by admin | Jul 28, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun*
A PENDAHULUAN
Awal pembicaraan naskah ini, izinkan penulis mengawali dengan ucapan terimakasih kepada lembaga ISI Denpasar yang telah memberikan kesempatan sebagai pembicara pada seminar dalam rangka diesnatalis VII. Selanjutnya, awal pembicaraan mengenai tema tentang “Meningkatkan mutu pendidikan seni melalui industry kreatif kita membangun karakter bangsa”. Pada zaman gelobal dengan media komunikasi yang serba canggih membongkar pikiran setiap manusia, gaya hidup, dan perilaku masyarakat. Orang begitu cepat terpengaruh media komunikasi dunia maya menyebabkan prilaku dan pola pemikiran masyarakat menjadi berubah. Hal inilah yang secara nyata terjadi di kehidupan sosial masyarakat saat ini. Pendidikan karakter bangsa sudah waktunya dianalisa kembali agar selaras dengan perkembangan dunia global sehingga mampu menumbuhkan industri kreatif yang dapat menghantar semua insan di dunia untuk hidup yang lebih baik dan bermartabat.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kreatif .Kreatif dalam pengertian selalu ingin mencoba dan berbuat yang baru dalam semangat modivikasi sesuatu yang berguna. Industri kreatif salah satu aktivitas yang kaya akan kemunculan ide-ide dan inovasi baru dalam berbagai bidang. Topik ini dikemukakan untuk mengetahui nilai-nilai budaya lokal yang berkembang menjadi produk-produk industri kreatif di Bali serta proses transformasi yang mengiringnya. Masyarakat Bali dalam kenyataannya berbasis nilai budaya adiluhung, yang mewujud dalam berbagai komponen dalam sektor industri kreatif. Untuk konteks Bali, keberadaan modal budaya ini didukung oleh keberhasilan industrialisasi pariwisata dalam beberapa dasawarsa terakhir yang menjadi tata perekonomian baru masyarakatnya. Hubungan antara nilai budaya lokal dan industri kreatif di Bali mendapat tempat dan momentupnya dengan dicanangkannya Tahun Indonesia kreatif 2009.
Kini muncul fenomena ekonomi baru “gelombang keempat” dalam peradaban manusia yang ditandai oleh keberadaan kebudayaan sebagai modal yang harus dikelola, diciptakan dan menjadikannya sumber kesejahteraan baru bagi manusia. Dalam Draft Pokok-pokok Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 disebutkan, dalam upaya menanggapi arus deras gelombang ekonomi keempat ini, Pemerintah RI telah meluncurkan cetak biru Ekonomi Kreatif Indonesia, yakni konsep ekonomi baru berorientasi pada kreativitas budaya serta warisan budaya dan lingkungan. Cetak biru tersebut akan memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia sampai tahun 2030. Landasan utama industri kreatif adalah sumber daya manusia Indonesia yang akan dikembangkan sehingga mempunyai peran sentral dibanding faktor-faktor produksi lainnya. Penggerak industri kreatif adalah dikenal sebagai sistem tripel helix, yakni cendekiawan (intellectual), dunia usaha (business), dan pemerintah (government). Dalam cetak biru Ekonomi Kreatif Indonesia tersebut dicatat 14 cakupan bidang ekonomi kreatif, yakni (1) jasa periklanan, (2) arsitektur, (3) seni rupa, (4) kerajinan, (5) desain, (6) mode, (7) film, (8) musik, (9) seni pertunjukan, (10) penerbitan, (12) software, (13) TV dan radio, dan (14) video game. Tentu saja cakupan penelitian ini terkait dengan beberapa bidang ekonomi kreatif tersebut.
Mengacu pada fenomena di atas, maka Masalah yang mesti didiskusikan yakni Bagaimana menyikapi pendidikan karakter bangsa dalam menumbuhkan industri kreatif ? Bagaimana menumbuhkan industri kreatif tersebut? Apa langkah yang tepat sebagai insan bangsa yang beretika dan bermartabat? Apa peran sebagai insan seni dalam menumbuhkan industri kreatif? Upaya-upaya pengembangan industri kreatif ? Bagaimana peran lembaga ISI Denpasar dalam menumbuhkan industtri kreatif.
Begitu banyak masalah yang teridentivikasi, dalam kesempatan ini hanya beberapa yang dapat disampaikan dan selebihnya tentu menurut penulis memerlukan suatu pengkajian lebih mengkhusus agar terkait dengan tema seminar ini, yang dapat nantinya terealisasikan dan memberikan sumbangan kepada bangsa, agar dapat memberikan daya kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan karakter bangsa dan terciptanya industri kreatif. Terkait dengan hal tesebut lebih mengkhusus akan dibahas sebagai berikut dalam naskah ini.
*Tjokorda Udiana Nindhia Pemayun adalah dosen tetap pada Fakultas Seni Rupa dan Disain, Jurusan Seni Rupa Murni, Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia ISI Denpasar. Naskah ini dibacakan hari Kamis tanggal 22 Juli 2010 pada forum seminar akademik dalam rangka Diesnatalis VII ISI Denpasar, bertema “Meningkatkan mutu pendidikan seni melalui industry kreatif kita membangun karakter bangsa”.
Pendidikan Karakter Bangsa Dalam Menumbuhkan Industri Kreatif selengkapnya
by admin | Jul 27, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi.
I. Pendahuluan
Industri kreatif merupakan bagian dari ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif adalah wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumberdaya terbarukan. Ekonomi kreatif merupakan ekonomi evolusi tahap IV pasca ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi (Deperindag, 2008).
Konsep industri kreatif jika dikaitkan dengan seni pertunjukan pariwisata akan memperlihatkan adanya kesinambungan pembangunan dalam bidang kesenian. Seni pertunjukan yang ditampilkan masyarakat Bali untuk pariwisata adalah wujud industri kreatif masyarakat setempat dalam mengembangkan kehidupan berkeseniannya yang telah dilakukannya secara berkelanjutan. Hal itu dapat diamati dari keberadaan seni pertunjukan pariwisata daerah ini yang sesungguhnya sebagian besar merupakan kemasan, pengembangan dari bentuk-bentuk kesenian Bali (Bandem, 1996; Soedarsono, 1999; Dibia; 2000; Picard, 2006; Ruastiti, 2008).
II. Sekilas Tentang Perkembangan Seni Pertunjukan Pariwisata di Bali
Bali selain di kenal sebagai pulau dewata juga terkenal karena memiliki berbagai jenis kesenian dalam kebudayaannya. Salah satu unsur kebudayaan Bali yang sering dipergunakan sebagai daya tarik pariwisata adalah seni pertunjukan.
Pulau Bali telah dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1920-an (Nielsen, 1928 : 9-18). Bali yang ketika itu masih di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda dianggap kurang memiliki potensi ekonomi, namun Bali memiliki kebudayaan yang sangat unik yang kemudian mereka kembangkan sebagai daya tarik wisata Bali. Pemerintah kolonial Belanda ketika itu mempergunakan Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) mempromosikan Bali ke negara-negara Eropa (Tantri, 1965: 60-80).
Sejak dibukanya Bali sebagai daerah tujuan wisata, kehidupan masyarakatnya mulai mengalami perubahan. Pendidikan yang diperoleh bagi sebagian warga masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda tampaknya secara perlahan-lahan telah memperluas wawasan mereka tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan. Dengan diberikannya peluang untuk mengenyam pendidikan membuat sebagian warga masyarakat Bali ketika itu mulai mengubah pola pikirnya, dari cara berfikir irasional menjadi rasional (Gde Agung, 1989: 313).
Sebagaimana dikatakan Piet (1933: 86-87), bahwa sejak datangnya wisatawan ke daerah ini, orang Bali mulai berfikir tentang “waktu adalah uang”. Itu artinya bahwa orang Bali ketika itu sudah mulai berfikir rasional. Meningkatnya pendidikan kiranya telah dapat mengubah cara berfikir seseorang dari irasional menjadi rasional, dan hal itu juga tampak pada kehidupan masyarakat Bali dalam berkesenian. Mereka mulai mempunyai gagasan untuk menyikapi peluang atas ramainya kunjungan wisatawan datang ke Bali.
Ramainya wisatawan berkunjung ke Bali mendorong masyarakat setempat kreatif menciptakan sesuatu yang dapat “bernilai tukar”. Giddens (1986) menyatakan bahwa “nilai tukar” berkaitan erat dengan “komoditi”. Komoditi mempunyai nilai ganda, di satu pihak mempunyai “nilai pakai” (use value), dan di pihak lainnya mempunyai “nilai tukar” (exchange value). Sedangkan masyarakat Bali dalam kaitan dengan pariwisata lebih menekankan pada nilai ekonomis. Hal itu dapat dilihat dari sikap masyarakatnya yang semenjak ramainya wisatawan berkunjung ke daerah ini mereka tampak lebih banyak memilih profesi yang terkait dengan industri pariwisata seperti menjadi pemandu wisata, membuka usaha biro perjalanan wisata, membuka penyewaan mobil, penyewaan rumah tinggal/hotel, menjual makanan, menjual cendramata, menyekolahkan putra-putrinya ke jalur profesi terkait dengan pariwisata, dan lain sebagainya.
Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali selengkapnya
by admin | Jul 26, 2010 | Berita
Tak mau ketinggalan, guna menyambut Dies Natalis VII dan Wisuda Sarjana VIII ISI Denpasar, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar menggelar Lomba Karya Cipta Seni Pertunjukan, pada tanggal 26 Juli 2010. Kegiatan melibatkan seluruh masiswa dari semester II, IV, dan VI FSP, Jurusan Tari, Karawitan dan Pedalangan. Para mahasiswa dari ke tiga jurusan ini dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan semesternya. Menurut Dekan FSP ISI Denpasar I Ketut Garwa, S.Sn. M.Sn., lomba ini merupakan tantangan bagi mahasiswa untuk bisa menunjukkan kemampuan mereka di bidangnya masing-masing, dan bagaimana mereka mampu bekerjasama lintas jurusan untuk menghasilkan karya terbaik. Garwa menambahkan terdapat tiga materi yang ditampilkan masing-masing kelompok yaitu Tabuh Telu Gesuri, Tari Legong Kuntul dan Tari Satya Brasta. Dipilihnya materi tersebut karena sering dipentaskan dalam kegiatan kemasyarakatan (ngayah). Kegiatan mebarung akan dilaksanakan di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, dengan melibatkan sekitar 176 mahasiswa, dimana mereka akan berbaur, berkoordinasi serta memupuk rasa kebersamaan untuk dapat menampilkan hasil terbaik.
Ketua Panitia Pelaksana, I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum, sekaligus PD I FSP ISI Denpasar, menyampaikan bahwa Lomba Cipta Seni Pertunjukan ini akan melibatkan lima dewan juri sesuai dengan bidangnya, yaitu I Nyoman Cerita, SST., M.FA (dosen Tari sekaligus pencipta Tari Satya Brasta), I Ketut Kodi, SSP., M.Si (dosen Pedalangan), I Wayan Suweca, SS.Kar.,M.Mus (dosen Karawitan), Tjok Istri Putra Padmini, SST., M.Sn (dosen Tari), serta Pande Gede Mustika, SSKar., M.Si (dosen karawitan)
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jul 26, 2010 | Berita
Denpasar- Satu kado terindah diberikan oleh Jurusan Seni Rupa Murni ISI Denpasar dalam menyambut hari jadi ISI Denpasar (Dies Natalis ke VII dan Wisuda Sarjana Seni ke VIII ISI Denpasar), dimana kemarin (24 Juli 2010) bertempat di Hana Artspace, Pengosekan-ubud, Gianyar, diadakan pameran yang special alias berbeda dari biasanya. Untuk pertama kali Jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar bersama Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesa-Singaraja menggelar pameran bersama. “Ini adalah sejarah yang diukir oleh kedua Jurusan” ujar Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. saat memberikan sambutannya. Selaku Rektor ISI Denpasar, Prof. Rai menghaturkan syukur dan bangga atas terealisasinya pameran ini. Ini sebagai tonggak bersatunya seni yang berbasis dari utara (Singaraja) dengan seni dari Selatan Bali (Denpasar). Kedepan diharapkan ini dapat dipertahankan, dan besar harapan tak hanya karya individu yang dipamerkan, tapi juga dapat menghasilkan pameran dengan karya bersama. Selain itu Prof. Rai mengundang para mahasiswa Undiksa untuk bertukar ilmu di ISI Denpasar, dan begitupula sebaliknya.
Sementara Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksa, Made Sutama juga menyampaikan syukur atas terselenggaranya pameran ini. Pihaknya terus berusaha untuk membuka wawasan anak didiknya dengan mengadakan pameran tak hanya di kandang sendiri, melainkan ke luar. Terima kash pula dihaturkan kepada pihak gallery Hana Artspace, dimana gallery ini adalah salah satu gallery bertaraf internasional. Disinilah pentingnya para mahasiswa untuk belajar untuk memanangement seni, karya mereka tak hanya dikenal oleh krabatnya saja, tapi perlu promosi handal untuk dikenal pihak luar.
Hal senada pun diungkapkan kurator seni, Hardiman. Pihaknya member motivasi dan semangat kepada mahasiswa untuk takhenti-hentinya berkarya. Mengingat saat ini seni rupa dunia tidak lagi mengarah pada daerah eropa, tapi kini terarah pada Asia yaitu India, Cina dan Indonesia. Untuk di Indonesia terdapat empat titik kesenirupaan yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Bali. Saat ini tengah mengarah pada Bandung, dan tidak menutup kemungkinan dalam beberapa kali hitungan, kesenirupaan dunia mengarah besar di Bali. Untuk itu tugas para mahasiswa sebagai generasi mudalah yang harus turut bersaing di kancah internasional tersebut.
Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, Dra. Ni Made Rinu, M,Si.,menyampaikan bahwa sebanyak 15 karya mahasiswa ISI Denpasar dipamerkan yang telah melalui seleksi terlebih dahulu. Sementara karya yang belum lolos seleksi, menurut Ketua Jurusan Seni Rupa Murni, I Wayan Kondra tetap akan dipamerkan dalam ajang Dies Natalis dan Wisuda Sarjana Seni ISI Denpasar, bertempat di Gedung Pameran ISI Denpasar. Pameran berlangsung dari 24 Juli hingga 8 Agustus 2010.
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Jul 25, 2010 | Berita
Oleh: I Gede Suwidnya mahasiswa PS Seni Karawitan
Gaya palegongan Kuta mengingatkan kita pada seorang guru dan komposer jenius yang bernama I Wayan Lotring(1898-1983).Sejak kecil beliau mulai menciptakan tabuh palegongan dengan nuansa yang berbeda yang mengambil yang menginspirasi dari alam sekitar maupun terinspirasi oleh perangkat gamelan lain.Komposisi beliau sudah tersebar di selruh pelosok Bali,dimana pada masing-masing desa menginterprestasikannya dengan gaya mereka sendiri.Pada tahun 1915 I Wayan Lotring meminpin sekaa gamelan palegongan yang pertama yang pernah mementaskan kesenian Bali di luar Bali dengan mementaskan tari Legong Kraton di Keraton Surakarta.Pada tahun 1970-an gamelan palegongan di kuta konon di lebur demi pementasan Ramayana untuk para turis.Sehingga di Kuta tidak lagi bisa memperdengarkan gaya asli gending Palegongan Kuta yang dimainkan diatas perangkat gamelan aslinya.
Instrumen dan Pola Pukulan Gamelan Palegongan :
Tidak banyak orang tahu bahwa instrumen gamelan palegongan atau semara petangian seperti yang tersurat dalam lontar Aji Gurnita dan Prakempa,sebenarnya cukup jauh berbeda dengan gong kebyar.Yang pertama,daun gamelan(kecuali gender rambatnya) palegongan tidak pernah melebihi enam yang pada umumnya berjumlah lima bilah saja.Keunikan yang lain juga dapat ditemukanpada perangkat kuno dimana daun yang paling kecil yang merupakan nada ndang tinggi diletakkan di sebelah kiri.Keunikan ini tidak dimiliki oleh perangkat gamelan gong kebyar,semarandhana maupun semara pagulingan.Yang mungkin menurut para ahli susunan tersebut merupakan ciri khas pengaruh komposisi pada zaman dahulu.Pola kotekan asli palegongan terdengar lebih manis dan lebih jelas ketimbang dengan gong kebyar.Gamelan palegongan juga memiliki beberapa instrumen yang tidak dimiliki gamelan gong kebyar,seperti : Gender rambat,Gender barangan,gentorag,gangsa jongkok dan gumanal.
Palegongan Gaya Kuta di PKB 2010 selengkapnya