by admin | Jul 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Ni Putu Tisna Andayani, Dosen PS Seni Karawitan
Perhelatan besar Pesta Kesenian Bali ke XXXII mengambil tema ” Sudamala ” yang berarti ”Mendalami Kemurnian Nurani” menyajikan berbagai bentuk kesenian tradisional yang tidak hanya khas Bali namun juga kesenian tradisional lainnya dari wilayah Indonesia maupun dari Mancanegara pun ikut berpartisipasi. Salah satu diantaranya ditampilkan Parade Lagu Daerah Bali di ajang PKB.
Untuk itu ”Catur Muka Swara” yang merupakan duta kota Denpasar juga ikut mengambil bagian pada ajang Parade Lagu Daerah Bali yakni tepatnya pada hari Kamis, 24 Juni 2010. Grup Band Catur Muka Swara yang terbentuk sejak tahun 1998 ini tidak pernah melewatkan kesempatan setiap tahunnya untuk tampil di ajang Pesta Kesenian Bali. Maka dari itulah kegiatan Parade Pop Daerah Bali Kota Denpasar kali ini yang berada dibawa arahan Bapak I Nyoman Astita, MA selaku penanggung jawab kegiatan adapula I Komang Darmayuda, S.Sn, M.Si., Ni Wayan Ardini S.Sn, M.Si dan I Ketut Sumerjana S.Sn selaku Pembina dimana notabene mereka semua tercatat sebagai Dosen di Jurusan Karawitan ISI Denpasar terus berusaha untuk melestarikan kesenian olah vokal dan musik melalui Catur Muka Swara. Baik itu dari segi musikalitas maupun penampilannya diatas panggung. Selain kerja keras dari para Pembina dan Penyanyi dimana dalam kurun waktu yang cukup singkat akhirnya dapat menampilkan sesuatau yang berbeda dari peserta parade lainnya walaupun dengan properti yang cukup minim dan jauh dari kesan glamour namun tetap elegan. Hal ini juga tidak terlepas dari peran koreographer dan penata costume Ni Made Wulan Tisandi,SS yang sangat jeli dalam pemilihan materi untuk costume dan juga apik menggabungkan gerakan-gerakan tari dengan musik iringan yang telah diaransemen dan disajikan dengan apik oleh para musisi handal Kota Denpasar diantaranya Gus Jack Suparwata (Guitarist), Wing Wiryawan (Bassist), Gung Gus (Drumer), Kt. Sumerjana (Keyboard 1), Dewa Pangkwala (Keyboard 2) serta didukung pula oleh mahasiswa jurusan Karawitan ISI Denpasar yakni Yuliarta & Tissen pada kendang, serta siswa SMA & SMP kota Denpasar Ade & Aditya pada Gamelan.
Catur Muka Swara diharapkan menjadi andalan Pemkot Denpasar di dalam melestarikan dan mengembangkan seni musik, khususnya lagu-lagu daerah Bali di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota Denpasar. Kegiatan ini tentunya diharapkan dapat meneruskan kesenian olah vokal dan musik di Kota Denpasar serta digunakan sebagai tolok ukur agar generasi-generasi muda kota Denpasar dapat terus berkarya dan berkreativitas di bidang Seni sesuai dengan tujuan Kota Denpasar yakni menciptakan Kota yang berwawasan Seni Budaya. Menurut pengamatan dari Dosen berprestasi ISI Denpasar 2010 Ni Wayan Ardini, S.Sn, M.Si., ia lebih menyoroti pergeseran Lagu Pop Bali versi PKB saat ini sudah megalami pergeseran yang tadinya sangat kuat menggunakan Laras Pelog & Slendro namun saat ini condong lebih mengarah ke ” Guruh-guruhan ” (versi Guruh Soekarno Poetra). Ia juga menyinggung tentang pengaruh teknologi yang juga memberikan dampak yang cukup signifikan dan merugikan bagi perkembangan Lagu daerah Bali terutama dalam ajang PKB. Perlu dikaji lebih mendalam lagi baik dari segi koreografi, musik dan aransemen lagu sehingga tidak terjadi hal-hal yang dikenal dengan Plagiarisme. Hal ini membunuh secara perlahan-lahan kreativitas para arranger maupun koreographer padahal justru di ajang-ajang seperti inilah seharusnya mereka berani untuk menampilkan kreativitasnya dan style-nya masing-masing imbuhnya. Ardini juga berharap agar musisi-musisi handal Bali yang sudah sukses di ajang-ajang nasional dapat ikut terlibat dalam Pesta Kesenian Bali sehingga dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bermusik para generasi muda Bali.
Catur Muka Swara Bergema Diajang Parade PKB XXXII 2010 Selengkapnya
by admin | Jul 9, 2010 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN

Dalam rangka DIES NATALIS ISI Denpasar, tanggal 28 Juli 2010, FSRD akan mengadakan lomba karikatur. Lomba ini diperuntukan bagi masyarakat umum dan siswa SMU se-kota Denpasar. Khusus bagi siswa SMU pendaftaran dilakukan melalui sekolah masing-masing.
Tema :
“SENI BUDAYA SEBAGAI KARAKTER BUDAYA BANGSA”
Karikatur merupakan hasil karya peserta, bukan hasil karya orang lain.
Karikatur belum pernah diperlombakan atau tidak sedang diikutkan pada perlombaan yang lain.
Karikautr tidak boleh mengandung SARA dan unsur fornografi.
Karikatur dibuat hitam putih pada kertas A3 (29,7×42 cm).
Tidak dibenarkan menggambar dengan menggunakan pensil.
Hasil gambar dibuat dengan tinta warna hitam, spidol, dll.
Karikatur yang dibuat harus sesuai dengan tema yang telah ditentukan.
Calon peserta mendaftarkan diri dengan cara :
- Datang langsung ke kantor Fakultas Seni Rupa dan Desain, Jl. Nusa Indah Denpasar, Telp. (0361) 227316, fx (0361) 236100.
- Melalui kontak person : Gung Yonari (081916544928).
- Mengambil formulir pendaftaran yang tersedia pada kampus dan pelaksanaan kegiatan dilaksanakan tanggal 19 Juli 2009 jam 08.00 wita di depan kampus FSRD.
- Pengumuman pemenang akan diumumkan 26 Juli 2009.
Juara I : Piagam + Piala
Juara II : Piagam + Piala
Juara III : Piagam + Piala
by admin | Jul 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh I Wayan Diana (Mahasiswa PS Seni Karawitan)
Etnomusikologi sebagai disiplin ilmu musik yang unik. Etnomusikologi mempelajari musik dari sudut pandang sosial dan kebudayaan. Istilah “etnomusikologi” pertama dikemukakan oleh ahli musik berkebangsaan Belanda yang bernama Jaap Kunst (1950). Seorang pakar etomusikologi barat yang bernama Mantle Hood menyatakan bahwa penelitian etnomusikologi merupakan studi musik dari berbagai bangsa yang ditinjau dari konteks sosial dan kebudayaan. Musik itu dipelajari melalui peraturan-peraturan tertentu yang dihubungkan dengan bentuk kesenian lainnya; seperti tari, drama, arsitektur, dan ungkapan kebudayaan lain termasuk bahasa, agama, dan filsafat (I Made Bandem, Etnomusikologi Penyelamat Musik Dunia, ISI Yogyakarta, 1987 : hal.1.). Begitu juga halnya gamelan Gender Wayang sebagai salah satu alat musik tradisional Bali dalam jangkauan ilmu etnomusikologi tidak saja hadir sebagai sebuah bagian dari musik itu sendiri, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan yang menyangkut kearifan lokal (local genius) masyarakat pendukung, agama, dan tatanan falsafat sesuai tempat, waktu, dan situasi (desa, kala, patra) dari tempat tumbuh kembangnya gamelan Gender Wayang itu sendiri.
Jika dicermati lebih dalam lagi, gamelan Gender Wayang selain ditinjau dari unsur musikologinya mampu hadir sebagai identitas budaya Bali, kalau berbicara dalam konteks budaya sebagai penanda jati diri suatu daerah. Budaya orang Bali begitu kental dengan sebuah tatanan, aturan, etika, dan susila dengan toleransi yang sangat tinggi, dan semua itu apabila dikaitkan dengan gamelan Gender Wayang, maka akan terlihat sebuah persamaan dari dimensi yang berbeda sebab budaya orang Bali yang penuh dengan kearifan, kesantunan, dan kelembutan seperti sebuah refleksi dari untaian-untaian nada slendro yang memiliki kesan dan karakter anggun, tenang, dan damai. Kedamaian, anggun, dan kesan tenang dari suara yang ditimbulkan oleh gamelan gender wayang menjadikan salah satu faktor penyebab dan pembentuk manusia Bali dengan budayanya yang penuh dengan tatanan, etika, aturan, susila, dan toleransi tinggi.
Dari tinjauan filsafat, merupakan sebuah pengungkapan suatu yang hakiki dari sebuah nilai (I Ketut Gede Asnama, MA, Facebook, 31 Januari 2010), gamelan Gender Wayang kaya akan nilai-nilai adi luhung berkenaan dengan konteks filsafat apabila dikaitkan dengan konteks musikologinya, salah satunya adalah tertanamnya sebuah konsepsi bayu, sabda, dan idep atau energi/tenaga, ungkapan/kesan, dan pikiran/konsep. Dalam konteks bayu yaitu energi tenaga dari Gender Wayang yang memiliki sebuah energi tenaga sangat halus dan lembut apabila ditinjau dari countur atau efek dari suara slendro dari instrument Gender Wayang. Namun dibalik kesan halus dan lembut, tersimpan sebuah kekuatan atau energi yang sangat besar menghentakkan rohani apabila ditinjau dari sebuah kepekaan rasa.
Gamelan Gender Wayang dalam Konteks Etnomusikologi Selengkapmnya
by admin | Jul 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Saptono (Dosen PS Seni Karawitan)
Teori Fungsional Struktural yakni adanya berbagai struktur dan peranan dalam masyarakat cenderung berhubungan selaras. Perspektif Fungsional Struktural sebenarnya juga menerangkan perubahan. PandanganVan den Berghe mengenai perubahan. telah merangkum menjadi 7 ciri-ciri umum perubahan dalam perspektif, yaitu:
- Masyarakat harus dianalisis secara keseluruhan, selaku “sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan”.
- Hubungan sebab akibat bersifat “jamak dan timbal balik”.(garap dialog dalam istrumen, vokal antara sindenan, senggakan
- Sistem sosial senantiasa bearada dalam keadaan “keseimbangan dinamis” penyesuaian terhadap kekuatan yang menimpa sistem menimbulkan perubahan minimal di dalam sistem itu.
- Integrasi sempurna tak pernah terwujud, setiap sistem mengalami ketegangan dan penyimpangan namun cenderung dinetralisir melalui institusional.
Hal ini yang menjadi keunikan dan identitas dalam diri jemblung. Sistem yang dibangun melalui ruang dan waktu baik dalam setiap adegan cerita maupun gending. Dalam adegan misalnya penyampaian dialog-dialog yang serius dan wigati, secara spontan atau dengan sengaja akan selalu “diganggu” oleh peran lain. Dalam ruang dan waktu sifat gangguan itu muncul dengan tujuan lawakan baik dengan kata-kata sindiran atau kritikan. Kemudian sistem yang dibangun dalam ruang (reportoar) gending, mereka bermain dalam lancaran, ladrang, ketawang, palaran, jineman, tembang macapat dan sebagainya. Contoh konkrit ketika pertunjukan Jemblung menyajikan sebuah gending, mereka bermain dalam peran instrumen tidak pernah lengkap dan utuh. Dan ini merupakan unsur sengaja dari para pelaku, karena dengan sesuka hati mereka ingin menjelajah peranan instrumen lain yang diinginkan (termasuk vokal tembang).
- Perubahan pada dasarnya berlangsung secara lambat, lebih merupakan proses penyesuaian ketimbang perubahan revolusioner.
- Perubahan adalah hasil penyesuaian atas perubahan yang terjadi di luar sistem, pertumbuhan melalui deferensi, dan melalui penemuan-penemuan internal (dari daya intelektual di dalam improfisasi atau sepontan oleh “si pengendang” yang tanpa direncanakan namun kemudian didukung oleh pemeran ricikan pemangku irama yang mendukung struktur untuk berubah seperti yang dikehendaki karena dari situasi)Misalnya dalam Jemblung ada perubahan irama(dari lancar, dadi, wilet rangkep atau sebaliknya), perubahan tempo(cepat/seseg atau lambat) mandeg berhenti belum habis di tengah-tengah gending, karena tapsir garap
- Masyarakat terintegrasi melalui nilai-nilai bersama. (dalam Jemblung secara etika dan estetika sadar ada kesepakatan tentang simbol-simbol, tanda atau kyue di dalam menafsir garap “kreativitas” dari peranan si senimannya)Misalnya: sirep, udar, suwuk, buka, kalajengaken dsb.
Jemblung Sebagai Sebuah Sistem Selengkapnya
by admin | Jul 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Hendra Santosa (Dosen PS Seni Karawitan)
Rd. Mahyar Angga Kusumadinata (RMK) seorang guru musik yang tentunya sangat mengenal antara teori dan prakteknya. Ketika beliau mencoba mengiringi lagu Sunda, seperti yang dikenalnya ketika masih kecil, pikirannya agak terhenyak, karena iringan musik itu terasa tidak pas dengan lagu yang dibawakannya. Dari rasa penasaran itu, EMK kemudian mencari tahu, di mana dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Bukankah musik barat (diatonis) bisa mengiringi lagu apa saja, karena apa yang disebut musik intinya sama, yaitu seni suara (Nano S, dalam Gelitik Dalam Karawitan Sunda seperti yang tercantum dalam http://www. pikiran-rakyat.com/cetak/0304/09/0806.htm).
Rd. Muhyar Angga Kusumadinata yang mengenal ilmu musik dengan relung-relung hitungannya, mulai dengan ukuran centi sampai dengan interval-intervalnya, kemudian mengukur susunan tangga nada (laras) Sunda, pada waditra (instrumen) gamelan, secara cermat dan teliti. Dari telaahannya akhirnya membuahkan hasil, bahwa swarantara (interval) pada tangga nada karawitan Sunda, berbeda dengan interval musik. Mulailah beliau berguru pada seniman gamelan, sekaligus mengenal tabuh dan lagu gamelan di pendopo Kabupaten Sumedang. Dengan terjun langsung belajar, baik vokal dan tabuhannya, akhirnya Rd Muhyar AK membuat kesimpulan, bahwa antara musik dan karawitan teu harib-harib acan! (jangankan sama, dekatpun tidak-red). Itulah sekelumit uraian Rd Muhyar AK yang mengawali latar belakang mengapa beliau menggeluti karawitan Sunda, seperti yang diungkapkannya dalam buku “Pangawikan Rinengga Swara”, dan “Sari Raras”. Konon sejak tahun 1916 Rd Muhyar AK mulai merintis penelitiannya yang kemudian dikembakgkan menjadi teori karawitan Sunda. Dibuatlah serat kanayagan (notasi) Da Mi Na Ti La, yang membedakan dengan musik yang mempergunakan Do Re Mi Fa So La Ti Do. Untuk mencoba penggunaan serat kanayagan yang dibuatnya, RMK mencoba mengajarkannya kepada Abdul Gafur orang Sumatera Barat, dengan lagunya “Suba Kastawa”. Ternyata Abdul Gafur bisa membacanya dengan baik dan legalah hatinya karena apa yang dibuatnya ternyata tidak sia-sia. Dari sana Rd Muhyar AK mulai menuliskan lagu-lagu Sunda dengan serat kanayagan ciptaannya. Tangga pada pelog ditentukan jumlahnya 9 swara. Selendro pada awalnya jumlahnya beragam, ada yang 10 swara, 15 swara, dan 17 swara. Di mana akhirnya ditetapkan bahwa tangga nada selendro jumlahnya 17 swara (musik 12 swara), (Heri Herdini, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/26/khazanah/utama2.htm).
Rd Muhyar AK pernah pula mencoba menulis lagu dengan angka huruf Arab, mempergunakan not balok dengan mempergunakan kunci loloran, dan akhirnya tetaplah mempergunakan angka 1 (da) 2 (mi) 3 (na) 4 (ti) 5 (la). “Daminatila” disebut nada relatif, artinya bisa berpindah-pindah, sedangkan istilah Tugu. Loloran, Panelu, Galimer dan Singgul disebut nada mutlak. Itstilah kritis dan mol pada musik, identik dengan kata miring dan malang. Dari buku nyanyian yang ditulisnya Rd Muhyar AK tidak hanya menuliskan lagu-lagu anak-anak saja, tetapi juga menulis lagu pupuh dan tembang, seperti terungkap dalam bukunya Kawih Murangkalih dan Sari Arum (Heri Herdini, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/26/khazanah/utama2.htm).
Selain itu beliau pun membuat beberapa lagu yang abadi dikenal sampai sekarang, di antaranya lagu “Lemah Cai” dan “Dewi Sartika”. Gamelan Ki Pembayun yang dibuatnya pada akhir taun 60-an, merupakan realisasi dari teorinya tentang lara salendro beda antara 17 swara. Sayang dokumen besar yang begitu tinggi nilainya itu, hilang tak tahu rimbanya, dan tidak ada instansi yang bertanggung jawab, padahal biaya untuk pembuatan gamelan itu didukung oleh salah satu instansi di Pemda Jabar (Heri Herdini, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/26/khazanah/utama2.htm).
Beberapa Catatan Kecil Tentang Raden Mahyar Angga Kusumadinata (RMAK) Selengkapnya