by admin | Jun 5, 2010 | Berita
Oleh : Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn dan Ni Putu Tisna Andayani, SS (dosen PS Seni Karawitan)
Perkembangan Variasi, Komposisi
Gender Wayang sebagai kesenian yang tetap eksis di masyarakat karena keterkaitannya dengan upacara agama, akhir-akhir ini mendapat pula sentuhan variasi dari para seniman pendukungnya terutama dari seniman akademis dan generasi muda. Pemberian variasi sifatnya sah-sah saja sepanjang tidak meninggalkan unsur-unsur musikal nilai estetika dan etika.
Sejarah Gender Wayang pada abad ini mengarah pada persimpangan jalan yang diwarnai dengan adanya saling mempengaruhi dengan gamelan-gamelan lain, termasuk gong kebyar, yang menonjol pertama sebagai musik instrumental untuk gong di Bali Utara pada tahun 1914 dan kemudian dikembangkan sebagai iringan tari. Setelah gong baru itu mulai berkobar di Bali Selatan (Sekehe gong di Pangkung Tabanan, Belahan Denpasar, Peliatan Gianyar), komposisi-komposisi baru untuk pelegongan dan semar pagulingan dari Kuta juga mulai diserap oleh gong kebyar, yang sampai saat itu mendapat pengaruh dalam perkembangannya berdasarkan tradisi gong sebagai titik tolak. Wayang Lotring adalah seorang tokoh dalam pelegongan dan gender wayang yang pernah belajar tradisi-tradisi gender yang lain disamping dari desanya sendiri, termasuk di Kayumas Kaja Denpasar dan Sukawati, dan latar belakang tersebut merupakan sebuah harta karun dalam karya-karya baru dari imajinasinya. Dalam penggalian tradisi gender dia mentransfer gending Sekar Gendot dengan penyesuaian, perubahan dan penambahan ke pelegongan. Proses peminjaman dan transformasi itu dari gender ke gong kebyar juga dilakukan di Jagaraga termasuk bentuk gineman sehingga dikembangkan suatu urutan tertentu dalam kebyar : kebyar, gineman, gegenderan dan bagian-bagian berikutnya seperti gilak, bapang dan playon dalam berbagai kombinasi.
Inspirasi dari gender dalam kebyar dan perkembangan saih pitu pada masa ini masih berjalan; sebuah kutipan dari ”Pemungkah” gaya Kayumas bagian lainnya seperti ”Tulang Lindung”, telah muncul juga dalam kreasi gong.
Perkembangan Gender Wayang Kayumas selengkapnya:
by admin | Jun 4, 2010 | Berita
Oleh: Drs. I Wayan Gulendra M.Sn
Garis
Garis merupakan elemen dasar dalam seni rupa yang mengandung arti lebih dari sekedar goresan, karena garis dengan iramanya dapat menimbulkan suatu kesan simbolik pada pengamatnya. Peranan garis sangat penting dalam proses perwujudan bentuk, karena garis sangat menentukan kualitas ekspresi seorang seniman yang nampak pada sapuan-sapuan atau dalam pemberian aksentuasi tertentu pada objek penciptaannya. Ketika garis diberi struktur, seperti misalnya disusun melalui ritme, simetri, keseimbangan akan membentuk pola-pola tertentu sehingga garis sudah dapat berbicara sebagai media ekspresi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Djelantik (2001: 20) bahwa:
Garis-garis bisa disusun sedemikian sehingga menimbulkan ilusi pada pengamat, yakni “kesan buatan”. Membuat persepsi yang diterima sang pengamat lain dari pada yang sesungguhnya. Suatu teknik gambar yang dipakai sehari-hari yang disebut perspektif memberi ilusi jarak jauh dan dekat dengan mengarahkan garis-garisnya ke suatu titik jauh pada horison atau cakrawala sama dengan akhir pandangan mata.
Dalam hal ini garis memiliki kesan imajiner terhadap pengamatnya, sehingga garis sangat pundamental untuk menghadirkan ekspresi dalam suatu karya seni lukis, baik dalam proses penyusunan, perancangan bentuk realistik maupun imajiner sangat tergantung dari penguasaan garis. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penguasaan terhadap sifat-sifat garis sesuai dengan iramanya seperti garis lurus memberikan perasaan yang berbeda dengan garis melengkung, yang lurus memberi kesan kaku dan yang melengkung memberi kesan luwes dan lemah lembut. Di samping itu kesan garis juga sangat tergantung dari ukuran, tebal tipisnya (volumenya). Garis yang menjadi bahasa pokok dalam berekspresi, menurut Blake, yang diungkap kembali oleh Read (dalam Soedarso Sp., 2000 : 20) bahwa pedoman yang penting dan ampuh bagi seni, juga buat kehidupan ini, adalah makin nyata, tajam, dan kuat garis batasnya, makin sempurna karya seni, dan kekurangjelasan serta kekurangtajaman pada garis besarnya merupakan bukti dari lemahnya imajinasi, peniruan, dan kecerobohan.
Pengertian Garis dan Bentuk selengkapnya
by admin | Jun 3, 2010 | Berita
Sehari setelah kunjungan Timbalan Perdana Menteri Malaysia sekaligus sebagai Menteri Pelajaran Malaysia, YAB Tan Sri Muhyiddin Haji Mohd Yassin ke ISI Denpasar, ISI Denpasar kembali kedatangan tamu penting dari East-West Centre, yaitu Namji Steinemann, selaku Director, Asia Pasific Ed Program pada 3 Juni 2010. Kedatangannya untuk menjalin kerjasama dan kesepakatan dengan ISI Denpasar. Wujud realisasai kerjasamanya yaitu pada bulan Agustus 2010 ini, East-West Center akan mengirim rombongan ke Bali untuk mengenal dan belajar seni, budaya Bali. ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan seni dipercaya untuk mengorganize segala materi kegiatan selama berada di Bali. Kedatangan rombongan ini bukan sekedar tourist yang ingin berkunjung ke Bali, tapi mereka adalah orang-orang yang benar-benar ingin mengenal dan mempelajari seni dan Budaya Bali, karena nantinya bekal pengalaman ini akan mereka bagikan di negara asal mereka. Dipilihnya ISI Denpasar, karena secara akademis ISI Denpasar sudah dikenal dengan ‘best practices’.
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., menyambut positif kerjasama tersebut dan akan mendukung menyukseskan kegiatan tersebut dengan memfasilitasi kunjungan rombongan ini ke Bali. Segala bentuk kegiatan selama berkunjung di Bali melalui learning by experiences. Rencananya rombongan pada hari pertama, akan disambut di ISI Denpasar dengan perkenalan sekilas tentang Bali lewat penjelasan singkat. Dilanjutkan menyaksikan secara langsung ke lokasi proses upacara manusa yadnya ‘Ngaben’ dari proses pembuatan seperangkat upacara hingga puncak acara dan prosesi lanjutan dari Ngaben. Dengan mengikuti segala prosesi kegiatan upacara secara langsung, maka wujud realisasi penyampaian pesan, makna serta mengenal bagaimana Bali itu, akan lebih mudah disampaikan. Setelah itu mereka berkesempatan untuk mempelajari seni Bali baik tabuh dan tari di ISI Denpasar.
Prof Rai menambahkan melalui kegiatan ini maka mampu meningkatkan networking ISI Denpasar, serta mendekatkan kampus dengan partner luar. Dengan lawatan ini akan mampu memperkenalkan ISI Denpasar sebagai salah satu Perguruan Tinggi Seni di Indonesia yang bertaraf internasional. Selain itu untuk memperomosikan Indonesia pada umumnya melalui Bali, karena sesuai dengan survey yang pernah dilakukan di International Centre Park New York, bahwa lebih banyak orang mengenal Bali dari pada Indonesia, sehingga moment ini tepat untuk mempromosikan Indonesia. Prof. Rai menambahkan, kegiatan ini penting untuk meningkatkan citra Indonesia umumnya dalam meningkatkan daya saing bangsa. Pemahaman seni budaya merupakan modal dasar yang sangat penting dalam rangka mempererat hubungan antar bangsa, sehingga mampu meningkatkan citra dan daya saing Indonesia di dunia internasional melalui seni budaya.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Jun 3, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: A.A.Ayu Kusuma Arini, SST.,MSi
Untuk mengetahui asal mula tari legong gaya Peliatan dapat diuraikan sebagai berikut. Sebelum tahun 1928, kesenian Legong dibina dan diayomi oleh Puri Agung Peliatan. Menurut Babad Dalem Sukawati, kehidupan berkesenian di Puri Peliatan dan Puri Tegalalang dipengaruhi oleh Puri Sukawati karena masih ada hubungan keluarga. Demikian halnya dengan tarian Legong yang muncul di Sukawati pada awal abad XIX, di Puri Agung Peliatan juga terdapat tarian Legong namun lebih dahulu hidup di Puri Tegalalang. Fungsi tari Legong pada jaman itu sebagai huburan raja-raja. Di samping itu menurut pengakuan A.A.Gde Mandera (alm), tari Legong terus menerus diajarkan karena merupakan dasar tari Bali untuk karakter perempuan (Wawancara dengan Oka Dalem, 17 Mei 2009).
Setelah misi kesenian Bali yang diwakili oleh gong Peliatan kembali dari Paris tahun 1931 dalam Colonial Exhibition dibawah pimpinan Cokorda Gede Sukawati dan A.A.Gde Mandera, maka kehidupan kesenian Peliatan berkedudukan di Puri Kaleran di rumah A.A.Gde Mandera. Semenjak itu kemasyuran tari Legong merebak ke mancanegara menjadi salah satu jenis tari Bali yang paling elok, seiring dimulainya pelayaran kapal-kapal pesiar Belanda yang menandai awal bisnis pariwisata di Bali.
Beberapa tahun berselang para peneliti dan budayawan Eropa berdatangan ke Bali untuk mendokumentasikan kebudayaan Bali. Usaha mereka membuahkan berbagai buku dan film tentang kebudayaan Bali terutama seni pertunjukannya. Satu diantaranya yakni Covarrubias sangat tertarik dengan kelincahan gerakan tari Legong sehingga dibuat sketsa secara lengkap dalam buku Island of Bali.
Asal mula Legong Peliatan selengkapnya
by admin | Jun 3, 2010 | Berita
Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Di lingkungan Kemdiknas sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Tidak kecuali di pendidikan tinggi, pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar, kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini, dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI.
Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof.dr.Fasli Jalal, Ph.D, hadir pula menjadi pembicara seperti Prof.Dr.Mahfud,MD,SH, SU. Prof.Dr.Jimly Asshiddiqie, SH. Prof. Dr. Djohermansyah Djohan, M.A. Prof.Dr.H.Sunaryo Kartadinata,M.Pd. Prof.Dr.H.Dadan Wildan, M.Hum dan Drs. Yadi Ruyadi, M.si.
Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara, beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”
Dari bunyi pasal tersebut, Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.
Wamendiknas pun mengatakan bahwa, pada dasarnya pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi, yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.
Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture , dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan, agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut.
Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku, melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Selain itu mengenai sarana-prasaran, pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa, karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan.
Prihal pengembangannya sendiri, Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter, mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas.
Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05), di Ruang Rapat Komisi X, DPR-RI, diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi, adalah Menkokesra, Mendiknas, Menag, Menbudpar, Menpora, Wamendiknas, Perwakilan Kementerian Dalam Negeri, serta para pejabat eselon 1 kementerian terkait.
Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya.
Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja, melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa.
by Yoggi Herdani
Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1540:pendidikan-karakter-sebagai-pondasi-kesuksesan-peradaban-bangsa&catid=143:berita-harian