by admin | Sep 16, 2010 | Berita
Gebrakan tim kesenian Institut Seni Indonesia Denpasar diawali dengan penampilan di Gedung philharmonia kota Tula 200 km dari Moskow, ujar Sekretaris Pertama KBRI Moskow Johannes O S Manginsela dalam keterangan persnya yang diterima Antara, Senin.
Pagelaran yang bertemakan “the Colour of Indonesia” merupakan bagian dari rangkaian peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Rusia digelar atas kerjasama KBRI Moskow, ISI Denpasar Bali didukung Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Nasional.
Penampilan gamelan dan tari nusantara mempesona tidak kurang dari 750 orang pengunjung yang memenuhi gedung pertunjukan di kota asal sastrawan besar Rusia Leo Tolstoy itu.
Diakhir pertunjukan penonton memberikan appresiasi dengan berulang-ulang memekikan “malajet.. Malajet..” atau hebat.
Pada penampilan lainnya tim ISI Denpasar juga berhasil memukau komunitas seni di Moskow di Rachmaninov Hall, Moscow Tchaikovsky Conservatory.
Di sekolah yang merupakan sekolah music klasik yang paling prestius di Rusia tersebut tidak kurang dari 200 pengunjung memenuhi ruang konser yang terkenal ekslusif dan hanya berkapasitas 250 tempat duduk tersebut.
Pada akhir pertunjukan, penonton tidak hentinya bertepuk tangan sehingga para seniman asal Bali ini dituntut untuk keluar kembali ke panggung untuk memberikan “bonus” permainan gamelan tambahan yang spontan dimainkan selama tidak kurang dari tiga menit sebagai “finale” yang disambut dengan standing ovation dari penonton.
Komposisi tabuhan pembuka dan diikuti permainan gamelan yang mengiringi tarian nusantara seperti tari Selat Segara (Bali), Padang Bulan (Jawa Timur), Oleg Tambulingan (Bali), Pakarena (Sulawesi), Mandau, Garuda, Berburu (Papua).
Kecuali tari Saman (Aceh), seluruh tarian diiringi oleh tabuhan musik tradisional secara live. Dengan dukungan akustik ruangan yang prima pertujukan dilakukan tanpa bantuan pengeras suara (sound system).
Duta Besar RI Moskow, Hamid Awaludin mengatakan bahwa pagelaran budaya Indonesia yang merupakan diplomasi seni dan budaya dapat memicu berkembangnya sektor pariwisata Indonesia.
Masyarakat Rusia yang sudah sejak lama mengenal Bali sebagai salah satu tujuan wisata dan diharapkan melalui Bali, mereka dapat mengenal Indonesia secara keseluruhan.
Ditambahkan bahwa peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk lebih meningkatkan hubungan dan persahabatan kedua bangsa.
Sementara itu Margaritha Karatygina, kepada departemen hubungan internasional Moscow Tchaikovsky Conservatory menyambut gembira keberhasilan penampilan ISI Denpasar serta optimis keberhasilan ini akan mendorong minat mahasiswa musik Rusia untuk mendalami lebih jauh seni musik Timur, khusunya gamelan dari Indonesia.
“Kekayaan budaya Indonesia sangat beragam dan oleh karena itu ISI Denpasar mempersembahkan Paket Nusantara,” kata Pembantu Rektor Bidang Kerjasama ISI Denpasar, I Wayan Suweca.
“Rusia adalah salah satu negara yang kaya pula akan seni dan budaya serta apresiasi masyarakat terhadap seni dan budaya sangat tinggi.
Kedua bangsa memiliki potensi untuk mengembangkan kerjasama di bidang seni dan budaya dan ISI Denpasar siap menjalin kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi seni di Rusia,” tambahnya.
Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1283123208/gamelan-bali-getarkan-jantung-seni-musik-rusia
by admin | Sep 15, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Wayan Sutha S, Dosen PS Seni Rupa Murni
Idiom estetik yang merupakan bagian dari topeng postmodernisme adalah:
Pastiche.
Pastiche adalah imitasi murni, tanpa pretensi apa-apa dan dalam karya seni merupakan suatu penyusunan elemen-elemen yang dipinjam dari perbagai pengarang atau seniman masa lalu, yang miskin orisinalitas dan merupakan salah satu bentuk imitasi yang tanpa beban kritik. Dalam prakteknya pastiche mengambil pelbagai gaya dan bentuk dari kepingan sejarah, mencabutnya dari semangat zamannya dan menempatkan dalam konteks kekinian. Sebagai karya yang mengandung unsur-unsur pinjaman, mempunyai konotasi negatif sebagai praktek penciptaan yang miskin orisinalitas. Dalam pandangan Linda Hutcheon Pastiche mengimitasi karya masa lalu dalam kerangka menghargai dan mengapresiasinya yang merupakan bentuk imitasi murni, tanpa pretensi politis seperti parodi. Senada dengan pandangan Linda Hutcheon, adalah Umberto Eco Umberto Eco, di dalam Travels in Hyper-reality (Eco 1973:28) ia merupakan suatu “perang terhadap sejarah sebab, sejarah tidak dapat diulangi. Sejarah harus dibuat”.
Dengan demikian Pastiche dalam seni topeng mengambil pelbagai gaya dan bentuk dari pelbagai keping sejarah, mencabut dari semangat zamannya dan menempatkannya dalam konteks masa kini. Lebih lanjut pastiche, mengutip Baudrillard, adalah titik balik sejarah. Sementara Fredrich Jameson secara metaforis menyebut pastiche sebagai penggunaan topeng sejarah, pengungkapan dalam bahasa yang telah mati. Pastiche adalah perang menentang kemajuan dan sejarah, sebab sejarah tak dapat diulangi namun sejarah harus dibuat dan teks pastiche mengimitasi teks-teks masa lalu, dalam rangka mengangkat dan mengapresiasikannya dan merupakan bentuk parodi terhadap sejarah “perang terhadap sejarah sebab, sejarah tidak dapat diulangi. Sejarah harus dibuat”.
Contoh wujud pastiche yang paling riil di Indonesia, contohnya adalah Taman Mini Indonesia Indah dengan rumah adat dan segala macam museum di dalamnya. Sedangkan dalam seni topeng idion estetika pastiche adalah pengukangan topeng-topeng tradisi dengan penyusunan elemen-elemen rupa yang dipinjam dari perbagai seniman masa lalu, yang miskin orisinalitas yang disertai mengambil pelbagai gaya dan bentuk dari kepingan sejarah, dan mencabutnya dari semangat zamannya serta menempatkan dalam konteks kekinian. Pastiche adalah perang menentang kemajuan dan sejarah, sebab sejarah tak dapat diulangi namun sejarah harus dibuat. Topeng karya seniman Ida Bagus Anom ini mengunakan idiom estetika pastiche karena bentuk yang diungkapkan tidak berubah dari karya-karya yang terdahulu dan merupakan imitasi tanpa adanya olahan seni sehingga tidak tampak adanya kreativitas senimannya, sehingga terlihat miskin ide dan hanya merekonstruksi masa lalu, karena karya seni topeng yang diciptakan disusun dari elemen-elemen atau atribut yang dipinjam dari pelbagai sumber, pencipta, seniman, atau tukang dari masa lalu serta merupakan perulangan sejarah.
Bentuk-bentuk Topeng Postmodernisme karya Ida Bagus Anom I selengkapnya
by admin | Sep 15, 2010 | Berita
Jakarta – Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh mengatakan pemerintah akan melunasi pembelian buku wajib siswa pada 2011. Itu agar beban orang tua siswa berkurang dan tidak ada lagi siswa yang putus sekolah. “Tidak ada lagi anak SD dan SMP yang belanja buku wajib,” katanya usai rapat tentang pendidikan di Kantor Wakil Presiden, Selasa (7/9).
Rapat yang dipimpin Wakil Presiden Boediono ini hadir Menteri Agama, Suryadharma Ali, Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Evert Ernest Mangindaan.
Nuh mengatakan, saat ini anak putus sekolah pendidikan dasar yaitu SD, SMP, MI dan MTS masih ada 1,7 persen. Angka drop out mencapai 10 persen. Padahal, jika anak pendidikan dasar itu putus sekolah bisa melanjutkan lagi. “Ini amanah Undang Undang, kita akan bereskan melalui beasiswa atau mengurangi tarikan-tarikan dari orang tua. Seluruh buku akan kita lunasi,” ujarnya.
Pembebasan buku wajib ini, kata dia, berlaku pada sekolah dasar negeri maupun swasta tidak ada pembedaan. “Pokoknya pendidikan swasta negeri itu free untuk 2011,” katanya. Saat ini, buku wajib siswa Sekolah Dasar yang masih harus membeli ada 3 mata pelajaran dan buku wajib siswa Sekolah Menengah Pertama masih ada 5 mata pelajaran belum lagi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS).
Menurut Nuh, pembebasan buku wajib merupakan, salah satu fokus dalam pembahasan dan koordinasi dalam penggunaan anggaran pendidikan Kementerian Pendidikan dan 16 kementerian dan lembaga yang bersinggungan dan memanfaatkan anggaran pendidikan.
Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/09/07/brk,20100907-277117,id.html
by admin | Sep 15, 2010 | Berita
JAKARTA–Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan membentuk tim untuk merumuskan rencana kurikulum pendidikan antikorupsi 2011. Hal tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan antara Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh dengan Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan Haryono Umar pada 6 September lalu.
“Pemerintah harus masif dalam program ini. Jangan nanti baru tiga tahun dihentikan, harus konsisten,” tegas Deputi Pencegahan KPK Eko Soesamto Tjiptadi awal pekan lalu. Menurut dia, selama ini KPK belum tahu desain program pendidikan antikorupsi di sekolah dan perguruan tinggi secara rinci. Seharusnya, imbuh Eko, pendidikan antikorupsi dimasukkan rencana pembangunan jangka panjang pemerintah. “Programnya harus terus dievaluasi dan dikembangkan,” tuturnya.
Eko juga meminta pemerintah memerhatikan pencegahan dengan memperbaiki sistem birokrasi dan menghilangkan pikiran dan niat koruptif sejak dini. Pasalnya, Eko menilai, pembentukan karakter anak bangsa merupakan hal yang sangat penting.
Sementara itu, Haryono Umar memaparkan sejumlah contoh di negara lain yang tidak terbiasa dengan perilaku koruptif. Saat berkunjung ke Jepang, Haryono menyebutkan bahwa warga negara Jepang tidak tahu bahwa ada sebuah negara yang menyogok seorang polisi lalu lintas ketika kedapatan melanggar lalu lintas.
“Mereka justru bingung dan bilang ‘Oh, ada ya yang begitu?’ Ini yang nanti harus ditekankan,” kata Haryono. Lebih lanjut, ia mengatakan, pendidikan antikorupsi tidak akan memaparkan apa itu korupsi dan bagaimana contoh tindakan koruptif. Melainkan harus diajarkan nilai-nilai positif yaitu jujur, berani, peduli, sederhana, bertanggung jawab, adil, disiplin, dan gigih.
“Kalau orang diajarkan modus korupsi, mereka malah akan melakukan itu. Jadi nanti desainnya bukan mengajarkan apa itu korupsi, tapi mengenalkan nilai-nilai tadi,” imbuhnya. Sebagai realisasinya, Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK Dedy A Rahim akan memimpin tim kecil KPK untuk membahas rencana pendidikan antikorupsi. Pertemuan akan digelar segera setelah libur Hari Raya Idul Fitri 2010.
Rencananya, pendidikan antikorupsi ini akan mulai masif dilakukan di sekolah dan perguruan tinggi pada 2011. Setidaknya 50 sekolah, dari 250 ribu sekolah di Indonesia, telah melakukan uji coba terhadap pendidikan antikorupsi yang dipelajari melalui sejumlah mata pelajaran. Sementara beberapa perguruan tinggi juga telah menyelenggarakan kuliah luar biasa dengan menitipkan materi antikorupsi di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM),Universitas Paramadina, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/09/13/134472-kurikulum-pendidikan-antikorupsi-segera-lahir
by admin | Sep 14, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Wayan Ekalaksana Satia Guna, Mahasiswa PS Desain Interior
Batu cadas merupakan batuan alam yang menurut proses terjadinya digolongkan kedalam Batu Robohan/lempung, yaitu semacam batu lapisan yang terdiri dari bermacam mineral kontak, diantaranya adalah kuarsa, mika fesper, kapur, lempung. Menurut kekerasannya, batu cadas dikatagorikan sebagai batu lunak (4 kg/cm2 – 8 kg/cm2). Batu lunak ialah batu alam, yang mudah dapat digali dengan peralatan tangan. Juga bagian pecahan batu ini dapat dipatahkan dengan tangan. Batu lunak sudah mengalami pelapukan dan mengandung banyak retakan. Bentuk batu cadas ini masir kasar sedang/halus, biasa berlapis, memiliki berbagai macam warna, diantaranya adalah putih, kuning abu-abu, merah coklat, dan hijau/bercorak, biasa digunakan untuk bahan elemen banguna seperti tirai jendela dan pintu, juga konstruksi dan lain sebagainya (Heinz Frick,1999:69-70).
Bangunan-bangunan tradisional Bali yang terkenal banyak menggunakan batu-batuan alam seperti salah satu contohnya adalah batu cadas yang paling umum digunakan bersamaan dengan batu bata, lama kelamaan dapat menimbulkan keresahan akan dampak negatifnya terhadap lingkungan itu sendiri. Hal ini disebabkan karena bahan utama pembuatan bangunan-bangunan Bali itu sendiri banyak yang diambil begitu saja dari alam yang terkadang tanpa memperhitungkan dampak untuk kedepannya.
Isu degradasi lingkungan yang sedang dialami oleh bumi kita ini, seperti yang dikatakan oleh Heinz Frick di dalam bukunya Ilmu Bahan Bangunan “Bumi tempat kita tinggal ini sudah tidak “sehat” seperti dulu lagi. Seiring dengan berkembangnya pembangunan secara ekologis maka timbul suatu pembaruan dibidang arsitektur dimana manusia menjadi pusatnya. Berdasarkan pada kerusakan pada alam sekitarnya dan kehilangan sumber kehidupan manusia secara global, maka kebutuhan dasar manusia berwawasan lingkungan harus disadari secara benar. Perkembangan peradaban dan pemanfaatan alam secara berlebihan menyebabkan kualitas hidup menjadi kurang. Pencemaran udara, pengotoran air minum, serta proses keracunan tanah menarik perhatian untuk kepentingan kehidupan manusia dan pengertian pembangunan secara ekologis”. Oleh karena itu salah satu cara yang mungkin dapat kita lakukan untuk dapat meminimalisir dampak tersebut ialah dengan menciptakan bahan pengganti yang dapat menjadi alternatif pilihan bahan, yaitu dengan memanfaatkan abu sisa pembakaran sekam untuk bahan campuran yang dapat memberikan kesan tekstur layaknya batu cadas. Inilah tugas utama desainer ialah membantu menciptakan sebuah dunia masa depan (Bryan lawson, 1980:119).
Penggunaan Abu Sekam Untuk Mendapatkan Tekstur Batu Cadas Alami, selengkapnya