M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Mendiknas Bantah Intervensi Pemilihan Rektor PTN

Mendiknas Bantah Intervensi Pemilihan Rektor PTN

Surabaya: Mendiknas Mohammad Nuh membantah dirinya melakukan intervensi pemilihan rektor perguruan tinggi negeri (PT) dengan mengeluarkan PP 66/2010 dan Permendiknas 24/2010 tentang pemilihan rektor.
“Itu sudah lama kita bahas sejak MK menghapus UU BHMN, apalagi rektor sudah lama tidak menggunakan pola eselonisasi. Kalau ada eselonisasi memang kewenangan Presiden, tapi kalau tidak ya menteri teknis terkait,” katanya di Surabaya, Minggu (31/10).
Ia mengatakan PP 66/2010 yang mengatur rektor itu dipilih dan diberhentikan menteri teknis terkait dan Permendiknas 24/2010 tentang tatacara pemilihan yang 65 senat dan 35 menteri itu dikeluarkan karena rektor bukan pejabat eselon I.
“Dulu, rektor itu pejabat eselon I dengan golongan IV-c, sehingga rektor itu diangkat presiden, tapi sejak tahun 1999 terjadi de-eselonisasi, sehingga rektor menjadi jabatan fungsional,” katanya.
Namun, katanya, sejak posisi rektor berubah menjadi jabatan fungsional itu tidak ada perubahan dalam proses pemilihan, karena rektor tetap diputuskan Presiden, padahal Presiden hanya berwenang mengangkat pejabat eselon I.
“Jadi, kalau sekarang diatur dengan proses pemilihan dan pemberhentikan dikembalikan kepada menteri teknis terkait itu bukan degradasi, karena hal itu justru yang seharusnya, bahkan PT BHMN juga diangkat MWA (majelis wali amanah) yang umumnya kalangan swasta,” katanya.
Selain itu, katanya, proses pemilihan dan pemberhentian rektor itu dikembalikan kepada dirinya selaku menteri teknis terkait sesuai dengan status rektor sebagai dosen dengan tugas tambahan.
“Kalau PP 66/2010 mengembalikan kepada Mendiknas, maka hal itu karena rektor adalah dosen dengan tugas tambahan yakni tugas akademik yang ditambah dengan tugas birokrasi dalam mengatur aset, akademik, dan keuangan,” katanya.
Oleh karena itu, katanya, apa yang dilakukan Mendiknas dalam proses pemilihan rektor itu bukan intervensi, tapi merupakan bagian dari mekanisme birokrasi.
“Kalau nggak ada yang mengangkat dan memberhentikan, lalu siapa? Bahkan, suara Mendiknas juga tidak terlalu banyak, mengingat rektor merupakan tugas tambahan, sehingga prosesnya ditentukan senat sebanyak 65% dan Mendiknas hanya 35%,” katanya.
Menurut dia, peran senat dalam pemilihan rektor juga sebatas hak usul, sedangkan Mendiknas memilih hak memutuskan, karena itu proses yang ideal adalah pemilik suara 65% dan 35% itu mengadakan rapat bersama.
“Hanya saja, Senat ITS memutuskan 65% lebih dulu dan sisanya diserahkan kepada saya. Saya nggak ada masalah, tapi nanti semuanya akan menjadi transparan. Mestinya rapat bersama, sehingga siapa memilih siapa tidak diketahui, karena merupakan pilihan bersama,” katanya.
Padahal, katanya, PTN yang terkena aturan itu bukan hanya ITS, namun juga Universitas Padjadjaran Bandung, UNS (Surakarta), Unimed (Medan), Universitas Tanjungpura, dan Poltek Pontianak.
“Permendiknas itu juga tidak diberlakukan dengan mengacu pada bulan tertentu, namun kami mengatur rektor yang masa bakti habis pada tahun 2011, maka prosesnya harus mengikuti Permendiknas itu,” katanya.
Tentang mekanisme pemilihannya, ia mengatakan mekanismenya diserahkan kepada PTN yang bersangkutan, asalkan maksimal tiga bulan menjelang masa bakti habis sudah ada penetapan rektor definitif melalui rapat bersama Mendiknas – Senat.
“Kalau rapat bersama, 35% suara Mendiknas bisa dialihkan kemana saja, apakah abstain, dibagikan secara merata, atau diberikan kepada salah seorang calon tertentu,” katanya.
Ditanya arah suara Mendiknas untuk rektor ITS kepada calon pertama atau kedua, ia mengatakan semuanya itu hanya spekulasi, karena Senat ITS memang sudah mengajukan tiga nama, sehingga pilihan Mendiknas akhirnya akan diketahui kemana arahnya.
“Kalau sekarang masih spekulasi dan saya bisa memilih siapa saja, apakah calon pertama, kedua, atau ketiga. Hanya saja, kemana suara saya akan diketahui, karena Senat ITS sudah menyetorkan tiga nama. Saya siap menerima risikonya, karena lebih baik daripada tidak memilih,” katanya. (Ant/OL-3)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/31/178887/88/14/Mendiknas-Bantah-Intervensi-Pemilihan-Rektor-PTN

Gelar Gebyar Budaya, Ciptakan Kota Denpasar Berwawasan Budaya

Gelar Gebyar Budaya, Ciptakan Kota Denpasar Berwawasan Budaya

Kampus ISI Denpasar tidak pernah surut aktifitas. Di tengah-tengah pelaksanan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, diantaranya “workshop” international dan ngayah di Pura Pucak Penulisan, kampus seni yang baru saja mengirim dosennya ke Hawai ini kemarin, Senin 1 November 2010 dikunjungi oleh Bendesa Desa Adat Sumerta,  Drs.  Wayan Butuantara, M.Si., didampingi  I Wayan Sumatra, I Made Ebuh, dan I Ketut Matra guna membahas penyelenggaraan acara “Gebyar Budaya” yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 November mendatang.  Rombongan ini diterima langsung oleh Rektor, Pembantu Rektor II, Kasubbag TU/RT, serta Humas ISI Denpasar.

Gelar Gebyar Budaya itu  dilaksanakan serangkaian peringatan Tri Windu (24 tahun) HUT LPD Desa Sumerta, serta untuk  mendukung visi Kota Denpasar yaitu ”Terciptanya Kota Denpasar berwawasan budaya dengan keharmonisan dalam keseimbangan secara berkelanjutan“. Acara ini  akan dibuka oleh Wali Kota Denpasar, dan dilaksanakan di panggung terbuka Nretya Mandala ISI Denpasar, yang akan dimeriahkan dengan acara lomba bleganjur, dan utsawa dharma gita tingkat anak-anak, remaja, dan dewasa. Kegiatan tersebut akan melibatkan seluruh masyarakat Desa Adat Sumerta.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., menyambut baik penyelenggaraan acara Gebyar Budaya serangkaian HUT tri windu LPD Desa Sumerta ini, serta menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak Desa Pekraman Sumerta, yang telah memberikan kepercayaan kepada kampus ISI Denpasar untuk pelaksanaan acara tersebut. Ini adalah bukti nyata kecintaan masyarakat terhadap kampus ISI Denpasar. Di samping itu, kegiatan yang dilandaskan pada visi Kota Denpasar, yang mana secara filosofis dilandasi oleh filsafat Tri Hita Karana, yaitu harmoni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. “Dengan diadakannya acara “Gelar Budaya” ini, ISI Denpasar maupun Desa Pekraman Sumerta mendukung penuh  proses pembangunan Kota Denpasar yang  telah mampu menyentuh keseluruhan elemen dasar dari aspek religi, bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, dan kesenian, dan telah meletakkan dasar yang kuat bagi terciptanya Denpasar menjadi Kota Berwawasan Budaya,” ujar Prof. Rai.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Seorang nenek renta warga Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,  meninggal pada 24 Juli lalu. Berdasarkan adat setempat, wanita yang berhasil menapak usia 88 tahun itu kemudian dikebumikan. Dadong Cenik, demikian masyarakat setempat menyebutnya,  kembali bersatu dengan tanah tempat kelahirannya, menanti hari baik untuk diaben. Lahir, hidup, mati, adalah sebuah kodrati, peristiwa alamiah. Karenanya, prosesi upacara penguburan mayat Ni Ketut Cenik itu pun menjadi peristiwa biasa dan berlangsung biasa saja, seturut dengan kelaziman di desa itu.

Padahal, Ni Cenik bukan wanita biasa. Cenik adalah seniwati unik yang tak ada duanya di Bali. Wanita yang sepanjang hidupnya berserah diri untuk dunia seni tari ini telah mengharumkan nama Bali hingga ke manca negara. Terakhir, tahun 2008 lalu, seniwati kelahiran 1922 ini, memukau penonton Negeri Sakura. Bersama grup gamelan Joged Pingitan Banjar Pakuwudan, Sukawati, ia menari solo mengisahkan cerita Calonarang. Kendati sepuh, Cenik selalu bersemangat. Energinya membuncah bila sedang menari, baik saat ngayah di pura maupun bila diundang pentas di luar negeri.

Dalam jagat seni pertunjukan Bali, ibu penari kawakan I Made Jimat ini identik dengan Joged Pingitan. Seni pentas langka ini, masih mencoba bernafas, bisa disebut karena totalitas berkesenian yang ditunjukkan Cenik. Bila saja Ketut Cenik hingga akhir hayatnya tak mengenyimpungi seni pentas warisan zaman kerajaan Bali ini, kemungkinan besar Joged Pingitan telah punah. Kini, apakah dengan berpulangnyanya seniwati yang dimasa hidupnya selalu tampak ceria ini, Joged Pingitan akan terjengkang diterjang zaman? Gejala mengkhawatirkan itu telah menganga di depan mata.

Keberadaan sekaa Joged Pingitan, kini, dapat dihitung dengan satu jari tangan saja. Diantara sekaa itu adalah yang ada di Banjar Pakuwudan, Sukawati, di mana Ni Ketut Cenik menjadi pengawal satu-satunya.  Bersama Cenik, sekaa gamelan yang didukung sekitar 15 orang penabuh ini, sesekali masih tampil di lingkungan komunitasnya. Sekarang, tanpa Ni Cenik, besar kemungkinan sekaa ini akan teronggok. Ironisnya, regenerasi penari yang beberapa kali disemai Cenik tak berkecambah. Selain karena kurang diminati, umumnya para penari muda yang pernah dielus Ni Cenik tak mampu merajut komunikasi estetik dengan nilai-nilai keindahan seni tari yang diiringi dengan salah satu barungan gamelan Bali golongan tua ini.

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang selengkapnya

KRS dan Kelengkapan Data Portal Mahasiswa

PENGUMUMAN

Demi kelancaran pengisian KRS Online semester Genap 2010/2011 dan memenuhi  kebenaran data pada portal akademik mahasiswa, diberitahukan kepada seluruh mahasiswa FSRD ISI Denpasar untuk melihat kembali portalnya masing-masing. Bila ditemukan ada data yang salah / tidak sesuai, dimohon menghubungi bagian akademik FSRD dengan membawa bukti data yang benar guna perbaikan.

Demikian pengumuman ini dibuat untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Terimakasih.

Denpasar, 1 Nopember 2010

Kasubag Akademik dan Kemahasiswaan

TTD

Dra. A.A. Istri Putri Yonari

NIP. 196601161994032001

Dari ‘Workshop On British Parliamentary Debating Adjudication” Di Manado

Dari ‘Workshop On British Parliamentary Debating Adjudication” Di Manado

Kiriman Dewi Yulianti, Dosen PS Seni Karawitan

Lomba debat Bahasa Inggris sangat signifikan peranannya bagi kualitas pendidikan bangsa, sehingga Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengembangkan kegiatan ini melalui National University English Debating Championship (NUEDC). Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi internasional mahasiswa Indonesia dan berjejaring dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. Dengan menggunakan sistem yang sama dengan yang digunakan di tingkat dunia (WUDC: World University Debating Championship), mahasiswa Indonesia diharapkan mampu bersaing pada tingkat internasional.NUEDC pertama kali diadakan pada tahun 2007, dan tahun ini pada bulan Juni lalu telah dilaksanakan NUEDC ke IV bertempat di Universitas Negeri Yogyakarta, dan pemenangnya akan meawakili Indonesia untuk “World University Debating Championship” (WUDC), debat Bahasa Inggris tingkat dunia, di Boswena, Afrika.

Guna mempersiapkan pelaksanaan NUEDC ke lima mendatang, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menggelar “workshop” selama tiga hari di Manado. “Workshop on British Parliamentary Debating Adjudication” yang diselenggarakan khusus untuk Perguruan Tinggi dan Kopertis Wilayah Indonesia Timur. Para peserta yang diundang masing-masing dua orang perwakilan dari setiap institusi, diantaranya, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Negeri Papua, Universitas Nusa Cendana, Imstitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Universitas Negeri Gorontalo, Poltek Negeri Kupang, Universitas Negeri Makasar, Poltek Pertanian Pangkep, Universitas Tadulako, Universitas Hasanudin, Universitas Udayana, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Manado, Universitas Mataram, Universis Patimura, Universitas Cendrawasih, Universitas Haluoleo, Poltek Ujung Pandang, Kopertis Wilayah VIII, IX, dan XII. ISI Denpasar diwakili oleh Ni Ketut Dewi Yulianti dari Fakultas Seni Pertunjukan, dan Putu Agus Bratayadnya,S.S., dari Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Dari ‘Workshop On British Parliamentary Debating Adjudication” Di Manado selengkapnya

Loading...