M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Aptisi Usul BAN PT Tandingan

Aptisi Usul BAN PT Tandingan

SEMARANG- Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) mengusulkan kepada Menteri Pendidikan Nasional untuk membentuk Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) lain selain yang ada saat ini.
Sebab, BAN PT yang sekarang sudah dianggap tidak mampu lagi menangani akreditasi program studi di seluruh PT secara objektif, transparan, terbuka, dan komprehensif.
Sekretaris Aptisi Jateng Prof Y Sutomo mengatakan, seluruh perwakilan Aptisi di Indonesia sepakat menolak BAN PT sebagai satu-satunya badan akreditasi nasional bagi PT. Sebelum terbentuknya badan baru akreditasi PT yang didirikan masyarakat seperti yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas Pasal 60, PP No 19 Tahun 2005 Pasal 86 ayat 1 dan Peraturan Mendiknas No 28 Tahun 2005 Pasal 13 ayat 1, maka Aptisi meminta kepada Mendiknas untuk mengevaluasi BAN PT baik terhadap proses maupun personalianya.
‘’Dalam praktiknya saat ini, banyak sekali syarat yang memberatkan perguruan tinggi swasta (PTS) terkait penilaian mulai 0-4, masa tunggu lulusan, hingga biaya operasional mahasiswa yang ditentukan Rp 18 juta/tahun. Hal ini jelas membawa dampak pada hasil akreditasi,’’ tuturnya didampingi Wakil Sekretarisnya Prof Bagus.
Takut Berdasarkan data, dari 15.000 PTS di Indonesia, yang berakreditasi C sekitar 45%. Sementara di Jateng, dari 243 PTS dan 3.000 prodi, baru 60 PTS yang melakukan akreditasi, itu pun hanya empat yang mendapat nilai A, sedangkan sisanya berakreditasi B dan C. Dengan demikian, sesuai fakta tersebut, banyak PTS yang takut melakukan akreditasi, karena syarat-syarat yang tidak wajar.
‘’Dalam penilaian BAN PT memasukkan standar penelitian, kerja sama, pengabdian, dan yang lainnya di luar delapan standar pendidikan nasional yang disyaratkan. Mungkin bagi PT yang besar tidak masalah, tapi bagaimana dengan keberadaan PT yang kecil, apalagi BAN memberikan syarat yang sama untuk semua klasifikasi,’’ jelasnya yang juga anggota Pengurus Pleno Aptisi Pusat.
Sutomo mengharapkan, Mendiknas dalam melakukan akreditasi melalui BAN harus mengedepankan aspek pembinaan dengan melihat kondisi riil PT di Indonesia ataupun daerah. Selain itu, personalia BAN seharusnya adalah orang yang memahami dan mengerti tentang permasalahan PT. (K3,J14-37)

Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/25/121615/Aptisi-Usul-BAN-PT-Tandingan

Teknik Penyajian Pembawaan Lagu

Teknik Penyajian Pembawaan Lagu

Oleh Ni Wayan Ardini, Dosen PS Seni Karawitan

Di samping penguasaan teknik suara sebagai aspek utama dalam bernyanyi, ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu penguasaan unsur-unsur yang berkenaan dengan penyajian serta pembawaan sebuah lagu. Diantara teknik penyajian dan pembawaan yang harus dikuasai antara lain:

a. Teknik Frasering

Frasering adalah aturan pemenggalan kalimat bahasa atau kalimat musik menjadi bagian-bagian yang lebih pendek, tetapi tetap mempunyai kesatuan arti. Tujuan frasering aialah pemenggalan kalimat, baik kalimat bahasa maupun kalimat musik dapat lebih tepat sesuai dengan kelompok-kelompok kesatuan yang berarti. Untuk melakukan frasering dengan baik, perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut:

– Pelajari arti kalimat dan isi lagu secara utuh

– Temukan kalimat-kalimat musiknya secara lengkap

– Temukan frase-frase berdasarkan kalimat musik dengan tidak menghilangkan keutuhan arti kalimat lagu.

b. Teknik Penguasaan Isi Lagu

Penguasaan isi lagu berarti pembawaan dengan baik suatu lagu sesuai dengan jiwa dan makna lagu tersebut, misalnya lagu yang bersifat sedih, gembira, sehingga mampu menciptakan emosional dan daya imajinasi yang tepat.

c. Penguasaan  tempat penyajian lagu

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penguasaan tempat penyajian lagu adalah,  Posisi tubuh waktu berdiri:

Teknik PenyajianPembawaan Lagu selengkapnya

Membangun Nasionalisme Melalui Fotografi

Membangun Nasionalisme Melalui Fotografi

Jakarta — Fotografi ternyata tidak sekedar gambar dua dimensi saja, tetapi bila dimaknai secara lebih mendalam. “Ternyata fotografi menyimpan kesempatan untuk membangun nasionalisme bangsa,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam sambutannya pada acara International 1st Indonesian Salon of Art Photography, Sabtu (21/08) di Hotel Atlet Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Fotografi Candra Naya ini, merupakan perlombaan fotografi salon berskala Internasional. Tidak kurang 6.822 jumlah foto dari 730 peserta yang tersebar di 58 negara mengikuti ajang yang pertama kali diadakan di Indonesia ini.

Fasli menilai positif acara ini, sebagai bentuk konkret pembangunan karakter bangsa dan nasionalisme. “Dari foto-foto ini akan membangkitkan rasa nasionalisme kita. Dengan foto-foto tersebut kita bisa melihat kekayaan bangsa, sekaligus membangun kebanggaan kita,” ucapnya.

Melalui foto-foto itu pun, kita dapat mengabarkan banyak mengenai kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. “Dengan cara ini tentunya citra di Indonesia di mata dunia akan semakin baik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Fasli juga mengatakan acara ini secara tidak langsung berfungsi membangun people to people diplomacy. Artinya masing-masing individu yang berbeda spasial di belahan dunia, akan saling terhubung dengan tidak tergantung bagaimana hubungan diplomasi antar negara.

Menurut dia, pemerintah akan mendukung acara tersebut menjadi acara reguler. Dengan adanya acara yang berkelanjutan, Indonesia akan menjadi anggota terhormat dan memiliki kepercayaan dari dunia. (yogi).

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/24/fotografi.aspx

Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas

Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas

Oleh: Saptono, Dosen PS Seni Karawitan

Kehidupan masyarakat di wilayah daerah Banyumas pada prinsipnya mengikuti sistem kekerabatan masyarakat Jawa. Dalam kehidupan keluarga, istilah kekerabatan ditunjukan dengan sistem klasifikasi berdasarkan angkatan-angkatan (Koentjaraningrat, 1984:330). Misalnya, kepada semua sodara kakak laki-laki dan perempuan dari ayah dan ibu, dipanggilnya sama yaitu dengan istilah uwa. Uwa lanang untuk panggilan kepada sodara tua atau kakak laki-laki dari ayah dan ibu, sedangkan istilah uwa wadon untuk sodara perempuan  yang lebih tua dari ayah dan ibu. Bedanya untuk sodara yang lebih muda atau adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan menjadi dua yang tergatung menurut jenis kelamin, jika laki-laki dipaggil dengan istilah paman atau pak lik dan jika sodara perempuan dipanggil dengan istilah bibi. Bagi sebagian besar masyarakat Banyumas secara akrab cukup dengan memanggil “uwane” atau “bibine”.

Untuk memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, hubungan antar warga untuk menunjang semangat gotong-royong juga merupakan prinsip dalam pola kekerabatan yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas. Wujud dari semangat gotong royong merupakan konsep kerja sama yang dijunjung tinggi, hal ini sangat agrab dengan kehidupan masyarakat petani-agraris. Wujud dari semangat gotong-royong merupakan pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi atau menambah kekurangan tenaga pada saat sibuk (Koentjaraningrat, 2002:56-7). Contoh kongkrit dalam masyarakat pedesaan di Banyumas adalah kesambat pada saat membuat batur rumah (dari tanah), atau mendirikan rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu. Kesambat merupakan bantuan tenaga dari sanak saodara atau dari tetangga-tetangga dekat untuk meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu keperluan tertentu.

Tempat tinggal warga yang ada didusun-dusun kebanyakan masih sangat sederhana, ada yang rumahnya masih menggunakan atap alang-alang atau daon (tetapi sekarang ini kebanyakan seng dan genteng), lantainya masih dari tanah, dan dindingnya gedek bambu atau dari papan kayu “belabak”. Bagi warga yang dianggap kaya biasanya rumahnya besar dan masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah  “rumah bandung” (mirip dengan rumah joglo) sepeti rumah-rumah milik kepala desa atau lurah. Selain itu, kebanyakan rumah-rumah di dusun-dusun tidak diberi pembatas pagar, hanya saja batas pekarangan milik antar warga biasanya menggunakan “telajak” pagar dari tanaman.

Pola kekerabatan juga terjadi karena perkawinan, maka perkawinan merupakan seuatu yang sangat penting dalam kelangsungan hidupnya. Bagi masyarakat Banyumas, perkawinan tidak hanya dimaknai dengan menyatukan dua individu laki-laki dan perempuan menjadi satu yang disebut keluarga, akan tetepi lebih dari itu bahwa perkawinan bisa dimaknai sebagai penyatuan atau ikatan silaturahmi antar keluarga.

Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas Selengkapnya

Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I

Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I

Oleh Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian tentang desain interior rumah tingal era Bali Madya di lapangan, maka sebagian besar konsep ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya berdasarkan pola-pola ruang sanga mandala, swastika, serta mengadaptasi konsep pempatan agung atau catuspatha. Aplikasi filosofi Trihitakarana pada konsep ruang rumah tinggal tradisional Bali Madya, sangat jelas memperlihatkan pembagian area: Parahyangan untuk tempat suci (sanggah/ merajan); Pawongan untuk bangunan dan bale-bale; dan Palemahan untuk kebun/ teba. Bebagai aktivitas keluarga dilakukan di dalam satu area atau ruang yang dibatasi tembok pembatas atau penyengker. Berbagai jenis bale-bale berada di dalam tembok pembatas/ penyengker, seperti bangunan Bale Dauh, Paon (dapur) dan Jineng (lumbung). Area khusus untuk tempat suci (sanggah/ merajan) keluarga, terletak di area timur laut.

1. Orientasi Ruang

Orientasi ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya nampak mengacu pada konsep Andabhuwana (bumi), berarti konsep ruang yang berorientasi pada potensi alam setempat (local oriented). Orientasi ruang ini mengacu pada arah: Gunung-laut (arah: kajakelod); Terbit-terbenamnya matahari (arah: kanginkauh). Berdasarkan konsep ini kemudian ditetapkan area/ zona yang paling suci sampai  area/ zona yang paling provan, sehingga unit-unit bangunan ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Ruang paling suci adalah di timur laut (kaja kangin) untuk tempat suci, area utara (kaja) untuk tempat tidur (Bale Daja/ Bale Meten), area timur (kangin) untuk balai upacara (Bale Dangin/ Bale Gede), area barat untuk bangunan anak remaja/ tamu (Bale Dauh/ Loji), sedangkan area selatan untuk lumbung dan dapur. Selanjutnya orientasi ruang pada desain interiornya juga menyesuaikan, sehingga hulu ruang balai upacara mengarah ke timur (kangin) dan hulu ruang tidur mengarah ke utara (kaja).

Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I Selengkapnya

Loading...