by admin | Oct 2, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Nyoman Nirma, Dosen PS Seni Rupa Murni
Karakter Lukisan Wayang Kamasan
Seni Lukis Wayang Kamasan memiliki bentuk, sikap, figur, ekspresi, dan warna tertentu sesuai dengan peranannya dalam cerita yang dilakoninya, yakni:
1. Lukisan wayang figur Dewa mencerminkan sifat adil, pengasih, dan penyayang.
2. Lukisan wayang figur pendeta dengan ekspresi ketuaan menunjukan sifat yang suci, adil dan welas asih.
3. Lukisan wayang figur kesatria dengan ekspresi perkasa, berwibawa, gagah, dan kuat.
4. Lukisan wayang punakawan, binatang, tumbuhan hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan suasana, dengan karakter sesuai perananya dalam lakon.
Penggambaran wayang sifat baik dan sifat buruk seperti rwa bhineda selalu ada sehingga tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Setiap figur wayang memiliki sifat dan karakter tersendiri hal ini dapat dilihat dari bentuk mata, mulut dan badannya.
Pada penggambaran figur wayang yang berkarakter halus digambarkan dengan bentuk badan yang ramping tangan panjang dan warna tubuh coklat kekuningan yang mengekspresikan kehalusan. Wajah yang berkarakter lembut selalu dibuat tersenyum walaupun dalam perang. Contoh figur wayang yang memiliki karakter ini adalah Yudistira, Laksmana, Wibisana, Rama dan lain lain.
Untuk tokoh figur yang berkarakter kasar dan keras dibuat dengan bentuk badan yang besar, warna kulit badan yang coklat kehitaman, berbulu, mata bulat melotot, mulut yang tersenyum bengis bahkan gigi yang tajam. Figur wayang yang memiliki karakter ini adalah Bima, Duryodana, Rahwana, Raksasa dan lain lain.
Proses Pembuatan Lukisan Wayang Kamasan
Teknik pembuatan lukisan wayang Kamasan sampai saat ini masih menggunakan cara-cara tradisional. Dalam sub judul ini proses pembatan lukisan wayang akan diuraikan dari awal pembuatan media samapai akhir antara lain pembuatan kanvas (nganjinin/mubuhin), membuat seket (ngreka), mewarna dan memberi ornament (nyawi).
a. Pembuatan Kanvas (nganjinin/mubuhin)
Kanvas adalah salah satu media yang digunakan dalam pembuatan lukisan wayang kamasan. Kanvas dibuat dari selembar kain putih, biasanya kain blacu dengan dimensi yang dikehendaki oleh pelukis. Terlebih dahulu kain ini dicuci dan direndam dengan air selanjutnya dijemur sampai setengah kering. Tahap selanjutnya, kain tersebut dicelupkan dalam bubur tepung beras yang dikenal dengan istilah mubuhin. Selanjutnya dibentangkan di sinar matahari sampai mengering. Tujuan mubuhin ini adalah untuk menutup dan merekatkan benang-benang kain agar tidak bergerak.
Wayang Kamasan II Selengkapnya
by admin | Oct 1, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Made Mertanadi, M.Si., Dosen PS Kriya Seni
(8) Pisau raut
Pisau raut yaitu suatu alat berbentuk pisau kecil terbuat dari lempengan besi yang berfungsi untuk menoreh dan membersihkan sisa-sisa tanah yang dipergunakan dalam proses pembentukan. Alat ini juga berfungsi untuk menorah dalam pembuatan motif dekorasi pada bagian gerabah.
(9) Tali Pemotong.
Tali Pemotong yaitu suatu alat yang biasanya terbuat dari tali ijuk atau tali plastik (tali senar) yang berfungsi untuk memotong bagian bawah dari gerabah yang telah selesai dibentuk sehingga benda yang telah terbentuk terpisah dari alat putar dan dapat dipindahkan pada tempat lain. Alat ini juga berfungsi untuk memotong gumpalan tanah yang tersisa dari bentuk benda yang diwujudkan.
(10) Bambu pelubang.
Bambu pelubang yaitu suatu alat yang terbuat dari bambu kecil dengan ujung diruncingkan yang berfungsi untuk membuat lubang pada bagian badan gerabah.
(11) Penggerus
Penggerus adalah alat yang terbuat dari bambu berbentuk segi tiga. Alat ini berfungsi untuk meratakan dan menghaluskan dinding bagian luar gerabah setelah selesai dibentuk.
Proses Pengolahan Bahan.
Seperti hasil pengamatan pada dua sentra kerajinan gerabah yaitu di desa Bedulu dan desa Perangsada kabupaten Gianyar bahwa secara umum proses pengolahan bahan baku untuk pembuatan gerabah upacara memiliki kesamaan yaitu masih dengan cara tradisional yang sangat sedarhana. Menurut Ni Ketut Lemon (wawancara, 17 Nopember 2009) mengatakan bahwa proses pengolahan baku gerabah mengalami beberapa tahapan, diantaranya :
(1) Tahap penggalian.
Tahap penggalian yaitu merupakan tahap awal dimana dilakukan penggalian tanah liat pada tempat tertentu (seperti pada halaman pekarangan atau ladang tertentu) dengan menggunakan cangkul.
(2) Tahap penjemuran.
Tahap penjemuran yaitu pada tahap ini tanah yang baru diambil dari tempat penggalian dikeringkan dengan cara dijemur dibawah terik sinar matahari.
(3) Tahap penumbukan
Tahap penumbukan yaitu pada tahap ini tanah yang telah kering dijemur tadi ditumbuk dengan alat penumbuk agar gumpalan-gumpalan tanah hancur dan terbentuk butiran-butiran tanah lebih kecil.
Bahan Baku Peralatan dan Proses Pembuatan Gerabah II
by admin | Oct 1, 2010 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Diberitahukan kepada Seluruh Dosen, Mahasiswa Dan Pegawai FSRD ISI Denpasar bahwa Dalam Rangka Hari ABRI 5 Oktober 2010, ISI Denpasar Berpartisipasi Dalam Kegiatan Mengusung Bendera Merah Putih Sepanjang 300 Meter yang Dilaksanakan oleh Kodam IX Udayana.
Sehubungan dengan itu maka Tanggal 4 – 5 Oktober 2010 Perkuliahan Ditiadakan.
Demikian kami sampaikan untuk dapat dilaksanakan. Terima kasih.
Denpasar, 1 Oktober 2010
A.n. Dekan
Pembantu Dekan III,
ttd
Drs. D. A. Tirta Ray, M.Si
NIP. 195704231987101001
by admin | Oct 1, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Made Mertanadi, M.Si., Dosen PS Kriya Seni
Sesuai dengan pengamatan dalam penelitian ini bahwa pembuatan gerabah di Bali pada umumnya masih memanfaatkan tanah lokal yang diperoleh dari tanah pekarangan atau tanah tegalan. Tanah jenis ini adalah termasuk jenis tanah liat skunder. Tanah liat jenis skunder ini banyak mengandung oksida besi. Adapun suhu bakar untuk pembakaran gerabah dengan bahan baku dari tanah skunder ini adalah berklisar 600 oC sampai 700 oC. Warna mentah dari tanah jenis skunder ini bermacam-macam ada yang kemerah-merahan, coklat, dan abu-abu. Demikian pula sifatnya ada yang plastis dan ada agak rapuh.
Alat Pengolahan Bahan
Untuk pengolahan bahan baku gerabah sesuai pengamatan yang dilakukan pada, 25 Agustus 2009 disentra kerajinan gerabah desa Bedulu, Perangsada, dan Benoh dipergunakan beberapa peralatan tradisional, diantaranya;
(1). Kayu penumbuk.
Kayu penumbuk yaitu sepotong kayu yang berfungsi untuk menumbuk atau menghancurkan tanah yang baru diambil dari tempat galian setelah dijemur.
(2) Ayakan.
Ayakan yaitu suatu alat terbuat dari bambu atau kawat strimin yang berfungsi mengayak tanah untuk menyaring butiran-butiran tanah yang telah ditumbuk, sehingga diperoleh butiran-butiran tanah halus secara merata.
(3) Kayu Pipih.
Kayu Pipih yaitu alat yang berfungsi sebagai alas mengulek tanah untuk membuat adonan tanah plastis.
Bahan Baku Peralatan dan Proses Pembuatan Gerabah I Selengkapnya

by admin | Sep 30, 2010 | Berita
Kampus ISI Denpasar memang tidak pernah redup aktifitas. Setelah beberapa hari sebelumnya menyelenggarakan seminar dan “workshop” internasional, hari ini Kamis 30 September 2010 kembali menggelar seminar dan “workshop” yang bertajuk “Seni sebagai Produk Masyrakat ataukah Masyarakat sebagai Produk Seni” dengan pembicara Prof. Dr. T. Slamet Suparno, MS., dan Prof. Dr. Pande Made Sukerta SSkar.M.Si. dari ISI Surakarta. Seminar dan workshop sehari ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, yang bertempat di Gedung Latta Mahosadi dan Gedung Candra Metu ini sangat menarik karena memberikan wawasan baru bagi para seniman ISI Denpasar untuk meningkatkan semangat dalam berkarya guna melestarikan kesenian yang merupakan kekayaan budaya Bangsa.
Prof. Slamet yang dalam makalahnya menyoal tentang kehidupan berkesenian sebelum masa orde baru, masa orde baru, dan pasca orde baru ini, mengungkapkan kebanggaannya pada kesenian masyarakat Bali, dan masyarakat Bali tidak perlu khawatir siapapun pemimpin daerah Bali, kesenian Bali tidak akan pernah pudar, karena kesenian yang selalu melekat dengan kehidupan religius masyarakat Bali. Seorang mahasiswa jurusan Pedalangan, I Gde Wirawan mengekspresikan kegelisahannya tentang tendensi masyarakat yang mengganti kesenian dengan tehnologi, seperti pemutaran CD gambelan pada upacara keagamaan, atau pemutaran VCD wayang Sapuleger untuk mengganti pementasan wayang Sapuleger itu sendiri. Hal ini dapat diantisipasi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan juga seniman untuk memanfaatkan tekhnologi,bukan teknhnologi yang memanfaatkan seniman.
Prof. Sukerta dalam workshopnya mengajak mahasiswa dan dosen Fakutas Seni Pertunjukan untuk tidak takut mengadakan perubahan dalam berkarya yang berdasarkan etika dan estetika. Dia menekankan kepada para seniman ISI Denpasar untuk berbuat sesuatu tyang baru, namun harus tetap berdasarkan tradisi, agar karya tersebut tidak kehilangan arah. Mahasiswa yang hadir turut mengambil bagian dalam apresiasi seni vokal yang membuat mahasiswa dan dosen semakin antusias.
Hadir pula Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. yang juga menjabat sebagai Ketua BKS PTSI (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni Indonesia), yang membuka secara resmi seminar dan ”workshop” ini. Rai yang didampingi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, I Ketut Garwa,S.Sn.,M.Sn. menyambut gembira seminar ini. Rai juga mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua pemakalah yang merupakan Guru Besar ISI Surakarta, dan berharap “sharing” antara satu PT Seni dengan yang lainnya harus terus dilakukan guna meningkatkan mutu pendidikan, sehingga pendidikan akan melahirkan cendikiawan dan intelektual yang berguna bagi nusa dan bangsa, harapnya.
Humas ISI Denpasar melaporkan.