M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan

Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan

Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan: Studi Kasus Dalang I Made Sidia Dalam Festival Wayang Internasional Pada PKB XXX

Oleh : Nyoman Lia Susanthi (Ketua), Ni Wy. Suratni (Anggota), dan I Dewa Ketut Wicaksana (Anggota)

Dibiayai DIPA ISI Denpasar 2009

Abstrak Penelitian

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Di era global ini, bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris, telah menjadi media yang sangat ampuh untuk penyebaran budaya ke seluruh dunia. Termasuk seni budaya pewayangan yang kini dikemas dengan beragam inovasi, termasuk menyelipkan bahasa Inggris dalam pementasannya. Hal ini tampak saat pelaksanaan Festival Wayang Internasional dalam PKB ke XXX. Selain untuk lebih menarik wisatawan berkunjung ke Bali, juga untuk dapat memberikan informasi dan berkomunikasi dengan wisatawan asing. Dengan demikian tampak sangat jelas bahwa bahasa Inggris sebagai media komunikasi memiliki peran yang sangat penting untuk desiminasi budaya.

Kata Kunci: bahasa Inggris, komunikasi, wayang, festival

Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali

Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali

Oleh: I Nyoman Suardina

Makalah Seminar IMHERE 2009

Usaha kerajinan adalah suatu pilar perekonomian yang masih eksis menyangga kehidupan sebagian masyarakat Kabupaten Buleleng. Dengan demikian sektor kerajinan sampai sekarang masih tetap diusahakan sebagai mata pencaharian, baik dilakukan secara perorangan, maupun kelompok. Dalam bentuk usaha, ada yang dilakukan secara tradisional perorangan, kelompok masyarakat atau dengan manajemen yang lebih baik dalam bentuk perusahaan perorangan maupun asosiasi. Makin majunya dunia usaha serta taraf kehidupan masyarakat produsen maupun konsumen, tak pelak menuntut pencitraan bentuk-bentuk kerajinan, sehingga kerajinan dapat berkembang begitu dinamis. Tuntutan gaya hidup konsumen serta kemampuan desainer dalam merespon, dapat menyuburkan perkembangan mode kerajinan, dari waktu ke waktu.

Gambaran itu sangat jelas terbaca dalam peta perkembangan usaha kerajinan di daerah Buleleng saat ini. Bila di masa lalu kerajinan diusahakan sebagai pengisi waktu luang, dimana jiwa dan karakter pada setiap produk yang dihasilkan adalah penggambaran jiwa-jiwa sederhana, aplikatif sebagai kagunan dan milik masyarakat pendukungnya. Begitu pula usaha kerajinan itu sebagai anugerah potensi alamiah yang dimiliki masyarakat setempat, dan mencerminkan karakter masyarakat sebagai budaya lokal. Namun, ‘kerajinan’ yang tadinya berkonotasi pada proses pekerjaan, kini kata itu cukup menempel pada produknya saja. Sedangkan proses ‘kerajinan’ itu sudah menjelma menjadi; pekerjaan, usaha, komoditas melalui proses tersetruktur dalam aturan waktu maupun manajemen.

Seiring berkembangnya budaya global, perwajahan kerajinanpun mengalami perubahan. Beberapa idiom terkesan ‘memaksa’ hadir dalam keseharian masyarakat tradisional Buleleng. Dahulu masyarakat hanya akrab pada kata; sok, kukusan, sokasi/ keben, wanci/ dulang, saab, bokor, dan sebagainya. Kini dengan sangat fasih para perajin menyebut apa yang mereka kerjakan sebagai; box set, bath rack, box handle, coffee set tray, oval lamp set, table square, bambu bowl, lamp holder, CD cabinet, food accessories, dan sebagainya.

Makalah Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali selengkapnya

Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar

Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar

Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si. (Ketua) I Nyoman Pasek, SSKar ., M.Si (Anggota)

Makalah Seminar Imhere 2009

Derasnya pengaruh modernisasi dan globalisasi dewasa ini mengancam keberadaan dan sendi-sendi kearifan lokal yang telah mengakar dalam tradisi dan budaya masyarakat Bali. Selama ini kearifan lokal masyarakat Bali diyakini memiliki nilai-nilai yang penting dalam menjaga kelangsungan tradisi dan budaya masyarakat Bali. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat di era modern, terjadi transformasi kehidupan masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang mana hal ini menyebabkan terjadinya penyusutan dalam memahami serta penerapan nilai-nilai kearifan tersebut dalam kehidupan masyarakat. Orientasi menuju kehidupan masyarakat modern mendominasi prilaku setiap individu sehingga nilai-nilai kearifan yang sebelumnya kental dalam sikap dan prilakunya mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup modern.

Perubahan masyarakat seperti ini sangat sulit untuk dihindari karena sebagaimana dikatakan Huntington, dalam tahapan menuju masyarakat modern, modernisasi sebagai sebuah proses transformasi, dalam mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan seperangkat struktur dan nilai-nilai modern. Apa yang dikatakan sebagai tradisional tidak memiliki peran yang berarti dan bahkan dalam banyak hal tidak berguna sama sekali dan karena itu harus diganti (dalam Suwarsono, 1994:23).

Demikian pula halnya dengan arus globalisasi yang semakin mendesak merambah sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dampak negatif dari adanya perubahan ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap nilai-nilai kearifan yang sebelumnya sangat mengakar di masyarakat. Proses modernisasi di era global, dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini upaya mempertahankan nilai-nilai kearifan tradisional menjadi sebuah tantangan bagi kelestarian kebudayaan Bali karena dampak era globalisasi tidak akan dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana dikatakan Titib (dalam Triguna, 2007:171), globalisasi ditandai dengan hilangnya batas-batas negara atau budaya suatu bangsa. Dalam situasi seperti ini budaya barat yang sekuler dan modern akan mudah diserap oleh bangsa-bangsa di Timur yang sedang berkembang menuju tahapan modernisasi. Bila tidak memiliki sistem proteksi dan kendali budaya yang baik, ditenggarai akan menghancurkan budaya dan peradaban bangsa-bangsa di Timur dimana sentuhan budaya global menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan atau kehilangan orientasi (disorientasi) dan dislokasi hampir di setiap aspek kehidupan. Masyarakat cenderung bersifat sekuler dan komersil karena uang dijadikan sebagai tolok ukur kehidupan.

Makalah Gamelan Gambang Dalam Ritual Keagamaan Umat Hindu Di Kota Denpasar selengkapnya

80% Masyarakat Buta IT

80% Masyarakat Buta IT

GANESHA,(GM)- Masyarakat Indonesia yang melek teknologi informasi (TI) saat ini masih rendah. Hingga April 2010, masyarakat yang melek TI hanya berkisar 20% atau sisanya 80% masih buta TI. Karena itu, pemerintah akan terus membangun infrastruktur IT di sejumlah daerah, termasuk daerah terpencil.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Tifatul Sembiring, pada Konferensi dan Temu Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk Indonesia di Aula Barat ITB, Jln. Ganesha, Kamis (6/5). Menurutnya, kesenjangan TI antara masyarakat yang satu dan yang lainnya masih banyak.
“Mereka yang memiliki kemampuan untuk memiliki sarana dan mengakses infrastruktur dan konten TI yang bisa kita sebut melek TI, hingga April 2010 jumlahnya 20% warga negara Indonesia,” ujar Tifatul kemarin.
Diakuinya, kesenjangan masyarakat yang melek TI di Indonesia sangat mencolok. Karena itulah, pemerintah terus mengembangkan inftrastruktur TI, termasuk optik fiber dan cyber city. “Perbedaan sangat mencolok antara daerah pusat dan terpencil, kita akan terus membangun infrastruktur TI,” tandas Tifatul sambil menambahkan, selain sektor infrastruktur dan kontennya, pemerintah juga berupaya mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat melalui TI.
Meski orang yang melek TI minin, namun di sisi lain perkembangan TI di Indonesia sangat pesat. Hal ini bisa dilihat dari penggunaan telepon seluler yang berdasarkan Wireless Intelligent Indonesia (WII), Indonesia berada di peringkat 6 pengguna telepon dengan jumlah pengguna telepon seluler hingga akhir 2009 mencapai lebih dari 135 juta.
“Meskipun diyakini penyebarannya tidak merata, namun jumlah ini cukup revolusioner dibandingkan dengan data tahun 2006 yang baru berkisar 63 juta jiwa,” ujar Tifatul.
Rektor ITB, Akhmaloka mengatakan, dalam perkembangan Information and Communication Technology (ICT), ITB diminta melakukan dua hal, menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan memproduksi sesuatu yang baru. Produk baru ini tidak hanya untuk dipasarkan di negara lain, tapi juga di negeri sendiri agar menjadi tuan rumah di negara sendiri. “ITB siap menyongsong ICT dengan menghasilkan sumber daya manusia yang baik. Saat ini diperlukan banyak. Kita punya pusat penelitian bidang ICT dan juga terus menggalakkan konferensi atau seminar untuk melihat kemajuan ICT,” ujar Akhmaloka.
UU KIP
Terkait UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), Memkominfo mengatakan, pada tahun pertama diberlakukannya UU KIP ini lebih ke sosialisasi dan edukasi, jangan dulu menerapkan sanksi. Karena KIP ini merupakan barang baru, sehingga orang pun masih rancu antara Komisi Informasi Publik (KIP), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau istilah IPK. Dengan diberlakukannya KIP, tidak hanya pemerintah tapi lembaga legislatif dan yudikatif pun harus terbuka pada publik. “Semua terkena Undang-undang KIP, lembaga swasta ataupun lembaga swasdaya masyarakat. Tapi untuk tahun pertama, sosialisasi dan edukasi dulu,’ tandasnya. (B.95)**

Sumber: http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?idkolom=opinipendidikan

Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II

Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II

Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan

Totalitas Gusmiati Suid dalam berolah kreativitas seni, mendapat apresiasi dan pujian dari berbagai kalangan. Ratna Sarumpaet, dalam acara Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 mengemukakan,  bahawa Gusmiati Suid adalah seorang seniman Indonesia yang telah memberikan kontribusi kreatif terhadap perkembangan kesenian, terutama seni tari dan musik yang berakar tradisi budaya Minangkabau. Melalui Gumarang Sakti yang didirikan tahun 1982, Gusmiti Suid telah mengukirkan kreativitasnya melalui karya-karya pertunjukan tari dan musik, yang kemudian mengukuhkan dirinya sebagai salah seorang Maestro Tari Indonesia yang mendapat penghargaan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Gusmiati tidak banyak bicara apalagi berwacana. Wacana Gusmiati adalah gerak dan perjalanannya. Seorang perempuan Minang yang berani melangkah untuk mewujudkan kemauannya, meski di era itu adat dan tradisi yang berlaku dapat mengecam dan menjadikan sika dan pendiriannya sebagai pergunjingan kurang menyenangkan. Misteri Gusmiati tersimpan dalam suaranya yang tidak terlalu diperdengarkan. Karena dian itulah yang membuat orang tersentak begitu melihat panggung pergelarannnya. Pergelaran yang mengucapkan banyak hal, yang berbicara tentang banyak hal, yang memperdulikan dan prihatin pada banyak hal (Sarumpaet, 2004:2-3).

Pujian serupa juga dikemukan Edi Sedyawati kepada Gusmiati Suid, “sebuah hidup penuh karya; sebuah teladan mengenai keberanian hidup”. Sebagai wanita yang berperasaan halus ia adalah siganjua lalai, samuik tapijak indak mati (si cantik gemulai, semut terinjak tidak mati). Namun dalam berkarya tari dan dalam menghadapi permasalahan hidup, ia adalah representasi sisi lain dari gambaran perempuan Minang, yaitu alu tataruang patah tigo (alu tertabrak patah jadi tiga). Karya-karya Gusmiati Suid bahkan lebih ‘gegap gempita’, baik dalam penggarapan susunan gerak yang memerlukan banyak energi, maupun dalam tata rupa pentas yang ‘bergerak’ dan difungsikan sebagai penunjang perlambangan, dan bukan semata-mata dekoratif (Sedyawati, 2004:2).

Terhadap karya-karya tari yang telah dihasilkan oleh Gusmiati Suid, Sal Murgiyanto (kritikus tari) dalam pidato sambutanya pada Anugerah Seni Dewan Kesenian Jakarta 2004 memberikan ulasan dan penilaian sebagai berikut:

Gusmiati Suid Sang Maestro Tari II Selengkapnya

Loading...