by admin | Oct 12, 2010 | Agenda, Berita, pengumuman


Rapat persiapan Pelaksanaan Workshop Spesiaslisasi Bertarap Nasional Selasa, 12 Oktober 2010 di ruang sidang FSRD ISI Denpasar di hadiri oleh staf panitia pelaksana Workshop dalam rangka mempersiapkan dan pembagian Tugas dari masing-masing staf panitia.
Dari Hasil Rapat, Workshop Spesialisasi akan dilaksanakan di Kampus ISI Denpasar selama 4 hari mulai dari tanggal 21, 22, 25 dan 26 Oktober 2010 yang dilaksanakan oleh civitas akademika Dosen dan Mahasiswa semester V dari 5 Program Studi FSRD ISI Denpasar.
Tema Dari Masing – Masing Program Studi dalam Workshop tersebut adalah :
1. PS. Fotografi : Membedah Foto Juara
2. PS DKV : Teknik Presentasi Grafis
3. PS. Interior : Eksistensi Interior Tradisional Bali Pada Dunia Global
4. PS. Lukis dan Patung : Drawing Model
5. PS. Kriya Seni : Cindera Mata Dalam Pariwisata
by admin | Oct 12, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Alit Kumala Dewi, S.Sn, Dosen PS DKV
Semiotika berasal dari kata Yunani : semeion, yang berarti tanda. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. la mampu menggantikan sesuatu yang lain yang dapat dipikirkan atau dibayangkan Cabang ilmu ini semula berkembang dalam bidang bahasa, kemudian berkembang pula dalam bidang seni rupa dan desain komunikasi visual. (Tinarbuko, 2008:16) . Zoest (1993:1) berpendapat bahwa semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda
C.S Peirce
Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant. Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.
Contoh: Saat seorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasi mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian. Begitu pula ketika Nadia Saphira muncul di film Coklat Strowberi dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai icon wanita muda cantik dan menggairahkan.
Ferdinand De Saussure
Teori Semiotik ini dikemukakan oleh Ferdinand De Saussure (1857-1913). Dalam teori ini semiotik dibagi menjadi dua bagian (dikotomi) yaitu penanda (signifier) dan pertanda (signified). Penanda dilihat sebagai bentuk/wujud fisik dapat dikenal melalui wujud karya arsitektur, sedang pertanda dilihat sebagai makna yang terungkap melalui konsep, fungsi dan/atau nilai-nlai yang terkandung didalam karya arsitektur. Eksistensi semiotika Saussure adalah relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi, biasa disebut dengan signifikasi. Semiotika signifikasi adalah sistem tanda yang mempelajari relasi elemen tanda dalam sebuah sistem berdasarkan aturan atau konvensi tertentu. Kesepakatan sosial diperlukan untuk dapat memaknai tanda tersebut.
Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.
Semiotika, bagian I Selengkapnya
by admin | Oct 12, 2010 | Berita
SAMARINDA — Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, menginstruksikan perguruan tinggi negeri (PTN) agar jemput bola dalam penerimaan 20 persen rasio akses calon mahasiswa yang mempunyai kekurangan finansial.
“Kalau tak ada intervensi, akan ada pemiskinan baru. Sudah saatnya siapapun bisa masuk PTN, asal punya kemampuan intelektual,” jelas Nuh usai pelantikan Rektor Universitas Mulawarman, Senin (11/10).
Menurutnya, tak ada rinsip inklusifitas pendidikan atau tak boleh dikhususkan pada pertimbangan latar belakang sosial. Diakui Nuh, fakta di lapangan,mayoritas mahasiswa berlatar belakang ekonomi menengah atas. Bahkan dari data Kemendiknas tahun 2008, anak miskin yang berkuliah ada empat persen.
Di tahun 2009 naik menjadi 6 persen. “Kalau kondisi ini diteruskan ada persoalan besar dan bentuk pemiskinan baru,”imbuh Mendiknas. Pasalnya perguruan tinggi bisa menjadi elevator sosial untuk mendekati sumber ekonomi peningkatan hidup.
Kemendiknas pun menindaklanjuti dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Di dalamnya mengatur jika setiap rekrutmen mahasiswa baru,disediakan 20 persen kursi dari kalangan mahasiswa kelas ekonomi menengah kebawah.
Lalu,Kemendiknas akan memberi bantuan biaya pendidikan bagi 10 persen jumlah keseluruhan mahasiswa itu. Sementara 10 persen sisanya dibantu oleh PTN yang menerimanya. Untuk tahun 2010 ini,Kemendiknas telah memproses 20 ribu mahasiswa dari kalangan tersebut. Pada lima tahun mendatang,ditargetkan 100 ribu mahasiswa diterima dari jalur serupa. “Aneh alasannya kalau PTN menolak melakukan ketentuan ini karena secara politis diselenggarakan pemerintah,”cetus Nuh.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/10/11/139381-mendiknas-ptn-harus-proaktif-cari-mahasiswa-tak-mampu
by admin | Oct 11, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Gusti Agung Jaya CK, Dosen PS Kriya Seni
Tumbuhnya aktivitas seni kerajinan tersebut di atas, merupakan kreativitas masyarakat dalam mengantisipasi kondisi sosial ekonomi. Menurut keterangan perajin setempat, kagiatan ini merupakan suatu bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat. Roger M. Kessing (1986), yang dikutif Yandri menjelaskan, bahwa dalam menopang kehidupan, masyarakat memilih suatu bentuk kegiatan yang dilakukan berlandaskan pada keadaan materi, dan kepentingannya. (Yandri, 2006: 86). Seni kerajinan sebagai salah satu pilihan usaha, khusus di dalam masyarakat Pengosekan telah melibatkan hampir semua masyarakat, sehingga semua aktivitas keseharian didominasi dan terkonsentrasi oleh pembuatan barang seni kerajinan sebagai kegiatan home industri.
Melihat dari aneka ragam jenis barang yang di produksi itu menunjukkan tingkat adaptasi yang sangat luwes dan kecakapan teknis perajin yang tidak perlu diragukan. Selain jumlah dan jenis karya yang dihasilkan cukup banyak, ketelitian dan kwalitas karya juga terjaga, terutama faktor kegunaan dan kwalitas estetik yang menjadi prioritas utama dalam penciptaan benda fungsional. Hal itu sejalan dengan pendapat Gustami menyebutkan fungsi dan kwalitas estetis suatu produk. (Gustami, 2000: 181).
Dalam kontek itu, seni karajian di Pengosekan bisa diamati menurut fungsinya. Feldman (1967) dalam bukunya yang berjudul Art As Image And Idea, terjemahan Gustami dengan judul Seni Sebagai Wujud Dan Gagasan (1991: 2) menjelaskan, bahwa fungsi-fungsi seni yang telah berlangsung sejak zaman dahulu, adalah untuk memuaskan: (1) Kebutuhan-kebutuhan individu tentang ekspresi pribadi; (2) Kebutuhan-kebutuhan sosial untuk keperluan display, perayaan, dan komunikasi; (3) Kebutuhan-kebutuhan fisik mengenai barang-barang dan bangunan-bangunan yang bermanfaat. Lebih jauh dalam pengertian luas Feldman membagi fungsi seni menjadi tiga bagian, yaitu: Fungsi personal (the personal function of art); fungsi sosial (the social function of art); dan fungsi fisik (the fisical function of art).
Fungsi Seni Kerajinan Pengosekan, Selengkapnya
by admin | Oct 11, 2010 | Berita
JAKARTA Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mengkaji usulan permintaan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) untuk mengevaluasi keberadaan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). “Bapak Mendiknas dan jajarannya akan mengkaji usulan APTISI tersebut,” kata Staf Khusus Mendiknas Bidang Komunikasi Media, Sukemi, di Jakarta, Minggu (10/10.
Menurut Sukemi, Mendiknas M Nuh berpendapat seandainya tim penilai itu dianggap kurang, maka jumlahnya akan ditambah tetapi tetap menjaga independensinya. “BAN PT itu memiliki asesor atau tim penilai yang sudah layak. Nah,
kalau ada keinginan adanya lembaga lain selain BAN maka harus dikaji secara serius dan matang. Apakah mampu menjaga independensi dan apakah tidak melanggar Undang Undang,” kata Sukemi.
Menurutnya, seandainya ada dua atau tiga lembaga seperti BAN harus mempunyai kredibilitas yang sama dari sudut independensi. Bila kinerja BAN PT selama ini dinilai kurang, perlu ditingkatkan dengan menambah jumlah anggotanya yang kredibel dan independen. “Pergantian anggota dan pengurus BAN PT ada ketentuannya sesuai aturan yang berlaku,” cetusnya.
Ditanya adanya kinerja BAN PT yang tidak kredibel dalam memberikan penilaian terhadap PT terkait, Sukemi menjelaskan terdapat dua persoalan ketika suatu program mendapat nilai A lalu berubah menjadi B. “Nah, yang terjadi apakah standar penilainnya dinaikan atau PT yang bersangkutan tidak menjaga mutu. Yang jelas, penilaian dilakukan tidak hanya sekali,” tukasnya.
Ia menambahkan kredibilitas BAN PT terutama pada independensi. “Asesor itu dari PT-PT yang berbeda.Dalam penilaian jangan sampai ada intervensi. Misalnya, ada sebuah PT yang dinilai melakukan pendekatan dan lobi lobi, ini yang harus dijaga,” pungkasnya. (Bay/OL-8)
Penulis : Syarief Oebaidillah
Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/10/174133/88/14/Evaluasi-Perguruan-Tinggi-Harus-Independen