by admin | Apr 8, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Desak Made Suarti Laksmi, SSKar.,MA., Jurusan Tari, FSP Penciptaan DIPA 2008
Abstrak Penelitian
Sebuah komposisi garapan karawitan iringan tari kreasi Kupu-Kupu Kuning Angarung smudra yang mendapat inspirasi dari sejarah kerajaan karangasem tatkala meluaskan daerah kekuasaan ke Pulau Lombok pada tahun 1692. Saat itu Karangasem diperintah oleh tiga raja bersaudara dan seorang diantaranya memimpin ekspidisi mengerahkan pasukan menyebrang selat Lombok dalam empat buah perahu. Perihal ribuan Kupu-kupu Kuning sebagai pelindung dan pemberi arah empat buah perahu yang mengangkut laskar kerajaan Karangasem tersebut, telah divisualisasikan di ats kanvas dalam bentuk karya seni lukis oleh A.A. Made Djelantik. Bekolaborasi dengan A.A.A. Kusuma Arini, SST., M.Si yang bertindak sebagai penata tari, kami mengangkat kisah taburan Kup-kupu Kuning tersebut sebagai tema sentral penciptaan karya seni tari. Sebagai penata karawitan ketertarikan untuk mengimplementasikan gagasan tersebut ke dalam garapan karawitan iringan tari kreasi, dengan perkembangan struktur bentuk komposisi tradisi. Karya ini dituang ke dalam barungan gamelan semarandana dengan permainan patet untuk penunjang dinamika dramatik untuk alur tematik. Tariannya dibawakan oleh sembilan penari anak-anak permpuan sebagai tari kelompok dengan tatanan busana iminatif kupu-kupu kuning yang diinovasikan.
Adapun tujuan penggarapan ini, pertama: untuk mendesiminasikan sejarah kerajaan Karangasem; kedua, sebagai informasi kepada masysrakat bahwa peristiwa bersejarah tersebut dapat divisualisasikan kedalam bentuk karya seni tari; dan ketiga, untuk menambah khasanah repertoar tarian anak-anak.
Metode penciptaan melalui tiga tahapan, yakni tahap eksplorasi, improvisasi dan forming. Tahap eksplorasi diawali dengan menelaah buku sumber yang berjudul Kupu-kupu Kuning yang Terbang di Selat Lombok. Membahas secara tuntas ide penggarapan dengan parner penata iringan untuk mendapatkan kesamaan tafsir tentang tema dan wujud garapan. Tahap improvisasi dengan menggali motf-motif sekwen musik sesuai tema dan juga pengembangan ornamentasi yang dapat mendukung tarian. Tahap forming merupakan proses akhir dari penciptaan ini dengan menyusun komposisi musik secara mengalir sehingga terwujud sebuah garapan selaras dengan komposisi tarinya. Tema tarian adalah perlindungan dengan suasana patriotik dalam durasi waktu 13 menit, 10 detik. Proses penggarapan dilakukan di sanggar Seni Citra Usadhi Mengwitani Badung. Dengan menggunakan seperangkat barungan gamelan Semarandana, lebih memberi peluang terhadap kemungkinan permainan suasana, karena dalam gamelan tersebut dimungkikan untuk bermain patet lebih banyak.
Harapan penata, mudah-mudahan karya cipta yang sederhana ini dapat berkembang sebagai tarian anak-anak dimasa-masa mendatang.
Kata kunci : Semarandana, Kupu-kupu Kuning.
by admin | Apr 8, 2010 | Berita
DPR akan mengajukan rancangan UU BHP baru sebagai pengganti UU No 9/2009 yang dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK). ”Kita ajukan UU yang baru yang namanya juga UU BHP, tapi isinya berbeda,”kata Wakil Ketua Komisi X DPR Rully Chaerul Azwar seusai pertemuan tertutup antara Komisi X DPR dengan para hakim konstitusi di Gedung MK kemarin.
Rully mengatakan, UU BHP yang akan dibuat tentu sesuai dengan semangat putusan MK dan berbeda dengan yang sudah dibatalkan. Menurutnya,UU baru nantinya tidak ada penyeragaman dan tidak membatasi hak masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Namun, anggota Fraksi Partai Golkar ini belum mengungkapkan, kapan tepatnya UU BHP baru tersebut akan dibuat. Saat ini Komisi X DPR akan meminta pandangan dari banyak pihak terkait peraturan pemerintah (PP) yang menjadi turunan dari UU BHP yang telah dibatalkan MK.”Kita akan meminta pandangan dari lembaga swadaya masyarakat, tokoh pendidikan, atau pihak dari Kementerian Pendidikan Nasional,”jelasnya. Menurut dia,hasil masukan tersebut akan direkomendasikan kepada pemerintah untuk menyusun PP baru. PP tersebut harus dilakukan sebagai pengganti PP yang lama yang sudah tidak sejalan dengan putusan MK.
Anggota Komisi X DPR kemarin bertemu dengan para hakim konstitusi. Delegasi komisi X DPR yang terdiri atas sekitar 10 orang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi X Muhyiddin. Sementara pihak MK yang menjadi tuan rumah dipimpin langsung Ketua MK Mahfud MD.Seusai pertemuan tertutup tersebut,Ketua MK tidak memberikan keterangan karena langsung akan memimpin sidang uji materi. Sebelumnya, MK telah membatalkan semua pasal dalam UU BHP. Di sisi lain, MK juga membatalkan beberapa isi UU Sisdiknas. Pertimbangan MK membatalkan UU BHP salah satunya adalah, UU BHP ingin menyeragamkan penyelenggara pendidikan dalam bentuk BHP. MK menilai ide penyeragaman melalui UU BHP tidak menemukan alasan yang mendasar.
Alasan lain adalah UU BHP mewajibkan BHP dikelola dengan dana mandiri dan prinsip nirlaba. Permasalahan akan muncul di daerah di mana akan sangat kesulitan sekolah dalam bentuk BHP mendapatkan sumber dana untuk mandiri. Menurut MK, jika keadaan tidak adanya kepastian sumber dana yang bisa didapat oleh sebuah BHP, sasaran yang paling rentan adalah peserta didik. Sejak proses persidangan di MK, uji materi UU BHP memang menyita perhatian mahasiswa, penggiat pendidikan atau pengamat pendidikan. (kholil)
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/316242/
by admin | Apr 8, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Made Gerya, S.Sn., Jurusan Kriya Seni, FSRD, Penciptaan DIPA 2008
Abstrak penelitian
Dalam penciptaan karya seni yang mengambil tema konsep rwa bineda yang memvisualisasikan lewat media kayu dan limbah kayu. Dengan pemahaman tentang konsep rwa bineda yang kental mengandung nilai dualistik dan saling bertentang satu dengan yang lainnya, tidak pernah selesai sepanjang zaman. Dan konsep rwa bineda bagi pandangan masyarakat Bali tetap eksis dan percaya dengan konsep dualistik, yang berbeda bentuk sifat dan prinsip hidup yang sering tertuang dalam konsep kiwa-tengen (ilmu hitam dan ilmu Putih). Dan ini juga mewarnai hidup manusia di jagat raya ini baik bersifat individu maupun universal, sesuai dengan ruang dan waktu di mana kita berbeda. Terkait dengan karya kriya yang mengambik tema rwa bineda sebagai konsep seni, dapat dipakai landasan dalam memahami pemilihan bahan kayu baik mewakili nilai bagus alamiah bahannya, dan ilmiah kayu yang mengandung nilai konotasi negatif. Dan dalam karya digabung menyatu, dengan pertimbangan hukum rasa estetik harmonis pribadi seniannya. Ternyata hasilya dapat menunjukan lima karya kriya kayu yang menggunakan kayu dan limbah kayu dapat diwujudkan secara nyata dan berkualitas artistik magis ekspresif.
Jadi karya dihasilkan dari pengolahan konsep rwa bineda dan limbah kayu, menunjukan motif topeng, manusia, barong, rangda, api dan air sebagai unsur penunjangnya. Dengan komposisi kontras menuju komposisi estetika harmonis, artinya banyak motif posisikan silang, sembraut, ekspretif, tetapi stelah diadakan perombakan saling menyesuaikan motif utama dan pendukung dapat menyatu secara pertimbangan estetika pribadi penciptanya. Ternyata konsep rwa bineda perlu lagi di lakukan pengkajian ulang dan pengembangan kosep dalam penciptaan karya seni dengan cara pandang yang baru dari sudut teoritis dan penciptaan seni.
by admin | Apr 7, 2010 | Berita
Denpasar- Gairah atmotfir akademik di Jurusan Pedalangan sejak kemarin terasa berbeda dari biasanya. Mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar telah mengikuti workshop teater yang menghadirkan dua seniman asing dari Perancis yaitu Jean Francois Rene dan Sandrine Maunier. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Jurusan Pedalangan ISI Denpasar dengan Yayasan Indonesia Perancis. Sekitar 15 mahasiswa Pedalangan mendapatkan metode pembelajaran baru terkait dunia teater. Diawal latihan, mereka melakukan pemanasan, untuk mendapatkan gerakan teater yang baik dan maksimal.
Kemudian mahasiswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok mendapatkan box yang isinya berbeda-beda. Mereka dilatih merasakan dan berimajinasi dengan memasukkan tangan mereka ke dalam box yang mereka tidak ketahui isinya. Setelah itu isi dalam box diungkapkan melalui sebuah suguhan pementasan sesuai apa yang dirasa. Kelompok pertama mendapatkan isi boxnya adalah air. Kemudian mereka menterjemahkannya air tersebut dalam kelahiran manusia. Diaman diceritakan dalam kelahiran jabang bayi itu ke dunia bersama dengan empat saudaranya yang dikenal dengan Catur Sanak. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. Hingga akhirnya mereka memerankan empat creatur tersebut dengan karakter berbeda.
Kelompok kedua menggabungkan isi box yang berupa serabut kain dan kerikil. Mereka menterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia yang tidak luput dari filosofi hindu yaitu Tri Hita Karana, yaitu hubungan manusia dengan lingkungan, manusia dengan sesama manusia dan masnusia dengan Tuhan. Dalam menjalankan kehidupan pasti akan menemui banyak halangan atau kerikil yang tentunya dapat dilewati apabila kita dapat menjaga keseimbangan ketiga hubungan tersebut.
Sementara mahasiswa asing (Darmasiswa) ISI Denpasar asal Perancis, Oveli, juga turut terlibat dalam workshop mendapatkan isi dalam box adalah kawat besi. Dia lalu menginterpretasikannya dengan membuat ular yang terbuat dari besi, kemudian besi tersebut dibalut dengan kertas, yang akhirnya menyerupai seperti ular. Dengan teknik murah meriah tersebut, Oveli mampu menarik perhatian penonton.
Menurut Jean Francois Rene, pelatih teater, untuk menghasilkan sebuah karya seni tidak harus dengan kemewahan dan kemegahan. Yang terpenting adalah konsep yang ingin dituangkan, serta pesan yang ingin disampaikan. Sementara Ketua Jurusan Pedalangan ISI Denpasar, I Wayan Mardana mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan. Menurut Mardana mahasiswa Jurusan Pedalangan tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan workshop. Hasil kerja selama mengikuti workshop akan dipentaskan pada tanggal 9 April 2010, pukul 19.30 yang bertempat di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Apr 7, 2010 | Berita

Denpasar- Selama 6 bulan terakhir Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Pedalangan ISI Denpasar telah dua kali menggelar pertunjukan bertaraf internasional. Setelah beberapa waktu lalu Jurusan Pedalangan sempat berkolaborasi dengan seniman asing asal India, kini Jurusan Pedalangan tengah bekerjasama dengan Yayasan Indonesia Perancis lewat kegiatan pementasan, workshop dan kolaborasi pementasan bersama.
Pada malam hari (5 April 2010) Yayasan Indonesia Perancis (AF Denpasar) mengadakan pementasan teater boneka dengan judul ‘ Imago’ di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, yang menghadirkan dua seniman asing yaitu Jean Francois Rene dan Sandrine Maunier. Imago adalah kisah tokoh aneh dengan kepala tertanam. Dia tumbuh bak tanaman dan hidup bertransformasi secara tak lazim dari para penonton memasuki dongeng visual, yang mana di dalamnya ada segalanya seperti pohon di dalam benih, kupu-kupu di dalam ulat, serta sifat gotong-royong di dalam kejahatan. Dalam pementasan teater boneka ‘Imago” mereka berhasrat untuk mengespresikan diri melalui seni adi luhung seperti pertunjukan wayang yang dipadu dengan desain, suara dan pencahayaan, sehingga saat di panggung pembahasan cerita akan dapat dinikmati melalui transformasi dan metamorfosa tubuh serta simbol-simbol yang dapat lebih dikomunikasikan melalui cara-cara yang kuno. Berbagai harapan dalam Imago yaitu mampu mendekati penikmat baru seperti anak-anak yang belum terintimidasi dengan konsep drama paten, sehingga mampu menyerap apapun yang disodorkan, termasuk bagaimana mengkomunikasikan sesuatu dengan cara berbeda. Para penonton mendapatkan pengalaman berbeda dalam seni teater ala teater Yunani.
Kedua seniman tersebut diatas tergabung dalam kelompok teater Prancis « Désaccordé ». mereka telah residensi di Indonesia untuk menimba ilmu tentang kesenian topeng tradisional serta wayang Jawa dan Bali. Setelah melakukan residensi di Tampak Siring dan sebelum ke Lembaga Indonesia Prancis Jogjakarta dan CCCL Surabaya, « Désaccordé » mengepak koper ke Alliance française Denpasar untuk bertemu dengan seniman-seniman Bali, memandu sejumlah workshop dan mementaskan pertunjukan Imago, hasil dari riset dan melakukan pertemuan-pertemuan dengan seniman-seniman di Indonesia khususnya Bali.
Untuk di Bali mereka bekerjasama dengan ISI Denpasar sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berperan besar melestarikan seni dan budaya Bali. Setelah melakukan pementasan, mereka akan berbagi ilmu dengan mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar selama 3 hari (6-8 April 2010). Setelah itu mahasiswa Jurusan Pedalangan ISI Denpasar akan berkolaborasi dengan seniman asal Perancis tersebut untuk menghasilkan sebuah karya pertunjukan. Hasil workshop tersebut akan dipertanggungjawabkan lewat pementasan kolaborasi yang rencananya akan dipentaskan malam hari, pada tanggal 9 April 2010.
Dalam sambutannya Ketua Yayasan Indonesia Perancis, Audrey Lamu mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan yang hangat dari ISI Denpasar untuk dapat bersama-sama menghasilkan serta menciptakan hasil karya baru dari dua Negara. Tentu besar harapannya hubungan kekerabatan dua Negara dapat terjalin baik lewat seni. Hal senada juga disampaikan Dekan FSP ISI Denpasar yang hadir membuka rangkaian acara tersebut. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn., menyampaikan pesan kepada para mahasiswa ISI Denpasar untuk dapat memanfaatkan kesempatan yang baik ini guna memperoleh ilmu tambahan serta wawasan baru terkait perkembangan teater di luar negeri, khususnya dari Perancis.
Humas ISI Denpasar melaporkan