/I5.1.10/PP/2010, tentang nama-nama mahasiswa IPK terbaik Semester Genap Tahun Akademik 2009/2010:
| No. |
Nama |
NIM |
Program
Studi
|
IPK
|
Ket. |
|
Gede Sutrawan |
200505007 |
Desain Interior |
3,58 |
IPK
Terbaik I
|
| 2 |
Anggun Prawindari |
200505006 |
Desain Interior |
3,46 |
IPK
Terbaik II
|
| 3 |
I Wayan Ekajayaningrat |
200504035 |
SRM / Patung |
3,33 |
IPK
Terbaik III
|
| 4 |
Ida Bagus Adhiguna |
2004020310012 |
DKV |
3,31 |
IPK
Terbaik IV
|
| 5 |
I Gede Sudarsana |
200504038 |
SRM / Patung |
3,28 |
IPK
Terbaik V
|