by admin | Sep 5, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Saptono, Dosen PS Seni Karawitan
1. Ricikan/instrumen gamelan di dalam karawitan secara fungsional musikal digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu;
(a). Kelompok ricikan balungan, yaitu; ricikan-ricikan yang lagu permainannya sangat dekat dengan kerangka gending (balungan gending). Ricikan/instrumen gamelan dalam kelompok ini, yaitu; saron demung, saron barung, saron penerus, slentem, dan bonang penembung.
(b). Kelompok ricikan/instrumen garap, yaitu; ricikan-ricikan yang menggarap balungan gending, yang dengan cera menafsirkan yang kemudian menerjemahkan lewat vokabuler-vokabuler (konvensi) garapan. Rcikan/insrumen yang termasuk dalam kelompok tersebut, yaitu; rebab, kendang, gender, gender penerus, bonang, bonang oenerus, siter, suling, gambang, sinden, dan gerong.
(c). Kelompok ricikan/instrumen struktural, yaiu;ricikan-ricikan yang membuat suatu jalinan permainan dengan membentuk setruktur berdasarkan (menentukan) bentuk gending. Ricikan/instrumen yang termasuk dalam kelompok tersebut, yaitu; kethuk, kempyang, engkuk, kenong, kempul, gong, kecer, kemanak, keplok alok, dan kendang.
Kelompok ricikan (a) disebut dengan balungan, karena lagu permainan kelompok ricikan tersebut dekat dengan lagu balungan gending terutama jika dibandingkan dengan pola permainan kelompok ricikan yang lain. Beberapa musikolog seperti, Kunst (1949:167), Mantle Hood (1954:3-9), Jodit Becker (1980:108-249), dalam (Supanggah, 1990:116), menganggap bahwa ricikan balunganlah yang memainkan balungan gending. Dalam kata lain, balungan gending adalah identik dengan lagu permainan saron atau penembung. Menurut Supanggah, hal ini sedikit berbeda dengan pendapat sarjana-sarjana Barat, bahwa para pengamat karawitan dalam negeri menyebut balungan atau catatan gending yang dapat tertulis pada buku-buku atau catatan-catatan gending yang ada pada saku pengrawit (bahwa balungan yang ditulis sebenarnya juga berbeda dengan melodi saron). Lebih lanjut Supanggah, bahwa catatan notasi balungan gending yang biasa ditabuh oleh ricikan balungan sebenarnya masih merupakan bahan mentah yang perlu pengolahan lebih lanjut; dengan kata lain perlu digarap oleh keseluruhan ricikan gamelan terutama ricikan garap.
Fungsi Instrumen Gamelan Dalam Karawitan selengkapnya
by admin | Sep 4, 2010 | Artikel, Berita

Oleh Drs. Made Radiawan, M.Erg., Dosen PS Kriya Seni
Keserasian dan kenyamanan manusia dalam menggunakan peralatan atau benda produk merupakan suatu ilmu yang perlu dikembangkan. Aktivitas manusia dalam pemakaian peralatan benda produk yang berupa sikap dan gerakan tubuh akan berdampak pada kondisi tubuh manusia. Dalam merancang disain perlatan (alat pahat) agar dapat menyusuaikan fungsi dari alat yang didisain, dan dapat memberikan kekuasaan kepada si pemakai yaitu unsur kenyamanan, kesehatan maupun keserasian dalam penggunaannya.
Menentukan peralatan atau produk yang sesuai dengan antropometri manusia di berbagai bangsa tidaklah mudah, karena adanya ukuran tubuh yang berbeda, maka diperlukan suatu titik temu ukuran kondisi gerak dan lingkungan yang akan mempengaruhi.
Beberapa ukuran dan kondisi gerakan atau lingkungan , diantaranya:
1. ukuran tubuh manusia berbagai bangsa;
2. posisi dan gerakan bagian tubuh manusia;
3. berat dari bagian tubuh manusia;
4. lingkungan kerja
5. kondisi produk yang akan dihadapi (Putra, 2004, 8).
Disiplin ilmu yang multidisipliner penggabungan elemen, fisiologi, psikologi, anatomi, seni, hygine, social dan ilmu lainnya, maka ergonomi akan berkaitan dengan aktivitas kerja dengan sasaran yakni.
a. meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, khususnya dengan menanggulangi penyakit akibat kerja, mengurangi beban titik dan mental dan unutk kepuasan kerja.
b. meningkatkan tarap hidup (sosial) dengan meningkatkan kualitas kelompok kerja dan managemen pekerjaan.
c. rasional antara aspek teknik, ekonomi, antropologi dan budaya agar menjadi seimbang dengan sistim manusia mesin, karena usaha meningkatkan efisiensi produksi kerja.
Aspek Ergonomi Dalam Desain Pahat I Selengkapnya
by admin | Sep 3, 2010 | Berita
Sebanyak 40 orang mahasiswa asing penerima Darmasiswa dari pemerintah Republik Indonesia dan 6 orang mahasiswa asing dengan biaya sendiri kamis 22 september 2010 kemarin diterima oleh Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S. MA. beserta jajaran pejabat struktural dan dosen di lingkungan kampus ISI Denpasar, bertempat di ruang sidang kampus setempat. Rektor ISI Denpasar dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa asing yang berasal dari 17 negara yakni Jepang, Polandia, Amerika Serikat, Australia, Chech Republik, Zerbia Montenegro, Slovenia, Slovakia, Inggris, Hunggaria, Jerman Rusia, Argentina, Afrika Selatan, Meksiko, Rumania, Yunani, Ukraina, dan Korea Selatan tersebut. Keseluruhan mahasiswa asing yang diterima berencana untuk mengikuti perkuliahan pada 5 Jurusan dan Program Studi yang ada di Institut Seni Indonesia Denpasar, antara lain : Jurusan Tari 6 orang, Jurusan Karawitan 10 orang, Jurusan Seni Rupa Murni 6 orang, Jurusan Kriya 5 orang dan Program Studi Fotografi sebagai embrio dari Fakultas Seni Media Rekam 4 orang.
Prof Rai menyampaikan bahwa sejak tahun 2000, ISI Denpasar telah meluluskan 300 orang mahasiswa asing dari keseluruhan 27 negara. Diantaranya 199 orang merupakan penerima Darmasiswa RI dan 101 orang dengan biaya sendiri. Sehingga secara keseluruhan ISI Denpasar hingga kini telah menerima 346 orang mahasiswa asing.
Kepada seluruh mahasiswa asing, Prof. Rai menjelaskan sejarah berdirinya ISI Denpasar serta visi dan misi ISI denpasar agar mereka turut merasa memiliki kampus yang merupakan satu-satunya kampus seni di kawasan Indonesia timur tersebut. Dalam presentasinya, Prof. Rai juga menegaskan bahwa dengan banyaknya mahasiswa asing yang memilih ISI Denpasar sebagai tempat tujuan belajar mereka maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ISI Denpasar masih menjadi Favorit di dunia pendidikan seni. Rektor ISI Denpasar juga meminta kepada seluruh jajaran dosen dan pegawai untuk lebih bekerja keras untuk dapat mewujudkan kurikulum berbasis keunggulan lokal dengan standar internasional seraya mengubah mind set menjadi berwawasan global dalam rangka mewujudkan ISI Denpasar sebagai World Class University.
HUMAS ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Sep 3, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Ketut Darsana, Dosen PS Seni Tari
Penduduk Bali Aga adalah kelompok masyarakat yang hidup di daerah pegunungan (pedalaman) Pulau Bali. Penduduk Bali Aga sering juga disebut dengan “ Wong Bali Mula “ yaitu orang – orang Bali asli (Bali Mula), yang mendiami Pulau Bali ini mandahului penduduk Bali Peda-taran.
Orang – orang yang termasuk kedalam kelompok Bali Aga meru-pakan kelompok orang yang telah memiliki kebudayaan yang cukup ber-nilai dilihat dari aspek kebudayaan. Kebudayaan yang beberapa pening-galannya yang masih dapat ditemukan sampai sekarang memper-lihatkan ciri – ciri yang membedakan dengan kebudayaan belakangan yaitu kebu-dayaan yang dibawa oleh orang – orang Bali Pedataran.
Ciri – ciri pokok yang menonjol dalam masyarakat Bali Aga meli-puti pola kehidupan, pole kemasyarakatan, pola pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Pola kehidupan yang sangat nyata pada kehidupan masyarakat Bali Aga, menampakkan corak komunal yaitu suatu ciri yang menekan-kan bentuk kehidupan dalam situasi kebersamaan. “Corak kebersamaan nampak dalam mengerjakan suatu pekerjaan yang dilakukan secara go-tong royong baik dalam situasi suka atau situasi duka” (N.D.Pandit Sastri, 1965, 94).
Ciri kehidupan gotong royong yang dimiliki oleh masyarakat Bali Aga tersebut secara implisit merupakan corak kehidupan asli pola kehi-dupan masyarakat Indonesia termasuk pola kehidupan masyarakat Bali Aga. Contoh ciri kehidupan kebersamaan tersebut yang masih dapat ditemukan sampai sekarang ini seperti : “Ngeepin, sekaa memula, upa-cara kematian, membuat rumah, upacara keagamaan, dan sebagainya” (Baka Dherana, 1992, 22).
Ciri – ciri kebudayaan Bali Aga I selengkapnya
by admin | Sep 2, 2010 | Berita
JAKARTA – Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh berbuka bersama dengan anak-anak jalanan yang tertampung sebagai warga belajar rumah singgah yang dikelola Yayasan HIMMATA, di Plumpang, Rawa Badak, Jakarta Utara, pada Rabu (01/09).
Turut serta bersama menteri adalah Sekretaris Jenderal Dodi Nandika, Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto, Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Baedhowi, Direktur Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal Hamid Muhammad, dan pejabat Kementerian Pendidikan Nasional yang lainnya. Selain itu juga hadir Donny Rahajoe, Head of Coporate Communications & Public Relations-President Office PT Sinar Mas, serta Rizal, Ketua Surabaya Community (SC).
Pada kesempatan itu dilakukan penyerahan bingkisan berupa kitab suci Al Quran dan buku tulis dari PT Sinar Mas kepada anak jalanan. Mendiknas juga menyerahkan bingkisan lebaran untuk anak jalanan yang mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C. Juga diserahkan bantuan kepada lima pemilik rumah singgah yang berada di DKI Jakarta berupa dana sebesar Rp 50 juta kepada setiap pemilik rumah singgah yang digunakan antara lain untuk infrastruktur, biaya operasional dan juga untuk peningkatan kesejahteraan guru/tutor di rumah singgah tersebut.
Ada pula pemberian 17 unit komputer untuk rumah singgah. Masing-masing lima unit dari Kemdiknas, tiga unit dari PT Sinar Mas, dan sembilan unit dari para pengusaha yang tergabung dalam Surabaya Community.
Dalam sambutannya, Menteri Nuh mengatakan memuji semangat kurang lebih 1.000 orang di rumah singgah yang menempuh pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C. “Dengan keadaan yang seperti ini, mereka tetap bertahan dan punya semangat. Ini tugas kita untuk memberikan dorongan, sehingga mereka tetap punya masa depan,” katanya.
“Support dari pemerintah pusat yaitu kita membantu mulai juga dari biaya yang rutin, juga guru yang kita lakukan perbaikan tingkat kesejahteraan, peralatan-peralatan juga. “Intinya ada anggaran secara khusus dan ada direktorat jenderal yang menangani secara khusus, ijazahnya pun juga sama. Namanya kesetaraan ya sama,” kata Mendiknas.
Mendiknas menjanjikan untuk memberi kesempatan para guru atau tutor di rumah singgah untuk meningkatkan kualifikasi sekolahnya. “Syukur-syukur nanti bisa kita standarisasi sehingga ada quality insurance-nya,” katanya.
Pada acara yang sama, Hamid Muhammad mengatakan bahwa hal yang terpenting adalah bagaimana kita menjamin agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. “Jadi tidak ada istilah bahwa pendidikan nonformal itu tidak bermutu. Tetap kita kasih layanan dan penjaminan mutu yang benar, karena itu walaupun pendidikan kesetaraan ini, saya harapkan semua peserta didik dan masyarakat itu tetap mendukung dan belajar dengan sebaik-baiknya,” katanya. (nasrul)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/9/2/anak-jalanan.aspx