by admin | Jun 7, 2010 | Berita
Meluluskan Total 53 orang dan 14 orang diantaranya Berpredikat Cum Laude
(Denpasar-Humasisi) Pada pagi hari (Senin, 7/6 ) Gedung Natya Mandala dipenuhi puluhan Mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar lengkap dengan jaket Almamaternya. Ternyata sedang dilaksanakannya acara yudisium Fakultas Seni Pertunjukan yang dihadiri oleh seluruh Mahasiswa , jajaran Struktural, Dosen Penguji dan Seluruh Panitia. Menurut Dekan FSP I Ketut Garwa, SSn, MSn Ini merupakan bagian dari rangkaian acara Ujian Tugas Akhir Mahasiswa FSP, yang dimana sebelumnya telah dilaksanakan Ujian Tugas Akhir Penciptaan yang telah dilaksanakan pada tanggal 24-27 Mei 2010 dan dilanjutkan dengan Ujian Skrip/Komprehensif dan Pengkajian/Skripsi pada tanggal 31 Mei sampai 1 juni yang lalu. Puncaknya tentu pada saat wisuda yang dilaksanakan pada Akhir Juli nanti.
Garwa menjelaskan untuk yudisium tahun ini telah meluluskan total 53 orang dan 14 diantarany meraih predikat Cum Laude. Untuk mahasiswa yang meraih 10 besar Ujian Penciptaan yaitu Ni Putu Yeti M, AA Gede Agung Rahma P., Ida Ayu Diah Setiari, I GA Savitri, I Ketut Agus Adi S, I Ketut Suarjana, I Putu Agus Pranata G, I Km Harianto Ardiantha, sedangkan untuk 3 Besar Skripsi adalah Ni Wayan Yuliani, I Putu Juliartha, I Gusti Ngurah Nurada. Untuk Mahasiswa dengan IPK Tertinggi tahun ini adalah AA Gede Agung Rahma P. dengan IP 3,93, Ni Luh Lisa Susanti 3,85, I Gede Anom Ranuara 3, 85, Ida Ayu Diah Setiari 3,77 dan I Putu Adi Sujana 3,77.
Garwa menyatakan sangat puas dengan hasil yang diraih mahasiswa Ujian Akhir pada tahun 2010 dan mengharapkan ke depannya agar tetap dipertahankan baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S, MA tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya melihat hasil yang diperoleh mahasiswa yang mengikuti acara yudisium pada hari ini. Ia mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya adalah pertanggung jawaban kita terhadap stakeholder atau masyarakat. Jadi diharapkan para calon wisudawan agar menjaga sikap dan terus mengembangkan disiplin ilmunya dalam konteks pelestraian dan pengembangan seni dan budaya Bali.
Seluruh mahasiswa mengikuti acara ini dengan khidmat dan sumringah, sambil membawa pengharapan untuk pelestarian kesenian Bali itu sendiri.
Humas ISI Denpasar
by admin | Jun 7, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
Elemen Pembentuk Ruang
Elemen Pembentuk Ruang adalah struktur wadah ruang kegiatan diidentifikasikan sebagai lantai, dinding, dan langit-langit/Plafond yang menjadi satu kesatuan struktur dalam sehari-hari. Elemen pembentuk ruang terdiri dari :
Lantai; Selain berfungsi sebagai penutup ruang bagian bawah, lantai berfungsi sebagai pendukung beban dan benda-benda yang ada diatasnya seperti perabot,manusia sebagai civitas ruang, dengan demikian dituntut agar selalu memikul beban mati atau beban hidup berlalu lalang diatasnya serta hal-hal lain yang ditumpahkan diatasnya.(Mangunwijaya, 1980 : 329). Dalam kelangsungan kegiatan, pemilihan jenis pelapis lantai akan ditinjau dari macam atau jenis kegiatannya, dan pada umumnya dikenal beberapa klasifikasi dari penyelesaian lantai seperti berikut: untuk lantai keras sifat pemakaian lebih baik dan banyak menguntungkan, karena pembersihan yang mudah. Sedangkan lantai yang jenisnya medium lebih bersifat hati-hati. Syarat-syarat bentuk lantai antara lain: (1) Kuat, lantai harus dapat menahan beban, (2), Mudah dibersihkan, (3) Fungsi utama lantai adalah sebagai penutup ruang bagian bawah. lainnya adalah untuk mendukung beban-beban yang ada di dalam ruang. (Ching,1996)
Dinding; dinding bangunan dari segi fisika bangunan memiliki fungsi antara lain :
1) Fungsi pemikul beban di atasnya, dinding harus kuat bertahan terhadap 3 kekuatan pokok yaitu tekanan horizotal, tekanan vertikal, beban vertikal dan daya tekuk akibat beban vertikal tersebut.
2) Fungsi pembatas ruangan, pembatasan menyangkut penglihatan, sehingga manusia terlindung dari pandangan langsung, biasanya berhubungan dengan kepentingan–kepentingan pribadi atau khusus. (Mangunwijaya, 1980 : 339)
Dasar Dasar Desain Interior Pelayanan Umum I selengkapnya
by admin | Jun 7, 2010 | Berita
Bogor — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh akan menindak sekolah-sekolah yang mencantumkan label Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) atau Sekolah Berstandar Internasional (SBI) palsu. Menurutnya, sekolah yang mencantumkan label palsu tersebut dikategorikan sebagai pembohongan kepada publik.
“Kami punya daftarnya sehingga kalau ada sekolah yang mengaku berstatus sekolah bertaraf internasional itu berarti pembohongan publik,” kata Nuh usai memaparkan rencana strategis (renstra) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) 2010 – 2014 di hadapan anggota Komisi X DPR RI, Jumat (4/06) di Wisma Arga Mulia, Bogor, Jawa Barat.
Ia menegaskan bahwa meskipun tanggung jawab terhadap sekolah bertaraf internasional tersebut ada di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota, namun pihaknya tidak akan melepas tanggung jawab. Caranya, tambah Nuh, dengan menyiapkan regulasi untuk menata keberadaan sekolah berlabel RSBI/SBI itu.
Mendiknas mengakui bahwa dana yang diberikan pemerintah pusat dan daerah tidak cukup membiayai sekolah-sekolah unggulan tersebut. Dengan alasan tersebut, kata Nuh, sekolah diperkenankan mendapatkan tambahan dana dari masyarakat. “Tapi, bukan berarti sekolah berhak jor-joran memungut,” tegas Nuh.
Saat ini sekolah yang terdaftar berstatus RSBI/SBI berjumlah lebih dari 1.130. Nuh mengatakan bahwa ke depan jumlah tersebut akan terus meningkat, mengingat hal itu merupakan amanat Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Dalam UU Sisdiknas disebutkan bahwa pemerintahan daerah wajib menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan yang bertaraf internasional sehingga (ketentuan ini) tidak bisa diutak-atik,” ujarnya.
Lebih lanjut Nuh menjelaskan bahwa pada hakikatnya, RSBI/SBI pada memberikan kesempatan dan pendampingan agar sekolah-sekolah yang memiliki potensi sangat bagus untuk dijadikan sebagai pusat unggulan. Hal itu dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran bagi sekolah-sekolah lainnya.
“Sekolah dengan label internasional itu juga menjadi semacam simbol bagi Indonesia kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia juga memiliki sekolah-sekolah unggulan tersebut. Ini juga sekaligus menarik orang-orang asing untuk sekolah di Indonesia dan bisa mengerem orang-orang Indonesia sekolah di luar negeri,” paparnya. Ia menegaskan bahwa sekolah bertaraf internasional itu tidak boleh eksklusif.
“Eksklusivitas itu tidak boleh didasarkan pada status sosial seseorang, tetapi semata-mata harus didasarkan pada keunggulan akademik. Bahkan bagi siswa yang memiliki tingkat intelektual tinggi tetapi memiliki keterbatasan ekonomi harus kita berikan jaminan bisa masuk ke sekolah-sekolah unggulan tadi,” tuturnya. (ratih)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/6/7/rsbi.aspx
Bogor — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh akan menindak sekolah-sekolah yang mencantumkan label Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) atau Sekolah Berstandar Internasional (SBI) palsu. Menurutnya, sekolah yang mencantumkan label palsu tersebut dikategorikan sebagai pembohongan kepada publik.
“Kami punya daftarnya sehingga kalau ada sekolah yang mengaku berstatus sekolah bertaraf internasional itu berarti pembohongan publik,” kata Nuh usai memaparkan rencana strategis (renstra) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) 2010 – 2014 di hadapan anggota Komisi X DPR RI, Jumat (4/06) di Wisma Arga Mulia, Bogor, Jawa Barat.
Ia menegaskan bahwa meskipun tanggung jawab terhadap sekolah bertaraf internasional tersebut ada di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota, namun pihaknya tidak akan melepas tanggung jawab. Caranya, tambah Nuh, dengan menyiapkan regulasi untuk menata keberadaan sekolah berlabel RSBI/SBI itu.
Mendiknas mengakui bahwa dana yang diberikan pemerintah pusat dan daerah tidak cukup membiayai sekolah-sekolah unggulan tersebut. Dengan alasan tersebut, kata Nuh, sekolah diperkenankan mendapatkan tambahan dana dari masyarakat. “Tapi, bukan berarti sekolah berhak jor-joran memungut,” tegas Nuh.
Saat ini sekolah yang terdaftar berstatus RSBI/SBI berjumlah lebih dari 1.130. Nuh mengatakan bahwa ke depan jumlah tersebut akan terus meningkat, mengingat hal itu merupakan amanat Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Dalam UU Sisdiknas disebutkan bahwa pemerintahan daerah wajib menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan yang bertaraf internasional sehingga (ketentuan ini) tidak bisa diutak-atik,” ujarnya.
Lebih lanjut Nuh menjelaskan bahwa pada hakikatnya, RSBI/SBI pada memberikan kesempatan dan pendampingan agar sekolah-sekolah yang memiliki potensi sangat bagus untuk dijadikan sebagai pusat unggulan. Hal itu dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran bagi sekolah-sekolah lainnya.
“Sekolah dengan label internasional itu juga menjadi semacam simbol bagi Indonesia kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia juga memiliki sekolah-sekolah unggulan tersebut. Ini juga sekaligus menarik orang-orang asing untuk sekolah di Indonesia dan bisa mengerem orang-orang Indonesia sekolah di luar negeri,” paparnya. Ia menegaskan bahwa sekolah bertaraf internasional itu tidak boleh eksklusif.
“Eksklusivitas itu tidak boleh didasarkan pada status sosial seseorang, tetapi semata-mata harus didasarkan pada keunggulan akademik. Bahkan bagi siswa yang memiliki tingkat intelektual tinggi tetapi memiliki keterbatasan ekonomi harus kita berikan jaminan bisa masuk ke sekolah-sekolah unggulan tadi,” tuturnya. (ratih)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/6/7/rsbi.aspx
by admin | Jun 7, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Wayan Gulendra M.Sn
Warna
Warna merupakan elemen yang sangat penting dalam seni lukis, karena warna sebagai efek cahaya yang memberi kesan pada mata, sehingga dapat menghadirkan karakter dari suatu bentuk yang secara psikologis mempengaruhi perasaan. Sebagai mana yang diungkapkan oleh Darmaprawira (2002: 32-34) bahwa:
Warna dapat mempengaruhi jiwa manusia dengan kuat atau dapat mempengaruhi emosi manusia. Warna dapat pula menggambarkan suasana hati. Keluarbiasaan warna terletak dalam hal kesederhanaan dan kesenangan emosional, bukan perenungan rasional, kenyataan, dan fakta-fakta yang disederhanakan, dikebiri atau dihilangkan sama sekali. Pada kondisi normal manusia itu menyukai warna. Mereka memiliki reaksi terhadap warna. Ada suasana hati yang diasosiasikan dengan lingkungan yang cerah, hujan atau mendung, gembira atau membosankan.
Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa warna sebagai elemen dalam seni lukis untuk membangun kesan yang dapat mempengaruhi suasana perasaan, di mana kehadiran warna sangat penting untuk menambah nilai estetik dan artistik dalam satu kesatuan karya yang diciptakan. Apabila diperhatikan setiap individu memiliki emosi yang berbeda-beda, hal tersebut sangat tergantung terhadap sensitivitas seseorang terhadap warna. Maka pilihan-pilihan selera warna yang berbeda-beda merupakan wujud dari ekspresi dan karakter dari setiap individu. Pemilihan warna dan prosedur artistik merupakan masalah utama yang harus diperhitungkan dalam proses penciptaan karya seni lukis. Ketika warna dipandang sebagai material, maka dalam pengekspresiaannya akan melibatkan keterampilan teknik sesuai dengan kebutuhan artistik untuk mewujudkan ide-ide berdasar pada konsep yang telah ditentukan. Dalam proses perwujudan karya seni lukis, penulis memanfaatkan unsur-unsur warna sebagai simbol perbedaan karena dalam hal ini warna mempunyai peranan untuk menampilkan karakter yang diharapkan, sehingga dapat mewakili pesan ide dalam karya seni lukis.
Pengertian Warna dan Tekstur Selengkapnya
by admin | Jun 6, 2010 | Berita
Denpasar- Perhelatan tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) akan kembali digelar pada 12 Juni hingga 10 Juli mendatang. Ajang seni dan budaya tersebut yang berlangsung untuk ke-32 kalinya itu akan dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Pada pembukaan pawai PKB, ISI Denpasar yang setiap tahunnya selalu mengisi konten pawai tidak pernah absen pada PKB tahun ini. Selain mempersiapkan Adimerdangga pada pawai pembukaan PKB, ISI Denpasar juga mendapat kehormatan untuk tampil dalam acara pembukaan malam harinya di panggung Arda Candra Art Centre Denpasar yang akan disaksikan oleh Presiden beserta Ibu. Pada kesempatan itu ISI Denpasar akan menampilkan pementasan sendratari kolosal (oratorium) bertajuk ‘Anggada Duta’.
Oratorium Anggada Duta mengisahklan tentang Sri Rama, Laksamana dan Wibisana hendak besiap-siap menuju Gunung Swela untuk menghadapi Balatentara Rahwana, Raja Alengka. Setibanya di Swelagiri, Sri Rama terkesan akan keindahan hamparan hutan, binatang yang hidup harmonis. Kesedihannya terobati oleh candaria kera-kera yang dipimpin oleh Sugriwa, Anoman dan Anggada. Tiba-tiba terlihat seekor kera nyeleneh diantara kerumunan kera-kera yang sedang berkumpul. Wibisana mengetahui bahwa kera itu tiada lain adalah jelmaan raksasa Sukasrana. Anggada segera menangkap untuk dihadapkan pada Sri Rama. Atas perintah Rama, Sukasrana tidak jadi dibunuh, bahkan Ia disuruh kembali melaporkan kepada Rahwana. Anggada diutus oleh Sri Rama ke Alengka memperingkatkan Rahwana agar mengembalikan Dewi Shita. Di Kerajaan Alengka, Raja Rahwana sedang memimpin sidang, sambil menunggu Sukasrana datang dari penyamarannya. Tiba-tiba Anggada datang, dan segera meminta Rahwana menyerahkan istri Sri Rama. Dalam keadaan mabuk, Rahwana menghasut Anggada, untuk tidak memihak Rama, karena ayahnya (Subali) dibunuh oleh Rama sendiri. Ketika Ia kembali, Anggada sempat benrontak pada Sri Rama, namun dapat disadarkan dan Ia pun sepenuh hati membela Sri Rama.
Kisah tersebut disusun oleh para dosen ISI Denpasar yaitu I Wayan Sweca, S.SKar., M.Mus., I Nyoman Cerita, S.ST., M.FA., I Made Sidia, S.SP., M.Sn., I Dewa Ketut Wicaksana, S.SP., M.Hum., dan I Ketut Kodi, S.SP., M.Si. Dalam ceritan ini memberikan pesan yang mendalam bahwa ‘mabuk karena minuman keras, menjadikan raga tidak dapat terkontrol’.
Menurut Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., sebanyak 50 penari yang terdiri dari mahasiswa dan dosen ISI Denpasar turut terlibat dalam garapan ini. Sementara iringannya melibatkan sekitar 30 penabuh dari Jurusan Karawitan ISI Denpasar.
Disela-sela latihan, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali IB Sedawa beserta jajarannya, meluangkan waktu untuk meninjau kesiapan garapan dari ISI Denpasar pada 5 Juni 2010, bertempat Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Pihaknya menyampaikan bahwa Ibu Presiden, Ani Yudoyono, sangat concern terhadap garapan dari ISI Denpasar. Karena hampir setiap tahun Presiden beserta Ibu menyaksikan garapan dari ISI Denpasar ini. Besar harapan bahwa oratorium ISI tidak hanya mampu menampilkan garapan yang optimal, tapi juga memberi/ menyampaikan kesan dan pesan kepada masyarakat, terkait dampak negatif dari minuman beralkohol.
Humas ISI Denpasar melaporkan