M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Bentuk Tungguhan dan Ornamentasi Gender Wayang

Bentuk Tungguhan dan Ornamentasi Gender Wayang

Oleh: I Wayan Diana Putra (Mahasiswa PS Seni Karawitan)

Tungguhan merupakan istilah untuk menunjukan satuan dari alat gamelan yang terdiri dari pelawah dan bagian-bagiannya berikut bilah atau pencon. Gender wayang merupakan sebuah tungguhan berbilah dengan terampa yang terbuat dari kayu, sebagai alas dari resonator berbentuk silinder dari bahan bambu atau yang lebih dikenal dengan sebutan bumbung sebagai tempat menggantung bilah. Bentuk tungguhan dari segi bilah gamelan Gender Wayang dalam buku “Ensiklopedi Karawitan Bali” karya Pande Made Sukerta disebutkan berbentuk bulig yaitu bilah yang terbuat dari perunggu atau bilah kalor adalah bilah yang permukaannya menggunakan garis linggir (kalor) dan dalam buku ini juga disebutkan bilah ini biasa digunakan pada jenis-jenis tungguhan gangsa seperti halnya gamelan Gender Wayang. Bilah bulig adalah bentuk bilah yang digunakan di gamelan Gender Wayang secara umum di Bali.

Kemudian terampa ataupun pelawah dari gamelan Gender Wayang di Bali memiliki model dan bentuk yang sama, yaitu 2 (dua) buah adeg-adeg yang terbuat dari kayu berfungsi sebagai penyangga gantungan bilah dan tempat resonator atau bumbung. Meskipun secara umum model dan bentuknya sama, faktanya dari setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing sesuai dengan budaya seni dan kreativitas seniman di daerah setempat. Hal ini terletak pada ornamentasi yang berarti hiasan atau pepayasan. Di sini sesuai dengan pendapat dari  Mantle Hood yang menyebutkan bahwa dalam kontes etnomusikologi musik itu dipelajari melalui peraturan-peraturan tertentu yang dihubungkan dengan bentuk kesenian lainnya; seperti tari, drama, arsitektur, dan ungkapan kebudayaan lain termasuk bahasa, agama, dan filsafat. Unsur arsitektur yang merupakan induk dari ornamentasi dan pepayasan juga hadir sebagai bagian dari alat musik, yang berkaitan dengan bidang tertentu. Khususnya dalam gamelan Gender Wayang terlatak pada bidang terampa atau tungguhan. Setiap daerah di Bali memiliki sebuah persepsi yang tidak sama, walaupun berakar dari satu konsep style atau gaya di Bali, hal ini juga berkaitan dengan kearifan lokal atau disebut local genius dari masyarakat Bali yang majemuk.

Daerah Bali Utara yaitu Buleleng dan sekitarnya Gender Wayang memiliki ciri khas terampa dengan penuh kesederhanaannya yaitu adeg-adeg di buat hanya sesuai bentuk wadag (kasar) saja dan dengan bambu resonator yang dibiarkan alami yang difinishing (diselesaikan) dengan sentuhan perpaduan warna merah dan biru dari cat. Perpaduan warna merah dan biru inilah yang menjadikan sebuah ciri khas tersendiri dari daerah Buleleng dengan julukannya Bumi Panji Sakti dengan warna merah sebagai warna kebesaran. Dari warna inilah orang langsung mengetahui bahwa Gender Wayang itu milik dan ciri khas daerah Buleleng.

Bentuk Tungguhan dan Ornamentasi Gender Wayang Selengkapnya

Tirta Yatra

PENGUMUMAN

Nomor:1365/I5.12.2/LL/2010                                       14  Juli  2010

Lamp.              :  1 (satu) lembar

Hal                  :  Tirta Yatra

Yang terhormat  :

  1. Dekan Fakultas………………………………………………
  2. Kepala Biro………………………………………………….
  3. Kepala Bagian/KTU…………………………………………
  4. Ketua Lembaga P2M
  5. Kepala UPT…………………………………………………

ISI Denpasar.

Dengan hormat, dalam rangka Dies Natalis VII dan Wisuda Sarjana Seni VIII Institut Seni Indonesia Denpasar, akan diadakan kegiatan “TIRTA YATRA” ke Pura Batur dan Pura Puncak Penulisan pada  :

Hari                :  Minggu

Tanggal          :  18  Juli  2010

Kumpul          :  Jam 07.00. wita.di Kampus ISI Denpasar

Berangkat      :  Jam 08.00. wita.

Sehubungan dengan hal tersebut kami beritahukan  bahwa bagi pegawai dan dosen yang berada pada Unit kerja Saudara berminat mengikuti kegiatan dimaksud agar didata (sesuai format terlampir) dan daftar nama-nama peserta Tirta Yatra disetor ke Bagian Administrasi Kerjasama paling lambat tanggal 16  Juli  2010.

Karena keterbatasan dana Panitia hanya menyiapkan 2(dua) tempat duduk bagi setiap pegawai dan dosen yang sudah berkeluarga. Banten pejati disiapkan oleh Lembaga, sedangkan sarana pemuspan (bunga, kewangen dan dupa) disiapkan sendiri.

Demikian, atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.

Ketua Panitia,

Drs. I Ketut Murdana, M.Sn.

NIP 19571231 1985031 009

Problem Ars Simia Naturae

Problem Ars Simia Naturae

Oleh: I  Wayan Setem, Dosen PS Seni Rupa Murni

Ciri khas seni menurut Plato maupun Aristoteles  ialah mengupas alam dari hakekat yang sebenarnya, ia merupakan imitasi yang membawa pada kebaikan dari kenyataanya sehingga menjadi keindahan yang luar biasa. Keduanya menginginkan tauladan seni didalam keindahan universal, pasti, mutlak dan ideal.

Tapi titik persamaan Plato dan Aristoteles hanya sampai disitu. Plato memandang idea keindahan mutlak sebagai prinsip transedental diatas subyek dan diatas alam: sebagai tauladan asli yang abadi, idea murni yang berada diluar akal. Aristoteles memandangnya hanya sebagai tauladan batin yang terdapat di dalam akal manusia, tidak mempunyai obyek yang dapat kita temukan diluar diri kita, dan ideal itu ada didalam diri manusia. “Kita tidak menginginkan keagungan dan kepastian kecuali demi keindahan”, “ Seni ialah tidak lain kecuali kemampuan produktif yang dipimpin oleh akal yang sebenarnya”, kata Aristoteles, tetapi keindahan itu bersatu padu dengan akal manusia (bercorak inspirasi daripada kasyaf ilahi).

Tulisan ini akan membatasi diri pada dunia, varian, dan problematika dari teori yang berlandas teori Plato dan Aristoteles pada konsep ontologis yang melahirkan konsep atau cara kerja seni lukis  ars simia naturae.

Alam memang memikat sebagai ilham pelukis, alam juga baginya ialah gambaran jiwa, kegirangan, kedamaian dan sebagainya yang bersangkutan dengan alam dirasakan  pula bagi jiwanya.

Pelukis bersahabat dengan alam, alam  pun akan memberikan kedamaian hidup dan kedamaian jiwa. Karya-karyanya memaknai hubungan dengan alam, juga dengan alam dengan dirinya sendiri. Apakah artinya diri kita di tengah alam dan apakah arti alam yang kelihatan diam dan memberikan rasa damai?

Jadi alam yang ditampilkannya ialah alam yang direduksi pada unsur-unsur paling esensial untuk memperoleh keindahan dan merupakan salah satu dasar utama yang mewarnai kehidupan spiritual pelukisnya. Dengan terjun ke tengah alam vegetal kerap terlihat spiritualisme  menyatu dan manunggal dengan alam. Jadi spiritualisme terkait erat dengan tradisi dialog antar manusia dan alam  tersebut. Betapa alam memang sebuah realitas yang maha sempurna yang selalu menggoda dijadikan subject matter-nya.

Pelukis kerap kali berada di tengah pemandangan alam, hutan, lembah, dan yang lainya sebagai upaya untuk menjadikan “jiwa” dalam karya-karyanya. Dalam karya-karyanya yang ia sampaikan secara total di atas berbagai material rupa merupakan perwujudan dari menangkap karakter cahaya. Di alam kita menyadari sifat dan kualitas cahaya, dan ketika itu pula bisa ditangkap realita semua kenyataan yang berhubungan dengan cahaya. Sehingga bisa dikenal dengan mata fisik dan mata hati perbedaan intensitas antara batu, awan, air, dedaunan, tanah dan lain sebagainya.

Point yang terpenting adalah cahaya membubuhi segala warna dalam alam ini. Kecendrungan yang timbul kemudian adalah karya-karya lebih banyak memainkan warna-warna sudut yang terang sebagai center point. Manifestasi cahaya alam memberikan warna hidup yang menerangi setiap saat sebagai hukum alam.

Problem Ars Simia Naturae Selengkapnya

Penetapan Kelulusan Calon Mahasiswa ISI Denpasar Melalui Jalur Beasiswa Bidik Misi Tahun 2010

PENGUMUMAN

Nomor : 1335/I5.12.1/KM/2010

Tentang

Penetapan Kelulusan Calon Mahasiswa ISI Denpasar

Melalui Jalur Beasiswa Bidik Misi Tahun 2010

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar Nomor 1329/I5.12.1/KM/2010 Tanggal 8 Juli 2010 tentang Penetapan Calon Mahasiswa ISI Denpasar Penerima Beasiswa BIDIK MISI Tahun 2010 (nama terlampir), maka dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pendaftaran kembali dilaksanakan dari tanggal 13 s.d. 20 Agustus 2010, bertempat di Sub Bagian Akademik Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama (BAAKK) Gedung Rektorat ISI Denpasar, dengan syarat-sayrat :
  1. Biaya Pendaftaran Administrasi Akademik

–        Buku Panduan Studi ISI Denpasar

–        Iuran + Kartu Anggota Perpustakaan

–        Kartu Tanda Mahasiswa

  1. Biaya Perlengkapan dan Administrasi Kemahasiswaan

–        Pakaian Almamater (Jas, Topi, Jaket)

–        Biaya Kegiatan Sosialisasi Kemahasiswaan

–        Iuran Senat Mahasiswa (ISI dan Fakultas)

–        Iuran BPSMI/BAPOMI

–        Asuransi Mahasiswa

  1. Hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan langsung pada saat pendaftaran kembali.

Demikian Pengumuman ini untuk dilaksanakan.

Denpasar, 8 Juli 2010

a.n. Rektor

Pembantu Rektor III

Drs. I Made Subrata, M.Si.

NIP. 195202111980031002

Pengumuman Selengkapnya

Bentuk, Fungsi dan Material Bangunan Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya II

Bentuk, Fungsi dan Material Bangunan Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya II

Oleh Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn

d.  Paon/ Dapur

Paon ini terletak di bagian Selatan/Delod natah umah, sehingga sering pula disebut dengan Bale Delod. Fungsi Paon ini adalah untuk tempat memasak dan juga dapat digunakan sebagai tempat tidur. Fasilitas di dalam bangunan Paon ini adalah 1 buah bale-bale yang terletak di bagian dalam dan tungku tradisional sebagai tempat untuk memasak.  Bentuk Bangunan Paon adalah persegi panjang, dan menggunakan saka/ tiang yang terbuat dari kayu yang dapat berjumlah 6 (sakenem), dan 8 (sakutus/astasari). Bangunan Paon adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang lebih rendah dari Bale Dauh.

e. Jineng

Unit bangunan Jineng terletak di bagian Tenggara natah umah, dan sering pula disebut dengan Kelumpu, atau yang memiliki ukuran lebih besar disebut Gelebeg. Fungsi Jineng ini adalah untuk tempat menyimpan padi (lumbung). Sedangkan yang disebut Gelebeg, selain dipakai untuk mnyimpan padi, juga dapat digunakan sebagai tempat beristirahat atau bekerja, seperti menenun kain atau membuat lawar/ mebat, sebab di bawah ruang simpannya berisi bale-bale di bagian tengah.  Bentuk Bangunan Jineng adalah persegi panjang, dan menggunakan saka/ tiang yang terbuat dari kayu yang dapat berjumlah 4 (sakepat) dan 6 (sakenem). Bangunan Jineng adalah tempat untuk menyimpan padi yang memakai bebaturan dengan lantai yang lebih rendah dari paon.

f.  Angkul-angkul/Pintu Masuk

Bangunan Angkul-angkul berfungsi sebagai pintu masuk ke pekarangan. Angkul-angkul adalah bentuk pintu masuk yang sederhana. Sedangkan bentuk yang lebih besar disebut Bintang aring dan ada juga disebut Kori.  Angkul-angkul berfungsi sebagai pintu masuk dari jalan (rurung) menuju pekarangan rumah. Setiap unit rumah tinggal memiliki sebuah bangunan angkul-angkul yang terbuat dari bahan tanah, bata, batu cadas, kayu dan bahkan beton cetak.

g. Elemen Pembentuk Ruang

1). Lantai /Bebaturan

Lantai  bangunan umumnya masih tetap memakai bahan tanah, cadas dan bata, khususnya pada lantai bangunan tradisional. Sesuai dengan perkembangan jaman beberapa lantai bangunan rumah tinggal Bali Madya telah beralih pada pemakaian bahan-bahan modern seperti semen, marmer, teraso, tegel dan keramik. Umumnya lantai dibuat sederhana dan tidak banyak menggunakan permainan lantai.

2). Dinding

Dinding pembatas  ruangan  pada bangunan rumah tinggal tradisional Bali Madya, pada umumnya memakai bahan dari tanah, bata dan cadas. Beberapa dinding rumah telah menggunakan material batako sebagai akibat perkembangan material dinding. Batako dipilih hanya karena kekuatannya lebih lama dari tanah.  Elemen – elemen pendukung dinding seperti parba (di bagian atas bale-bale) dan apad (di samping kiri bale-bale) adalah menggunakan bahan dari kayu.

Bentuk, Fungsi dan Material Bangunan Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya II Selengkapnya

Loading...