by admin | Sep 13, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Wayan Sutha S
Drs. D.A. Tirta Ray, M.Si
Abstrak Penelitian.
Dibiayai Oleh Dipa ISI Tahun 2009 Direktorat Pendidikan Tinggi Depertaman Pendidikan Nasional, Dengan Surat Perjanjiaan Nomor:109/I.5.2/PG2009
Topeng merupakan hasil budaya masyarakat yang berkembang menjadi suatu bentuk karya seni sebagai sarana ritual upacara keagamaan/kepercayaan dan sarana keseniaan yang mempunyai tukuan estetis. Topeng dalam perjalanannya dipengaruhi oleh perkembangan dinamika kehidupan global yang sangat cepat dan kompleks dengan ditandainya oleh mobilitas yang tinggi oleh sekelompok masyarakat antar bangsa. Hal ini mengakibatkan pertukaran informasi secara luas dan cepat, sekaligus terjadinya proses transformasi budaya. Salah satu wujud dari transformasi budaya adalah terbentuknya bermacam-macam gaya hidup baru, dimana gaya hidup tersebut diinterpretasikan ke dalam bentuk seni topeng yang sifatnya komersial. Salah satu gaya seni topeng yang sedang berkembang adalah gaya neo vernakuler, yaitu suatu gaya dari faham postmodern yang menerapkan ide-ide, nilai-nilai atau gagasan-gagasan budaya dari suatu negara atau kawasan yang diasimilasikan dengan rancangan baru.
Dalam proses perkembangan tersebut, para kritisi seni topeng larut dalam perbedaan menggali budaya tradisi demi menemukan bentuk topeng yang berpijak dan berakar di daerah sendiri. Untuk pertama kalinya sebutan “Topeng Pop Art” dengan mengacu pada karya-karya tradisi, bersamaan dengan itu, muncul sebutan topeng postmodern, masa perkembangan topeng modern pembaharuan oleh beberapa seniman topeng yang sering mendapatkan pesanan dari luar negeri. Sebagai gerakan baru, kiranya lebih tepat disebut gerakan postmodern, sekaligus sebagai seni topeng sekuler.
Penelitian ini mengambil kasus fenomena perubahan fungsi dan bentuk topeng tradisional menjadi sebuah topeng postmodern dengan idiom-idiom estetikanya postmodernisme sebagai hiasan yang dikerjakan oleh seniman topeng Ida Bagus Anom asal Desa MAs. Tujuan penulisan ini antara lain adalah untuk mengetahui latar belakang perubahan yang topeng tradisional menuju postmodern. Penulisan dilakukan dengan cara memaparkan unsur-unsur yang berubah, tetap atau baru pada topeng trasisioanal yang berkembang menjadi topeng yang mengandung nilai-nilai postmodernisme yang sifatnya komersial. Selain itu penelitian didukung dengan melakukan studi komparasif pada pengembangan artefak tradisional lain dan jenis-jenis pola perubahannya sebagai ilustrasi peta perubahan dan pengembangan artefak tradisional yang ada.
by admin | Sep 12, 2010 | Berita
Oleh: Wardizal, Dosen PS Seni Karawitan
Suku bangsa Minangkabau merupakan suku bangsa yang cukup unik di Indonesia dengan masyarakatnya yang menganut sistem kekerabatan matrilineal. Umar Junus sebagaimana dikutip Hajizar mengemukakan:
Pendukung kebudayaan Minangkabau dianggap sebagai suatu masyarakat dengan sistem kekeluargaan yang ganjil diantara suku-suku bangsa yang lebih dahulu maju di Indonesia, yaitu menurut sistem kekeluargaan yang Matrilineal. Inilah yang biasanya dianggap sebagai salah satu unsur yang memberi identitas kepada kebudayaan Minangkabau; terutama dipopulerkan oleh roman-roman Balai Pustaka pada periode pertama dari abad ke-20 (Junus dalam Hajizar, 1988:46).
Prinsip kekerabatan masyarakat Minangkabau adalah matrilineal descen yang mengatur hubungan kekerabatan melalui garis ibu. Dengan prinsip ini, seorang anak akan mengambil suku ibunya. Garis turunan ini juga mempunyai arti pada penerusan harta warisan, dimana seorang anak akan memperoleh warisan menurut garis ibu. Warisan yang dimaksud adalah berupa harta peninggalan yang sudah turun-temurun menurut garis ibu. Secara lebih luas, harta warisan (pusaka) dapat dikelompokkan dua macam, yaitu pusaka tinggi dan pusaka rendah. Pusaka tinggi adalah harta yang diwarisi dari ibu secara turun-temurun; sedangkan pusaka rendah adalah warisan dari hasil usaha ibu dan bapak selama mereka terikat perkawinan. Konsekwensi dari sistem pewarisan pusaka tinggi, setiap warisan akan jatuh pada anak perempuan; anak laki-laki tidak mempunyai hak memiliki—hanya hak mengusahakan; sedangkan anak perempuan mempunyai hak memiliki sampai diwariskan pula kepada anaknya. Seorang laki-laki hanya boleh mengambil sebagian dari hasil harta warisan sesuai dengan usahanya—sama sekali tidak dapat mewariskan kepada anaknya. Kalau ia meninggal, maka harta itu akan kembali kepada ibunya atau kepada adik perempuan dan kemenakannya (Yunus, 1990: 39-40).
Dalam sistem kekerabatan matrilineal, satu rumah gadang dihuni oleh satu keluarga. Rumah ini berfungsi untuk kegiatan-kegiatan adat dan tempat tinggal. Keluarga yang mendiami rumah gadang adalah orang-orang yang seketurunan yang dinamakan saparuik (dari satu perut) atau setali darah menurut garis keturunan ibu. Ibu, anak laki-laki dan anak perempuan dari ibu, saudara laki-laki ibu, saudara perempuan ibu serta anak-anaknya, atau cucu-cucu ibu dari anak perempuannya disebut saparuik, karena semua mengikuti ibunya. Sedangkan ayah (suami ibu) tidak termasuk keluarga di rumah gadang istrinya, akan tetapi menjadi anggota keluarga dari paruik rumah gadang tempat ia dilahirkan (ibunya) (Hajizar, 1988:46-47).
Sistem Kekerabatan di Minangkabau selengkapnya
by admin | Sep 11, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Ketut Darsana, Dosen PS Seni Tari
Kata Apad seperti yang telah diterangkan dalam pengertian di atas yaitu dalam hubungannya dengan kata Lulu yaitu mempunyai pengertian batas antara. Jadi kata Ulu Apad dapat diartikan sebagai kepala – kepala yang berada atau duduk pada batas antara. Yang dimaksud duduk dalam batas antara adalah para pengurus Lulu Apad yang merupakan Dewan Pemuka Krama Desa duduk di Bale Agung (Waktu Sangkep) sesuai dengan “Tegak” dan kastanya yaitu antara kasta laki–laki dan kasta perempuan.
Penekanan mendasar tentang kebudayaan Bali Aga nampak dalam kaitannya dengan pemujaan terhadap roh–roh leluhur. Segi kebudayaan ini banyak meninggalkan bekas–bekas dari jaman dahulu yaitu jaman Pra Sejarah. Hasil–hasil kebudayaan yang memperlihatkan ciri ini dapat digu-nakan mulai dari “Masalah Penguburan” yaitu adanya berbagai “Kubur Batu” dalam bentuk “Sarkufagus”. Yang memberikan satu analisa bahwa sistem penguburan yang sangat teratur telah dikenal oleh masyarakat Bali Aga pada jaman dahulu. Sarkofah atau peti–peti lainnya banyak ditemu-kan pada beberapa Desa di Bali seperti “Di Gilimanuk, Marga Tengah, Taman Bali dan sebagainya”.
Ciri lain dalam hubungannya sebagai ciri kebudayaan Bali Aga dalam sistem penguburan yaitu adanya kuburan terbuka seperti di Desa Trunyan. Para roh leluhur yang telah diupacarai selanjutnya rohnya itu diperdewakan sebagai bentuk pemujaan roh nenek moyang. Roh nenek moyang yang dipandang sebagai cikal–bakal keberadaannya itu diberi gelar tertentu seperti Desa Trunyan dikenal ada nama “Datonta” yang merupakan Dewa tertinggi pujaan masyarakat Trunyan. Keterangan mengenai Datonta tersebut dapat ditemukan dalam prasasti Trunyan yang menyebutkan :
Ciri ciri kebudayaan Bali Aga II Selengkapnya
by admin | Sep 8, 2010 | Berita
Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Denpasar telah sukses menggelar pameran ICT, Lomba ICT dan Workshop “Open Source”, bertajuk “IT Competition & Expo 2010” dengan sub tema: “Kebangkitan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menuju Denpasar Kreatif Berbasis Budaya”. Kegiatan tersebut terselenggara dalam rangka pelaksanaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang ke-15 pada 10 Agustus ini. Sehubungan dengan hal tersebut ISI Denpasar diminta untuk turut berpartisipasi dan ikut serta dalam gelar pameran ITC atau Gelar Inovasi Teknologi. ISI Denpasar yang terbilang sekolah seni ini mampu berkiprah ditengah kebangkitan teknologi saat ini dibawah naungan UPT. Pusat Komputer (Puskom) ISI Denpasar. Lewat leader Poskom, ISI Denpasar tampil selama 3 hari (3- 5 September 2010) dalam ajang pameran tersebut, yang bertempat di depan Pura Jagatnatha.
Menurut Kepala UPT. Puskom ISI Denpasar, Hendra Santosa, S.SKar., M.Hum., ISI Denpasar yang memiliki dua fakultas telah memamerkan berbagai dokumentasi kegiatan ISI Denpasar baik foto maupun video. Pada kesempatan tersebut ISI Denpasar juga menampilkan berbagai layanan yang dimiliki yaitu Website, Blog, Mail, Help desk, Download Portal, Akses Internet/ Hotspot, Chat, E-Jurnal, Video Conference, Multimedia Database, Network Operation Control, Warnet Kampus, Forum, Multimedia Portal, Silabus Online, Sistem Informasi Akademik dan Mobile Akses.
Ka. Sub. Bag. UPT. Puskom ISI Denpasar, Ni Luh Dwi Gunawati, S.E., menyatakan tercacat sejak pameran berlangsung sekitar ratusan orang menunjungi stand pameran ISI Denpasar. Menurut beberapa pengunjung, stand pameran ISI Denpasar sangat menarik, karena mampu memberikan nuansa berbeda, mengingat ISI Denpasar dengan latar belakang jurusan non IT mampu ikut berperan serta dalam pameran yang bertemakan teknologi. Diharapkan dengan keikutsertaan ISI Denpasar dalam ajang ini, selain mampu untuk mempromosikan kampus, juga sebagai ajang untuk menunjukkan jati diri bahwa kampus seni ISI Denpasar mampu bersaing ditengah derasnya arus teknologi. “Niscaya ISI denpasar yang merupakan Kampus lokal tradisional memiliki format digital dan modern” ungkap Dwi Gunawati.
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Sep 8, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Saptono, Dosen PS Seni Karwitan ISI Denpasar
Estetik, dulu maupun sekarang merupakan suatu pengertian yang dominan dalam paham kebudayaan dan penghayatan kebudayaan di Indonesia. Persoalannya apakah seni harus berpedoman pada ide keindahan universal, atau dia harus memperhatikan kelenturan ide keindahan dan tingkat penghayatan keindahan dari lingkungan terdekatnya?
AADjelantik, dalam bukunya “Estetika Sebuah Pengantar”, pengalaman estetic experience tercapai jika didalam diri manusia terbangun rasa puas, rasa senang, rasa aman, rasa nyaman dan bahagia. Dalam proses apresiasi karya estetis beliau membagi menjadi tujuh bagian, yaitu; 1) sensasi berupa rangsangan yang ditangkap oleh mata dan telinga yang menghasilkan rasa enak atau tidak enak; 2) presepsi berupa kesan terjadinya proses asosiasi, komparasi, diferensiasi, analogi dan sintesa; 3) impresi berupa kesan dan berkembang menjadi keyakinan yang tertanam di dalam kesadaran manusia; 4) emosi berupa ketergugahan perasaan akibat menyerap objek estetik; 5) interpretasi berupa penafsiran-penafsiran yang dilakukan melalui olah pikir tatkala menyadari adanya objek estetik; 6) apresiasi berupa renunan terhadap segala sesuatu yang telah diapresiasi; 7) penilaian (evaluasi) berupa hasil apresiasi yang disampaikan secara lisan maupun tertulis (AA Djelantik, 1999:5)
Pandangan Mudji Sutrisno (1993), pengalaman estetis hakikatnya melibatkan pengamatan indrawi yang sekaligus melibatkan seluruh unsur dalam diri manusia ikut terbawa oleh pengamatan itu, jiwaraga, dengan segala kemampuan-kemampuan lainnya; bagikan terikat dan terpikat hatinya. Dalam pengalaman tentang keindahan (kedahsyatan) alam maupun dalam pengalaman tentang keindahan karya seni (lukisan, patung, musik, tarian, candi, karya sastra).
Estetika Jawa dapat dilihat dalam berbagai bentuk karya seni, terutama dalam kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan ekspresi estetiknya dimana Herusatoto (1987) memberikan tiga ciri utama yang sifatnya berlaku secara lentur pada ungkapan estetika orang jawa. Ketiga ciri tersebut bersifat; kontemplatif-transendental, simbolik, dan filosofis (Sachari, 2002:12).
Elemen-Elemen Estetika Jemblung Dalam Aspek Bentuk, Fungsi, Makna selengkapnya