M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

SMK dan Politeknik Didorong Bermitra

SMK dan Politeknik Didorong Bermitra

Jakarta Kementerian Pendidikan Nasional pada 2011 akan mengembangkan pendidikan vokasi jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) dan politeknik sebagai prioritas bidang pendidikan. SMK dan politeknik didorong untuk bermitra. Politeknik akan memandu SMK dan membuka program-program yang ekuivalen dengan diploma satu (D1).
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Joko Sutrisno menyampaikan, SMK yang dipilih pada program ini adalah SMK Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SMK-RSBI). Saat ini ada 350 SMK RSBI. “Dari 350 (sekolah) ini  politeknik memilih mitranya. Misalnya untuk membuat program D1,” katanya saat memberikan keterangan pers di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (20/08).
Joko menyampaikan, pola kemitraan yang akan dilakukan berbasiskan keahlian di politeknik dan SMK. Program ini, dikombinasikan dengan program produktif bersama mitra industri. Program kemitraan ini juga bertujuan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (PK) perguruan tinggi dari 17 persen naik menjadi 30 persen. “Kami akan mencoba bermitra dengan politeknik,” katanya.
Joko menyebutkan, politeknik yang telah bermitra dengan SMK di antaranya Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Politeknik Manufaktur Bandung, Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, dan Politeknik Negeri Malang.
Saat ini SMK telah bermitra dengan industri. Kerja sama yang dilakukan adalah siswa SMK kelas 1 dapat melakukan kegiatan praktek produksi. Para siswa SMK yang sudah mengikuti ujian nasional, kata Joko, dapat melakukan kegiatan-kegiatan produksi misalnya merakit sepeda motor, notebook, dan peralatan elektronika. “Nanti akan dikombinasikan pada tahun keempat yang masuk kategori D1,” katanya.
SMK juga didorong untuk membangun pebisnis pertanian yang tangguh pada 5-10 tahun mendatang. “Mulai dari sekarang dikenalkan bagaimana kehidupan bisnis pertanian, bercocok tanam, panen, mengolah hasil panen, sampai dengan menghitung volume kebutuhan pasar,” kata Joko.
Joko menyebutkan, saat ini terdapat 600 sekolah yang membuka program keahlian pertanian, dan 320 di antaranya spesialis sekolah pertanian. Adapun jumlah SMK RSBI pertanian sebanyak 15 sekolah. “Dari 50 permohonan pembangunan SMK baru ada 10 titik untuk pertanian terutama di daerah pemekaran,” ujarnya.
Pemerintah, kata Joko, sejak 2-3 tahun lalu telah memberikan beasiswa program khusus untuk semua siswa program keahlian pertanian sebanyak Rp 65 ribu per bulan. Dia menyebutkan, total siswa program keahlian pertanian sebanyak 145 ribu. Beasiswa Bantuan Khusus Murid (BKM) untuk siswa miskin juga mencakup program keahlian khusus ini.
Sedangkan untuk mengatasi kekurangan jumlah guru vokasi dilakukan dengan program pendampingan. Bermitra dengan politeknik atau Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK), para mahasiswa tingkat akhir diterjunkan ke lapangan untuk mengajar di SMK. (agung)

Mengenal Gamelan Tektekan Di Banjar Tengah Desa Kerambitan

Mengenal Gamelan Tektekan Di Banjar Tengah Desa Kerambitan

Oleh: A. A. Bagus Rudy Pratama,  Mahasiswa PS Seni Karawitan

Bali sekarang ini, dibandingkan Bali sepuluh tahun yang lalu, sudah sangat berubah. Apalagi jika dibandingkan Bali dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu. Di masa puluhan tahun yang lalu itu, desa-desa di Bali jelas sekali identitasnya. Identitas itu bisa berupa wilayah, bisa pula kepada ciri khas, apakah itu dibidang ritual, adat, maupun kesenian (Setia, 2006 : 227).

Dalam bidang kesenian, sudah tentu Bali mempunyai bermacam-macam kesenian yang melekat pada daerahnya masing-masing. Contohnya saja di daerah Tabanan, sangat kental dengan kesenian tektekan. Tektekan berarti  sejumlah kentongan yang  terbuat dari bambu yang digunakan masyarakat dengan cara ditabuh (dipukul) menggunakan panggul (pemukul) yang terbuat dari bambu atau kayu.

Gamelan tektekan di daerah Tabanan pada umumnya dan di Desa Adat Bale Agung Kerambitan pada khususnya berfungsi untuk mengusir bhuta kala pada saat masyarakat merasakan desa sedang grubug, yang artinya desa sedang dilanda penyakit non medis dan juga pada hari Pengrupukan, yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Dalam menabuh gamelan tektekan ini siapapun boleh menyuarakannya, dalam arti tidak terikat oleh keanggotaan sekaa.

Namun seiring perkembangan jaman yang semakin menonjolkan kreativitas untuk berkesenian, perlahan gamelan tektekan itu sendiri menjadi berbeda fungsi atau kegunaannya bertambah. Tektekan yang awalnya berfungsi sebagai pengusir bhuta kala disaat masyarakat desa dilanda grubug, kemudian tektekan menjadi gamelan iringan sebuah drama seni teatrikal yang terkenal dengan sebutan Tektekan Calonarang.

Terciptanya sebuah drama seni teatrikal yang mengambil lakon calonarang ini, pada dasarnya pasti dilatarbelakangi dengan keberadaan sekaa. Menurut Suartaya (2007 : 3) Sekaa lahir dari bale banjar. Bale banjar adalah tempat seni dilestarikan, dikembangkan, didiskusikan, dan diapresiasikan. Kecintaan pada jagat seni dan keterampilan warga banjar dalam bidang seni banyak terasah dari aktivitas seni yang berpusat di area bangunan umum milik organisasi sosial terpenting tersebut. Sekaa yang terbentuk adalah sekaa sebunan. Maksudnya adalah sebuah grup kesenian yang seluruh anggotanya tinggal di desa itu, baik penari maupun penabuhnya (Setia, 2006 : 228).

Sekaa tektekan ini melakukan pelatihan di bale banjar, nantinya akan di panggil oleh utusan Puri Agung Kerambitan untuk mementaskan pagelaran tektekan calonarang. Dalam pementasan, atribut yang digunakan lebih dominan dengan kain saput poleng. Beberapa atribut yang menggunakan saput poleng, yaitu kendang, udeng dan saput penabuh, dan pakaian penari.

Mengenal Gamelan Tektekan Di Banjar Tengah Desa Kerambitan Selengkapnya

Konsep Desain Interior I

Konsep Desain Interior I

Oleh: Olih Solihat Karso Dosen PS Desain Interior

Konsep desain interior adalah dasar pemikiran desainer didalam memecahkan permasalahan atau problem desain.Pengertian konsepm,enurut Peorwadarminta; bersal dari bahasa latin yaitu Conseptus yang berarti tangkapan. Secara subyektif; pencaharian konsep adalah kegiatan intelek untuk menangkap sesuatu, dan secara obyektif pencaharian konsep adalah sesuatu yang ditangkap oleh kegiatan intelek. Jadi konsep adalah hasil dari tangkapan manusia. Di dalam konsepterdapat tanda-tanda umum dari suatu benda atau hal.

Menurut Tatang M Amirin konsep adalah rancangan, pengertian, pendapat, paham,dan cita-cita yang telah ada dalam pikiran. Jadi konsep sebagai suatu sistem –yang terdiri dari sehimpunan unsur yang melakukan suatu kegiatan menyusun skema atau tata cara melakukan suatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai tujuan dan dilakukan dengan mengolah data guna menghasilkan informasi. Dari dua pendapat di atas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa konsep adalah gagasan yang memadukan berbagai unsur kedalam suatu kesatuan. unsur-unsur ini mungkin berupa gagasan, pendapat dan pengamatan.

Hambatam pembuatan konsep, sedikitnya ada tiga yaitu masalah komunikasi, kurangnya pengalaman, dan pembangkitan hirarki dari konespdasar ke proses pengertian tahap awal sampai aplikasi konsep.

Jenis-jenis Konsep

Konsep dapat mengacu pada beberapa pendekatan , seperti yang dikatakan Snyder, J.C dalam buku Introduction to Architecture, yaitu      :

  1. Analogi

Analogi; berasal dari bahasa yunani analogia yang berarti kiasan yang diperluas dalam arti logatnya adalah persesuaian. Bentuk penalaran dengan pengambilan kesimpulan. Seandainya dua hal sama dengan beberapa hal yang penting. Kedua hal itu juga akan sama dalam hal-hal tgertentu lainnya (Komarudin, 1993).

Konsep Desain Interior I Selengkapnya

Pemberian Penghargaan Harus Jadi Tradisi

Pemberian Penghargaan Harus Jadi Tradisi

JAKARTA — Kementerian Pendidikan Nasional kembali memberikan penghargaan kepada para guru berprestasi, guru pendidikan luar biasa berdedikasi, guru daerah terpencil khusus berdedikasi. Penghargaan diberikan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, pada peringatan Hari Ulang Tahun RI ke-65,  dan juga puncak acara Hari Pendidikan Nasional 2010, di Plaza Insani Kemdiknas, Jakarta, Rabu (18/08).

Hadir pada acara itu Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto, dan Direktur Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Hamid Muhamad, dan undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Menteri Nuh menyebutkan, ada satu pertanyaan apakah penghargaan-penghargaan seperti ini tidak menimbulkan diskriminasi/kastanisasi? “Tidak… tidak, tidak ada rasa diskriminasi dalam pemberian penghargaan, malah harus dijadikan tradisi di Kemdiknas. Kita ingin membangun budaya apresiasi positif kepada siapa pun yang berprestasi,” ucapnya.

Menurut Nuh, tanpa adanya pemberian penghargaan terhadap para peraih prestasi dalam menciptakan kreasi dan inovasi, dikhawatirkan akan mengurangi motivasi guru dan siswa. Kemampuan  guru dan siswa tidak selalu sama tetapi akan mempunyai nilai berbeda. “Untuk dapat mencapai prestasi memerlukan berbagai tantangan yang melalui seleksi, hingga memperoleh nilai terbaik dalam meningkatkan mutu pendidikan,” kata Nuh.

Mendiknas mengatakan, ada tiga hal yang dilakukan untuk membangun apresiasi positif. Ketiganya adalah budaya kerja keras, kompetitif, dan pola pikir positif (positive mindset).

Para peraih prestasi dari berbagai provinsi meliputi guru dan siswa prestasi tingkat nasional TK serta SD, SMP,SMA/SMK, guru pendidikan luar biasa, guru daerah khusus, peraih olimpiade, hasil ujian nasional tertinggi, karya tulis ilmiah, dan kursus.  Mereka semua memperoleh hadiah dari Kemdiknas. Insan berprestasi yang hadir adalah siswa berprestasi 95 orang, pendidik dan tenaga kependidikan 550 orang, mahasiswa dan dosen 42 orang, lembaga kursus 20 orang, unit kesehatan sekolah yang berprestasi 60 orang, para pemenang karya tulis ilmiah media swara 20 orang, arsiparis 12 orang, pelayan publik terbaik di Kemdiknas 10 orang, dan karya jurnalistik 29 orang. (ali)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/19/penghargaan.aspx

Pendidikan Karakter Dikembangkan Melalui Tindakan

Pendidikan Karakter Dikembangkan Melalui Tindakan

Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menjelaskan bahwa permasalahan yang hadir di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, tindak anarkis dan lainnya, menjadi latar belakang mengapa pendidikan karakter perlu dilaksanakan.

Pada dasarnya,  pendidikan karakter selaras dengan tujuan nasional pendidikan yang tercantum pada Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini menyebutkan, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

” Dalam pasal ini dapat dilihat bahwa pendidikan karakter sudah mulai diperkenalkan,” ujar Fasli, seminar bertajuk “Tadarus Kebangsaan Ramadhan 1431 H. Reorientasi Nasionalisme Kita: Berharap Pada Pendidikan Karakter, Mungkinkah ?”  yang selenggarakan Maarief Institute, pada 18 Agustus lalu.

Fasli menekankan, pendidikan karakter pada implementasinya, tidak akan dimasukkan menjadi kurikulum yang baku, melainkan dikembangkan melalui tindakan dalam proses belajar. Karena itu, dia menghimbau agar setiap lembaga pendidikan membiasakan pendidikan karakter dalam kesehehariannya, sehingga dapat menciptakan budaya sekolah yang berkarakter.

Peserta seminar memang banyak menanyakan arah yang akan digapai dari pendidikan karakter. Acara yang diadakan menjelang buka puasa ini, bertempat di Ruang Aula Besar PP Muhammadiyah Jakarta. Selain Fasli, turut hadir sebagai pembicara pemerhati pendidikan karakter, Ratna Megawangi dan pakar psikologi sosial Yahya Khisbiyah.

Pada akhir paparannya, Fasli menjelaskan bahwa pendidikan karakter telah ada dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan. Nilai-nilai sportivitas dan kreativitas dapat tercermin dalam mata pelajaran olah raga, sedangkan nilai keuletan dan ketelitian dapat diperhatikan pada mata pelajaran matematika. “Mengenai moral tentunya sudah menjadi domain pendidikan agama. Apabila aktualisasi mata pelajaran ini benar, maka sudah berhasillah pendidikan karakter tersebut,” ujar  mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan Nasional Bidang Sumber Daya Pendidikan ini.

Adapun Ratna Megawangi menyatakan, diperlukan pengetahuan tambahan bagi para pendidik dan tenaga pendidik mengenai teori-teori pendidikan, untuk menjalankan pendidikan karakter. Hal ini menurut Ratna akan menjadikan para pelaku pendidikan memahami proses pendidikan melalui tahapan watak peserta pendidik.

Selebihnya, Ratna pun menegaskan bahwa inti dari pendidikan karakter adalah, mengajarkan bagaimana para peserta didik memahami nuraninya sendiri.

Sedangkan Yayah Khisbiyah mengatakan, pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan perasaan nasionalis masyarakatnya. Pendidikan karakter ini perlu dimaknai sebagai sarana penguatan rasa cinta Tanah Air. Karena itu, Yayah menyarankan agar pendidikan karakter ini disinergikan dengan pendidikan kewarganegaraan. (yogi)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/19/karakter.aspx

Loading...