by admin | Apr 20, 2010 | Berita

Guna membangkitkan kejayaan kriya seperti di masa lalu, maka para kriyawan-kriyawan muda di Bali khususnya terinspirasi untuk mengadakan pameran dengan nama kegiatan Surprisse#4 yang mengusung tema “Dimensi Kriya Kini”. Dalam pameran ini menghadirkan karya-karya mahasiswa seni rupa khususnya jurusan kriya yang tergabung dari institut-institut seni di berbagai kota, di antaranya ISI Denpasar, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ITB, IKJ, STSI Padang Panjang, UNS Solo, UNNES Semarang, STKW Surabaya, Universitas Malang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Surabaya. Pameran yang dibuka dari tanggal 21 hingga 24 April 2010 ini, diharapkan mampu menyulut kembali semangat kriyawan-kriyawan muda yang lama padam. Selain itu kegiatan yang sudah berlangsung ke empat kalinya ini bertujuan sebagai wadah berekspresi dan penuangan ide dalam penciptaan karya kriya, sebagai ajang apresiasi mahasiswa kriya dan masyarakat, sebagai wujud eksistensi Seni Kriya dalam perkembangn Seni Rupa Indonesia serta mempertemukan mahasiswa kriya se Nusantara sebagai upaya mempersatukannya demi kebangkitan Seni Kriya Nusantara.
Adapun materi kegiatan yaitu pameran hasil karya mahasiswa kriya, sarasehan tentang perkembangan forum komunikasi mahasiswa kriya Indonesia dan presentasi hasil karya mahasiswa dari masing-masing institut, seminar tentang dunia kriya di Indonesia dari beberapa delegasi Institut Seni di Indonesia yang menjadi peserta, workshop keris; worksop Tapestri,serta workshop topeng ini akan diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, dan siswa-siswi SMK sebagai upaya pelestarian budaya nusantara, mural : mural ini diikuti seluruh mahasiswa Kriya Nusantara, bertujuan mengekspresikan kreatifitas dari masing-masing delegasi peserta serta melakukan kunjungan ke pengeraji tatah kulit/ kayu yang ada di Bali.
Menurut Wakil Ketua Pelaksana yang sekaligus Ketua Prodi Kriya, Drs. I Ketut Muka P, M.Si mengungkapkan kegiatan ini sangat didukung oleh Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. dan rencananya dibuka oleh Wali kota Denpasar Bpk. Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra. Selain itu acara ini sebagai momentum untuk mempromosikan Prodi Kriya yang selama ini mulai ditinggalkan generasi muda, serta menunjukkan eksistensi mahasiswa kriya yang ada di seluruh Indonesia.
Seni kriya merupakan seni budaya yang menjadi akar dari seni rupa Indonesia sudah sepantasnyalah seni ini dilestarikan, dikaji, dan diamalkan kepada masyarakat luas. Serangkaian acara yang terangkum dalam kegiatan Surprisse #4 ini adalah wujud nyata dari konsep panjang tersebut. Sekecil apapun usaha yang dilaksanakan dengan niat baik pasti akan membuahkan hasil.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Apr 19, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : A.A.Ayu Kusuma Arini, Sst.,Msi., Ni Md. Bambang Rai Kasumari, Sst.,Msi., Cok. Istri Putra Padmini, Sst.,Msn.
Abstrak Penelitian
Tari Legong merupakan salah satu tari klasik Bali sebagai warisan budaya sejak dua abad silam. Daya tarik tarian Legong merupakan magnit tersendiri yang diakui kalangan pencinta seni tari Bali. Luwes, lentur dan gerak-gerak yang dinamis, sangat digemari wisatawan dan nampaknya akan tetap cemerlang sampai masa yang akan datang. Tari Legong di samping sebagai dasar tari putri juga menjadi primadona dari berbagai jenis tarian Bali yang paling unik di dunia.
Gaya tari Legong yang terkenal di Bali adalah gaya Peliatan, gaya Saba dan gaya Badung. Diantara ketiga gaya tersebut gaya Peliatanlah yang paling aktif melakukan pementasan secara reguler sebagai tari tontonan. Kepopuleran Legong telah dimulai sejak tahun 1931 setelah grup kesenian dari Peliatan menggemparkan masyarakat seni Eropa dalam Colonial Exhibition di Paris dengan penampilan tari Legong dan Calonarang. Demikian pula tahun 1952 untuk kedua kalinya melawat ke Eropa dan Amerika Serikat yang dibawa oleh seorang impresario Inggris, John Coast. Dengan demikian Legong Peliatanlah sebagai pelopor promosi pariwsata Bali di luar negeri. Begitu berkesannya penampilan tari Legong di London sampai-sampai BBC London memakai iringan tarinya untuk mengantar siaran bahasa Indonesia selama puluhan tahun.
Setelah sukses luar biasa di luar negeri dan sangat terkenal di dalam negeri maka segala usaha dilakukan untuk mempertahankan kekhasan gerak tarinya. Sudah tentu yang paling berjasa dalam membentuk penari-penari yang andal adalah duet A.A. Gde Mandera bersama Gusti Made Sengog yang keduanya telah tiada dengan menuangkan gaya dan perbendaharaan gerak tari yang spesifik. Pementasan secara reguler di Peliatan sejak tahun 1954 dengan kedatangan wisatawan kadang-kadang sebulan sekali, kemudian berlanjut hingga kini dengan pertunjukan tiga kali seminggu bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah bagaimana identitas Legong Lasem gaya Peliatan dan faktor-faktor apa yang mendukung sehingga tetap kontinu melakukan pertunjukan dengan mempergunakan metode deskriptif kualitatif melalui interviu pelatih tari, mantan penari serta para penabuh dan pemerhati seni di desa Peliatan. Di samping itu juga dengan mengamati dokumen yang masih tersimpan dengan baik.
Temuan dari penelitian ini adalah kekhasan gerak ngelayak, agem yang melengkung, sikap tangan yang lebih sempit, dagu yang diangkat, bahu dan belikat yang terkunci, angsel yang tersendat dan gerakan yang bergetar. Sebagai faktor prndukung tetap kontinu melakukan pementasan adalah karena kediplinan anggota untuk tetap menjaga nama baik Legong Peliatan yang sudah digandrungi penggemarnya, management yang transparan antara pimpinan yayasan dengan anggota, pembagian dana kesejahteraan bagi anggota, serta kerjasama yang baik dengan pengelola pariwisata
Hasil penelitian diharapkan menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang signifikan bagi pencinta seni tari tentang primadona tari Bali yang tetap mempertahankan identitasnya secara terus menerus.
Kata Kunci: Kontinuitas, tari Legong Lasem gaya Pelatan.
by admin | Apr 19, 2010 | Berita
JAKARTA (SI) – Rektor-rektor perguruan tinggi negeri (PTN) masih berbeda pendapat terkait penggunaan dasar hukum baru sebagai pengganti Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi (MK).
Beberapa rektor meminta agar pemerintah cukup menerbitkan peraturan menteri.Sebab,menurut mereka, selain cepat, prosedur penerbitan peraturan menteri dinilai tidak rumit.Namun,ada juga rektor yang menilai bahwa peraturan menteri tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar hukum pengganti UU BHP. Mereka pun meminta pemerintah menerbitkan peraturan pengganti undang-undang (perppu). Ketua Majelis Rektor PTN se- Indonesia Haris Supratna menyatakan lebih setuju jika pemerintah menerbitkan peraturan menteri. Sebab, menurut dia, saat ini perguruan tinggi membutuhkan dasar hukum sebagai pedoman pengelolaan.
”Peraturan menteri tidak membutuhkan prosedur yang rumit dan bisa dikeluarkan dalam waktu cepat,” tegas Haris kepada harian Seputar Indonesia (SI) di Jakarta kemarin. Haris mengaku sudah mengusulkan agar Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menerbitkan peraturan menteri. Usulan itu, katanya, diajukan melalui Wakil Menteri Pendidikan Nasional(Wamendiknas) FasliJalal. Menurut Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu, peraturan menteri sudah cukup kuat dijadikan dasar hukum pengganti UU BHP.Sebab,peraturan menteri juga bisa mengatur pasal-pasal kemandirian PTN. Pendapat berbeda disampaikan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Fasich. Menurut dia, peraturan menteri justru tidak mendukung otonomi ke seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia.
Dirinya juga tidak setuju dengan opsi penerbitan peraturan pemerintah (PP).“Kalau ingin mengejar mutu perguruan tinggi yang setara dengan luar negeri, tidak mungkin hanya diakomodasi oleh tujuh perguruan tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) saja,”tegasnya. Adapun Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmaloka mengungkapkan, berdasarkan indikasi, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) lebih memilih dua opsi yang ada, yakni menerbitkan PP atau perppu.
Namun, ujarnya, dari dua opsi itu tampaknya yang lebih memungkinkan diambil pemerintah adalah opsi perppu. Sebab, saat ini Kemendiknas sedang menyusun draf perppu sebagai pengganti UU BHP. (neneng zubaidah).
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/318491/
by admin | Apr 18, 2010 | Artikel, Berita
Ringkasan Penelitian
Oleh: I Made Bendi Yudha Fakultas Seni Rupa Dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar
Masyarakat Bali yang dikenal religius, dalam hidup kesehariannya pada pelaksanaan ritual keagamaan yang disebut dengan Panca yadnya (lima jenis korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ihklas), selalu dilengkapi dengan sarana-sarana upakara/banten sesajen yang sarat dengan berbagai jenis bentuk dan gambar berupa simbol yang religius magis. Seni banten adalah seni simbol, di mana benda-benda yang konkrit dan abstrak bisa di buat artistik seperti halnya simbol-simbol dari huruf-huruf gaib; dasa aksara, panca aksara, yang secara aplikatif memiliki fungsi yang berbeda dan terkadang saling bertentangan sesuai dengan kebutuhan serta tujuan penggunaannya.
Dari hasil pengamatan tersebut timbul penafsiran tentang suatu makna bahwa, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, pada dasarnya memiliki dua potensi besar yang saling tarik-menarik dan melengkapi yaitu; melakukan strukturisasi/menata (order) yang berorientasi pada penataan kehidupan yang lebih baik dan melakukan penyimpangan/pertikaian bahkan penghancuran (chaos) yang cenderung menolak kemapanan. Hal ini bila pengelolaannya tidak didasari dengan konsep keseimbangan dan keharmonisan, maka akan berpengaruh terhadap tatanan sosial masyarakat yang rawan konflik dan perpecahan, sehingga menggoyahkan sendi-sendi keutuhan berbangsa dan bernegara.
Konsep keseimbangan yang terkandung dalam sarana-sarana upakara/banten sesajen bila di komparasikan dengan memaknai fenomena kehidupan yang terjadi di lingkungan masyarakat dewasa ini, nampaknya telah terabaikan bahkan ditinggalkan. Hal ini dapat dibuktikan di mana telah terjadi tindakan-tindakan penyimpangan baik terhadap alam maupun pada kehidupan manusia antara lain, terjadinya eksploitasi terhadap sumber kekayaan alam, diskriminasi di bidang hukum dan HAM , jender, serta penyalahgunaan kewenangan di bidang administrasi negara, dan akan berdampak pada meluasnya krisis ekologis dan degradasi moral, serta mempertinggi tingkat kemiskinan masyarakat.
Berdasarkan pemahaman terhadap simbol-simbol tersebut di atas, dapat dijadikan sebagai pengalaman interaktif serta sumber inspirasi, yang menstimulasi alam imaji pencipta untuk memicu bagi munculnya olah cipta rasa yang kreatif berupa ide-ide tentang nilai-nilai kehidupan. Adapun tuturan konsep filosofisnya diabstraksikan ke dalam karya seni lukis, dengan memadukan bentuk representatif dengan abstraktif melalui penerapan garis, warna dan tekstur yang variatif, serta melalui teknik impasto, sehingga mencerminkan keaslian karya seni (authenticity of the art work), yang estetik, artistik serta mencerminkan nilai kebaruan (novelty) yang personal.
Kata-kata kunci: seni lukis, simbolisasi bentuk, ruang, imaji rupa.
by admin | Apr 16, 2010 | Berita
Guna memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April, Darma Wanita ISI Denpasar tengah memnpersiapkan Tari Cak Wanita. Ide yang digagas oleh Koordinator Asti Pertiwi (Skaa tabuh wanita ISI Denpasar), Ni Ketut Suryatini, M.Sn ini sangat didukung oleh Ketua Darma Wanita ISI Denpasar, I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si. Menurutnya kegiatan ini sangat penting untuk menjalin keakraban dan kebersamaan antar anggota. Sementara kali ini ide membuat garapan Tari Cak Wanita adalah sebagai bentuk dukungan terhadap emansipasi wanita yang didengung-dengungkan selama ini. “Ini adalah bentuk nyata persamaan gender yang selama ini diwacanakan” ungkap istri Rektor ISI Denpasar ini.
Sekitar 40 anggota Darma Wanita ISI Denpasar, dari dua fakultas yaitu Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain akan menampilkan Cak dengan kreasi, berjudul “Bungan Sandat”. Disebut Cak kreasi baru karena selain menari Cak, mereka juga mengkolaborasikan dengan lagu Bali yang sangat familiar yaitu “Bungan Sandat”, lagu ciptaan Alm. Bapak AA Made Cakra. Lagu Bali ini dibawakan dengan indah oleh tiga penyanyi, dengan iringan biola dan suara Cak yang saling bersahuatan. Tak hanya permainan lagu pop Bali saja, disela-sela ngecak, mereka juga menghadirkan bebondresan dengan mengambil filosofi dari makna bungan sandat, serta Hari Kartini. Tak cukup hanya itu saja, jelang akhir pementasan, ibu-ibu ini menampilkan gegitaan dengan mengangkat tema tentang emansipasi wanita. Sementara guna mendukung tema yang diangkat yaitu ‘Bungan Sandat’, Cak wanita ISI Denpasar ini menggunakan property kipas, yang membentuk formasi-formasi layaknya seperti bungan sandat.
Menurut Ketua Darma Wanita ISI Denpasar, I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si. dipilihnya tema ‘Bungan Sandat’, karena bunga sangat identik dengan perempuan, sementara ‘Sandat’ dilihat dari kareakter bunganya mengandung makna yang mendalam dan patut ditiru oleh kita kaum wanita. Layaknya setiap bait dalam lagu ‘Bungan Sandat’ yang mengandung makna, dimana
kita harus berhati-hati dalam bersikap, jangan seperti bunga kembang bintang yang tumbuh dijalanan, semua ingin memetik lalu dibuang. Lihatlah bunga Sandat (Kenanga), seberapapun layunya tetap harum. Itu yang mesti ditiru, selama hidup selalu bersikap baik dan membuat harum hingga akhir hayat. Untuk para remaja putra-putri agar saling hidup rukun, mengasihi serta memperkuat rasa persaudaraan sehingga tentu kebahagiaan dan ketenteraman yang diperoleh.
Pementasan Cak ‘Bungan Sandat’ akan berlangsung pada tanggal 17 April 2010, yang bertempat di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan