by admin | Mar 8, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Gst. Ngr. Sudibya, SST., Jurusan Tari, FSP, DM., Pusat 2007
Abstract penelitian
Penelitian ini mengkaji tentang pertunjukan Joged Bumbung Blahkiuh. Dimana perkembangannya lebih mengarah kepada unsur-unsur gerakan erotis yang cendrung melanggar nilai-nilai etika, susila, dan estetika dalam ajaran agama.
Sebagai kajian kualitatif maka yang menjadi pokok permasalahan pertama adalah Bagaimana bentuk Joged Bumbung Blahkiuh sebagai seni pertunjukan hiburan masa kini; kedua, Unsur-unsur apa yang menjadikan Joged Bumbung Blahkiuh sebagai seni pertunjukan hiburan masa kini.Teori yang digunakan untuk membedah adalah (1) Teori Komodifikasi yaitu teori yang mengkaji bentuk yang dapat menghibur masyarakat pada masa kini. (2) Teori Estetika yang dapat dimanfaatkan untuk melihat unsur-unsur kreativitas dalam petunjukan joged bumbung Blahkiuh. Sebagai penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Kehadiran Joged Bumbung Blahkiuh mampu menyuguhkan hiburan kepada masyarakat. Dan faktor-faktor yang seperti ekonomi, kebersamaan, gotong royong, individu dan faktor hiburan juga sangat berperan. Selama ini kreatifitas Joged Bumbung Blahkiuh menyajikan bentuk yang tidak lepas dari tradisi, namun lebih mengutamakan unsur-unsur baru /kekinian yag kelewat menantang terutama goyang pinggulnya desenangi masyarakat penggemarnya.
by admin | Mar 8, 2010 | Berita
JAKARTA, KOMPAS.com — Perencanaan pengembangan diri dosen selama ini masih terfokus pada dua hal. Pertama, dosen diharapkan mampu meningkatkan gelar akademik sehingga dosen didorong terus untuk melanjutkan pendidikannya sampai dengan gelar doktor. Kedua, dosen diharapkan mengikuti kegiatan-kegiatan untuk pengembangan pengetahuan dan keterampilannya.
Pelatihan apa pun tidak akan memberi hasil optimal bila dosen tidak memiliki keterampilan, kepribadian, dan temperamen yang tepat. (Winarni Wilman)
“Belum tampak adanya kegiatan yang bisa mengembangkan aspek-aspek kepribadian dosen dan soft skills,” ujar Winarni Wilman, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (5/3/2010), terkait makalahnya berjudul “Pendekatan Psikologi untuk Optimalisasi Pengembangan Diri Dosen” yang dipresentasikan di Kampus UI, Rabu (3/3/2010) lalu.
Winarni mengatakan, aspek-aspek tersebut berupa communicative skills, team building skills, leadership skills, time management skills, conflict management skills, stress management skills, trustworthiness, serta organizational effectiveness. Aspek-aspek itulah yang mendukung pekerjaannya sebagai dosen menjadi efektif.
“Karena dalam kenyataannya, peran sebagai dosen jauh lebih luas daripada mengajar dan mendidik,” ucap Winarni.
Peran dosen lainnya, kata Winarni, mengutip Kizlik (2010) sebagai sumber makalahnya, adalah seorang komunikator, pembentuk disiplin, pemberi informasi, penilai, manajer, konselor, anggota dari berbagai kelompok, pengambil keputusan, tokoh panutan, dan mungkin juga sebagai pengganti orangtua.
“Setiap peran ini memerlukan latihan dan keterampilan yang sering kali tidak diajarkan dalam pendidikan kesarjanaan yang diambilnya. Apa pun pelatihan atau kursus yang diikuti tidak akan memberikan hasil yang optimal bila ia tidak memiliki keterampilan, kepribadian, dan temperamen yang tepat,” ujarnya.
Apalagi, tambah Winarni, sebagai dosen yang juga psikolog, dia sering kali berhubungan dan harus membantu orang-orang yang memiliki masalah. Untuk itu, aspek kepribadian dan soft skills sangat diperlukan.
“Di perguruan-perguruan tinggi di negara lain, persyaratan kepribadian calon dosen sudah dicantumkan ketika lowongan pekerjaan tersebut diiklankan. Di sini?” ujarnya.
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/05/15364566/Peran.Dosen.Itu.Ternyata.Banyak..Ya
by admin | Mar 8, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn., Jurusan Desain., FSRD., DM Pusat 2007
Abstract penelitian
Desain interior adalah bidang ilmu baru yang sedang berkembang dan memiliki prospek yang cukup luas pada era modern ini. Semakin modern perkembangan budaya dan kehidupan maka bidang ini akan semakin diperlukan. Akhir-akhir ini pembangunan dan renovasi rumah tinggal cendrung mengabaikan kaidah-kaidah estetika (tujuan akhir dalam bidang seni rupa dan desain). Hal tersebut terlibat pada penurunan derajat keberaturan unsur-unsur desain pada setiap desain interior banguan baik yang direnovasi maupun pada bangunan baru. Untuk meningkatkan derajat keberaturan dalam bidang desain interior ini dapat dicapai dengan meningkatkan derajat repetisi, redundansi, reduksi, simetri disamping menerapkan dasar-dasar desain secara umum. Apabila pengolahan derajat keberaturan keempat unsur ini maksimal, maka desain tersbut akan memiliki kualitas estetika yang baik.
Kosep ruang tradisional Bali age adalah konsep ruang sederhana yang diterapkan dengan mengutamakan fungsi dan lingkungan, Fungsi-fungsi ruangnya mengacu pada situasi dan kondisi aktivitas penghuni pada saat itu sehingga melahirkan konsep ruang seperti yang diwarisi sekarang. Cukup banyak Desa yang dapat dijadikan subyek penelitian seperti di daerah Sidatapa, Tigawasa, Sembiran, Julah, Sukawana, Tenganan, Bugbug, Penglipuran, Binyan, dan Pengotan. Namun keterbatasab waktu untuk melakukan penelitian maka sesuai dengan metode yang digunakan (purposive sample) maka Desa-desa yang dipilih adalah Sidatapa, Julah, Tenganan, Bugbug dan Pengotan. Desa-desa ini ada yang telah dikenal luas seperti enganan, namu ada juga yang belum dikenal secara luas Desa Pengotan.
Desain interior rumah tinggal tradisional Bali Age menggunakan pola-pola yang sederhana, dengan jenis banguan yang sederhana pula. Bangunannya hanya terdiri dari 1-6 masa bangunan dengan interior yang tidak memiliki banyak level. Lebih banyak menggunakan bentuk-bentuk segi empat dan tidak ditemukan adanya bentuk-bentuk lingkaran seperti yang dipoergunakan pada desain interior yang berkonsep geosentris.. Konsep rumah tinggal Bali Age pada umumna menggunakan konsep linear dan grid atau telah berkonsep kombinasi antara keduanya. Konsep ini mengacu pada konsep ruang abad pertengahan dengan pola segi empat. Sebagain besar menggunakan konsep Hulu–Teben atau dikenal dengan konsep Kaja-Kelod (gunug-laut). Rempat yang lebih suci berada di hulu sedangkan tempat yang lebih kotor ditempatkan pada daerah teben. Bentuk Desain interior rumah tinggal tradisional Bali Age adalah menggunakan bentuk –bentuk segi empat dan segi empat panjang. Kosep Modern saat ini lebih banyak menggunakan konsep minimalis pada pengembangannya. Konsep ini mengutamakan funsi dan efisiensi ruang untuk memudahkan perawatan dan meminimalisir biayanya. Model rumah tinggal tradisional Bali Age memiliki tuntutan ruang yang diperlukan pada era modern ini
by admin | Mar 8, 2010 | Berita
Judul Asli: Karya Ilmiah Masuk Jurnal
JAKARTA(SI) – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mewajibkan semua karya tulis dosen masuk dalam jurnal ilmiah sebagai prasyarat pemberian beasiswa.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, kewajiban ini sebagai langkah antisipasi terjadinya praktik plagiat. Nuh menandaskan, tindakan tegas akan diberikan kepada akademisi yang melakukan plagiat.Tindakan bisa pencabutan gelar, penurunan jabatan, pemberhentian dengan hormat, dan pemberhentian dengan tidak hormat. ”Sanksi itu diberlakukan jika dalam perjalanannya ditemukan penyimpangan-penyimpangan, terutama yang terkait dengan kredit, status kehormatan tadi.Maka logika hukumnya pula tentu gelar tersebut bisa dicabut. Tidak ada gelar yang abadi,” tegas Nuh di Jakarta kemarin.
Sementara itu,Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal mengatakan,untuk dapat masuk dalam jurnal internasional, suatu karya ilmiah membutuhkan waktu dua tahun publikasiterlebihdulu. Waktuitudimulai dari kepengurusan hingga pembahasan ulang oleh tenaga ahli. Selain harus melalui reviu para ahli, jelasnya, tulisan harus dijamin bukan hasil plagiat. Data yang dipakai juga harus jelas sumbernya. Selain itu, alur bahasa yang digunakan juga harus mengalir. Mantan Dirjen Pendidikan Menengah Tinggi (Dikti) Kemendiknas ini menambahkan,tulis-menulis di dunia pendidikan Indonesia masih menjadi beban.Sebab, masyarakat Indonesia belum dilatih untuk terbiasa menulis.
”Pada saat seseorang bertanggung jawab untuk membuat suatu karya ilmiah, yang terpikirkan hanyalah angka kredit dan ketebalan suatu laporan sehingga artikel tersebut gagal dipublikasikan dalam jurnal nasional ataupun internasional,” ungkap Fasli. Karena itu,ke depan,Kemendiknas akan memberikan beasiswa atau biaya penelitian bagi para peneliti yang mampu mencatatkan karya tulisnya dalam jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional. Pemerintah, jelasnya, akan mempermudah sistem pemberian block grant beasiswa, salah satunya dengan pemberian toleransi waktu publikasi tulisan. Namun, menurut Fasli,tidak semua tulisan bisa mendapatkan beasiswa ini.
Kemendiknas tetap akan meneliti dan melihat kualitas tulisan yang dihasilkan.” Hal itu dilihat dari draf karya ilmiah yang akan dimasukkan dalam jurnal nasional ataupun internasional. Jika sudah ada komunikasi bahwa tulisannya sudah diterima atau masuk perbaikan,itu sudah merupakan bukti bahwa publikasinya siap,”jelasnya. Nilai block grant yang akan diberikan Kemendiknas terbagi dua. Untuk tulisan yang masuk dalam jurnal nasional akan diberikan bantuan senilai Rp50 juta per tahun.Adapun untuk artikel yang masuk dalam jurnal internasional nilainya berlipat ganda menjadi Rp150 juta per tahun.
Ketua Dewan Pertimbangan Forum Rektor Indonesia yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Prof Edy Suandi Hamid menyatakan, penjiplakan di kalangan akademis terjadi karena tiga alasan. Pertama, karena unsur ketidaksengajaan. Menurut dia, bisa saja seorang penulis menuliskan suatu ide yang sama dengan orang lain dan ini, ujarnya, tidak didasarkan dari tindakan kesengajaan.Kedua, karena sebuah prestise dari jabatan fungsional yang nantinya bakal diperoleh.
Adapun alasan ketiga, menurut Edy, disebabkan pendapatan tenaga pendidik saat ini yang masih rendah. (neneng zubaidah)
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/309167/
by admin | Mar 6, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Drs. I Made Jana,Jurusan Kriya, FSRD, DM., Pusat 2007
Abstract
Penelitian ini tewrmasuk penelitian deskriptif-kualitatif, yaitu bertujuan mendeskrifsikan Pengolahan Bambu sebagai Produk Seni Kerajinan ditengah Lesunya Kepariwisataan di Bali. Metode pengambilan data dilakukan secara acak/random. Pengambilan sample lebih ditekankan pada lokasi-lokasi pasar, tempat pameran , acara –acara tertentu yang menyertakan kerajinan Bambu di Bali, dan beberapa perajin bambu di Bali. Lokasi pengambilan sample dilakukan di Pasar Sukawati Seni Gianyar, Pasar Seni Kuta, Pasar Kota bangli, Pasar Seni Satria, di Art Centre pada Pesta Kesenian Bali 2007. Pengambilan data juga dilakukan di internet. Waktu pengambilan data dilakukan dari bulan Juni-Nopember 2007. Dari obyek penelitian yang diajukan dapat dijelaskan sebagai berikut. Proses pengolahan bambu sebagai produk kerajinan ditenagh lesunya kepariwisataan di Bali yang terlihat menonjol adalah arah pasar lebih terkonsentrasi pada pasar lokal yaitu masyarakat Bali. Dari lokasi pengambilan data seperti yang disebutkan di atas didapatkan benda-benda kerajinan bambu untuk kepentingan masyarakat lokal seperti keben/sokasi. Benda ini sangat dibutuhkan masyarakat Bali kaitannya upacara agama sebagai tempat sesajen. Benda ini cukup diminati masyarakat, karena tampilannya yang menarik, walaupun bentuknya hampir sama. Sedangkan pasar luar negeri hanya bisa digarap oleh perajin-perajin yang telah mempunyai buyer luar sebelum terjadinya bom Bali. Jenis produk bambu yang dieksport berupa barang fumiture dan produk kerajinan bambu lainnya. Disamping kemampuan untuk mengakses pasar luar negeri lemah dari berbagai bidang. Namun dilihat dari kreatifitas perajin nampak beberapa pengembangan desain-desain baru.
Teknik pengolahan bambu sebelum digunakan sebagai benda kerajinan hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya misalnya dikeringkan, direndam dan disemprot dengan cairan pestisida. Proses ini termasuk pengolahan awal untuk menghindari bambu dari serangan sehingga produk yang dihasilkan lebih awet. Konsumen umumnya meminta penggunaan bahan pengawet ini adalah bahan yang ramah lingkungan. Teknik pembuatan kerajinan bambu ini dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu dianyam, non anyaman (dipotong, dibelah, dan dilobangi dsb), dan gabungan dianyam dan no anyaman. Jenis-jenis produk bambu yang dibuat oleh perajin di Bali adalah benda-benda yang berfungsi pakai artinyabenda tersebut memiliki fungsi praktis, dengan sentuhan seni baik dengan motif anyaman, jenis dekorasi, pengolahan bentuk dan finishing sesuai dengan bentuk dan fungsi benda tersebut. Dalam penelitianini tidak ditentukan benda kerajinan bambu yang khusus berfungsi hias, maksudnya adalah benda tersebut khusus diciptakan berfungsi menghias seperti menghias ruangan, menghias dinding dan sebagainya. Jenis-jenis produk yang dibuat ini dapat dikelompokkan berdasaran teknik pembuatannya, berdasarkan fungsinya, dan berdasarkan sasran pasarnya. Teknik pengawet bendayang sudah jadi lebih banyak dilakukan dengan cara finishing, artinya finishing (penyelesaian akhir merupakan bagian dari pengawetan). Proses ini dilakukan dengan cara melapisi benda kerajinan bambu dengan bahan pernis diornamen dengan cat minyak atau bahan lainnya yang sejenis. Dengan kondisi pasar yang kurang baik, bahan bambu masih bisa dipenuhi dari bambu-bambu lokal, berbeda dengan keadaan beberapa tahun sebelumnya jika pesanan banyak bambu didatangkan dari luar Bali.